Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 193 Kristal Hitam


__ADS_3

Makhluk setengah ikan itu masih bersembunyi di dalam laut, menunggu saat yang tepat untuk mengincar lawannya. Ia dan pasukannya menyerang Batari Mahadewi dan Nala bukan karena tanpa sebab.


Bagaimanaun juga, di dalam tubuh Batari Mahadewi dan Nala telah terdapat elemen-elemen energi dari tiga sumber energi utama di dunia tiga rembulan. Bagi beberapa makhluk di dunia itu, tentu saja tubuh Nala dan Batari Mahadewi adalah menu spesial, hanya jika mereka bisa menghisap seluruh energi yang dimiliki oleh kedua pendekar dari dunia satu rembulan itu.


Namun untuk menjadikan sosok Batari Mahadewi dan Nala, atau makhluk lain yang berhasil memiliki energi dari empat sumber energi utama dunia tiga rembulan sebagai mangsa tentu saja memiliki resiko yang sangat besar. Tak ada makhluk yang berani mengambil resiko itu kecuali mereka yang memiliki kekuatan untuk menghilangkan kesadaran seperti yang dimiliki oleh ratu setengah ikan yang nyaris saja mendapatkan Nala tadi.


Di dunia satu rembulan, seorang pendekar yang memiliki ilmu tinggi akan menjadi incaran lawan-lawannya untuk beradu kesaktian, maka di dunia tiga rembulan lain lagi ceritanya. Seseorang yang memiliki energi tinggi akan menjadi incaran untuk dimangsa. Setidaknya itulah yang dilakukan oleh Varak ketika ia menyusupkan pusaka saktinya di tubuh Batari Mahadewi ketika di pulau Api. Atau, yang dilakukan oleh Vauran di pulau Es.


Kini ratu setengah ikan itu ingin mencoba peruntungannya. Ketika ia menangkap pancaran tiga elemen energi utama dari dunia tiga rembulan sewaktu Batari Mahadewi dan Nala mendarat di pulau kecil itu, maka dengan segera ratu setengah ikan itu datang mendekat.


“Apa yang akan kau lakukan, Tari?” Tanya Nala. Keduanya masih melayang jauh di atas permukaan laut, menjaga jarak jika ada serangan mendadak dari dalam laut yang berwarna biru itu.


“Makhluk itu sebenarnya lemah. Tapi ia memiliki pesona yang membuat orang bisa kehilangan kesadaran. Yang pasti ia akan menyerap energi lawan-lawannya untuk memperkuat dirinya. Hanya saja, ketika ia berada di dalam lautan, ia menjadi jauh lebih kuat. Ia bisa mengendalikan air. Jika ia nanti naik ke permukaan, kita bekukan laut dengan kekuatan es yang kita miliki.” Kata Batari Mahadewi.


“Apakah kau yakin cara itu bisa menghentikannya?” tanya Nala.


“Untuk sementara waktu, iya. Selebihnya, kita bisa menghancurkan tubuhnya yang membeku dengan kekuatan halilintar yang kita miliki.” Jawab Batari Mahadewi.


“Aku mengerti. Ayo kita coba.” Kata Nala.


Beberapa saat menunggu, makhluk itu tak juga muncul ke permukaan. Namun dari atas, Batari Mahadewi bisa melihat makhluk itu sedang bersiap dari dalam lautan.

__ADS_1


“Dia menunggu kita mendekat, Nala.” kata Batari Mahadewi.


“Apakah menurutmu kita perlu membunuhnya?” tanya Nala.


“Tadinya aku mengajakmu pergi, bukan! Kau sendiri yang ingin melawannya! Sekarang sudah terlanjur. Lagi pula, kita tak akan pergi jauh-jauh dari sekitar sini selagi kita masih mencari pulau Emas. Dan lagi, wilayah ini kurasa adalah daerah kekuasaannya.” Jawab Batari Mahadewi dengan nada sedikit kesal.


“Hahaha, sayang sekali kita harus membunuhnya.” Kata Nala sambil menyengir menggoda Batari Mahadewi. Dan ia berhasil membuat perempuan cantik itu kembali kesal.


“Aku sendiri yang akan membunuhnya!” kata Batari Mahadewi galak dan sengit.


“Baiklah, aku akan memancingnya dengan turun ke bawah, dekat dengan permukaan air. Jika nanti ia naik ke permukaan, kita bisa langsung membekukannya.” Kata Nala.


“Ya, berhati-hatilah. Jangan menatap tubuhnya jika kau tidak ingin kena masalah.” Kata Batari Mahadewi.


