
Batari Mahadewi dan Jalu telah dua hari melakukan meditasi di halaman altar suci kota Dhyana. Melalui meditasi itu, keduanya mengalami hal yang mirip. Pertama, mereka menyerap energi bumi yang sama dan berasal dari dalam altar suci. Kedua, mereka bertemu dengan sosok lain dari penjaga altar suci dalam meditasi.
Di dalam meditasi yang sedang dilakukan Batari Mahadewi, sosok kakek Agrapana mewujud sebagai asap putih yang berubah-ubah wujudnya. Batari Mahadewi dapat mengenali sosok itu dengan mudah melalui pancaran energi yang ia tangkap ketika sosok itu menghadirkan dirinya.
“Kakek Agrapana.” Kata Batari Mahadewi.
“Hahaha, kau mengenaliku dengan mudah nona muda.” Kata kakek itu.
“Apakah yang akan kakek ajarkan pada saya?” tanya Batari Mahadewi.
“Apakah aku terlihat seperti akan mengajarkan sesuatu padamu?” Balas kakek itu.
“Saya yakin demikian, kakek, hingga kakek harus bertemu saya dengan cara seperti ini.” Jawab Batari Mahadewi.
“Kau istimewa cucuku. Aku tak tahu apakah kau yang harus belajar padaku atau aku yang belajar padamu. Mungkin kau tampak dalam wujud anak gadis kecil, tapi bagiku kau bukanlah demikian.” Kata kakek itu.
“Saya bahkan tak bisa lagi meyakini siapa diri saya, kakek. Mungkin kakeklah orang pertama yang akan aku tunjukkan sesuatu.” Kata Batari Mahadewi. Ia menunjukkan tangan dan kakinya yang tampak seperti logam berwarna emas.
“Aku…aku tak yakin, cucuku. Tapi tanganmu ini…ini bukan tangan manusia. Tak ada makhluk di dunia tengah yang memiliki tubuh semacam ini. Semestinya kau berasal dari khayangan. Tapi sesungguhnya, dewa-dewapun tak memiliki wujud seperti ini, kecuali jika mereka menyamarkan wujudnya. Namun aku yakin kau bukanlah dewa yang sedang menyamar. Jika kau tak mengetahui siapa dirimu, mungkin memang belum saatnya.” Kata kakek itu.
“Tapi saya takut, kakek, saya takut suatu hari saya akan menjadi malapetaka.” Kata Batari Mahadewi.
“Seharusnya tidak. Tapi hanya kau sendiri yang bisa menentukan masa depanmu.” Kata kakek itu.
__ADS_1
“Kakek…” kata Batari Mahadewi.
“Ya…” Jawab kakek itu.
“Sudah berapa lama kakek menjaga altar ini?” tanya Batari Mahadewi.
“Mungkin hampir 1000 tahun.” Jawab kakek itu.
“Apakah mungkin manusia bisa hidup selama itu?” tanya Batari Mahadewi.
“Hanya jika manusia itu sudah melampaui batas-batasnya.” Jawab kakek itu.
“Bisa kakek ajarkan padaku tentang hal itu?” Tanya Batari Mahadewi.
“Lalu bagaimana dengan manusia? Sama saja. Namun kita punya pikiran, punya keinginan, punya kecerdasan. Hal-hal itu bisa saja tak terbatas, namun justru di sanalah batasannya. Pikiran, misalnya, selalu membatasi kita, menciptakan ketakutan-ketakutan, menciptakan ketidakmungkinan, lalu kita akan terdampar pada batasan itu.” lanjut kakek itu.
“Tubuh kita bisa abadi, namun juga bisa berusia pendek. Ada jalan yang harus kita tempuh. Sebagai pendekar, barangkali hal ini tak asing buatmu, sudah semestinya kita bisa menyerap energi bumi. Menyatu dengan bumi. Sehingga, kita semua bisa saja terus hidup selama bumi masih menyediakan energi bagi kita.” Kakek itu masih bercerita.
“Tapi pikiran kita terlanjur mengetahui, bahwa tubuh ini ada batasnya, bahwa untuk hidup adalah makan. Ketahuilah, selama kita hidup dengan cara seperti itu, maka hidup kita pendek. Tubuh kita rentan. Kemudian tubuh kita mati, dan energi yang kita simpan dalam tubuh itu akan mewujud roh, energi tanpa wadah sebelum nanti roh manusia akan mencari wujud barunya entah sebagai siluman, iblis, tanaman, hewan, atau manusia. Semua makhluk berasal dari satu hal yang sama, lalu mewujud dalam bentuk yang berbeda-beda.” Kakek itu menghela nafasnya.
“Sampai di sini kau paham?” tanya kakek itu.
