
Vauran mencoba mengukur kembali kekuatan beberapa lawannya yang kini telah ada di hadapannya. Bagaimanapun juga, ia bukan makhluk bodoh yang akan membiarkan dirinya mati. Tanpa Batari Mahadewi dan Nala, maka untuk menghadapi tetua Ebe dan para pengikutnya itu adalah perkara mudah, sebab kekuatan Vauran jelas lebih besar meski ia dan para manusia pulau Es memiliki cara bertarung yang sama, yakni dengan menggunakan energi es.
“Setelah kau lepas dari segel es abadi, kurasa baru pertama kali ini kita bertemu.” Kata Ebe mencoba untuk mengulur waktu selama yang ia bisa sembari menunggu kekuatan Batari Mahadewi dan Nala pulih.
“Ya, karena kau hanya bersembunyi di dalam kota, dan membiarkan penduduk pulau es menjadi korbanku. Kurasa kau tak pantas menjadi tetua pada saat ini, kau tak pernah belajar dari nenek moyangmu.” Sindir Vauran.
“Kau benar, aku terlalu lemah untuk menghadapimu. Tapi aku tak habis pikir, bagaimana caranya kau bisa meloloskan diri dari penjara es abadi?” tanya Ebe.
“Sudah kubilang, ini semua adalah karena kegagalanmu menjadi tetua pulau es. Seharusnya kau memperbaharui kekuatan segel yang mengurungku setiap seribu tahun sekali. Hahaha, sudah terlambat, aku tak menyangka bahwa kau yang lemah ini merupakan yang terkuat di pulau Es. Jadi, kalian sudah tak ada harapan lagi.” Kata Vauran.
“Tapi kau tak bisa masuk ke dalam kota.” Pancing Ebe.
“Cepat atau lambat, aku bisa menghancurkan mantra pelindung kota. Tunggu saja. nah, sudah cukupkah kau mengulur waktu berbicara denganku? Jika sudah, ayo kita bertarung!” kata Vauran.
Ebe cukup kaget karena Vauran mengetahui rencananya untuk mengulur waktu. Ia tak punya pilihan lain untuk mengulur waktu lebih lama lagi selain dengan cara bertarung. Maka ia memancarkan seluruh pancaran energinya dan tubuhnya dikelilingi oleh pusaran es, sama halnya Vauran yang melakukan hal yang sama. Bedanya, pusaran salju yang mengitari Vauran jauh lebih besar dan kuat.
__ADS_1
Beberapa pengikut Ebe juga melakukan hal yang sama, kecuali Uza yang masih membantu mempercepat Batari Mahadewi dan Nala untuk memulihkan energi.
Ebe dan pengikutnya membentuk suatu formasi serangan untuk mengepung Vauran, dan monster salju itu masih tampak tenang menghadapi kelima lawannya itu. Tak lama kemudian, Ebe dan para rekannya menciptakan cakram-cakram es bening berukuran besar yang melayang-layang di udara dan cakram-cakram itu meluncur kencang ke arah Vauran.
Vauran menciptakan perisai es di sekeliling tubuhnya untuk menahan serangan ke lima lawannya itu. Cakram-cakram es itu membentur perisai Vauran dan menciptakan ledakan dengan kepulan putih salju yang berhamburan ke udara.
Monster salju itu membalas serangan itu dengan menciptakan badai es yang menerjang kelima lawannya itu dengan dahsyat. Ebe dan para pengikutnya hanya bisa bertahan tanpa bisa menghentikan energi Vauran yang membuat salju di arena pertempuran itu terangkat dan berputar menjadi pusaran salju. Ketika Vauran sedang berkonsentrasi dengan badai salju yang ia ciptakan, ia tak menyadari kedua lawannya yang bertubuh api itu telah sepenuhnya pulih. Batari Mahadewi melakukan perpindahan tubuh sekali lagi dan ia tiba-tiba telah berada dekat dengan Vauran, lalu ia menghujamkan pukulan tapak petir dengan dasar kekuatan api. Kali ini Batari Mahadewi tak mau bermain-main, ia menggunakan kekuatan yang sangat besar sehingga Vauran tak hanya terpental jauh, namun juga terluka parah.
Nala segera menyusul, ia meluncur dengan bentuk tubuhnya yang menyerupai lahar hitam dan dengan cepat menyergap serta melilit tubuh Vauran. Sayangnya, Nala sungguh salah langkah. Ketika ia melilit Vauran, seketika monster salju itu membalut tubuhnya dengan gumpalan salju. Maka ia sekaligus Nala terbungkus dengan bongkahan salju yang perlahan mengeras menjadi es bening.
