Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 219 Sebagian Isi Hati Tari


__ADS_3

Batari Mahadewi, Niken dan Jalu telah sampai di Catrabhumi. Para pendekar hitam yang melarikan diri dari Catrawana tampaknya sudah mengabarkan dengan baik kedatangan gadis jelmaan pusaka dewa yang bisa dengan mudah melenyapkan kemampuan dan menghapus pikiran rekan-rekan mereka yang bernasib sial.


Setidaknya, ketika ketiga pendekar Swargadwipa itu sampai di desa-desa pinggiran di wilayah Catrabhumi, tak ada pendekar hitam yang terlihat di sana dan mengganggu para warga yang hidup dalam ketakutan. Hanya ada sedikit orang saja yang masih tinggal di desa. Sebagian besar telah mengungsi entah dimana, dan sebagian yang lain telah mati dibunuh oleh pasukan setengah siluman dari kerajaan hitam Tirayamani.


Sembari terbang di angkasa, Batari Mahadewi membuka semua indera tubuhnya untuk menangkap kehadiran energi pendekar hitam yang barangkali masih tersebar di berbagai pelosok wilayah. Gadis jelmaan pusaka dewa itu cukup lega karena selama perjalanan, ia dan kedua kakaknya itu tak melihat pasukan kerajaan hitam.


Mereka bertiga langsung menuju ke kota kerajaan Catrabhumi. Istana telah kosong dan para pendekar hitam telah meninggalkan istana itu sebelum Batari Mahadewi, Jalu dan Niken datang.


“Tampaknya mereka semua telah pergi,” kata Jalu.


“Ya, kejadian di Catrawana mau tak mau harus membuat mereka tak salah mengambil keputusan,” kata Niken.


“Berarti saat ini, mereka semua seharusnya sudah sampai di ujung barat pulau ini, bukan?” tanya Batari Mahadewi.


“Kemungkinan besar begitu,” jawab Jalu.


“Kita bisa sedikit bersantai kalau begitu.” Batari Mahadewi melangkah masuk ke dalam istana, lalu berdiam diri mematung di sana. Jalu dan Niken hanya tersenyum melihat kebiasaan adiknya yang tak berubah itu, yakni membaca masa lalu.


Istana kerajaan Catrabhumi sungguh berantakan dan terlihat sangat kotor. Puing-puing kehancuran sisa serangan dari prajurit kerajaan Tirayamani juga tak diperbaiki.


“Hancur sekali tempat ini,” kata Jalu.


“Sepertinya para pasukan siluman itu memang tak memiliki selera tempat tinggal yang baik. Bagaimana bisa mereka berkumpul dan hidup di lingkungan seperti ini?!” ujar Niken.


“Ya, bisa saja. Cara mereka mendapatkan kekuatan juga menjijikkan bukan. Bahkan sebelum pendekar semacam itu menjadi manusia setengah siluman, ada kalanya mereka melakukan ritual tertentu seperti memakan bangkai. Oh, sungguh! Hal itu membuatku mual,” kata Jalu.

__ADS_1


“Hahaha, tapi sesungguhnya, banyak yang terkecoh dengan perubahan wujudmu, kak Jalu,” ujar Niken.


“Ya, pastinya begitu. Hanya sedikit pendekar aliran putih yang bisa berubah wujud. Tapi kata adik, di dunia tiga rembulan, manusia yang tinggal di sana memiliki wujud-wujud yang luar biasa aneh meski mereka tak memiliki energi hitam. Aku sungguh penasaran dengan dunia itu. Hah, kenapa adik bisa ya?” kata Jalu.


“Aku justru penasaran dengan Nala yang ia ceritakan itu. Waktu itu dia masih seorang bocah kecil yang sangat kuat. Jika adik sudah sebesar ini, maka Nala pastinya juga tumbuh menjadi lelaki yang gagah. Kak Jalu, apakah menurutmu adik jatuh cinta dengan Nala?” kata Niken.


“Mungkin saja, hahaha, dia bisa juga jatuh cinta. Wajahnya tidak bisa berbohong,” kata Jalu.


“Hisss, jangan lupa, aku bisa mendengar percakapan kak Jalu dan kak Niken meski kalian berbisik-bisik,” kata Batari Mahadewi sambil berjalan mendekati kedua kakaknya itu.


“Hahaha, maaf adik, kami tak tahan untuk tak membicarakanmu,” kata Jalu sambil nyengir dan garuk-garuk kepala.


“Soalnya kamu tak mau bercerita banyak tentang kamu dan Nala di dunia tiga rembulan. Bukankah kalian selalu bersama-sama ya? Aneh kalau tak terjadi sesuatu,” goda Niken yang tak kuat menahan tawa melihat adiknya selalu salah tingkah jika membicarakan topik itu.


“Hah, jangan harap aku mau bercerita. Nanti kakak lihat sendiri penampakan Nala,” kata Batari Mahadewi.


