
Adipati terburu-buru menuju wisma tamu Balai Kota untuk menyampaikan berita penting kepada Jalu, Niken, dan Batari Mahadewi.
“Untunglah kalian sedang berkumpul di sini.” Kata Adipati.
“Ada apa paman?” tanya Jalu keheranan.
“Mata-mataku menangkap adanya pergerakan yang mencurigakan. Hari ini beberapa kelompok hitam mulai terlihat di kota. Mereka adalah Kelompok Kelelawar Hitam, Kelompok Kelabang Iblis, dan Kelompok Bayangan Siluman. Aku belum mendapatkan berita soal keperluan mereka datang ke kota ini, tapi aku yakin mereka akan mengadakan penyerangan.” Kata Adipati.
“Tak ada salahnya kita mempersiapkan diri sebelum hal itu terjadi.” Kata Jalu.
“Masalahnya kita tak tahu apakah ada kelompok lain yang akan bergabung dengan mereka. Jika tiga kelompok itu saja yang menyerang, maka kita akan sangat kesulitan. Bayangan Siluman adalah pendekar yang sangat sulit ditandingi. Murid-muridnya pun juga merupakan pendekar yang berbahaya.” Kata Adipati.
“Mengandaikan mereka akan menyerang, maka langkah apa yang akan kita tempuh paman? Dalam hal ini kami bertiga sungguh tak memiliki pengalaman.” Kata Jalu.
“Jika mereka hanya tiga kelompok, mungkin mereka akan menyerang dari tiga jurusan. Jadi sebaiknya kita menyiapkan diri untuk membuat benteng pertahanan dari arah timur, barat, dan tengah.” Kata adipati. “Apabila benar mereka akan menyerang Balai Kota, menurut kalian kapankah itu?
“Mengandaikan kita adalah para penyerang itu, waktu terbaik untuk menyerang adalah malam hari. Para pendekar hitam lebih lihai bertarung pada malam hari.” Kata Batari Mahadewi.
“Nona benar. Aku sangat khawatir jika mereka membakar rumah-rumah dan membuat kekacauan di luar sana terlebih dahulu sebelum menyerang langsung ke Balai Kota. Kita tak memiliki pasukan yang cukup untuk mengurangi resiko itu.” Kata Adipati.
“Semoga hal itu tak terjadi. Tapi sepertinya kemungkinan itu kecil terjadi. Tentu mereka telah menimbang kekuatan yang ada di Balai Kota. Gabungan ketiga kelompok itu sudah pasti akan bisa dengan mudah memenangkan pertarungan sehingga mereka tak perlu membuat kekacauan terlebih dahulu untuk memecah perhatian kita.” Kata Jalu.
“Aku sependapat dengan pemikiran Raden Jalu. Jika mereka tak mengetahui bahwa Raden Jalu, Nona Niken, dan Nona Batari Mahadewi sedang berada di sini, aku yakin mereka hanya akan menimbang keberadaanku dan 50 pasukan khusus Balai Kota. Kekuatan ini memang tidak ada artinya bagi mereka. Mungkin setelah ini, Raden Jalu, Nona Niken, dan Nona Batari Mahadewi tak memperlihatkan diri sehingga ini nanti akan menjadi kejutan bagi mereka.” Kata Adipati.
“Selain itu, saya pikir ada baiknya kita menyembunyikan persiapan kita. Aku yakin saat ini mereka telah mengintai situasi di Balai Kota. Dengan demikian, mereka akan mengira kita tidak siap dengan serangan mereka sehingga mereka tak akan menggunakan taktik memecah perhatian kita dengan membakar rumah-rumah di luar Balai Kota.” Kata Batari Mahadewi.
“Nona Batari Mahadewi benar sekali. Ada baiknya dalam persiapan ini, kita bagi tugas. Raden Jalu akan memimpin pertahanan timur, nona Niken akan memimpin pertahanan barat, nona Batari Mahadewi akan mengamankan ruang dalam sekaligus mengawal keluargaku saat musuh bisa menerobos masuk, lalu aku akan memimpin di sisi tengah. Adipati menambahkan. “Bagaimana menurut pendapat kalian?”
“Apabila diperkenankan, saya lebih memilih bertukar tempat dengan Sinuhun, karena bagaimanapun juga, saya yakin Sinuhun akan lebih luwes melindungi anggota keluarga di bagian dalam.” Kata Batari Mahadewi.
“Saya kira pendapat adik Batari Mahadewi ada benarnya paman. Biar ia nanti yang akan memimpin pertahanan tengah bersama sebagian dari pasukan khusus dan sebagian lain akan menjadi benteng terakhir di ruang dalam bersama paman.” Kata Jalu.
“Apakah tidak terlalu berbahaya untukmu nona Batari Mahadewi?” Tanya Adipati.
