Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 349 Pertarungan Dengan Kalapati #2


__ADS_3

Dewa yang paling sibuk ketika Batari Mahadewi dan Kalapati bertarung adalah dewa laut dan dewa bumi. Mereka berdua sekuat tenaga menjaga agar ombak laut tak menyapu daratan dan bumi tidak berguncang seperti yang terjadi ketika Batari Mahadewi bertempur melawan Andhakara. Waktu itu, dewa laut dan dewa bumi tak bisa berbuat apa-apa, sehingga akibatnya banyak peradaban manusia yang hancur.


Penonton gelap dari pertarungan itu adalah kelima anak Andhakara yang memata-matai Mahabhumi. Dari kelima itu, dua yang lainnya akhirnya mengirim kabar kepada sang ibunda ratu, serta makhluk iblis lainnya. Kabar menariknya, di Mahabhumi sudah tak ada lagi Kalamerah dan para ksatria raksasa yang berkemampuan tinggi. Sehingga, jikalau mereka mau bermukim di sana, bisa dikatakan bahwa keadaannya aman. Mungkin!


Ketika Batari Mahadewi masih menghujani Kalapati dengan serangan, dari dalam laut itu Kalapati berubah menjadi raksasa yang sangat besar. Lautan yang dalam itu hanya sebatas pinggangnya. Dengan tubuh besar itu, ia bisa menahan serangan Batari Mahadewi. Hanya saja, gerakannya menjadi lamban.


Dengan sekali sapuan tangannya, ia menyibakkan air laut sebagai senjata untuk menyerang Batari Mahadewi. Air laut yang telah diikat dengan kekuatan besar itu melesat layaknya benda keras, seperti bola-bola besi yang mengarah kepada Batari Mahadewi.


Sang pusaka dewa itu bergerak lincah untuk menghindari serbuan serangan dari bawah itu. Namun, gumpalan air itu pada akhirnya kembali jatuh ke laut sehingga Batari Mahadewi harus menghindari hujan serangan dari atas dan bawah. Semakin lama, tak ada celah untuk menghindar. Ia melesat lurus ke arah Kalapati sambil sesekali menepis bola-bola air sebesar rumah yang datang ke arahnya.


Ketika telah dekat, Batari Mahadewi menghujamkan pukulan tapak petir yang ia kerahkan dengan kekuatan tinggi. Ia berharap dada Kalapati akan terbakar. Namun kenyataannya tidak demikian. Tubuh Kalapati yang super besar itu tak mempan dengan serangan semacam itu. Batari Mahadewi ibarat lalat yang menubruk dada orang dewasa.


Kalapati mengibas-kibaskan tangannya berkali-kali ke arah benda kecil berwarna keemasan itu. Beberapa kali memang luput, namun akhirnya ia berhasil juga. Batari Mahadewi serasa dihantam dengan benda sebesar kamar sehingga tubuhnya terhempas sangat jauh dan tercebur di laut.

__ADS_1


Kalapati terlalu lamban untuk bergerak dan menyusul ke tempat jatuhnya Batari Mahadewi. Maka ia mengarahkan lengannya ke satu titik itu, dan menghempaskan semburat cahaya yang melesat cepat ke arah Batari Mahadewi.


Seketika terjadi ledakan besar dengan kekuatan seribu ton meteor yang jatuh ke bumi. Itu adalah hal yang paling dibenci dewa laut dan dewa bumi. Mereka sekali lagi harus menahan gelombang besar dengan tinggi lima puluh orang dewasa dan gempa yang mampu membelah pulau-pulau di seluruh penjuru bumi. Tak terhitung berapa banyak ikan yang mati pada hari itu. Ikan-ikan itu sempat mencicipi rasanya terbang ke angkasa, lalu kembali ke laut seperti rintik-rintik hujan, rintik-rintik ikan yang tak lagi bernyawa.


Gadis pusaka dewa itu masih memiliki simpanan energi untuk terus melawan. Ia melesat cepat dan berputar-putar mengelilingi Kalapati, lalu ia masuk ke dalam lubang telinga raksasa itu. Di dalamnya, ia menjelma sebagai manusia api dan dengan kekuatan tinggi ia berusaha menciptakan ledakan dahsyat di sana hingga gendang telinga raksasa itu terbakar.


