
Kondisi Niken telah membaik. Pendekar muda yang ada di hadapannya itu memiliki kemampuan yang cukup tinggi untuk menghilangkan sisa-sisa racun dalam tubuh Niken. Selain itu, ia memiliki pusaka ghaib yang bisa menyerap racun. Pusaka itu berbentuk cincin yang ia sematkan di jari jempol tangan kirinya. Cincin itu bekerja menyerap racun bersamaan dengan pendekar itu menyalurkan energinya untuk memulihkan Niken.
“Untung saja kau memiliki tenaga dalam yang tinggi dan kau memiliki pertahanan kuat ketika menangkis serangan pendekar sungai bersaudara itu.” Kata pendekar muda itu.
“Terimakasih banyak, kakak pendekar. Kalau boleh tahu, siapa nama kakak dan dari manakah kakak berasal?” Tanya Niken.
“Namaku Pradipa. Aku dijuluki sebagai pendekar Bintang Timur. Aku hanyalah pendekar kelana, tanpa perguruan. Namun aku memiliki guru yang mengajariku banyak hal, namanya Ki Sitara yang dijuluki sebagai pendekar Bintang Pagi. Kalau boleh tahu, siapa namamu, dari mana dan kenapa kau bertarung dengan dua pendekar aliran hitam tadi?” Tanya Pradipa.
“Namaku Niken, aku pendekar Tapak Es, dari padepokan Cemara Seribu, murid dari Ki Gading Putih. Aku sedang dalam perjalanan mengemban tugas dari guruku untuk pergi ke perguruan Lentera Langit. Awalnya aku bersama dengan kakak dan adik seperguruanku, namun banyak hal yang terjadi sehingga kami harus berpisah. Sebenarnya aku ingin menyusul saudara seperguruanku, tapi aku kehilangan jejaknya.” Kata Niken.
“Oh, aku pernah mendengar nama gurumu dari cerita guruku. Sepertinya, guru kita adalah teman di masa lalu.” Kata Pradipa.
“Sayang sekali guru kami telah mundur dari dunia persilatan. Kami tak pernah tahu alasannya. Tapi sepertinya ia memang tak ingin lagi bertarung dengan siapapun. Ia juga tak banyak mengangkat murid. Di kediamannya, padepokan Cemara Seribu, kami hanya enam bersaudara yang menjadi muridnya.” Kata Niken.
“Gurumu juga memiliki ilmu Tapak Es?” tanya Pradipa.
“Tidak. Kami tak pernah diajarkan ilmu tertentu. Kami hanya terus menerus didorong agar bisa mengeluarkan energi dasar kami masing-masing untuk kami kembangkan.” Kata Niken.
Sepasang mata tajam Pradipa terus menatap Niken ketika ia bercerita. Wajahnya yang tampan itu sedikit membuat Niken merasa tak nyaman sehingga ia sesekali menunduk dan mengalihkan pandangannya menghindari tatapan mata pendekar muda yang mendengarkan ceritanya itu.
“Lalu bagaimana dengan pertarunganmu tadi?” Tanya Pradipa.
“Saudari kedua pendekar tadi, telah bertarung denganku. Aku mengalahkannya dan ia tewas. Kedua pendekar tadi ingin menuntut balas padaku.” Niken bercerita singkat.
__ADS_1
“Mereka tiga saudara kembar, pendekar hitam penguasa wilayah itu. Mereka akan menantang siapapun yang melintasi hutan. Kau memiliki kemampuan yang tinggi. Mungkin kau bisa menang jika mereka tak mengeroyokmu tadi.” Kata Pradipa.
“Kakak Pradipa tentu memiliki kemampuan jauh lebih tinggi dari mereka berdua. Aku tak menangkap kehadiran kakak di hutan itu, dan kedua pendekar itu tak mengejar kakak.” Kata Niken. “Sungguh kebetulan sekali kakak ada di sana dan saya sangat berterimakasih karena pertolongan kakak.” Kata Niken.
“Aku hanya kebetulan lewat. Sudah sebulan ini aku memang sedang berkelana di wilayah ini. Jadi aku sudah mendengat cerita tentang pendekar kembar tiga itu.” Jawab Pradipa.
“Apa yang kakak kerjakan di wilayah ini?” Tanya Niken.
“Tidak ada. Hanya mengembara.” Jawab Pradipa.
“Oh…” Jawab Niken pendek.
“Setelah kau pulih, kau akan melanjutkan perjalanan?” tanya Pradipa.
