
Ki Gading Putih telah datang ke padepokan setelah lima hari lamanya ia pergi ke istana Swargadwipa untuk bertemu langsung dengan raja Srengenge Ireng. Pertemuan itu membahas banyak hal, mulai dari membahas perkembangan gerakan kerajaan Tirayamani, hingga rencana strategis untuk menghadapi kedatangan kerajaan hitam itu di gelombang selanjutnya.
Tentu saja, aktivitas pembuatan senjata oleh Nala dan Batari Mahadewi tak luput menjadi bahan pembicaraan, sebab Ki Gading merasa bahwa senjata pusaka yang sedang diciptakan oleh muridnya itu akan menjadi kunci penting untuk bertahan ketika para pendekar hitam dan pasukan siluman telah datang menyerang Mahabhumi.
Srengenge Ireng menyumbangkan banyak sekali berbagai bahan pusaka seperti mustika, emas, perak, dan beberapa bongkah logam dari langit untuk diberikan kepada Batari Mahadewi. Srengenge Ireng sangat ingin melihat proses pengerjaan senjata pusaka itu, namun ia sedang tidak bisa beranjak kemana-mana.
Tujuan lain dari Ki Gading Putih datang ke istana adalah untuk bertemu dengan ketiga murid pertamanya yang saat ini sedang sibuk di istana sejak Swargabhumi menyerang Swargadwipa. Namun hanya Buyung saja yang sedang ada di sana, membantu Mahapatih Siung Macan Kumbang mengurusi divisi telik sandi dan pertahanan kerajaan. Sementara, Cendana dan Anjani sedang bertugas di kota Mutiara Biru bersama Pradipa.
“Buyung, apakah kau betah tinggal di sini?” tanya Ki Gading Putih.
“Antara ya dan tidak guru. Di satu sisi, saya bisa berkarya dan menyumbangkan kemampuan saya untuk kerajaan. Namun di sisi lain, saya mengalami kemunduran. Di sini, saya lebih banyak sibuk mengurus banyak hal daripada berlatih, dan saya sadar, saya murid guru yang paling lemah,” kata Buyung.
“Jangan berbicara seperti itu. Tubuhmu memang tak sekuat adik-adikmu, tapi kau memiliki sesuatu yang istimewa. Hanya jika kau ingin, aku akan mengajakmu kembali ke padepokan selama dua atau tiga bulan ke depan. Aku ingin kau berlatih kembali. Mumpung ada adik bungsumu, aku akan meminta tolong kepadanya untuk membantumu,” kata Ki Gading Putih.
“Baik guru,” kata Buyung.
Maka pada hari itu, Ki Gading Putih pulang ke padepokan bersama Buyung, murid pertamanya yang tak terlalu kuat dalam hal kanuragan, namun memiliki pengetahuan yang banyak soal tata negara, pertahanan, dan strategi perang. Satu-satunya keunikan dari Buyung adalah ia bisa mengendalikan pikiran lawan. Sayang sekali, ia terlalu lemah sehingga kemampuan yang seharusnya mematikan itu tak bisa ia lakukan dengan baik. Ia selalu menderita sakit setelah mengeluarkan kemampuannya itu untuk melawan musuh.
Di padepokan, Vidyana lah yang menyambut kedatangan Ki Gading dan murid pertamanya itu. Nala dan gadis kesayangannya masih sibuk di dalam goa. Buyung kaget ketika mendapati sosok pendekar yang memiliki aura energi hitam di sana. Ia lebih kaget lagi karena sang guru merasa baik-baik saja, dan sosok yang cantik itu tak menunjukkan tanda-tanda permusuhan. Ki Gading Putih sengaja tak menceritakan kehadiran Vidyana di padepokan.
“Siapa dia, guru?” tanya Buyung ketika Vidyana kembali ke perpustakaan.
“Dia cantik kan?” goda Ki Gading Putih.
__ADS_1
“Bukan itu maksud saya, guru. Bukankah dia pendekar hitam? kenapa bisa ada di sini?” Buyung masih bingung.
“Dia teman adikmu. Ada satu lagi yang masih belum berkenalan denganmu. Dia sedang berada di dalam goa dengan Tari, membuat senjata pusaka. Apakah kau sempat bertemu dengan Tari?” tanya Ki gading Putih.
“Belum, guru. Saya hanya mendapatkan kabarnya saja dan kehebohan yang dia lakukan ketika menaklukkan semua pendekar Tirayamani seorang diri. Jalu dan Niken yang menceritakannya,” jawab Buyung.
“Maka kau akan lebih kaget lagi melihat adikmu yang sekarang. Dia bukan lagi gadis kecil yang dulu kau kenal. Ayo kita ke sana dan memberikan semua bahan-bahan ini kepada mereka,” ajak Ki Gading Putih.
Benar kata sang Guru. Buyung benar-benar kaget melihat wujud dewasa Batari Mahadewi. Perubahan tubuh gadis kecil itu bisa menandingi kecantikan bidadari kematian yang baru saja ia kenal tadi.
Batari Mahadewi telah menyelesaikan beberapa baju pusaka lengkap dengan penutup kepala dan topeng penutup wajah. Baju pusaka itu tak hanya membuat pemakainya kebal dengan berbagai jenis racun iblis dan berbagai jenis serangan tenaga dalam, namun juga bisa meningkatkan kekuatan yang memakainya. Hanya saja, baju itu memiliki sifat seperti senjata pusaka, yaitu hanya bisa digunakan dengan para pendekar berkemampuan tinggi. Jika tidak, seseorang yang memakai baju pusaka itu justru akan celaka.