Batari Mahadewi segera keluar dari telinga yang mengepulkan asap hitam itu. Selagi sang raksasa itu berteriak mengumpat berkali-kali sambil sibuk memadamkan api di telinganya, Batari Mahadewi kembali melesat ke dalam hidung sang raksasa yang seperti goa dengan bulu-bulu setinggi pinggang. Hal itu sungguh menjijikkan, tetapi apa daya, hanya itu cara efektif untuk menyiksa makhluk besar yang tahan pukul itu.


Bulu-bulu hidung itupun juga terbakar. Dengan tubuh api, maka Batari Mahadewi terjamin dari gangguan ingus raksasa besar itu. Lalu ia melanjutkan perjalanan hingga ke tenggorokan, menciptakan ledakan besar di sana yang membuat Kalapati terbatuk-batuk dan membuat sang pusaka dewa itu terlempar keluar dan kepalanya hingga separuh tubuhnya tertancap di pasir pantai pulau itu.


Mereka berdua kembali bertarung dengan sengit, masih dengan kecepatan yang tak tertangkap mata. Lima hari berlalu dan mereka masih bertempur. Hanya saja kekuatan dan kecepatan mereka menurun drastis. Kalapati geleng-geleng tak percaya dengan lawan yang ia hadapi kali ini.


“Hei, kau tak butuh istirahat sebentar?” kata Kalapati.

__ADS_1


“Ide bagus. Bagaimana kalau setengah hari? kau tak boleh kemana-mana dan tak boleh menyerangku!” balas Batari Mahadewi.


“Ya, aku setuju! Sana pergilah dulu. Aku akan istirahat di pulau itu! Jangan curang dengan minta bantuan para dewa yang memantau kita di atas itu! Biar saja mereka menjadi penonton, tapi awas saja kalau sampai ikut campur!” kata Kalapati.


Batari Mahadewi bisa merasakan bahwa sebenarnya hati raja raksasa itu baik. Setidaknya ia jujur meski tidak terlalu pintar. Andaikan takdirnya bukan untuk membunuh raja raksasa itu, mungkin ia tak mau melakukannya. Mendadak ia benci takdir, hal yang di luar kuasanya. Sebenarnya, mungkin ia bisa saja berdamai dengan makhluk itu, selama tak saling merugikan. Justru, musuh yang benar-benar berbahaya adalah iblis.


Kalapati duduk bersila dan segera memulihkan tenaganya dengan cara yang mirip seperti kemampuan Batari Mahadewi, yakni menyerap energi bumi, matahari, udara, laut, dan apapun yang ada di sekitarnya.


Sang pusaka dewa segera melesat ke arah Nala yang selama lima hari ini setia menunggu dengan penuh kecemasan.


“Apa yang terjadi, Tari? kenapa kalian berhenti?” Nala heran.


“Kami sepakat untuk istirahat. Nala, ayo cepat carikan aku makanan. Aku benar-benar lapar! Waktuku hanya setengah hari saja. Jangan terlalu lama. Aku akan menunggumu di sini sambil memulihkan tenagaku,” pinta Batari Mahadewi. Sang kekasih hati itu segera melesat dengan kecepatan terbaik yang ia miliki, bukan untuk mencari kedai makan yang masih buka, namun berburu seekor kerbau atau hewan sejenisnnya di pulau terdekat dari sana.

__ADS_1


Begitu Nala melihat sekawanan kuda di suatu pulau yang ia lewati, ia menangkap satu ekor yang paling muda. Tak ada kerbau kudapun jadi. Segera ia membersihkan dan menguliti kuda itu dengan kecepatan kilat, merendamnya di laut sejenak, lalu membakarnya dengan panas tubuh yang ia pancarkan. Begitu matang, ia segera melesat menemui kekasihnya itu sembari memanggul kuda panggang di punggungnya dan tak lupa ia juga mencabut pohon kelapa yang banyak buahnya, siapa tahu pujaan hatinya itu haus setelah menelan kuda sebesar itu.


Air liur Batari Mahadewi meleleh ketika kuda panggang itu telah sampai. Namun ia juga mengernyitkan dahinya ketika melihat Nala menyeret pohon kelapa. Nala memang layak menjadi suami siaga yang pengertian, ia ingin melahirkan anak dari lelaki itu suatu hari, jika memungkinkan. Siapa tahu memang mungkin, tinggal berdua di sebuah tempat yang sunyi, dengan anak-anak mereka berdua yang entah bagaimana wujudnya nanti. “Terimakasih banyak Nalaku, sebentar ya, akan kuhabiskan kuda ini!”


__ADS_2