Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 6 Rahasia Bola Kristal Dewa Sungai


__ADS_3

Batari Mahadewi mengeluarkan bola kristal yang ia dapat di sungai dan memandanginya. Ibunya telah tidur. Kini ia bisa leluasa mempelajari bola indah itu sendirian di kamar.


Ia menggenggam bola itu, lalu berusaha menyerap energinya sebagaimana yang ia lakukan sebelumnya. Bola Kristal itu tak hanya menyimpan energi yang luar biasa, namun juga menyediakan pengetahuan.


Aksara dewa bermunculan ketika Batari Mahadewi menyerap energi dari bola kristal itu. Entah kenapa, ia bisa mengenali dan dengan mudah membaca aksara yang menyediakan pengetahuan baru baginya tentang energi hitam yang dimiliki oleh golongan hitam, energi putih dari golongan putih, serta energi dewa.


Tiga jenis energi ini bisa dimiliki dan dikuasai oleh manusia dan raksasa. Namun demikian, umumnya manusia memiliki energi netral, hitam dan putih.


Sangat jarang ada manusia yang memiliki energi dewa, kecuali para pendekar yang terus menerus mengolah dan memurnikan energinya hingga mencapai taraf energi dewa sebagaimana dimiliki oleh Ki Gading Putih dan beberapa pendekar-pendekar sakti lainnya di belahan dunia lain.


Energi dewa ini berwarna emas, seperti pancaran sinar yang dimiliki oleh Batari Mahadewi ketika ia ditemukan Nyi kunyit. Energi ini juga memiliki tingkatannya, mulai dari yang terlemah hingga yang sangat kuat seperti yang dimiliki oleh Dewa Raja.


Di sisi lain, energi hitam merupakan energi yang berasal dari iblis. Ini merupakan energi yang berbanding terbalik dengan energi dewa yang artinya, energi hitam bisa saja sekuat energi dewa seperti yang dimiliki oleh Kalapati setelah ia bertapa selama 1000 tahun lamanya.


Umumnya, energi hitam dimiliki oleh pendekar golongan hitam, siluman, dan kaum raksasa. Meski demikian, ada juga siluman dan raksasa yang tidak memiliki energi hitam, melainkan energi putih dan energi dewa meski tidak banyak dari golongan itu yang memilikinya.


Manusia bisa mencapai tingkatan energi dewa apabila ia telah melampaui batas dari tingkat tertinggi energi putih. Tentu butuh perjuangan panjang agar manusia bisa mencapai tingkat energi dewa.


Dengan pengetahuan ini, Batari Mahadewi mampu menangkap dan mengenali jenis energi dan bahkan mengetahui seberapa besar tingkatan energi yang dimiliki oleh manusia atau benda-benda disekitarnya.


Hari hampir subuh ketika Batari Mahadewi selesai menyerap energi bola kristal itu sepenuhnya hingga bola itu lenyap menjadi serpihan cahaya. Batari Mahadewi merasakan ada sesuatu yang baru pada tubuhnya. Segel ke dua telah terbuka. Tubuh Batari Mahadewi memancarkan cahaya keemasan dalam waktu yang lama.


Berbeda dengan terbukanya segel pertama dalam tubuhnya, Batari Mahadewi bisa dengan mudah menguasai dan mengendalikan energi dalam tubuhnya ketika segel kedua ini terbuka. Ia juga bisa menyembunyikan kekuatannya sehingga seorang pendekar saktipun akan kesulitan untuk menangkap kehadiran energi baru yang sangat besar dalam tubuh Batari Mahadewi.


Tak lama setelah Batari Mahadewi selesai menyerap energi dari bola kristal miliknya itu, ia mendengar suara Nyi Kunyit yang membuka pintu rumah. Batari Mahadewi selalu bangun lebih awal dari Nyi Kunyit, namun ia akan menunggu Nyi Kunyit bangun terlebih dahulu sebelum ia keluar kamar.


“Sudah bangun rupanya kau nak.” Sapa Nyi Kunyit.


“Iya ibu.” Jawab Batari Mahadewi.


“Baiklah, kalau begitu ibu akan memasak saja terlebih dahulu. Bisakah ibu minta tolong kepadamu untuk menyiapkan kayu bakar?” tanya Nyi Kunyit.


“Iya, ibu.” Sahut Batari Mahadewi yang kemudian langsung bergegas ke belakang rumah untuk mengambil kayu yang di simpan di sana.


Nyi Kunyit adalah seorang wanita tua yang rajin. Ia tak pernah kehabisan kayu bakar karena ia selalu pergi mencari kayu bakar memenuhi lumbung kayunya begitu simpanan kayu di sana tinggal separuh.

