
Keesokan paginya, kakek Tagama telah menyiapkan bubuk hitam dan beberapa bilah papan kayu untuk Batari Mahadewi. Gadis jelmaan pusaka dewa itu akan belajar menggambar hiasan untuk pedang. Kakek itu mencampurkan bubuk hitam yang ia bawa dengan minyak, sehingga bubuk itu berubah menjadi cairan yang bisa digunakan untuk menggambar atau menulis.
“Kemarilah, nona. Ini ada kuas, tinta dan papan. Bayangkan papan ini adalah bentuk senjata yang akan nona buat, lalu gambarlah hiasan di permukaannya. Ada beberapa papan untuk nona. Papan pertama ini, silahkan nona menirukan pola hiasan dari pedang ini, selanjutnya silahkan nona menciptakan pola sendiri,” kata kakek Tagama sembari menyerahkan peralatan itu serta sebuah pedang besar yang akan ditiru polanya oleh Batari Mahadewi.
“Terimakasih, kakek. Aku akan berusaha,” jawab Batari Mahadewi. Sang kakek itu meninggalkannya sendirian di dalam bengkel.
Selama seharian, Batari Mahadewi sibuk dengan aktivitas menggambar. Gambar yang ia hasilkan cukup mengenaskan.
Bukan sebuah jaminan bahwa dengan kekuatan dewa yang ia miliki, maka ia bisa menggambar dengan sempurna. Ia tak pernah melakukan hal itu dan tak pernah belajar sebelumnya.
Ketika lewat tengah hari, sang kakek kembali datang menemui Batari Mahadewi untuk memeriksa hasil pekerjaan gadis jelmaan pusaka dewa itu. Sang kakek tertawa terpingkal-pingkal.
“Oh, sungguh…ini adalah gambar terburuk yang pernah aku lihat selama beberapa tahun belakangan ini,” kata kakek Tagama sambil masih tertawa. Wajah Batari Mahadewi merah padam karena malu.
“Cukup kakek, ingat umur, jangan terlalu lama tertawa seperti itu. Setengah mati aku membuat gambar itu! Lagipula, hiasan di pedang kakek itu sangatlah rumit! Aku tidak bisa menirunya," sahut Batari Mahadewi kesal. Sang kakek justru malah tertawa lebih keras lagi, dan baru berhenti setelah ia tersedak ludahnya sendiri.
Beberapa hari berikutnya, sang kakek masih menyuruh Batari Mahadewi untuk menggambar hingga akhirnya ia berhasil membuat sebuah pola hiasan yang sedikit lebih baik dari sebelumnya.
“Beberapa hari ini nona belajar menggambar. Pasti membosankan. Jadi, hari ini aku bawakan tanah liat. Pada dasarnya, tanah liat ini bisa disetarakan dengan logam. Silahkan nona mencoba membuat sebuah pusaka dari tanah liat ini. Nona boleh menggunakan tenaga dalam untuk membuat tanah liat yang basah menjadi cepat kering dan keras,” kata kakek Tagama.
__ADS_1
Setelah memberikan penjelasan singkat, kakek itu pergi begitu saja tanpa memberikan contoh. Namun demikian, Batari Mahadewi cukup antusias dengan bahan baru itu.
Ia mengira membuat pedang dari tanah liat lebih mudah daripada besi. Namun, ia salah besar. Berkali-kali ia mencoba dan hasilnya sungguh bikin diare. Setidaknya, ia telah berhasil membuat kakek Tagama menangis.
Batari Mahadewi masih berkutat dengan tanah liat selama tiga hari, dan di hari ketiga itulah, ia berhasil meniru pedang buatan kakek Tagama. Setidaknya, ia lebih cepat belajar dari tanah liat daripada menggambar.
“Nona berhasil membuat tiruan pusaka ini dari tanah liat. Sungguh prestasi yang mengejutkan, mengingat nona sangat buruk dalam menggambar,” kata kakek itu jujur.
“Tanganku tidak cocok dengan kuas, kakek. Aku rasa begitu. Mungkin lebih mudah memegang logam panas daripada kuas,” kata Batari mahadewi.
“Jangan Khawatir, nona. Setelah ini, nona akan kembali berurusan dengan besi-besi itu. tapi sebelumnya, buatlah sebuah pedang tanah liat ciptaan nona sendiri. Aku ingin tahu, apa yang menjadi kekurangan nona dalam hal ini,” kata kakek Tagama.