__ADS_1
“Paman tenang saja, adik Batari Mahadewi bisa diandalkan.” Jalu meyakinkan.
“Baik kalau begitu. Selama kita belum mendapatkan kepastian apapun terkait dengan keberadaan ketiga kelompok golongan hitam itu, kita akan terus siaga. Namun kita tak akan memperlihatkan bahwa kita telah bersiap-siap. Kita kondisikan situasi Balai Kota yang terlihat dari luar adalah situasi seperti biasanya. Setelah ini kita akan apel bersama dengan semua pasukan Balai Kota.” Kata Adipati.
Pada hari menjelang penyerangan akan dilakukan, mata-mata yang dikirim oleh Kelelawar Hitam memberikan laporan terakhir.
“Bagaimana situasi di sana?” Tanya Kelelawar Hitam.
“Di sana tampak sepi seperti hari-hari biasanya ketua.” Kata mata-mata itu.
“Bagus. Seperti yang telah kita duga. Kita akan menjalankan penyerangan ini sesuai rencana.” Kata Kelelawar Hitam.
Kelompok Bayangan Siluman menjadi pertama yang bergerak melakukan serangan. Sebanyak 50 anggota pilihan berilmu tinggi dikerahkan untuk menemani pendekar Bayangan Siluman memporak-porandakan area utama dari Balai Kota. Mereka bergerak dengan kecepatan tinggi dalam kesunyian malam dan tak ada warga kota yang menyadari pergerakan mereka.
Seperti namanya, Kelompok Bayangan Siluman bergerak seperti bayangan dan hanya pendekar sakti yang mampu mengikuti pergerakan mereka. Sementara itu, Kelelawar Hitam dan 500 pasukan pilihannya bergerak dari sisi barat, menunggu gempuran pertama dari Kelompok Bayangan Siluman sebelum mereka mulai menyerang.
Bersamaan dengan Kelompok Kelelawar Hitam, Kelompok Kelabang Iblis juga mengerahkan 100 pendekar pilihan yang dipimpin oleh pendekar Kelabang Iblis sendiri menunggu dari arah timur.
Batari Mahadewi yang sedari tadi bersiap bersama 25 pasukan khusus mulai menangkap pergerakan energi dari arah depan, bagian tengah gerbang masuk Balai Kota.
Lima Puluh Anggota Kelompok Bayangan Siluman mulai memasuki pelataran Balai Kota sesunyi mungkin tanpa menimbulkan kegaduhan. Sementara itu, pendekar Bayangan Siluman mengamati pergerakan mereka dari belakang. Ia menunggu kehadiran Adipati yang ia pikir akan keluar setelah anggotanya membunuh beberapa penjaga.
‘Sungguh aneh, kenapa tak ada satupun penjaga yang berjaga di sini.’ Batin Bayangan Siluman. ‘Ada yang tidak beres…’
Batari Mahadewi keluar dari gedung menuju ke halaman Balai Kota dengan santai, diikuti oleh 25 pasukan khusus binaan Adipati.
‘Siapa gadis kecil itu? Sepertinya mereka semua telah menunggu dari tadi. Sial, rencana penyerangan ini telah diketahui Adipati.’ Batin Bayangan Siluman. Ia lalu memberikan aba-aba untuk menyerang Batari Mahadewi dan pasukannya.
Batari Mahadewi tak mau menunggu lama untuk menyerang. Ia tak ingin kehilangan banyak korban dari 25 prajurit khusus yang ia pimpin.
Dengan jurus-jurus Ilmu Matahari yang telah ia pelajari, ia melancarkan serangan mendadak yang sangat cepat dan tak bisa dihindari oleh anak buah Bayangan Siluman. Dalam satu serangan, 5 korban jatuh. Hal itu membuat kaget Bayangan Siluman dan bahkan prajurit khusus yang ia pimpin. Tak ada yang gegabah bergerak setelah aksi yang dilakukan oleh Batari Mahadewi.
Bayangan Siluman memerintahkan anak buahnya untuk menyebar dan segera memasuki area dalam. Ia sendiri turun tangan untuk mengahadapi Batari Mahadewi karena ia tahu anak buahnya bukan tandingan gadis kecil itu.
__ADS_1
“Sepertinya kau harus berurusan denganku gadis kecil. Aku tak akan segan membunuhmu.” Belum selesai pendekar bayangan Siluman berkata-kata, Batari Mahadewi telah bergerak secepat cahaya dan menghantamkan pukulan ke dada Bayangan Siluman.
Bayangan Siluman sangat kaget dengan serangan itu, namun ia berhasil menghindar dan mengumpat.” Kurang ajar, kau sungguh tak punya sopan santun. Awas kau!” Ia pun menggandakan dirinya menjadi sepuluh dan mengepung Batari Mahadewi.
