Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 186 Sandiwara Pradipa #3


__ADS_3

Girimaya benar-benar melaksanakan apa yang dikatakan Pradipa. Tanpa meminta persetujuan dari Mahapatih Hamapadayana dan pemerintahan pusat di Swargabhumi, Girimaya menggerakkan para prajuritnya untuk membuat benteng mengelilingi seluruh kota.


Semua bahan tersedia di alam, dan tiga puluh ribu pasukan adalah jumlah yang besar untuk membuat pekerjaan berat itu cepat selesai. Bagi prajurit, pekerjaan semacam itu bisa dianggap sebagai latihan sehingga ketika mereka bekerja, mereka menjalaninya dengan sekuat tenaga, sebagaimana latihan keprajuritan. Semua subsidi yang seharusnya dialokasikan untuk kepentingan Mahapatih Hamapadayana telah dialihkan untuk membangun kembali kota Mutiara Biru.


Hanya dalam waktu tiga minggu, dengan kerja keras siang dan malam, akhirnya seluruh pembangunan benteng itu rampung. Tak hanya itu saja, Girimaya juga membangun kembali tata kota di dalam benteng menjadi lebih rapi dan efisien untuk segala keperluan. Beberapa warga kota yang mengungsi juga tak menolak untuk diajak kembali secara baik-baik dan dengan jaminan keamanan penuh. Kurang dari satu bulan, kota itu kembali hidup seperti dahulu.


Sesekali Pradipa meminta izin untuk keluar kota dengan alasan ingin mengenal dan memantau daerah itu. Dengan begitu, Pradipa bisa berkomunikasi dengan anak buahnya yang bertugas mencegat semua kurir Swargabhumi. Lalu apa yang terjadi dengan rombongan sang patih Hamapadayana?


Sang Mahapatih Hamapadayana mengalami hari-hari yang berat, terutama ketika bantuan bahan makanan tak kunjung datang. Setiap kurir yang ia kirim tak pernah kembali dan apa yang ia pesan tak pernah datang.


Setelah serangan yang dilakukan Pradipa, patih Hamapadayana kehilangan sebagian besar material perang terutama bahan makanan. Mau tak mau, ia harus berbenah kembali selama lebih dari satu minggu untuk melanjutkan perjalanan. Selama seminggu itu, bantuan yang ia minta belum juga datang dan tak akan pernah datang. Hamapadayana tak bisa membiarkan rombongannya berlama-lama berkemah di hutan.


Maka Mahapatih Hamapadayana melanjutkan perjalanannya dengan bekal seadanya. Rombongan itu melewati kota Kayu Wangi, salah satu kota yang tak terlalu besar di wilayah Swargadwipa. Kota itu hanya di jaga oleh dua ribu prajurit saja yang tugasnya bukanlah untuk bertahan, melainkan membantu mengevakuasi warga apabila rombongan musuh melewati kota itu.


Sehingga, sang patih Hamapadayana akhirnya menguasai kota itu tanpa perlawanan sama sekali. Karena perbekalan yang menipis, akhirnya sang patih Swargabhumi itu memutuskan untuk bertahan sementara waktu di kota itu. Banyak barang dan bahan makanan yang bisa dijarah karena ditinggalkan oleh para pemiliknya. Untuk sementara waktu, kebutuhan semua prajurit Swargabhumi itu terpenuhi dan di kota itu mereka bisa memulihkan tenaga dan pikiran mereka yang terlalu lelah dalam perjalanan.

__ADS_1


Tak bisa dipungkiri, sebagian besar prajurit Swargabhumi itu mengalami depresi selama perjalanan. Hal itu merupakan resiko atas dampak buruk melibatkan prajurit amatir yang jumlahnya hampir separuh dari jumlah keseluruhan prajurit. Para prajurit amatir itu mudah sekali mengeluh dan patah semangat. Tentu saja hal itu akan menular ke para prajurit senior. Keluh kesah telah meruntuhkan semangat juang dan mimpi-mimpi.


Dengan situasi yang serba aneh itu, dan ditambah pula dengan mata-mata yang tak pernah kembali lagi, Mahapatih Hamapadayana akhirnya mengirimkan lima ribu prajurit yang ditemani dengan dua ratus pendekar sakti ke kota Mutiara Biru untuk melihat keadaan di sana, sekaligus untuk mengangkut berbagai kebutuhan dalam jumlah besar yang sanggup dibawa oleh lima ribu prajurit itu.


Butuh waktu dua minggu bagi para prajurit itu untuk sampai ke kota Mutiara Biru dan dua minggu lagi untuk kembali. Sehingga, ketika lima ribu prajurit itu sampai di kota itu, mereka menyaksikan sebuah kota yang gagah. Sangat jauh berbeda dari saat awal mereka berangkat dari kota itu.