“Saya masih mengikutinya, kakek.” Jawab Batari Mahadewi.
__ADS_1
“Soal tubuh akan kau pahami dengan sendirinya apabila kau mampu menembus batas-batas pikiranmu. Saat ini, pikiranmu masih dalam tahap mencari tahu siapa dirimu. Maka kau harus menyelesaikan hal ini dulu.” Kata kakek itu.
“Kita bisa mengetahui diri kita dengan bercermin. Melalui benda-benda yang bisa memantulkan bayanganmu, melalui orang lain yang akan mengatakan siapa dirimu, menilaimu, menghinamu, memujimu, itulah kamu. Kamu menurut orang lain, kamu menurut cermin yang memantulkan bayanganmu. Tapi itu bukanlah kamu. Itu adalah bayanganmu, kesan atas kehadiranmu, ilusi atas kedirianmu. Hal itu adalah kebenaran, memang, yang tak dapat kau tolak dan satu-satunya pijakan awal yang membuatmu mengenal dirimu.” Kata Kakek itu.
Kakek itu melanjutkan penjelasannya, “Sehingga, nantinya akan ada dua hal untuk memahami ke-aku-an pada diri kita masing-masing. Pertama, ke-aku-an ketika kita bisa mengatakan aku. Misalnya, aku adalah Agrapana. Yang kedua, ketika kita tahu ke-aku-an dari yang dipantulkan oleh cermin hidup kita. Misalnya, aku adalah seorang pertapa, penunggu altar suci ini, seorang kakek tua.”
“Kita hidup dalam dunia bahasa, cucuku, sebuah dunia yang hanya bisa kita pahami jika kita telah mengenal bahasa. Melalui bahasa, kita mengenal diri kita, kita mengenal dunia kita, kita memahami segala pengetahuan. Dunia yang kosong ini menjadi bermakna hanya karena bahasa. Manusia memaknai dirinya dan dunianya hanya melalui bahasa. Pikiran kita dibentuk melalui nalar bahasa” Kata kakek itu.
“Tapi sesungguhnya, bahasa itu terbatas. Ada banyak hal yang tak bisa dibahasakan. Ada hal besar yang menjadi kecil ketika telah dibahasakan. Misalnya, kau merasa sedih. Dengan mudah kau menyatakan perasaanmu dengan satu kata saja, yaitu sedih. Sementara, sedih yang kau maksud jauh lebih luas dari kata sedih itu sendiri. Dalam hal ini, bahasa tak sepenuhnya bisa membahasakan dunia.” Kata Kakek itu.
“Bisa kau bayangkan bukan, jika hidup kita begantung pada bahasa, pikiran kita bergantung pada bahasa, maka sudah pasti kita sangat terbatas. Pikiran kita yang telah dibentuk dari bahasa itulah yang membatasi diri kita, keluasan kita sebagai manusia. Ini dilema, si satu sisi kita tak bisa hidup tanpa bahasa, namun di sisi lain kita menjadi terbatas, kita menciptakan batas dengan dunia kita.” Kata kakek itu.
“Sekali lagi, kau bisa kenal dirimu sendiri melalui perantara bahasa, namun kau tak akan pernah memahami dirimu sepenuhnya jika kau hanya melihat, hanya mengenali dirimu melalui cara itu. Hanya melalui kekosongan, hanya melalui dunia tanpa makna, dunia yang melampaui bahasa, maka kamu akan memahami dirimu dengan lebih baik. Kurasa itulah yang harus kau kejar. Seraplah segala energi dan pengetahuan sejauh yang kamu bisa lakukan.” Kata kakek itu mengakhiri nasehatnya.
“Saya tak yakin bisa memahaminya saat ini, kakek. Namun saya tak akan berhenti belajar.” Kata Batari Mahadewi.
“Baiklah, setelah ini kau bisa menyelesaikan meditasimu. Kau boleh menuju altar suci untuk membersihkan dirimu.” Kata Kakek itu yang perlahan menghilang dari pandangan Batari Mahadewi.
‘Ah, siapa kakek itu? aku mendapatkan pencerahan sekaligus kegelapan dalam waktu yang sama. kekosongan? Dunia di luar bahasa?’ Batin Batari Mahadewi. Ia membuka matanya, menghirup udara di sekelilingnya. Segala sesuatu tampak sedikit berbeda.
####
Sampai di sini dulu ya guys…otak saya kesleo lagi nih. Semoga sampai sejauh ini masih bisa menemukan kenikmatan dalam cerita ini. Sekali lagi, saya tak bosan mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas segala bentuk dukungan yang diberikan pada saya.
__ADS_1
Saya juga sangat terbuka untuk segala kritik dan saran untuk vitamin saya melanjutkan cerita ini. Sampai jumpa besok malam. Salam.