“Tari, aku membawa beberapa bahan yang mungkin berguna untuk membuat senjata. Bahan-bahan ini adalah pemberian dari gusti raja Srengenge Ireng.” Ki Gading Putih membawa buntalan besar yang berisi berbagai bahan-bahan pusaka itu.
Batari Mahadewi dan Nala memeriksa semua bahan yang di bawa oleh gurunya itu. Hanya ada satu bahan dalam buntalan itu yang tidak bisa mereka dapatkan di dalam perut bumi.
“Logam dari langit ini yang sulit di cari, guru. Jika dipadukan dengan berbagai bahan lain yang kami miliki, kami bisa membuat sebuah senjata yang jauh lebih kuat dari sebelumnya,” kata Batari Mahadewi.
“Apakah kau sudah berhasil menyelesaikan baju pusaka dari kulit naga yang kau bawa tempo hari itu? mungkin aku dan Buyung akan mencobanya,” kata Ki Gading Putih.
“Saya sudah membuat beberapa. Tapi mungkin belum ada yang cocok untuk kak Buyung. Nanti aku akan buatkan juga buat kak Buyung. Yang sekarang sudah jadi ini, bisa guru coba,” kata Batari Mahadewi.
“Baiklah, bisa kita coba sekarang, ayo kita pergi ke tempat latihan” kata Ki Gading Putih. Semua beranjak menuju ke sebuah area latihan yang sebelumnya dipergunakan untuk menguji senjata pusaka buatan Nala, golok bulan naga api.
__ADS_1
Setelah mengenakan baju pusaka itu, Ki Gading Putih, ki Gading Putih menyelaraskan kekuatannya dan menghubungkan jiwanya dengan jiwa yang tersimpan dalam baju pusaka itu. Ketika dua energi itu telah terpaut dan menyatu, tubuh Ki Gading Putih memancarkan energi lima kali lipat lebih besar dari yang ia miliki. Dengan kemampuan seperti itu, dipadukan dengan senjata pusaka, maka kakek tua itu sanggup untuk melawan seratus pasukan Tirayamani sekaligus tanpa masalah, atau bahkan menghadapi makhluk iblis kelas sedang.
“Nala, apakah kau tak keberatan untuk melontarkan serangan padaku,” kata Ki Gading Putih.
“Dengan senang hati, kakek,” kata Nala. Kekasih Tari itu kemudian menerbangkan bebatuan kecil yang ada di tempat latihan itu, mengubahnya menjadi bara api panas, lalu menghujamkannya ke arah Ki Gading Putih.
Serangan itu menghasilkan ledakan api dahsyat dan asap hitam yang membumbung ke angkasa. Tubuh Ki Gading Putih masih baik-baik saja. Seharusnya, tanpa baju pusaka itu, barangkali Ki Gading Putih akan terpental jauh dan cidera parah meski ia telah menggunakan seluruh kekuatannya untuk mencitakan perisai energi guna menahan serangan Nala.
Kekuatan baju itu sungguh memukau. “Karyamu sungguh luar biasa, Tari!” Ki Gading, Buyung, Nala, dan Vidyana mengucapkan pujian yang senada. “Belum pernah aku menyaksikan kehebatan baju pusaka seperti ini. Sudah pasti ini layak disebut sebagai salah satu jenis pusaka dewa,” Ki Gading Putih menambahkan.
“Kapan kita bisa menyerahkan senjata dan baju pusaka yang sudah jadi ini kepada para tetua pendekar di Mahabhumi?” tanya Batari Mahadewi.
“Lebih cepat lebih baik,” kata Ki Gading Putih, “aku akan membantu membagikannya kepada para tetua pendekar di Swargadwipa. Sementara di tempat lain yang jauh itu, kalian berdua bisa melakukannya dengan cara yang lebih cepat.
“Baik, guru. Kalau begitu, aku akan mengerjakan sisanya secepatnya,” jawab Batari Mahadewi.
Beberapa hari kemudian, Nala telah berhasil mengubah semua bahan yang ada menjadi berbagai macam senjata pusaka dengan aneka jenis dan bentuk. Senjata itu tak hanya sakti, tetapi juga memiliki bentuk yang enak dilihat. Hanya saja, tak akan pernah bisa dipegang sembarangan oleh orang yang salah.
Ki Gading Putih memberikan catatan nama-nama pendekar sakti di Mahabhumi beserta nama tempat perguruan mereka. Sisanya, untuk para tetua pendekar di Swargadwipa dan pendekar-pendekar hebat lainnya yang menghilang dari dunia persilatan, Ki Gading Putih bisa dengan mudah mengundang mereka semua datang ke padepokan dengan cara biasanya, yakni perjalanan roh.
Dengan begitu, kakek tua itu bisa menghemat waktu dan tenaga. Betapa tidak, membawa dua senjata pusaka saja sudah sangat merepotkan, sementara ada sepuluh pasang pusaka yang harus ia bagikan. Membawa semua sekaligus, sudah pasti punggungnya patah. Jika tidak mau hal itu terjadi, maka ia harus bolak-balik untuk mengantarkan senjata dan baju pusaka itu. Tak ada pilihan bijak selain mengundang saja teman-temannya itu untuk mengambil sendiri jatah senjata buat mereka masing-masing.
*****
__ADS_1
Hari ini segini dulu ya, besok semoga bisa bikini Crazy Up buat teman-teman. Semoga tidak ada halangan. Terimakasih banyak teman-teman masih berkenan membaca dan mendukung karya ini. Mudah-mudahan juga akan segera tamat. Jaga kesehatan teman-teman, semoga hal-hal baik selalu dilimpahkan tuhan kepada kita semua. Amin.