
Nala mengajak kakaknya untuk kembali ke Swargadwipa. Mengingat kali ini ia bersama kakaknya, ia tak ingin berlebihan menggunakan kekuatannya yang bisa memancing kedatangan para siluman putih atau siluman hitam yang selalu memanggilnya sebagai pangeran kegelapan. Sehingga, perjalanan menuju ke Swargadwipa menjadi terasa sangat lama karena ia dan kakaknya melakukan perjalanan dengan cara biasa yang dilakukan oleh para pendekar.
Ketika keduanya sampai di wilayah kerajaan Madyabhumi, mereka berpapasan dengan satu rombongan kecil prajurit dan para pendekar Mahatmabhumi yang kembali dari kota Mutiara Biru. Setelah berita kekalahan para pasukan kerajaan Tirayamani menyebar, para pendekar dan prajurit kembali ke kerajaan asal mereka.
Nala dan Vidyana memilih untuk tak bersinggungan dengan mereka. Bukannya takut, namun Nala yang menginginkan tak ada pertumpahan darah yang tak perlu. Vidyana hanya bisa menuruti adiknya, sembari mencoba untuk hidup dengan pandangan baru itu.
Namun, barangkali atas dasar nasib sebagai pendekar, setelah kedua saudara itu melanjutkan perjalanan, mereka berjumpa lagi dengan rombongan pendekar Mahatmabhumi lainnya. Bedanya, beberapa pendekar itu sedang bersitegang dengan para pendekar hitam.
Rombongan pendekar putih itu hanya 12 orang, dan tak satupun dari mereka merupakan pendekar yang memiliki gelar. Sementara empat pendekar hitam yang menjadi lawan mereka adalah para pendekar berbahaya.
“Tentu kalian tak ingin buru-buru pulang dan melewatkan kesempatan bertarung dengan kami, bukan?!” kata salah satu pendekar hitam yang nampaknya buta, sebab ia menutup kedua matanya dengan sehelai kain berwarna hitam.
Tak ada jawaban dari para pendekar putih. Mereka tampak gugup, tak siap untuk bertarung dengan keempat lawannya itu.
“Kenapa diam saja? jangan berfikir kami akan membiarkan kalian lewat begitu saja. Bersiaplah, sudah lama sekali rasanya kami tak bertarung,” kata salah satu pendekar hitam yang berbadan tinggi dan kurus.
“Kami dari perjalanan jauh. Jika kalian ingin pertarungan yang adil, kami rasa ini bukan waktu yang tepat.” Salah satu pendekar putih itu mencoba untuk membuka peluang menghindari pertarungan.
“Kurasa cukup adil. Kami hanya berempat, dan kalian ada dua belas orang.”
Nala dan Vidyana hanya menyimak dari tempat yang jauh dan cukup tersembunyi.
“Kalau kita bertemu hal seperti ini, apakah akan kita biarkan saja atau harus menolong salah satu dari pihak mereka?” tanya Vidyana menguji pendirian adiknya itu. Ia sendiri tak mau ikut campur masalah seperti itu. Sekalinya ia mau, maka ia akan melawan kedua belah pihak itu sampai mati.
__ADS_1
“Karena kita terlanjur melihat, taka da salahnya kita tolong,” jawab Nala.
“Yang mana?” tanya Vidyana.
“Kakak tahu, kan, pendekar hitam itu yang mencari masalah. Lagipula, mereka juga tak bersikap layaknya pendekar yang punya harga diri. Seharusnya mereka tahu bahwa lawan mereka tak memiliki kemampuan apa-apa jika dibandingkan dengan mereka berempat. Pendekar seperti itu hanyalah sampah, mirip dengan orang-orang yang mengeroyok kakak. Kita bantu saja dari sini.” Kata Nala.
Para pedekar itu telah bertarung. Tak butuh waktu lama untuk membuat pendekar putih itu jatuh dan tak berdaya. Rupa-rupanya, keempat pendekar hitam itu berniat untuk menangkap para pendekar itu hidup-hidup, sehingga mereka tak membunuhnya seketika.
“Kita bisa hisap darah mereka sekarang, hahahahaha!” Keempat pendekar hitam itu beruba wujud menjadi setengah siluman. Mereka adalah empat pendekar siluman serigala yang suka memangsa para pendekar putih untuk menambah kesaktian. Mereka tak hanya menghisap darah, melainkan menghisap tenaga murni yang dimiliki oleh para pendekar putih.
