
Perguruan Tongkat Dewa adalah perguruan yang besar. Di kota Batu Belah, hanya perguruan Pedang Emas satu-satunya pesaing berat. Dalam hal ini, persaingan yang terjadi lebih ke arah pencapaian prestasi. Setidaknya, setahun sekali selalu ada satu atau dua kejuaraan beladiri antar perguruan.
“Apakah nona Tari bermaksud untuk memesan senjata kepada guru Udhata?” tanya pendekar Tongkat Dewa. Keduanya berbincang di sebuah ruang tamu perguruan.
“Tidak, guru besar. Saya ingin belajar membuat senjata pusaka,” jawab Batari Mahadewi.
“Dengan kemampuan langka seperti itu, nona masih membutuhkan senjata pusaka?” tanya pendekar Tongkat Dewa heran.
“Saya berencana membuat banyak senjata sakti untuk saya bagikan kepada para pendekar yang saya pilih nantinya. Apakah guru besar pernah mendengar tentang kerajaan Tirayamani dan ratu kegelapan?” tanya Batari Mahadewi.
“Ya, saya pernah mendengarnya, namun belum pernah bersinggungan dengan orang-orang Tirayamani yang konon mereka adalah para pendekar haus darah. Apakah tujuan nona ada hubungannya dengan kerajaan itu?” tanya pendekar Tongkat Dewa.
“Benar sekali. Kerajaan Tirayamani telah melebarkan sayapnya ke berbagai wilayah lain. Mereka sempat ke Mahabhumi, tapi kami semua bersatu dan berhasil mengusir para pendekar aliran hitam itu. Cepat atau lambat, kerajaan itu akan datang kemari. Dengan menciptakan pusaka-pusaka sakti dan memberikannya kepada pendekar yang tepat, maka pusaka-pusaka itu akan sangat berguna. Bagaimanapun juga, kekuatan para pendekar Tirayamani itu tidak main-main,” kata Batari Mahadewi.
“Bagaimana pendapat nona tentang pusaka ini?” tanya pendekar Tongkat Dewa sembari menyodorkan tongkat pusaka miliknya kepada Batari Mahadewi. Ia sangat bangga memiliki pusaka pemberian guru Udhata itu.
“Ini pusaka yang cukup bagus. Hanya saja, mustika yang ditanamkan dalam pusaka ini hanya cukup untuk melawan para pendekar hitam. Sementara, mereka memiliki pasukan iblis yang hanya mungkin bisa dilawan dengan pusaka yang lebih kuat lagi.” Jawab Batari Mahadewi.
__ADS_1
Di permukaan tongkat dewa itu sebenarnya terdapat aksara rahasia yang merupakan kitab untuk menyempurnakan jurus-jurus yang sesuai dengan kekuatan tongkat itu. Namun Batari Mahadewi tak yakin bahwa pendekar tongkat Dewa bisa membacanya. Hanya sedikit sekali pendekar sakti yang bisa membaca aksara rahasia.
“Benarkah sekuat itu, nona?” tanya pendekar itu tak percaya. Batari Mahadewi mengeluarkan beberapa mustika sakti yang ia dapat sebelumnya.
“Satu senjata sakti, setidaknya berisi empat atau lima jenis musika siluman dan mustika iblis seperti ini,” kata Batari Mahadewi. Mustika-mustika sakti itu cukup untuk memberikan penjelasan tanpa banyak kata-kata. “Pasukan iblis yang dimiliki oleh kerajaan Tirayamani merupakan pasukan iblis dari masa lalu. Tak bisa dimusnahkan dengan mengandalkan satu jenis mustika siluman yang berusia seribu tahun.”
Dahi pendekar Tongkat Sakti semakin berkerut-kerut. Tiba-tiba ia merasa ada banyak hal yang tak ia ketahui selama ini. Ia cukup malu menyebut dirinya sebagai pendekar terbaik di kota Batu Belah.
“Guru besar, maaf, tapi jika guru Udhata adalah guru dari guru besar, berarti usianya sudah sangat tua, kan?” tanya Batari Mahadewi penasaran.
“Ya, usianya hampir 500 tahun. Beliau merupakan pendekar tertua di seluruh pulau Siwarkatantra. Konon, setelah semua muridnya berhasil menjadi pendekar kuat, dan sebagian besar telah mendirikan perguruan seperti yang aku lakukan, guru Udhata tak lagi mengajar beladiri. Ia hanya bertapa dan sesekali menciptakan senjata pusaka. Di perguruan yang ia dirikan, yang mengajarkan beladiri kepada murid-murid generasi baru adalah murid-murid generasi lama,” jawab pendekar Tongkat Dewa.
