Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 35 Desa Di Atas Awan


__ADS_3

Setelah melintasi hutan yang dihuni oleh pendekar bermata satu itu, Batari Mahadewi, Jalu dan Niken melesat dengan kecepatan tinggi menuju ke arah barat. Setelah melewati hutan itu, mereka bertiga sampai di sebuah padang rumput. Di depan mereka terbentang pegunungan yang tinggi dan luas. Mereka tak mempunyai pilihan lain kecuali melewati gunung itu.


“Kukira setelah melewati hutan ini, kita akan menemukan sebuah desa, ternyata hanya ada dataran rumput dan pegunungan.” Kata Niken.


“Mungkin di balik gunung itu kita baru bisa menemukan desa.” Balas Jalu.


“Bagaimana jika kita istirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan? Melewati hutan dengan kecepatan penuh lumayan menguras tenaga.” Kata Niken.


“Ide bagus. Di sini tak ada tanda-tanda ada manusia lain kecuali kita bertiga. Bukankah ini waktu yang tepat untuk menyerap energi dari bebatuan pemberian Pendekar Mata Satu?” usul Jalu.


“Berapa banyak yang kita punya?” tanya Batari Mahadewi.


“Ada 21 mustika merah delima dan 3 mustika intan. Kalau mau, kita bisa bagi tiga.” Kata Jalu.


“Aku tak menginginkannya. Kak Jalu dan Kak Niken saja yang menggunakannya.” Kata Batari Mahadewi.


“Hahaha…adik sudah terlalu kuat dan mungkin bebatuan ini tidak ada artinya buatmu.” Kata Jalu.


“Entahlah, aku hanya merasa nyaman dengan menyerap energi bumi.” Kata Batari Mahadewi. Pemahaman gadis pendekar itu mengenai energi bumi berbeda jauh dengan yang dipahami oleh Niken dan Jalu.


Niken dan Jalu menyerap energi bumi hanya bisa sebatas memulihkan energi mereka. Lain halnya dengan Batari Mahadewi, ketika ia menyerap energi bumi, itu sama saja dengan menyerap segala energi yang tersimpan di tanah, air, dan udara. Tinggal satu elemen saja yang belum bisa ia lakukan, yakni menyerap energi matahari.


Tubuh Batari Mahadewi adalah bentuk lain dari pusaka dewa yang akan terus menerus menyerap berbagai jenis energi di sekitarnya. Batasannya adalah daya tampung pada tubuhnya. Hal ini sejalan dengan perkembangannya kelak hingga ia bisa membuka ke 12 segel dalam tubuhnya. Masing-masing segel akan terbuka jika tubuh Batari Mahadewi telah siap dan tiap segel yang terbuka memungkinkan dirinya untuk bisa menampung lebih banyak energi.


Sayangnya, hingga sejauh ini ia belum memahami siapa dirinya dan segala seluk beluk segel serta misteri lain pada tubuhnya. Yang ia tahu, tiap-tiap jurus baru yang ia pelajari juga merupakan jalan untuk meningkatkan kemampuan serta kapasitas tubuhnya dalam banyak hal, terutama untuk bertarung.


Jalu dan Niken membutuhkan waktu setengah hari untuk menyerap energi dari bebatuan yang telah mereka dapatkan itu. Sementara mereka berdua berkonsentrasi untuk melakukan penyerapan energi, Batari Mahadewi menjaga keamanan dan keselamatan mereka berdua.


Sembari menunggu, Batari Mahadewi melatih kembali Ilmu Matahari yang ia dapatkan dari aksara rahasia dalam kitab tua di perpustakaan kota Kaki Langit. Ia memiliki cara unik untuk berlatih, yakni latihan dalam pikiran. Sehingga, ia tak pernah terlihat sedang latihan ilmu beladiri.


Setidaknya sudah ada dua ilmu legendaris yang ia kuasai, yakni Ilmu Raga Membelah Bumi dan Ilmu Matahari. Keduanya diciptakan oleh pendekar legendaris di masa lalu dan pendekar dengan tingkat energi dewa saja yang bisa menguasainya.

