Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 163 Menghadapi Monster Pulau Es


__ADS_3

Semakin dekat dengan pusat kota, Batari Mahadewi mulai bisa merasakan pancaran energi tipis yang menandakan aktivitas manusia pulau Es. Namun seperti yang di katakan sang nenek tua yang mereka temui sebelumnya, Vauran sedang berada di sekitar pusat kota menanti mangsa di sana. Hal yang tak diharapkan akhirnya terjadi juga.


Vauran menghadang Batari Mahadewi dan Nala sebelum keduanya sampai di pusat kota. Sosok serba putih dan berbulu unggas lengkap dengan sayapnya itu membuat udara di sekitarnya terasa jauh lebih dingin. Vauran masih belum menampakkan kekuatannya, namun tatapan matanya menandakan bahwa makhluk itu memang benar-benar berbahaya.


“Kami ingin menuju ke pusat kota.” Kata batari Mahadewi membuka percakapan, namun hanya kata-kata itu yang bisa ia ucapkan. Ada keraguan dalam hatinya andai saja ia harus berhadapan dengan makhluk di depannya itu, yang terlihat masih sangat muda meski menurut cerita si nenek, usia Vauran mungkin telah ribuan tahun.


“Ya, aku tahu kalian ingin ke pusat kota.” Kata Vauran.


“Kalau begitu, biarkan kami lewat.” kata Batari Mahadewi.


“Kau boleh lewat, tapi teman lelakimu ini harus bersamaku.” Kata Vauran.


“Bagaimana kalau kau ikut kami saja ke pusat kota, kita cari tempat yang nyaman jika kau ingin berbincang-bincang denganku.” Kata Nala yang terlihat tak sabar menghadapi perbincangan seperti itu. Namun ia juga merasakan hal yang sama dengan yang dirasakan Batari Mahadewi, ia merasa ragu jika harus berhadapan dengan makhluk itu.


“Tidak, sayang, aku punya tempat yang jauh lebih menyenangkan dari pusat kota itu untuk berbincang denganmu. Sebaiknya kau menuruti kata-kataku dari pada aku harus menggunakan cara lain untuk membuatmu ikut denganku.” Kata Vauran.

__ADS_1


“Mungkin cara lain itu lebih menyenangkan. Bisa kita coba?” Kata Nala kesal.


“Hahaha, anak muda sepertimu sungguh menyenangkan, penuh gairah hidup dan terburu-buru. Aku pasti akan sangat menikmatimu. Baiklah, keluarkan yang tebaik yang kalian miliki.” Tantang Vauran.


Batari Mahadewi dan Nala tak punya pilihan lain selain harus bertarung. Keduanya memancarkan energinya dan berubah menjadi manusia api yang berwarna hitam ke biru-biruan, yang menandakan puncak pencapaian dari kekuatan manusia api. Vauran sedikit terkejut dengan perubahan kedua pendekar muda itu, dan pastinya membawa pergi Nala bukanlah hal yang mudah.


Hawa panas dari tubuh Batari Mahadewi dan Nala membuat salju di sekitar mereka meleleh. Dengan tenaga dan kecepatan penuh, Nala menjadi pertama yang menyerang. Ia melesat cepat untuk melepaskan beberapa serangan. Beberapa langkah kaki sebelum ia mencapai Vauran, tiba-tiba ratu kematian dari pulau Es itu memancarkan energi penuhnya. Getaran energi yang ia ciptakan tak hanya membuat udara menjadi lebih dingin lagi, namun juga membuat salju di sekitarnya berhamburan dan membentuk pusaran yang mengelilingi tubuhnya sehingga Vauran sukar dilihat.


Nala melompat mundur dan menunda untuk menyerang Vauran dari jarak dekat, lalu ia melepaskan beberapa bola api untuk mengukur seberapa kuat musuh yang ada di hadapannya itu. Beberapa bola api energi berwarna hitam yang muncul dari telapak tangan Nala melesat ke arah pusaran salju yang membentengi Vauran. Namun begitu bola api itu tinggal beberapa jengkal dari sasaran, bola api berkekuatan tinggi itu langsung padam.