Pasukan Pradipa yang jumlahnya hanya segelintir itu tentu saja tak bisa berbuat apa-apa ketika melihat kedatangan pasukan Swargabhumi yang jumlahnya banyak itu. Mereka hanya bisa melaporkannya kepada Pradipa secara diam-diam. Sejak para warga kota kembali, para pendekar suruhan Pradipa bisa memasuki kota itu dengan menyamar sebagai pedagang.


Pradipa khawatir penyamarannya akan terbongkar jika para pasukan Swargabhumi itu tiba di Mutiara Biru. Bagaimanapun juga, beberapa pendekar sakti yang ikut dalam rombongab itu pasti ada yang mengenali wajahnya, mengingat wajah tampan yang ia miliki itu sangat sulit dilupakan oleh siapapun yang pernah melihatnya. Maka ia meminta izin kepada Girimaya dengan mengatakan bahwa ia akan pergi selama beberapa hari. Ia hanya berpesan kepada Girimaya untuk menyambut dan menjamu lima ribu pajurit yang akan datang itu dengan baik.


Aryasakti, salah satu senopati kepercayaan Hamapadayana yang ditugaskan untuk menjadi pemimpin lima ribu prajurit itu begitu heran dengan perubahan kota Mutiara Biru. Begitu ia memasuki kota, betapa terkejutnya ia melihat sebuah kota cantik dan rapi dibalik benteng besar dan tinggi itu. Aryasakti dan para prajuritnya disambut dengan baik sehingga tampaklah kegembiraan di wajah mereka karena telah sekian lama tak merasakan kenikmatan hidup.


“Kenapa kakang Giri tidak mengirimkan pesanan gusti patih?” tanya Aryasakti.


“Kapan gusti patih mengirimkan pesanan? Kami sungguh tak pernah mendapatkan pesan apapun sejak kalian berangkat ke kota kerajaan Swargadwipa.” Jawab Girimaya.

__ADS_1


“Berarti memang benar ada hal yang tak beres. Lantas kenapa kakang membangun kota ini sampai semegah ini? Apa yang kakang lakukan?” tanya Aryasakti. Diam-diam ia iri kepada Girimaya yang hidup enak di kota Mutiara Biru.


Girimaya menjelaskan semua maksud dari usahanya itu, namun Aryasakti menangkap hal yang lain dari yang diceritakan Girimaya. Aryasakti hanya menyimpan penafsirannya dalam benaknya sendiri.


“Lalu bagaimana keadaan pasukan saat ini?” tanya Girimaya.


“Kami sangat sengsara saat ini, terutama sejak kami diserang sekelompok pendekar dari Swargadwipa. Mereka membakar semua persediaan kami. Jadi saat ini kami masih bertahan di kota Kayu Wangi untuk sementara waktu. Sebenarnya banyak yang mengeluh dengan kepemimpinan gusti patih. Tak sedikit prajurit yang melarikan diri diam-diam.” Jawab Aryasakti.


Girimaya sangat bingung dan merasa bersalah. “Lantas apa yang bisa kulakukan, Arya? Jika gusti patih memintaku berangkat dengan semua pasukan pada hari ini juga, maka akan kulaksanakan.” Kata Girimaya dengan mantap untuk menebus rasa bersalahnya.


“Tidak kakang. Gusti patih tak meminta pasukan kakang yang ada di sini ikut bergerak ke Swargadwipa. Kakang hanya diminta untuk menyiapkan semua yang kami butuhkan. Kami akan membawanya hari ini juga.” Kata Aryasakti.


“Baiklah, aku akan suruh para prajurit menyiapkan semua yang dibutuhkan oleh gusti patih.” Kata Girimaya. Semua barang yang dipesan oleh sang patih masih tersedia dan jauh lebih banyak dari yang diminta. Berbagai barang itu dimasukkan ke dalam beberapa puluh pedati besar yang masing-masing ditarik dengan dua ekor sapi.


Aryasakti dan pasukannya kembali ke kota Kayu Wangi dengan berbagai perasaan yang berkecamuk di dalam benaknya. Di satu sisi, ia iri dengan Girimaya, namun di sisi lain ia membenarkan apa yang dilakukan oleh Girimaya.

__ADS_1


Sesampainya di kota Kayu Wangi, Aryasakti menceritakan semua hal yang ia dan yang ia bicarakan dengan Girimaya kepada Mahapatih Hamapadayana. Sang patih itu sangat geram dan mengumpat marah karena Girimaya telah lancang membangun kota itu tanpa seizinnya.


“Jika dibiarkan, lama-lama ia bisa mengkhianati Swargabhumi. Aryasakti, besok kau bawa seratus ribu pasukan ke kota Mutiara Biru. Bawa Girimaya padaku hidup atau mati!” kata Mahapatih Hamapadayana.


__ADS_2