“Bagaiman jika aku menemanimu, setidaknya sampai kau bertemu dengan saudara seperguruanmu? Bagaimanapun juga, berkelana seorang diri akan mengundang bahaya. Terlebih, saat ini kau sedang berurusan dengan pendekar Sungai Jingga dan Hitam. Konon mereka mempunyai guru yang bernama pendekar Sungai Api.” Kata Pradipa menawarkan diri.
Niken bimbang. Ia tahu bukan hal baik, setidaknya bagi perasaannya, jika ia melanjutkan perjalanan dengan pemuda lain. Namun yang dikatakan Pradipa ada benarnya juga. Bagaimanapun juga keselamatannya terancam. Ia terdiam dan belum menjawab.
“Aku tidak memaksa untuk menemanimu, jadi kau tak perlu tak enak hati jika menolak tawaranku.” Kata Pradipa sambil tersenyum. Sebuah senyuman yang indah yang sudah pasti akan membuat banyak wanita tergoda dan berebut untuk menjadi pendampingnya.
“Bukan begitu, kakak…tapi…” Kata Niken, tenggorokannya terasa kering, ia tak memiliki alasan yang masuk akal untuk menolak tawaran Pradipa.
“Baiklah, kalau begitu artinya aku akan menemanimu. Sudah pasti kedua saudara seperguruanmu akan menempuh jalan ke arah perguruan Lentera Langit. Kita melanjutkan perjalanan ke arah sana, siapa tahu kita akan bertemu di jalan. Jikalau tidak, mungkin kita bisa bertemu setelah sampai di peguruan Lentera Langit.” Kata Pradipa.
__ADS_1
“Terimakasih kakak, maaf merepotkan kakak.” Balas Niken. Ia sama sekali tak punya alasan untuk menolak.
“Kau bisa menggunakan mustika ini untuk memulihkan energimu?” Tanya Pradipa sambil menyodorkan sebuah batu kecil berwarna kuning.
“Mustika alam, tapi bukankah sulit mendapatkan ini? Aku tak enak hati mengunakannya kakak.” Jawab Niken.
“Tak apa-apa. Aku memiliki beberapa untuk berjaga-jaga. Gunakan saja itu agar kau pulih. Nanti kita bisa cari lagi dalam perjalanan. Siapa tahu kita dapat yang berwarna merah. Akan lebih bagus lagi khasiatnya.” Kata Pradipa.
“Terimakasih kakak. Ya, aku pernah beberapa kali menggunakan mustika alam berwarna merah untuk meningkatkan kemampuanku.” Kata Niken.
“Di hutan-hutan tertentu banyak terdapat mustika merah. Aku menggunakannya untuk meningkatkan kemampuanku. Sayangnya, di hutan seperti itu selalu banyak siluman. Jika hanya siluman lemah, aku akan senang karena mustikanya bisa aku ambil juga, tapi kalau siluman yang umurnya ratusan tahun, itu akan sangat merepotkan.” Pradipa bercerita.
“Ya, mustika siluman juga bisa sangat cepat meningkatkan kemampuan. Tapi kadang mustika semacam itu membawa dampak buruk. Aku yakin, pendekar seperti Sungai Jingga dan Sungai Hitam memanfaatkan mustika siluman untuk meningkatkan kemampuan mereka. Jika tidak, tak mungkin mereka memiliki kekuatan siluman sepekat itu. Bahkan mereka memiliki jurus-jurus siluman.” Kata Niken.
“Kau benar, Niken. Banyak pendekar aliran hitam yang menjadi setengah siluman gara-gara terus menerus menggunakan mustika siluman untuk meningkatkan kemampuan mereka. Konon para pendekar legenda aliran putih seperti 4 pendekar Raja Naga, mereka menjadi setengah siluman gara-gara menggunakan mustika siluman naga.” Kata Pradipa.
“Itulah, aku lebih nyaman menggunakan mustika alam daripada mustika siluman. Aku tak mau menjadi siluman meski aku masih akan tetap menjadi pendekar aliran putih.” Kata Niken. Ia kemudian duduk bersila, berkonsentrasi untuk menyerap energi dari mustika kuning yang ada dalam genggamannya itu.
Tak butuh waktu lama bagi Niken untuk menyerap energi dari mustika kuning itu. Energinya kembali pulih sepenuhnya.
“Bagus sekali. Sekarang kita bisa melanjutkan perjalanan. Akan sedikit sulit jika kita tak menemukan desa sebelum malam.” Kata Pradipa.
“Kakak benar. Mari kita berangkat.” Jawab Niken.
__ADS_1
Keduanya melanjutkan perjalanan, melenting dari pohon ke pohon dengan kecepatan sedang untuk menghemat energi. Ada sebuah rasa nyaman dan tenang dalam hati Niken ketika pemuda tampan itu menemaninya dalam perjalanan.