
Malam itu, Batari Mahadewi masih terjaga. Ia mempunyai firasat buruk meski ia tak mengetahui asal usul dari firasat itu.
Selang beberapa saat, ia merasakan ada pancaran energi tipis dari beberapa pendekar yang bergerak mendekat ke perguruan Bunga Cempaka. Dengan segera ia membangunkan Niken dan Jalu.
Bila mendapatkan serangan lagi, tak ada pendekar Bunga Cempaka yang bisa diharapkan. Mereka semua yang masih hidup masih dalam keadaan luka parah. Hanya Jalu, Niken dan Batari Mahadewi saja yang menjadi benteng pertahanan terakhir jika ada serangan susulan.
Beberapa bayangan hitam telah datang mengepung perguruan Bunga Cempaka dari berbagai penjuru. Jalu, Niken, dan Batari Mahadewi keluar ruangan untuk menyambut tamu-tamu tak diundang itu.
“Kita bertemu lagi cecunguk!” Kata Kelabang Iblis dengan penuh kedengkian.
“Ternyata kau, Kelabang Iblis. Rupanya kau tak kenal jera ya!” Kata Jalu.
“Kali ini kalian bertiga akan mendapatkan pelajaran berharga.” Kata Kelabang Iblis penuh percaya diri. Bukan karena kemampuannya, melainkan karena keberadaan Kelabang Merah.
Sebelum kedua kubu itu mulai bertarung, tiba-tiba pancaran energi tinggi datang mendekat. Semua orang yang ada di sana menoleh kaget ke arah datangnya gelombang energi yang sangat tinggi itu.
“Pendekar Syair Kematian…” Kata Batari Mahadewi. Begitu nama itu disebut, semua orang di sana merasa akan mengalami hari yang buruk.
Sosok pendekar Syair Kematian telah nampak. Ia hanya mengenakan pakaian pendekar sederhana yang telah usang, dengan rambut putih panjangnya yang terurai berantakan. Sekilas ia mirip orang sinting yang berbahaya.
Pendekar mengerikan itu hanya diam saja tak bergerak, memandangi satu-persatu semua kepala yang ada di sana. Tatapan matanya terhenti pada wajah Niken. Ia memandangi pendekar tapak es itu dengan tatapan aneh. Lalu ia menggerakkan lengannya untuk meregangkan tubuhnya. Hal itu membuat semua pendekar di sana langsung siaga.
“Hahaha…kalian tak perlu secemas itu. Apakah kalian ada masalah denganku sehingga menyambutku dengan cara seperti ini?” kata pendekar Syair Kematian kepada semua yang ada di sana sambil terkekeh. Tak ada satupun yang menjawab. Masing-masing masih terbawa cerita akan kengerian pendekar itu yang tak kenal ampun dengan semua golongan meski ia sendiri memiliki ilmu pendekar golongan hitam.
“Kenapa tak ada yang menjawab? Apakah ini artinya kalian memusuhiku?” Katanya dengan nada yang sedikit tinggi.
Batari Mahadewi tak bisa menakar seberapa hebat pendekar yang ada dihadapannya itu. Ia hanya tahu, dibalik penampilannya yang santai itu, ada kekuatan tersembunyi yang sangat besar. Hal yang sama dirasakan oleh pendekar Syair Kematian, ia masih menyelidiki siapakah sosok gadis kecil di hadapannya itu.
__ADS_1
“Apakah kalian ingin mendengarkan sajak-sajakku yang baru saja kutulis sore tadi? Jika kalian mau, maka kalian adalah orang yang beruntung menjadi penikmat pertama dari sajak baruku.” Kata pendekar itu yang seolah-olah menganggap bahwa kata-katanya tidak mengisyaratkan kematian.
“Jika kalian diam saja, itu artinya iya. Begitukah?” Tanya pendekar itu sekali lagi.
Batari Mahadewi menguji pendekar itu dengan pertanyaan yang tampak bodoh.
“Apakah kami akan mati jika paman pendekar membacakan sajak paman yang baru?” tanya Batari Mahadewi dengan nada dan kesan polos.
“Akhirnya ada juga yang menjawabku. Hanya jika kalian ingin mati, maka dengan senang hati akan kukabulkan permintaan kalian.” Jawab Pendekar Syair Kematian.
“Aku yakin, kami semua di sini masih ingin hidup, paman.” Jawab Batari Mahadewi.
“Hmmm..jika kalian masih ingin hidup, mengapa kalian semua berkumpul di sini?” Tanya Pendekar Syair Kematian mengecoh.