‘Bayangan Ilusi…’ batin Batari Mahadewi. ‘Tapi kenapa semuanya memancarkan energi yang sama…apakah ini sungguhan atau sekedar ilusi?’ Batari Mahadewi mulai ragu dan meningkatkan kewaspadaannya.
“Kali ini kau tak akan selamat.” Kata Bayangan Siluman dengan nada mengancam. Kesepuluh Bayangan Siluman itu menyerang Batari Mahadewi dengan jurus yang berbeda-beda. Batari Mahadewi hanya bisa menangkis dan menghindari jurus-jurus itu karena sebelum ia bisa menyerang, bayangan yang lain telah datang menyerangnya.
‘Sungguh merepotkan sekali’ Batin Batari Mahadewi. ‘Tak ada pilihan selain mencoba jurus Cahaya Matahari Menembus Samudera. Ia mengerahkan tenaga dalamnya dan seketika cahaya menyilaukan keluar dari tubuhnya. Cahaya itu datang secara tiba-tiba. Hanya sebentar namun akibatnya, Bayangan Siluman mendadak tak bisa melihat untuk sekian detik. Pada saat itulah Batari Mahadewi melancarkan serangan balasan dengan serangkaian jurus pukulan matahari.
Jurus itu hanya membutuhkan tenaga dalam yang tak terlalu besar untuk menciptakan pukulan dengan kecepatan tinggi, namun pukulan itu memancarkan hawa panas yang mengakibatkan luka bakar. Bila tenaga dalam dikerahkan dengan kekuatan penuh, maka benda apapun yang kena pukulan itu akan hangus terbakar.
Dengan jurus itu, Batari Mahadewi telah menghancurkan 7 bayangan ilusi dari pendekar Bayangan Siluman yang masing-masing bayangan itu memiliki kesaktian yang sama.
Pendekar Bayangan Siluman sangat kaget ketika menyadari bahwa Batari Mahadewi memiliki jurus-jurus matahari. “Apakah kau Pendekar Matahari?” Tanya Bayangan Siluman. “Kudengar kau telah menghilang dari dunia persilatan, tapi kenapa kau muncul dengan wujud anak kecil seperti ini?”
Batari Mahadewi tak menjawab, terlebih karena ia memang pendiam, dan memang tak akan mau berbicara ketika bertempur. Ia masih meningkatkan kewaspadaanya karena ia tahu bahwa Bayangan Siluman belum bersungguh-sungguh melakukan pertarungan.
“Baiklah, jika 10 Bayangan Siluman terlalu mudah bagimu, bagaimana dengan 100?” Lalu pendekar Bayangan Siluman menciptakan 100 bayangan yang mengepung Batari Mahadewi. Bayangan-bayangan itu tak sepenuhnya ilusi.
Bayangan itu adalah pendekar Bayangan Siluman sendiri yang membagi dirinya menjadi 100 bagian. Hanya saja, bersama dengan itu energi dari Bayangan Siluman akan terbagi menjadi 100.
Hal itu menjadi kesempatan yang baik bagi Batari Mahadewi, karena ia serasa berhadapan dengan 100 anak buah pendekar Bayangan Siluman.
Batari Mahadewi memusatkan energinya dan bersiap melontarkannya secara penuh ketika ke 100 bayangan siluman akan secara serentak menyerang dirinya. Ketika segel ke empat telah terbuka, secara otomatis energi Batari Mahadewi juga bertambah.
Lontaran tenaganya tak hanya membuat benda-benda terpental sebagaimana dulu tenaga itu ia perlihatkan kepada gurunya, kali ini tenaga yang ia lontarkan juga memiliki daya hancur.
Setiap pendekar bisa melakukan hal itu karena itu merupakan sala satu ilmu dasar tenaga dalam. Namun tak semua pendekar menyangka cara sederhana itu bisa sangat efektif untuk membubarkan gerombolan penyerang. Tentunya, energi Batari Mahadewi merupakan energi dewa yang bahkan bisa membuat serangan-serangan sederhana ini bisa menjadi malapetaka.
Bayangan Siluman tak pernah menyangka bahwa lawan yang ia hadapi kali ini mempunyai energi yang sangat besar sehingga ia melakukan kesalahan bodoh ketika mengubah dirinya menjadi 100 bagian.
Ketika 100 bayangan siluman itu menyerang, Batari Mahadewi memancarkan ledakan energinya sehingga keseratus bayangan itu terpental dauh dan hancur berantakan, menyisakan satu bayangan saja, yaitu pendekar bayangan Siluman yang terlihat sangat menyedihkan. Tubuhnya penuh luka dan pakaiannya compang-camping
__ADS_1
akibat ledakan yang dipancarkan oleh Batari Mahadewi.
Kini ia tak bisa lagi menganggap remeh Batari Mahadewi. Ia kembali memulihkan energinya, dan ingin segera menyelesaikan pertarungan itu dengan jurus pamungkasnya.