__ADS_1


Batari Mahadewi sudah menguasai sepenuhnya jurus-jurus dalam Ilmu Raga Membelah Bumi dan menciptakan variasi jurus baru dari jurus-jurus utama dalam ilmu tersebut. Namun ia enggan menggunakannya dalam pertarungan karena daya hancurnya yang mengerikan yang tak hanya untuk musuhnya, namun beresiko untuk dirinya.


Sebaliknya, Ilmu Matahari lebih efisien untuk digunakan dalam pertarungan menghadapi berbagai jenis pendekar baik dari golongan hitam ataupun putih karena kecepatan dan kekuatannya. Sambil mengingat pertarungannya dengan pendekar Bayangan Siluman, ia mengoreksi kesalahannya dalam menggunakan jurus-jurus Ilmu Matahari.


Pada dasarnya, jurus-jurus dalam Ilmu Matahari bisa digunakan oleh pendekar yang tak memiliki senjata atapun pendekar dengan senjata tertentu seperti misalnya keris, pedang, tombak, gada, rantai, dan lain sebagainya. Bagi Batari Mahadewi, benda apapun bisa menjadi senjata sehingga ia tak perlu repot memiliki pedang dan membawanya kemana-mana.


Jalu dan Niken telah selesai menyerap seluruh energi dari mustika yang mereka peroleh. Tubuh mereka memancarkan aura yang berbeda dengan kualitas energi yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Namun mereka masih tetap pada tahap pendekar dengan 8 indera. Tak banyak pendekar yang bisa mencapai indera ke 9 atau bahkan sepuluh dan belum pernah ada yang bisa mencapai 11 indera kecuali Batari Mahadewi yang bahkan ia sendiri tak sadar ia telah memiliki 12 indera. Ia hanya tahu dirinya berubah drastis.


“Kak Jalu dan kak Niken sudah mengalami perkembangan pesat. Mungkin saat ini sangat mudah bagi kak Jalu dan kak Niken untuk bertarung dengan pendekar sekelas Kelelawar Hitam dan Kelabang Iblis.” Kata Batari Mahadewi.


“Iya adik, mungkin jika kami lebih sering mendapatkan mustika seperti ini, kami bisa cepat menyusul kemampuan adik.” Kata Jalu.


“Benar kakak. Jika sudah waktunya nanti, aku akan mengajarkan Ilmu Matahari kepada kakak. Butuh kapasitas energi yang lebih besar dari yang kakak miliki saat ini untuk menguasai jurus-jurus dalam Ilmu Matahari.” Kata Batari Mahadewi.


“Jika adik tak bersama kami dalam perjalanan ini mungkin nasib kami akan lain.” Kata Niken. “Entah sudah berapa kali adik telah menyelamatkan kami.”


“Iya, benar. Seharusnya adiklah kakak seperguruan kami.” Kata Jalu.


“Ah, sudahlah kakak, aku bisa masuk angin kalau kakak terlalu banyak memuji.” Kata Batari Mahadewi.


“Hahaha, semoga ada lelaki yang bisa menandingimu dan berani melamarmu, adik.” Gurau Jalu.


“Hahaha, yang pasti aku akan menyiapkan diri untuk membantu kalian membesarkan anak sebelum berfikir untuk menikah.” Balas Batari Mahadewi sambil tertawa. Kini giliran Jalu dan Niken yang tersipu malu.


“Di puncak gunung itu, ada sebuah desa. Mungkin kita akan mendapatkan kejutan di sana.” Kata batari Mahadewi.


“Bagaimana adik bisa tahu?” tanya Niken. Ia tetap bertanya meski ia sudah tak heran jika adiknya bisa lebih dahulu tahu hal-hal yang jauh dari jangkauan mereka dan jauh dari jangkauan nalar.


“Aku merasakan pancaran energi dari angin gunung yang berhembus di dataran ini. Ada banyak pendekar. Beberapa kali aku menangkap pancaran energi dari pendekar tingkat tinggi. Mungkin sedang ada pertarungan di sana.” Batari Mahadewi menjelaskan.