__ADS_1


Setelah Batari Mahadewi mengambil beberapa batang kayu, tiba-tiba ia mendengar suara jeritan dari rumah Nyi Santan. “Tolong…oh, anakku Rangga!!!" Suara yang membelah pagi hari yang sunyi itu adalah suara Nyi Santan yang histeris karena Rangga anak lelakinya yang seumuran dengan Batari Mahadewi, tebaring lemah karena digigit ular.


Tanpa berfikir panjang Batari Mahadewi langsung berlari menuju ke rumah Nyi Santan untuk melihat apa yang sedang  terjadi, disusul dibelakangnya Nyi Kunyit yang tergopoh-gopoh karena kaget mendengar suara itu. Beberapa tetangga yang lain juga terlihat bergegas menuju rumah Nyi santan.


“Rangga digigit ular…Rangga digigit ular…”Teriak Nyi Santan sambil menangis kebingungan.


Nyi Santai dan Ki Janur kebingungan karena ular yang menggigit Rangga merupakan ular yang sangat beracun. Keduanya pasrah tak berdaya karena mereka tahu barangkali Rangga tak akan bisa selamat. Orang-orang yang berkumpul di sanapun juga kebingungan bagaimana caranya menolong Rangga.


Batari Mahadewi kemudian mendekati Nyi Santan dan Ki Janur. “Paman, Bibi, bolehkah saya mencoba menolong Rangga?” tanya Batari Mahadewi.


Mereka berdua dan orang-orang di sekitar tentu saja menganggap kata-kata Batari Mahadewi sebagai kata-kata anak kecil. Nyi Santan dan Ki Janur membiarkan saja Batari Mahadewi yang duduk di sebelah Rangga yang terbaring tak berdaya mengingat Batari Mahadewi adalah teman bermain Rangga.


Tangan Batari Mahadewi meraba bekas gigitan ular di kaki kanan Rangga, lalu ia menyalurkan energinya untuk mendorong racun itu keluar dari tubuh Rangga. Selanjutnya, ia membersihkan sisa racun yang terlanjur menyebar ke tubuh rangga dengan energi dewa miliknya.


Beruntung sejak semalaman itu Batari Mahadewi telah menyerap energi bola kristal pemberian dewa sungai dan dengan begitu segel kedua dalam tubuhnya ikut terbuka. Dengan terbukanya segel ke dua itu, Batari Mahadewi memiliki kemampuan untuk menyembuhkan orang sakit dengan energi dewa miliknya.


Orang-orang di sekitar Batari Mahadewi tentu saja tak bisa melihat pancaran energi Batari Mahadewi. Yang mereka saksikan adalah gerakan tangan Batari Mahadewi memberikan dorongan naik dan turun di sekitar luka Rangga hingga akhirnya mereka melihat darah hitam kental keluar dari bekas gigitan ular itu.


Perlahan kondisi Rangga semakin membaik bersamaan dengan keluarnya racun ular dari tubuhnya. Setelah itu, Batari Mahadewi memulihkan sepenuhnya keadaan Rangga dengan menyalurkan energi dewa miliknya dan mengalirkannya ke seluruh tubuh Rangga.


Semua orang heran dengan kemampuan Batari Mahadewi. “Bagaimana...bagaimana kau bisa melakukannya?” Ki Janur bertanya kepada Batari Mahadewi.


Batari Mahadewi menjadi bahan perbincangan yang hangat di desa Teratai Tanah setelah menggagalkan aksi perampok Pedang Hitam. Dan kini,di desanya sendiri, ia juga tak luput dari pembicaraan orang-orang yang kagum dengan keajaiban yang baru saja ia munculkan. Tentu mereka juga mengait-kaitkan dengan asal-usul Batari Mahadewi yang tiba-tiba hadir di bawah pohon beringin Nyi Kunyit ketika badai sedang berlangsung.


“Mungkinkah ia titisan dewa….” Ujar orang-orang itu.


Nyi Kunyit yang sedari tadi juga menyaksikan yang dilakukan Batari Mahadewi  juga heran meski sebelumnya ia melihat hal-hal luar biasa yang dilakukan Batari Mahadewi. Mungkinkah ini waktu yang tepat? Mungkin aku akan segera membicarakannya dengan Batari Mahadewi. Batin Nyi Kunyit.


Seusai sarapan, Nyi Kunyit berkata kepada Batari Mahadewi, “anakku, ada yang mau ibu bicarakan sebentar.”


“Ada apa ibu?” jawab Batari Mahadewi


“Ibu tidak tahu ini waktu yang tepat atau bukan, tapi ini menyangkut masa depanmu. Apakah kau pernah mendengar terntang Ki Gading Putih, anakku?” Tanya Nyi Kunyit.


“Sedikit ibu, bukankah beliau tetua desa ini?” tanya Batari Mahadewi.