Batari Mahadewi tak mau terlambat melihat situasi berbahaya yang dihadapi Nala. Dengan cepat ia telah berada di depan bongkahan es itu, lalu ia menghujamkan pukulan matahari dengan energi tinggi sehingga membuat bongkahan es keras itu hancur berkeping-keping. Sayang sekali, ia tak menemukan Vauran di antara kepingan es yang berserakan, hanya ada Nala yang kembali ke wujud aslinya dalam kondisi yang lemah. Batari Mahadewi dengan cepat menyalurkan energiny untuk memulihkan Nala. Ia khawatir sewaktu-waktu Vauran akan menyerang dari arah yang tak mereka ketahui.
“Makhluk itu telah meloloskan diri! Dia bukan makhluk bodoh.” Kata Ebe.
“Terimakasih atas pertolongan tetua sekalian. Hampir saja kami celaka menghadapi makhluk itu.” kata Batari Mahadewi.
__ADS_1
“Justru kami yang berterimakasih, karena kalian, mahkuk yang telah menebar ketakutan selama beberapa waktu ini hampir saja bisa dimusnahkan. Kalian sepertinya bukan orang pulau Api, tapi kenapa kalian memiliki pancaran energi dari pulau Api?” tanya Ebe.
“Kami dari dunia satu rembulan dan sebelum kami ke sini, kami berada di pulau Api selama hampir satu tahun. Kami membutuhkan energi murni dari empat sumber energi utama di dunia ini untuk bisa kembali ke dunia kami. Jadi sebenarnya, kedatangan kami ke pulau ini bermaksud untuk memohon bantuan agar diizinkan untuk menambah kekuatan kami dari sumber energi utama pulau Es.” Kata Batari Mahadewi.
“Tentu kami akan dengan senang hati membantu, tapi…eh, sebaiknya kita kembali ke kota terlebih dahulu. Sudah kewajiban kami untuk menyambut tamu dengan baik.” Kata Ebe. Ia bingung harus mengatakan apa, sebab menyerap energi dari sumber utama pulau es bukan perkara mudah, sekalipun ia tahu bahwa kedua tamunya itu merupakan manusia tangguh.
Ebe sendiri harus menghabiskan waktu selama lima tahun untuk berhasil menyerap sedikit energi dari sumber energi utama pulau Es sebab tubuh, pikiran, dan perasaannya belum memungkinkan dirinya untuk mendapatkan kekuatan lebih yang semestinya membuat dirinya menjadi orang yang paling diandalkan untuk menghadapi situasi genting seperti misalnya persoalan yang muncul karena kehadiran Vauran.
Ebe, Batari Mahadewi, Nala dan yang lainnya segera bergegas kembali ke pusat kota pulau Es. Kota itu tak seperti kota di pulau Api, sebab kota di pulau es hanyalah gunung es raksasa yang di dinding-dindingnya terdapat tangga yang menguhubungkan satu rumah dengan rumah lainnya, mirip seperti gunung yang didatangi oleh Batari Mahadewi dan Nala sebelumnya.
Tak ada istana ataupun raja yang menjadi pemimpin utama di pulau Es. Ebe adalah satu-satunya yang dituakan dan dijadikan pemimpin.
Kuil suci pulau Es terletak di tengah-tengah gunung dengan lubang pintu yang paling lebar yang di atasnya dihiasi dengan aksara pulau Es yang dibentuk sedemikian rupa sehingga tak hanya berupa tulisan, namun sekaligus menjadi hiasan yang dibungkus dengan mantra untuk melindungi seluruh kota.
Batari Mahaddewi dan Nala tak henti-hentinya mengagumi keajaiban bentuk bangunan di pulau Es itu; penyatuan antara alam dengan karya manusia sebagai ruang hidup yang mengedepankan harmoni, keseimbangan, dan penyatuan dimana manusia dan alam adalah satu bagian yang utuh.
__ADS_1
Di dalam kuil suci pulau Es itu, Batari Mahadewi, Nala dan Ebe sedang berbicara di sebuah ruang, bertukar cerita, hingga kemudian Ebe menceritakan hal-hal yang ia alami ketika ia harus menjalani tahap-tahap dalam seluruh rangkaian proses penyerapan energi dari sumber energi utama pulau Es.
“Bukannya aku meragukan kalian berdua, namun menyerap energi murni di sana sangat jauh berbeda dengan menyerap energi lainnya seperti yang telah kalian alami di pulau Api. Aku membutuhkan waktu hampir lima tahun di dalam ruangan itu, untuk menemukan kuncinya agar bisa masuk dan menyatu dengan sumber energi utama. Setiap orang memiliki kuncinya masing-masing yang letaknya ada dalam hati, dalam perasaan yang akan berperan sebagai jalan. Jadi, kalian berdua mungkin tak akan mengalami hal yang sama nantinya.” Kata Ebe.