“Kami bertiga tidak, tapi mereka semua ini mungkin ingin mati.” Jawab Batari Mahadewi enteng. Sontak saja semua mata anggota Kelabang Iblis melotot ke arah Batari Mahadewi.
“Tt…tunggu pendekar…” Ujar Kelabang Iblis. Namun pendekar Syair Kematian tak mempedulikannya. Matanya yang tajam itu menembus ruang ketidaksadaran orang-orang Kelabang Iblis yang ada di hadapannya itu. Ia memancarkan energi yang sangat besar, lalu mulai membacakan sajak-sajaknya.
Ooo…Langit sepiku lukaku
Jiwa sunyiku kubasuh darah
Kutabur kematian dalam ketakutanmu
Ooo…kelana rindu
Tak lekas kau jemput ajalku
__ADS_1
Tapi kuserahkan ajal padamu
Tumbal malam menikam rinduku….
Ketika pendekar Syair Kematian membacakan syairnya, suara yang dihasilkan mempu memecahkan gendang telinga orang-orang yang ia tuju, namun tak akan berakibat apapun bagi orang lain yang tak terperangkap dalam jerat pancaran energi yang ia pancarkan.
Tak hanya itu, gelombang energi melalui suaranya itu juga menyeret kesadaran orang-orang yang mendapatkan serangan sehingga mereka masuk dalam dunia ilusi ketakutan mereka sendiri. Orang yang penakut akan cepat mati. Orang yang memiliki ilmu tinggi, namun masih memiliki ketakutan, masih bisa bertahan sejenak sebelum ia mati. Orang yang berhati suci dan orang yang tak memiliki tenaga dalam, tak akan bisa diserang dengan syair ini.
Satu persatu orang-orang kelabang Iblis mati, termasuk pendekar Kelabang Iblis dan Kelabang Merah yang sempat bertahan beberapa menit dengan menggunakan tenaga dalamnya.
Jalu, Niken, dan Batari Mahadewi tidak merasakan efek apapun karena mereka bertiga bukan yang diserang oleh pendekar Syair Kematian.
Dalam waktu singkat, para pendekar golongan hitam dari kelompok Kelabang Iblis itu mati semua dengan mata melotot dan mulut menganga. Sungguh pemandangan yang mengerikan.
“Hahahaha….” Pendekar Syair Kematian tertawa getir. Tak ada rasa senang pada wajahnya, sebaliknya, ia merasakan suatu kesedihan yang terlukis dalam wajahnya. Setelah para pendekar hitam itu binasa, pendekar Syair Kematian kembali mengarahkan tatapan matanya pada Jalu, Niken, dan Batari Mahadewi.
“Aku tak akan membunuh kalian bertiga. Tapi aku ingin berbicara dengamu.” Kata pendekar Syair Kematian sambil menunjuk ke arah Niken.
Niken bingung harus berbuat apa. Demikian pula dengan Jalu dan Batari Mahadewi. Saat inipun, Batari Mahadewi masih ragu untuk berhadapan dengan pendekar hitam di hadapannya itu. Tapi ia percaya dengan perkataan pendekar itu. Setidaknya, ia yakin Niken akan baik-baik saja.
“Kemarilah, jika aku bilang aku tak akan membunuhmu, maka aku tak akan melakukannya.” Kata pendekar Syair Kematian.
Niken tak punya pilihan lain. Ia berjalan mendekat. “Apa yang tuan pendekar ingin bicarakan denga…” Belum sempat Niken menyelesaikan kalimatnya, pendekar Syair Kematian telah menyambarnya dengan sangat cepat. Keduanya telah menghilang dalam kegelapan malam.
“Bagaimana ini adik?” tanya Jalu kebingungan.
“Pendekar itu cepat sekali. Dah bahkan pacaran energinya saat ini tidak terpancar. Sangat sulit untuk menemukannya. Dan sebaiknya, kita tak mencarinya kak Jalu, demi keselamatan kak Niken. Aku yakin pendekar mengerikan itu tak akan berbuat sesuatu kepada kak Niken.” Kata Batari Mahadewi.
__ADS_1
Pendekar Syair Kematian membopong tubuh Niken terbang dengan kecepatan tinggi. Niken hampir kehilangan kesadaran melihat segala sesuatu Nampak berputar-putar dalam perjalanan itu. Pendekar Syair Kematian baru berhenti ketika mereka berdua sampai di suatu puncak bukit. Niken tak tahu di mana ia berada saat itu.