“Apa adik yakin di sana ada desa?” Tanya Jalu.

__ADS_1


“Sebaiknya kita ke sana saja. Mungkin saja itu adalah desa, atau hanya suatu tempat yang banyak orangnya. Aku tidak tahu persisnya.” Kata Batari Mahadewi.


Ketiganya kemudian melanjutkan perjalanan mereka kea rah gunung itu. Ketika sudah mencapai kaki gunung, barulah mereka tahu bahwa mendaki gunung itu tidaklah mudah dan tidak mungkin dilakukan oleh orang biasa. Gunung itu sangat tinggi dan curam seolah seperti tembok raksasa yang sangat lebar dengan ketinggian yang menembus awan.


“Tinggi sekali gunung ini. Hanya orang-orang berilmu tinggi saja yang bisa mencapai puncaknya. Dan jika di sana ada desa, sudah pasti desa itu berisi para pendekar langit.” Kata Jalu.


“Apakah kakak ingat cerita guru tentang desa di atas awan? Mungkinkah puncak gunung ini adalah desa di atas awan?!” Kata Niken.


“Ya, guru pernah bercerita soal desa di atas awan dimana semua orang yang tinggal di sana adalah para pendekar. Apakah adik masih menangkap pancaran energi pertarungan di sana?” tanya Jalu kepada Batari Mahadewi.


“Ya. Silih berganti. Berpasangan. Apakah mungkin sedang ada latihan? Atau semacam pertandingan beladiri? Aku jadi penasaran.” Kata Batari Mahadewi. “Tapi kak Niken benar. Inilah desa di atas awan itu.”


“Dari  mana kau tahu?” Kata Jalu yang selalu meragukan pengetahuan adiknya yang di luar nalar itu.


“Batu gunung ini yang mengatakan padaku.” Jawab Batari Mahadewi.


“Oh adik…kau ini…” Jalu tak meneruskan kata-katanya.


“Setidaknya, sejauh ini selalu benar bukan, hahaha.” Jawab Batari Mahadewi. “Sudahlah kakak, jangan pusing. Biarlah aku saja yang menanggung keanehan ini.”


“Bukankah semestinya adik bangga dengan kemampuan seperti itu?” Tanya Niken.


“Percayalah, kakak, rasanya sungguh tidak menyenangkan. Lebih buruk daripada melihat roh-roh gentayangan dimanapun kita berada.” Kata Batari Mahadewi.


“Hahaha….kenapa begitu? Aku malah ingin bisa sepertimu.” Kata Jalu.


“Mungkin kakak tidak akan tahan jika bisa melihat, mengetahui, memahami, mendengarkan, dan merasakan banyak hal dalam waktu yang sama. Yang aku alami ini sudah terjadi lama sejak aku mungkin berusia 2 tahun dan terus menerus bertambah sehingga aku bisa beradaptasi untuk memilah mana saja yang ingin aku ketahui, kudengar, kurasakan, kupahami…” Batari Mahadewi menjelaskan.


“Lihat langit sebelah sana. Gulungan awan gelap telah berkumpul. Sebaiknya kita harus lekas naik ke atas sebelum awan itu sampai sini dan membawa hujan deras.” Kata Niken.


Mereka bertiga melenting ke atas dengan tenaga dalam tinggi untuk bisa melompat dari satu dinding batu menuju ke dinding atasnya. Sangat sulit melewati medan tersebut kecuali harus melompati dinding vertikal yang nyaris rata dan sedikit saja ada celah batu yang bisa dijadikan pijakan.

__ADS_1


#####


Halo teman-teman. Terimakasih banyak sudah berkunjung dan membaca novel ini. semoga sejauh ini bisa menghibur. Besok jam 9 malam (kalau ga salah jamnya) ada update chapter baru. Oh iya, bila tak keberatan, bolehkah saya minta like, komen, kritik dan saran supaya lebih semangat lagi nulisnya? Maturnuwun 😁😁🙏🙏


__ADS_2