Setidaknya usahanya berhasil. Ratu setengah ikan itu mulai menyerang. Ia mengerahkan air laut yang bergerak-gerak seperti tentakel gurita dan menjerat tubuh Nala. Lelaki gagah itu sengaja tak menghindar meski sebenarnya ia bisa. Air laut itu menyeretnya tenggelam, namun Nala mempertahankan dirinya agar tetap melayang di udara. Hal itu membuat sang ratu setengah ikan mau mendekat ke permukaan laut.


Begitu sang ratu itu sudah dekat dengan permukaan laut, dalam satu kedipan mata Batari Mahadewi telah berada tepat di atasnya dan mengerahkan energi dingin yang membuat air laut di sekitar ratu itu menjadi bongkahan es dan mengambang seperti pulau. Ratu es itu membeku di dalamnya.


Selanjutnya, Batari Mahadewi mengangkat pulau es kecil yang baru saja ia ciptakan itu dan ia melemparkannya ke angkasa. Batari Mahadewi menyusul ke atas, lalu melontarkan energi halilintar dengan kekuatan tinggi yang membuat pulau es buatannya beserta isinya itu hancur menjadi kepingan-kepingan kecil.


Sebongkah kristal hitam meluncur ke bawah ketika ratu setengah ikan itu telah hancur menjadi serpihan-seprihan kecil dan terbang terbawa arus udara di angkasa. Batari Mahadewi menangkap kristal itu dan membawanya menuju ke arah Nala.

__ADS_1


“Lihat apa yang aku dapatkan!” Batari Mahadewi memamerkan kristal yang baru saja ia dapatkan itu.


“Kristal hitam yang unik. Baru kali ini aku melihatnya. Warnanya tak benar-benar hitam, tapi ada garis-garis emas dan perak di dalamnya. Energinya juga berbeda dari kristal-kristal yang pernah kita dapatkan.” Kata Nala.


“Kau mau menggunakannya?” kata Batari Mahadewi. Nala mengangguk. Keduanya kembali menjejakkan kaki di pulau kecil itu. Para bidadari setengah ikan yang tadinya dilumpuhkan oleh Batari Mahadewi telah berubah wujud menjadi patung batu; hiasan yang aneh sekaligus menarik yang ada di pulau itu.


Nala duduk bersila, meletakkan kristal hitam itu di antara kedua telapak tangannya. Ketika Nala mencoba menyerap energi dari kristal itu, yang terjadi sangat mengejutkan; kristal itu melesat masuk ke dalam tubuhnya dan menjadi satu dengannya, seperti halnya ketika dulu kakaknya menanamkan berbagai jenis mustika alam di dalam tubuhnya.


Bedanya, kristal hitam itu langsung bereaksi dengan tubuh Nala. Sejenak Nala tak bisa mengendalikan diri ketika tubuhnya teraliri energi dari elemen baru yang menyatu dengan tubuhnya. Nala mengerang kesakitan. Sudah lama ia tak mengalami sensasi sakit seperti yang ia alami saat ini.


Bagaimanapun juga, di dalam tubuh Nala masih tersimpan mustika hitam yang menyegel kekuatan pangeran kegelapan. Rasa sakit yang dialami Nala adalah akibat penyatuan dari mustika dan kristal hitam yang ada dalam tubuhnya.


“Kau tak apa-apa, Nala?” tanya Batari Mahadewi cemas. Ia menyesal telah memberikan kristal itu kepada Nala.


“Ya, aku tak apa-apa. Tapi sepertinya kekuatan hitam dalam tubuhku semakin menguat. Aku harus lebih kuat lagi untuk menekannya agar kekuatan itu tak mengambil alih tubuhku.” Kata Nala.


“Aku akan membantumu Nala. Entah bagaimana caranya.” Kata Batari Mahadewi yang duduk di sebelah Nala. Pikiran kedua pendekar itu terasa penuh atas hal-hal yang sebenarnya bukan kehendak mereka sendiri.


“Tari, bagaimana jika kau melanjutkan kembali memantau keberadaan pulau Emas dengan penglihatan barumu?” ujar Nala.


“Baiklah. Gara-gara manusia setengah ikan itu aku belum berhasil menemukan keberadaan pulau itu. Tapi setidaknya, aku merasakan pancaran energi yang kuat tak jauh dari pulau ini. Meski jika pulau itu tak terlihat, namun energinya masih bisa terasa.” Kata Batari Mahadewi.

__ADS_1


“Ya, aku juga bisa merasakan pancaran energi yang khas dari sumber energi utama. Tak jauh dari pulau ini.” Kata Nala. Batari Mahadewi kembali melesat ke angkasa diikuti oleh Nala. Dengan ketajaman matanya setelah ia mendapatkan energi dari sumber utama di pulau halilintar, Batari Mahadewi melihat ke sekeliling. Lalu ia memandang ke salah satu titik di tengah lautan. Wajahnya menampakkan kegembiraan atas apa yang ia temukan di titik yang jauh itu.


__ADS_2