
Hari yang paling ditunggu-tunggu telah tiba. Para raksasa yang rindu kembali ke dunia tengah sedang bersuka cita. Semua persiapan telah selesai. Kalapati membuka pintu khayangan sebagai kalan bangsa raksasa untuk menuju ke dunia tengah.
Langit tersibak, cahaya berwarna biru menyorot ke empat penjuru menjadi jembatan bagi para raksasa untuk datang ke negri yang mereka tuju.
Pemandangan aneh itu menyita perhatian semua makhluk yang ada di dunia tengah. Bangsa manusia yang belum sepenuhnya pulih dari bencana alam kembali merasa ketakutan. Belum selesai satu masalah, telah muncul masalah baru.
Di pulau Mahabhumi, wilayah kekuasaan kerajaan Mahatmabhumi menjadi gempar. Wilayah itu menjadi tempat mendaratnya bangsa raksasa yang dipimpin oleh Kalamerah. Raja raksasa itu akan memulai kekuasaannya di sana.
Begitu bangsa raksasa itu sampai sebagian besar dari mereka langsung menyebar ke segala penjuru. Masing-masing berebut mencari tanah yang akan mereka tinggali. Namun sebelum mereka terlalu jauh, Kalamerah segera menghentikan mereka semua dam memaksa mereka melakukan pekerjaan membangun istana besar untuknya.
Lalu bagaimana dengan para manusia di Mahatmabhumi? Mereka sungguh panik melihat makhluk yang besarnya tiga kali lipat dari manusia. Wajah para raksasa itu sungguh menyeramkan sekalipun mereka bukan bangsa iblis atau siluman.
Orang-orang penting di Mahatmabhumi seperti raja dan keluarganya segera menyingkir menuju ke altar gerbang surga. Di sana Lokatara akan menjamin keselamatan sang raja dan orang-orang lainnya yang datang meminta perlindungan. Namun demikian, tempat itu terbatas, tak bisa menampung seluruh orang di Mahatmabhumi.
Maka, sebagian besar orang-orang Mahatmabhumi segera berbondong-bondong untuk mengungsi ke negri di wilayah barat, yakni Madyabhumi dan Swargaloka hingga bahkan Swargabhumi. Semakin jauh meninggalkan bangsa raksasa semakin baik.
Hanya golongan pendekar saja yang bertahan. Mereka berkumpul dan menyusun segala siasat di perguruan Pedang Dewa milik Ki Raga Bumi. Nyi Lohita dan Ki Rangga Suluk sebagai tetua pendekar yang paling disegani juga ada di sana membawa serta murid-murid mereka.
“Beberapa waktu yang lalu, guru Lokatara telah memperingatkan hal ini. Guru Agrapana telah menyebarkan undangan untuk menghimpun kekuatan. Tapi sepertinya kita terlambat.” Kata Ki Rangga Suluk.
“Aku tak mengira hal ini benar-benar terjadi. Bukan hanya soal undangan guru Agrapana yang disampaikan melalui mimpi, namun ternyata ucapan Batari Mahadewi benar adanya. Kini kita tak tahu, gadis itu sedang berada di mana. Sekalipun kita menggunakan senjata pusaka pemberiannya, namun jumlah bangsa raksasa itu terlalu banyak,” kata Nyi Lohita.
__ADS_1
“Kita tak boleh gegabah dalam bertindak. Sekalipun kita bisa membunuh satu raksasa dengan mudah, namun akibatnya bisa berbahaya jika pemimpin mereka tahu apa yang kita lakukan. Jadi ada baiknya kita amati dahulu perkembangannya. Kita lihat apa yang mereka lakukan,” kata Ki Raga Bumi.
“Jadi kita hanya menunggu saja?” ucap Ki Rangga Suluk.
“Bukan begitu. Kita akan tetap berhubungan dengan guru Lokatara dan melakukan apa yang beliau usulkan.”
“Serulingku tak mempan untuk melawan bangsa raksasa. Kukira, makhluk itu seperti iblis, memiliki kekuatan hitam,” kata Ki Rangga Suluk.
“Tidak begitu, Rangga. Mereka tak bisa berubah wujud seperti halnya siluman atau iblis. Rupa mereka mengerikan sejak mereka lahir. Kekuatan mereka adalah kekuatan raksasa. Tubuh mereka seperti tubuh manusia, hanya saja lebih besar, kuat, dan keras. Mereka ada yang memiliki kesaktian layaknya para pendekar, ada juga yang tidak. Namun bangsa raksasa yang bukan golongan ksatria tetap menjadi makhluk yang mengerikan dan sulit dibunuh,” kata Ki Raga Bumi.
“Ya, guru Lokatara juga mengatakan hal yang sama. Selama kita bersatu di sini, kita masih bisa selamat menghadapi beberapa raksasa yang mungkin datang dan ingin menjarah tempat ini. Tetapi kita tak mampu menghadapi rombongan pasukan perang mereka jika hanya mengandalkan kekuatan kita yang hanya seperti ini!” ucap Nyi Lohita.