Badai es itu sungguh menguras tenaga Batari Mahadewi dan Nala, sebab hawa dingin yang dihasilkan harus memaksa keduanya untuk mengeluarkan lebih banyak energi agar tidak membeku. Meski telah memiliki puncak dari kekuatan api, namun Vauran berada di tempat yang menguntungkan. Di sana ia benar-benar menjadi ratu kematian bagi siapapun meski ia tak berhasil menembus segel mantra yang diciptakan para pendahulu pulau es untuk melindungi kota itu; mantra yang jauh lebih kuat dari yang digunakan untuk mengurung Vauran dalam es abadi.


Batari Mahadewi melihat celah yang menguntungkan. Saat Vauran melakukan serangan, makhluk itu tak terlindungi dengan pusaran salju yang sangat dingin. Batari Mahadewi melakukan perpindahan dalam sekejab mata dan ia tiba-tiba telah berada di belakang Vauran dan tanpa buang waktu lama, Batari Mahadewi melepaskan pukulan kombinasi dari tapak petir dan pukulan matahari dengan energi api sebagai dasarnya.


Pukulan itu menghasilkan ledakan yang hebat dan berhasil membuat Vauran terpental jauh. Badai es yang mengepung Nala otomatis berhenti seketika. Tanpa membuang kesempatan, Nala mengubah tubuhnya menjadi naga api hitam yang melesat cepat menghantam tubuh Vauran.

__ADS_1


Dua serangan beruntun yang mengenai Vauran dari Batari Mahadewi dan Nala membuat bulu-bulu putih di tubuh putri salju itu hangus terbakar. Namun hamparan salju di tempat itu juga merupakan sumber energi Vauran yang tak akan pernah habis, sehingga Vauran dapat pulih dengan cepat, bahkan menumbuhkan bulu-bulu baru di tubuhnya dengan sangat cepat.


Putri salju itu tampak geram. Ia memancarkan energi yang lebih dahsyat lagi. Tubuhnya mengalami perubahan bentuk. Perlahan-lahan, Vauran berubah menjadi seekor burung monster besar yang terlihat agak mirip seperti angsa dari dunia satu rembulan dengan leher panjang yang melengkung. Bentuk itu justru membuat penampilan Vauran tak lagi menyeramkan, sebaliknya, burung besar itu tampak lucu dan tak berbahaya.


Namun penampilan bentuk baru Vauran itu sungguh menipu. Dengan wujudnya yang seperti tampak lucu, monster angsa itu memiliki kekuatan yang lebih dahsyat lagi untuk menciptakan badai es. Dengan kepakan sayapnya, Nala dan Batari Mahadewi benar-benar terhempas dan terangkat naik hingga ke langit diombang-ambingkan dengan pusaran salju yang tebal dan pekat.


Pancaran energi dari pertarungan antara Vauran, Batari Mahadewi dan Nala itu tertangkap oleh para tetua sakti penunggu kuil suci pulau Es.


“Ini kesempatan kita untuk menaklukkan Vauran. Jika kita membantu dua manusia api itu, maka kita bisa mengalahkan Makhluk jahat itu.” Kata Ebe, sang guru besar di kuil suci.


“Kalau begitu mari kita serang bersama-sama, guru.”


Ebe melesat meninggalkan pusat kota diikuti oleh lima penunggu kuil suci lainnya. Dengan jenis kekuatan yang sama, Ebe yang dibantu oleh para pengikutnya itu bisa dengan mudah menghentikan pusaran angin yang diciptakan oleh Vauran. Batari Mahadewi dan Nala jatuh terhempas di gundukan salju. Tubuh keduanya sudah tak lagi berwujud manusia api, dan mereka berdua tampak kelelahan.


“Cepat kau tolong mereka berdua, Uza.” Perintah Ebe kepada salah satu rekannya. Dengan sigap, Uza melesat ke arah Batari Mahadewi dan Nala, lalu membantu keduanya memulihkan energi secepatnya. Sementara itu, Ebe mencoba mengulur waktu dengan berbicara kepada Vauran yang telah berubah kembali ke wujud aslinya. Jika ia berhadapan dengan manusia pulau es dengan wujud monster burung raksasa, maka sama saja ia bunuh diri sebab sudah pasti ia kehilangan banyak kecepatan meskipun kekuatannya meningkat pesat.

__ADS_1


__ADS_2