“Karya yang bagus nona, bentuknya sempurna dan seimbang. Tapi dengan jujur harus aku katakan bahwa jiwa nona tak ada dalam karya ini. Apakah nona mengerti apa yang saya katakan?” tanya Tagama.
“Belum terlalu paham, kakek,” jawab Batari Mahadewi.
“Apakah kau menikmati saat-saat menciptakan karya ini?” tanya sang kakek.
“Hmm…sepertinya saya mulai mengerti, kakek. Ketika menciptakan karya itu, rasanya tertekan sekali. Saya seperti terjebak pada bentuk yang kakek ciptakan,” kata Batari Mahadewi.
__ADS_1
“Ingatlah, nona, keindahan itu tak selalu seperti ini. Yang terpenting dalam menciptakan sebuah pedang adalah tujuan nona itu sendiri. Dalam karya ini, bentuknya memang bagus. Tapi nona tersesat dan kehilangan arah. Meski hanya tanah liat, ingatlah bahwa ini adalah senjata. Sebelum membuat senjata, tentukan dulu harapan nona yang paling jujur dari senjata ini. Aku mengatakan hal ini karena nona sedang belajar membuat pusaka, bukan hiasan dinding. Jadi, besok nona harus mempelajari ini kembali,” kata kakek Tagama.
Batari mahadewi benar-benar merenungkan kata-kata sang kakek. Semua yang dikatakan kakek itu benar adanya. Ia membuat pedang yang indah hanya karena ingin mendapatkan pujian dan pengakuan dari sang kakek bahwa ia bisa menciptakan keindahan. Namun ia salah. Ia kehilangan kemurnian, kehilangan jiwa, kehilangan dirinya sendiri ketika ia menciptakan pedang tanah liat itu.
Keesokan harinya, Batari Mahadewi memulai kembali untuk menciptakan pedang tanah liat. Namun kali ini rasanya sangat sulit untuk memulai. Bahkan sedari tadi ia hanya duduk terdiam, memandangi gumpalan tanah liat yang belum ia sentuh sama sekali.
Ingatannya terbang ke hal-hal yang pernah ia lalui dan pernah ia pelajari. Hingga pada suatu titik, ia ingat Nala. Tiba-tiba hatinya rindu kembali sosok lelaki ketus mengesalkan namun diam-diam selalu mengkhawatirkan keselamatannya itu. Lelaki unik dengan kekuatan yang mengerikan itu. Lelaki tangguh yang telah mewarnai hidupnya selama sepuluh tahun di dunia yang sangat asing.
Rasa rindu yang menerobos tulang sumsum dan setiap inci pembuluh darah gadis jelmaan pusaka dewa itu membuat tangan logamnya bergerak, mengambil gumpalan tanah liat, memilin, meremas, membentuk, menata, mengukir, hingga terciptalah sebuah pedang kecil lurus sepanjang lengannya, dengan sedikit ukiran pada beberapa bagian. Dalam proses membentuk pedang itu, ia selalu teringat Nala yang bisa merubah wujudnya menjadi tanah dengan berbagai bentuk yang berbeda-beda.
Sebuah pedang sederhana telah tercipta dari rasa hidup yang jujur, cinta yang tak sepenuhnya terkatakan, penantian, dan pejalanan untuk kehidupan yang lebih baik. Batari Mahadewi menimang pedang tanah liat yang telah ia keraskan dengan hawa panas yang terpancar dari kedua telapak tangannya.
Batari Mahadewi menggunakan empat unsur kekuatan yang ia peroleh dari dunia tiga rembulan untuk mengeraskan tanah liat itu hingga memiliki kepadatan dan kekerasan yang solid. Warnanya berubah menjadi hit legam dan berkilau. Air matanya meleleh dan menetes di pedang ciptaannya itu. Hatinya lega.
Sang kakek datang pada senja yang masih tergantung di langit. Ia melihat sebuah pedang tanah liat telah terbaring manis di meja, namun Batari Mahadewi entah berada di mana.
Tangan kakek itu bergetar ketika menyentuh pedang tanah liat itu. Ia merasakan energi dan jiwa yang sangat kuat di sana. Ia takjub. Bahkan pedang itu hanyalah tanah liat, tanpa mustika apapun.
Sang kakek menguji pedang itu dengan menjatuhkannya di sebuah batu. Pedang tanah liat itu membuat sebongkah batu terbelah menjadi beberapa bagian. Sang kakek tertegun. Tak lama kemudian, Batari Mahadewi datang.
__ADS_1
“Kau lulus, nona! Sudah saatnya kau membuat pedang dari logam!” kata sang kakek penuh semangat.