__ADS_1


“Iya benar nak. Dulu sewaktu kamu masih bayi, beliau berpesan pada ibu, kelak ketika usiamu sudah 10 tahun, kamu akan berguru kepadanya. Namun 2 hari berturut-turut ini ibu melihat sepertinya kau tak perlu menunggu hingga usiamu 10 tahun untuk berguru padanya.” Kata Nyi Kunyit.


“Tetapi bukankah jika aku berguru ke sana, maka kita akan jarang bertemu, ibu?”


“Iya anakku. Kau harus patuh pada gurumu hingga selesai masa belajarmu di sana. Mungkin kau akan menjadi pendekar yang artinya kau harus siap dengan tugas-tugas yang menantimu.” Kata Nyi Kunyit.


Sebetulnya hal ini berat untuk diungkapkan Nyi Kunyit karena bagaimanapun juga ia menganggap Batari Mahadewi layaknya anak kandungnya sendiri dan ada rasa tak rela jika anak gadis cantik dihadapannya ini akan berkelana menjadi pendekar perempuan yang tangguh.


“Jangan khawatir nak, tentu kau bisa menengok ibu kapanpun kau mau.” Nyi Kunyit melanjutkan pembicaraannya.


“Tidakkah sebaiknya ibu berbicara dulu dengan Ki Gading Putih?” kata Batari Mahadewi.


“Ya, tentu. Ibu akan berkunjung terlebih dahulu ke sana.” Kata Nyi Kunyit.


“Aku akan menuruti saja apa baiknya menurut ibu.” Balas Batari Mahadewi.


Hari itu juga Nyi Kunyit berangkat ke Padepokan Cemara Seribu untuk menemui Ki Gading Putih. Padepokan itu terletak di pinggir desa, tepatnya di kaki Gunung Cemara Seribu yang menyembunyikan keelokan sebuah air terjun kecil yang tenang.


Ki Gading Putih mendirikan padepokan itu ketika usianya menginjak 100 tahun, tepat setelah ia mengundurkan diri dari dunia persilatan. Ia hanya akan mengajarkan saja ilmunya kepada orang-orang tertentu yang ingin belajar padanya.


Tempat itu cukup tersembunyi dan cukup jauh dari pemukiman warga sebagaimana padepokan  pada umumnya akan di bangun di tempat-tempat tertentu yang cenderung sepi dan jauh dari rumah-rumah warga. Hanya orang-orang desa Cemara Seribu saja yang bisa dengan mudah menemukannya.


Sangat jarang ada orang asing yang berkunjung ke desa Cemara Seribu. Sekalinya ada, biasanya mereka adalah tamu dari Ki Gading Putih. Mereka datang untuk keperluan tertentu, salah satunya adalah untuk menuntut ilmu.


Sebelum Nyi Kunyit memasuki pintu gerbang masuk padepokan, Ki Gading Putih telah menyambutnya terlebih dahulu. Orang-orang sakti seperti Ki Gading Putih akan selalu tahu kalau ia akan kedatangan tamu.


“Selamat siang Nyi, mari silahkan masuk.” Ki Gading Putih mengajak Nyi Kunyit memasuki pendopo kecil di area depan padepokan yang biasanya digunakan untuk menyambut tamu.


Padepokan itu tak telalu luas sebetulnya. Ki Gading Putih pun juga tidak berniat akan membesarkan padepokannya karena ia tak ingin memiliki banyak murid. Lebih baik punya 1 murid yang berbakat dari pada 100 murid yang pemalas.


Di padepokan itu hanya ada 5 murid. 1 orang diantaranya berasal dari desa Cemara seribu, dan 4 lainnya berasal dari kota lain. Mereka berasal dari padepokan di masing-masing kota itu dan mereka datang menemui Ki Gading Putih untuk mempelajari ilmu tertentu.


Tentu saja nama Ki Gading Putih masih menggaung di dunia persilatan dan tak jarang ada pendekar tertentu yang mengirimkan anaknya ke padepokan Cemara Seribu untuk menuntut ilmu dari Ki Gading Putih.


“Ada kabar apa ini yang membuat Nyi Kunyit berkunjung kemari siang-siang begini?” Ki Gading Putih membuka percakapan.

__ADS_1


“Ini tentang Batari Mahadewi Ki, usianya sekarang baru 7 tahun. Tapi ia sudah seperti anak dengan usia yang jauh lebih dewasa, dan dalam beberapa hal ia memiliki kemampuan yang tak masuk akal. “ kata Nyi Kunyit. Lalu ia menceritakan hal-hal tak wajar yang ia tahu dari Batari Mahadewi.


“Hmmm….anak itu berkembang lebih cepat dari yang aku perkirakan ternyata.” Kata Ki Gading Putih.


__ADS_2