“Kalau begitu, aku akan ke ruang pertapaan dulu,” Ki Raga Bumi pergi meninggalkan kedua sahabatnya itu, bergegas menuju ke ruang semedi melakukan perjalanan roh untuk bertemu dengan guru Lokatara di kuil Gerbang Surga.
****
Sementara itu, wilayah Swargadwipa yang telah mendengar berita tentang turunnya bangsa raksasa itu mulai bergerak cepat untuk menyusun berbagai rencana. Para pendekar besar dan orang-orang penting, termasuk raja Srengenge Ireng, berkumpul di altar suci Dhyana.
Yang pasti, dalam waktu dekat, akan ada pergerakan gelombang besar manusia yang pindah ke wilayah barat.
“Ramalan kolam suci saat ini telah menjadi kenyataan. Meski bangsa raksasa tidak seganas bangsa iblis, namun kita harus memiliki cara hidup baru. Kita memang belum tahu bagaimana perkembangannya, tetapi kita sudah tidak bisa lagi hidup wajar seperti dahulu,” Agrapana membuka musyawarah itu.
__ADS_1
“Aku di sini bukan sebagai raja, melainkan pendekar seperti kalian semua. Jadi jangan sungkan untuk menyampaikan pendapat apapun. Situasi kerajaan belum sepenuhnya pulih, ditambah lagi dengan masalah ini, maka kerajaan tak akan bisa berbuat banyak,” kata raja Srengenge Ireng.
“Tari dan Nala masih belum kembali. Sebelumnya, aku masih berharap banyak kepada dua anak muda itu. Namun kita tak bisa menggantungkan nasib kepada mereka saja. Kita harus bisa berdiri sendiri dan bertahan dalam situasi yang serba sulit ini. Tari dan Nala meninggalkan banyak senjata pusaka untuk kita, khususnya di wilayah Swargadwipa. Senjata ini akan menjadi andalah kita untuk bertahan. Tetapi, jika kita bisa menghimpun kekuatan dari seluruh wilayah Mahabhumi, ini akan lebih baik.” Kata Ki Gading Putih.
“Mohon maaf, hamba yang muda ini ingin menyatakan pendapat,” kata Buyung, “menyambung pemikiran guru Gading, semua orang di Mahabhumi hanya bisa bertahan jika kita semua menggabungkan kekuatan. Tidak ada pilihan lain. Cara yang bisa kita tempuh adalah memindahkan seluruh warga ke wilayah barat, lalu menjadikan Swargadwipa menjadi benteng utama yang menahan pergerakan bangsa raksasa dari arah timur.
Pastinya bangsa raksasa itu hanya ingin mendapatkan tempat untuk tinggal dan hidup. Separuh dari Mahabhumi ini cukup luas untuk mereka semua. Jika kita menyerahkannya begitu saja, maka dalam beberapa tahun ke depan, kita tak perlu bertarung dengan bangsa raksasa. Tentu mereka juga ingin menghindari perang, sebab mereka masih akan sedang berkembang. Dalam kurun waktu itu, kita bisa membangun benteng yang kuat, menciptakan senjata jarak jauh yang membuat mereka semua takut untuk mendekat.”
Gagasan buyung itu disambut baik oleh banyak pihak.
“Masalahnya hanya satu, apakah negri-negri timur rela meninggalkan tanah mereka? Jika tidak, maka langkah apa yang sebaiknya bisa di tempuh?” ucap Ki Elang Langit.
“Hal itu sudah pasti akan terjadi. Butuh waktu untuk membuat mereka rela meninggalkan negri timur. Tetapi, rakyat akan dengan sendirinya pindah ke wilayah barat. Para penguasa tak akan bisa berbuat apa-apa dan pada akhirnya akan menyerah lalu ikut pindah ke barat.
Soal kekuasaan juga akan menjadi masalah baru. Tetapi seandainya semua raja berkenan, kita bisa membuat satu kerajaan yang dipimpin oleh semua raja di Mahabhumi. Hanya dengan cara ini kita bisa bertahan, tanpa itu, justru kita akan kehilangan segalanya.
Yang bisa kita lakukan saat ini adalah menempuh jalur kerjasama, meyakinkan semua pihak agar mau bergabung, dan kita juga bisa memulai membangun benteng yang berdiri dari ujung utara hingga ujung selatan.
Jika gagasan ini dinilai terlalu menguntungkan Swargadwipa, kita bisa mengalah. Kita bangun benteng raksasa di perbatasan Swargadwipa dengan Swargabhumi. Keuntungannya, wilayah itu sempit, memiliki benteng alami berupa pegunungan tinggi dan curam, serta satu-satunya jalan bagi wilayah timur untuk menyeberang ke wilayah barat,” Buyung menyampaikan gagasan itu dengan penuh semangat.
“Aku suka pendapatmu, Buyung!” kata Srengenge Ireng. Yang lain ikut menganggukkan kepala tanda setuju.
__ADS_1