Sebelum para pendekar hitam itu menancapkan taring mereka di tubuh para pendekar putih yang sudah tak berdaya itu, dari jauh Nala melakukan serangan. Tanah tempat keempat pendekar itu berpijak tiba-tiba ambles. Hanya satu pendekar hitam saja yang dapat meloloskan diri, ia adalah pendekar yang menutup kedua matanya dengan sehelai kain.
Dengan segera, pendekar buta itu menolong teman mereka, namun hanya dua saja yang selamat. Yang satu telah hilang ditelan bumi.
Nala melesat dan berdiri di hadapan ketiga calon lawannya itu. Vidyana dengan malas mengikutinya.
“Kalian pendekar hitam, kenapa mengganggu kami. Seharusnya kalian membantu kami!” kata pendekar buta itu.
“Kebetulan saja kami lahir dengan kekuatan hitam di tubuh kami. Kebetulan juga kami muak dengan tradisi pendekar hitam, terutama yang melahirkan pendekar pengecut seperti kalian. Jadi ayo kita bertarung saja. Siapa tahu kalian menang. Kalian boleh ambil darahku, sekaligus ratusan mustika yang tertanam di tubuhku.” Tantang Nala.
Mendengar kalimat itu, ketiga pendekar hitam itu sudah mulai ragu, bahkan ketika Nala belum memancarkan energinya. Setidaknya, serangan pertamanya sudah bisa membuat lawan-lawannya tahu betapa bahayanya pendekar gagah di hadapan mereka itu.
“Baiklah, kita bertarung saja!” dalam wujud setengah siluman, tiga pendekar hitam itu menyerang Nala secara bersama-sama. Nala menghindar dengan mudah dan pendekar gagah itu ingin sedikit menakut-nakuti lawannya.
__ADS_1
Ketika Nala menghindar, tangan kiri dan tangan kanannya sekaligus melayangkan pukulan kepada dua pendekar hitam. Yang satu langsung hangus, dan yang satunya lagi menjadi es dengan kualitas terbaik. Tinggal satu yang tersisa, yakni pendekar buta. Entah kenapa, dengan mata tertutup itu, ia memiliki penglihatan yang jauh lebih baik daripada kedua temannya itu.
Usaha Nala setidaknya membuat pendekar yang terlihat buta itu putus asa sebelum bertarung dengan sungguh-sungguh.
“Pendekar, bisakah kita bicarakan masalah ini sekali lagi?” pendekar mata tertutup itu berbicara dengan nada memelas.
“Aku mengerti kau masih ingin hidup. Tapi membiarkanmu hidup, sama artinya aku membiarkan banyak nyawa mati di tanganmu,” kata Nala.
“Aku bisa berubah, pendekar, aku janji,” kata pendekar itu mengiba.
“Baiklah, kukabulkan.” Nala menetak beberapa bagian tubuh pendekar itu dengan kecepatan kilat sehingga yang ia lakukan sama sekali tak bisa dihindari oleh pendekar itu. Seketika juga, pendekar bermata tertutup itu ambruk. Ia akan tidur di situ selama seharian lebih, dan kelak ketika ia bangun, ia tak akan pernah lagi bisa bertarung. Pendekar bermata tertutup itu beruntung, jika Batari Mahadewi yang melakukannya, ia akan kehilangan ingatan.
Dengan segera, Nala membantu memulihkan tenaga para pendekar putih yang telah mendapatkan serangan hebat dari keempat pendekar hitam itu. Mereka beruntung, sumbangan tenaga dalam Nala yang sangat besar itu jauh lebih baik dari sekedar menyerap sebongkah mustika alam untuk memulihkan diri.
“Terimakasih, pendekar. Kami tak pernah mengira ada pendekar aliran hitam yang mau menolong dan bahkan menyelamatkan nyawa kami. Siapakah nama kalian?” tanya salah satu dari pendekar aliran putih itu.
“Aku Nala, dan itu kakakku, Vidyana. Kami memang pendekar hitam. Tapi kami ada di pihak kalian. Sebelumnya, aku melihat rombongan pendekar dari arah barat menuju ke timur. Apakah ada sesuatu yang sedang terjadi?” tanya Nala.
Para pendekar aliran putih itu menceritakan segala hal terkait dengan kedatangan pendekar kerajaan hitam Tirayamani. Nala langsung tahu siapa yang telah berhasil mengusir puluhan ribu pendekar hitam itu dengan sangat mudah.
Setidaknya, dari cerita itu, Nala memiliki gambaran atas apa yang sedang dan baru saja terjadi di pulau Mahabhumi. Namun ia tak tahu bahwa Batari Mahadewi sudah pergi menuju ke pulau lain.
__ADS_1