“Nona, aku tak menyangka bahwa situasinya benar-benar gawat. Tadinya, kupikir nona bisa mengajarkan sesuatu kepada kami. Namun karena nona sudah pasti dikejar waktu, tentu nona tak akan bisa berlama-lama di sini,” kata pendekar Tongkat Dewa mengutarakan keinginannya secara tak langsung. Namun gadis jelmaan pusaka dewa itu tetap tanggap.
“Yang aku kuasai tak akan mungkin dipelajari oleh murid-murid guru di sini. Tapi sebenanya, dalam tongkat pusaka ini ada kitab rahasia. Jika guru besar mempelajarinya, mungkin guru besar bisa menyempurnakan jurus-jurus tongkat di perguruan ini,” kata Batari Mahadewi.
“Benarkah?” pendekar itu sedikit kaget karena ia tak menyangka akan hal itu. “Bisakah nona memberitahukan tentang kitab rahasia itu?” tanya pendekar Tongkat Dewa dengan penuh harap.
__ADS_1
Batari Mahadewi menyalin isi kitab rahasia itu pada selembar kain putih yang disediakan oleh pendekar Tongkat Dewa. Gadis itu sama sekali tak keberatan untuk berbagi hal yang ia ketahui. Lagipula, kitab dituliskan untuk dipelajari. Hanya saja, kitab rahasia hanya bisa dilihat oleh orang-orang tertentu.
Kitab rahasia yang tak terlihat di permukaan tongkat pusaka itu menghasilkan satu gulungan panjang kain putih yang semuanya berisi petunjuk tentang jurus rahasia Tongkat Dewa yang diciptakan oleh guru Udhata.
Meski jurus semacam itu sudah tak berguna lagi bagi Batari Mahadewi, namun bagi pendekar Tongkat Dewa atau pendekar lainnya, gulungan kain berisi kitab rahasia itu adalah barang yang sangat berharga dan layak untuk dipertahankan dengan nyawa. Pendekar Tongkat Dewa sangat berterimakasih atas kebaikan Batari Mahadewi. Kelak dengan jurus rahasia itu, perguruan Tongkat Dewa akan menjadi nomor satu di kota Batu Belah.
Keesokan harinya, Batari Mahadewi melanjutkan perjalanan. Gadis jelmaan pusaka dewa itu melesat cepat ke arah perguruan Tongkat Langit setelah ia mendapatkan petunjuk keberadaan lokasi itu dari pendekar Tongkat Dewa.
Tak sampai setengah hari, Batari Mahadewi telah sampai di kaki gunung Tiang Langit. Gunung itu tak hanya besar, namun juga tinggi dengan puncak yang sepenuhnya tertutup es. Dari kaki gunung itu, tampaklah perguruan Tongkat Langit yang berada hampir di puncak gunung, tepatnya di sebuah tebing yang curam.
Dari letak dan posisi perguruan itu, sudah terlihat bahwa siapapun yang bisa menjadi murid di perguruan itu hanyalah orang-orang hebat. Betapa tidak, perguruan itu tak mungkin bisa dicapai oleh orang biasa. Hanya orang kuat dan memiliki ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi saja yang bisa sampai di sana. Belum lagi mereka harus bertahan hidup dalam lingkungan yang ekstrim.
Dari bawah, Batari Mahadewi sudah bisa merasakan bahwa tempat itu sangat kaya dengan energi alam dan menyediakan bahan-bahan bagus untuk menciptakan senjata pusaka. ‘Pantas saja guru Udhata memilih tempat ini,’ batin Batari Mahadewi.
Gadis itu melesat ke angkasa dan menjejakkan kakinya di halaman perguruan yang tampak sepi. Udara di sana terasa dingin, meski tak sedingin pulau Es. Batari Mahadewi melangkah masuk melewati gerbang kayu yang tak tertutup dan tak dijaga oleh siapapun.
Bentuk perguruan itu terlihat elegan dengan bahan bebatuan gunung dan kayu yang dirangkai sedemikian rupa menjadi sebuah bangunan indah dengan tiga lantai. Bangunan yang berusia setua guru Udhata itu tak hanya terlihat menawan, namun juga memancarkan energi tertentu layaknya pusaka sakti.
__ADS_1
Dua orang laki-laki yang terlihat telah berusia lebih dari tujuh puluh tahun keluar dari dalam perguruan. Keduanya telah menyadari kedatangan Batari Mahadewi, namun belum mengetahui apa tujuan gadis itu datang ke sana.