“Ayolah adik, kami berdua ini kakakmu, apa yang harus dirahasiakan?” kata Niken.


“Baiklah, apa yang kakak mau tahu?” tanya Batari Mahadewi.


“Apakah adik mencintainya?” tanya Jalu langsung tanpa basa-basi.


“Aku…ehhh..entahlah…” kata Batari Mahadewi lirih. Mukanya semakin merah.


“Itu artinya adik benar-benar jatuh cinta dengan lelaki itu. Kami mendukungmu, adik. Dan kami percaya, kau bisa membuatnya tak seperti pendekar hitam pada umumnya. Tidak semua pendekar aliran hitam itu jahat,” kata Niken.

__ADS_1


“Niken benar, adik. Jangan bohongi perasaanmu. Jika Nala tak mengatakannya, maka katakanlah. Laki-laki tak selalu harus yang mengatakan duluan,” kata Jalu.


“Nala adalah pangeran kegelapan di masa lalu. Sementara aku adalah pusaka dewa dalam wujud manusia. Kami bagaikan langit dan bumi. Aku tak tahu apakah Nala memiliki perasaan yang sama seperti yang aku rasakan saat ini. Di awal-awal kami berdua berada di dunia tiga rembulan, kami masih saling menjaga jarak. Hawa pembunuhnya sangat kuat. Setelah kami berhasil menyerap energi utama di dunia itu, hawa pembunuhnya semakin lemah. Tapi aku tak tahu bagaimana selanjutnya. Kakek dewa mengatakan sesuatu secara rahasia padaku, bahwa kemungkinan jiwa kegelapan dalam tubuhnya suatu hari akan bangkit, dan ingatannya tentang masa lalu pasti kembali,” kata Batari Mahadewi.


“Jika saat ini Nala jatuh cinta padamu, meski ingatannya kembali, tentu ia bukan lagi pangeran kegelapan seperti yang dulu.” Kata Jalu.


“Hal ini lebih rumit dari yang kak Jalu kira. Jiwa kegelapan saat ini masih terkunci dalam tubuhnya. Nala pernah bercerita, jika ia tidur, maka jiwa kegelapan itu hadir menemuinya, dan berusaha merebut kesadarannya untuk memiliki tubuhnya sepenuhnya. Aku mengkhawatirkan satu hal,” kata Batari Mahadewi.


“Apa itu?” tanya Niken.


“Ratu Ogha. Dia bisa membangkitkan makhluk iblis kuno. Aku yakin ia juga bisa membangkitkan jiwa kegelapan dalam tubuh Nala. Jika aku bisa menghentikan ratu Ogha saat ini juga, Nala mungkin tak akan kembali menjadi pangeran kegelapan, dan makhluk-makhluk iblis dari masa lalu akan tetap tertidur,” kata Batari Mahadewi.


“Apakah itu artinya adik harus mencari keberadaan ratu itu dalam waktu dekat?” tanya Jalu.


“Seharusnya begitu. Tapi, dengan kekuatanku saat ini, untuk menghadapi ratu itu sendirian, rasa-rasanya sulit. Apalagi ratu itu sudah berhasil membangkitkan beberapa iblis kuno di pulau lain. Tapi jika aku mengajak Nala untuk mencarinya, sudah pasti Nala dalam bahaya. Ini sungguh pilihan yang sulit,” kata Batari Mahadewi.


“Adik bisa mengajak kami!” kata Jalu.


“Tidak. Kakak tidak boleh ikut kali ini. Aku tak mau kalian berdua dalam bahaya. Lagi pula, aku tak tahu dimana keberadaan ratu itu. Beberapa kali aku mencoba untuk merasakan energinya, namun aku tak pernah berhasil. Mungkin ratu dan pasukan iblisnya itu masih menyembunyikan kekuatan mereka dan belum terang-terangan menunjukkannya. Atau, kekuatan mereka belum sepenuhnya pulih.” Kata Batari Mahadewi.


Jalu dan Niken tak membantah. Keduanya bisa membayangkan betapa bahaya jalan yang akan dilalui ketika harus mencari ratu Ogha. Keduanya juga merasa bahwa kekuatan yang mereka miliki bukanlah apa-apa. Jika mereka ikut, maka kehadiran mereka justru akan menjadi gangguan bagi adiknya itu. “Aku rasa, adik harus bertemu dahulu dengan kakek Agrapana. Mungkin ia punya petunjuk.”


“Ya, sudah lama sekali rasanya aku tak bertemu dengan kakek Agrapana. Baiklah, setelah urusan kita di Catrabhumi selesai, kita akan langsung menuju ke sana. Oh iya, jangan pernah cerita pada siapapun bahwa aku adalah pusaka dewa, dan Nala adalah pangeran kegelapan. Biarlah semua ini terungkap sendiri pada waktunya nanti,” Kata Batari Mahadewi. Ia sedikit lega karena kegelisahan hatinya telah tersampaikan kepada kedua kakaknya, meski tak sepenuhnya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2