
“Tuan muda mencari saya?” tanya guru besar Mutiara Naga itu dengan nada berat. Lelaki itu menoleh. Wajahnya langsung pucat pasi begitu ia mengenali sosok yang telah berdiri di belakangnya tanpa ia sadari.
Tanpa menjawab apapun, lelaki itu tak berani menoleh lagi. Ia terus berjalan kedepan tanpa sepatah katapun. Ia berjalan semakin cepat, lalu berlari melompati dinding kayu setinggi pinggang di kedai itu. Karena panik, lelaki itu tak bisa melompati dinding pendek itu dengan sempurna. Celananya tersangkut dan robek hingga pantat hitamnya bisa dilihat semua orang. Ia jatuh terjerembab di luar kedai. Ia tak peduli. Ia tetap tak melihat ke belakang dan berusaha secepatnya meninggalkan kedai itu.
Pemilik kedai berlari mengejarnya, “Tuan…berhenti dulu…” teriak pemilik kedai. Namun teriakannya malah membuat lelaki itu semakin takut dan mempercepat larinya. “Tuan belum membayar makanan tuan!” pemilik kedai itu berteriak nyaring, lalu dengan kesal kembali ke kedai.
Satu persatu, orang-orang dikedai itu bergegas dengan terburu-buru setelah membayar makanan mereka. Tak ada yang mau kena sial andai saja nona cantik itu melaporkan apa yang mereka lakukan kepada pendekar yang sangat terkenal di kota Gerbang Naga itu. Dalam sekejap, kedai itu sepi. Hanya ada Batari Mahadewi dan pendekar Angin Utara.
“Maafkan kami, nona, dan secara khusus aku minta maaf atas kelancangan murid-muridku. Tidak semestinya nona disambut dengan cara seperti itu,” kata pendekar Angin Utara.
“Saya yang meminta maaf, kakek guru. Gara-gara saya datang, kakek guru jadi terganggu hingga menyusul saya sampai di sini,” balas Batari Mahadewi.
“Apakah ada yang bisa aku bantu, nona? Aku Tahagatara, pendiri perguruan Mutiara Naga,” pendekar Angin Utara itu memperkenalkan diri.
“Saya Batari Mahadewi, dari Mahabhumi. Sebenarnya saya hendak pergi ke perguruan Tongkat Langit di Siwandacara untuk belajar membuat senjata kepada guru Udhata. Dalam perjalanan saya melewati wilayah ini. Saya hanya ingin singgah sejenak di perguruan Mutiara Naga, siapa tahu kakek guru bisa memberikan nasehat kepada saya,” kata Batari Mahadewi.
“Hahaha, nona memang suka merendah. Mana mungkin aku memiliki hal berharga untuk nona pelajari. Selama tiga ratus tahun aku hidup, nonalah satu-satunya pendekar terkuat yang pernah aku lihat. Apa jadinya tadi jika nona tidak berkenan dengan kelancangan murid-muridku,” kata Tahagatara.
__ADS_1
“Saya masih sangat muda, kakek guru. Banyak hal yang saya tidak tahu,” kata Batari Mahadewi. Gadis itu tahu bahwa kakek tua itu memiliki kesaktian tinggi. Setidaknya pendekar Angin Utara itu bisa menilai kekuatannya dari pertarungannya melawan Dirandra.
“Bagaimana kabar Mahabhumi, nona? Sudah lama sekali aku tak pernah lagi datang ke sana,” kata kakek tua itu.
“Semoga saat ini masih baik-baik saja, kakek. Sebelumnya kerajaan Tirayamani datang menyerang. Kami semua bersatu dan berhasil menggagalkan serangan itu. Saya cukup lega ternyata kerajaan hitam itu belum menyerang pulau ini,” kata Batari Mahadewi.
“Ternyata kabar itu benar bahwa kerajaan Tirayamani mulai bergerak untuk menjatuhkan kerajaan-kerajaan lain,” kata kakek tua itu.
“Oleh sabab itulah, kakek, ketika saya di sini, saya mendengar berita bahwa Siwandaraka akan berperang dengan Siwandawala. Ini bukan hal yang baik, setidaknya untuk saat ini. Jika hubungan antar kerajaan tidak harmonis, akan sangat sulit untuk menghadapi kerajaan Tirayamani jika sewaktu-waktu mereka datang menyerang.” Batari Mahadewi mengalihkan pembicaraan ke persoalan perang.
“Nona benar. Tapi situasi ini sungguh diluar kendali kami, para pendekar di Siwandaraka. Kami semua dan pihak kerajaan sebenarnya sudah mengupayakan untuk menemukan jalan damai. Tapi sepertinya, kerajaan Siwandawala memang bermaksud untuk menguasai wilayah ini. Meski sepertinya kami akan kalah, tapi kami tak mau menyerah begitu saja” kata pendekar Angin Utara.
“Nona sungguh-sungguh ingin membunuh raja Siwandawala seorang diri datang ke sana?” kakek tua itu cukup kaget dengan rencana gadis cantik itu. Bagaimanapun juga, Tahagatara tak sepenuhnya tahu kekuatan Batari Mahadewi sehingga ia meragukan keberanian gadis jelmaan pusaka dewa itu.
“Jika membunuh raja itu adalah cara untuk menghentikan perang, maka akan aku lakukan, kakek guru. Ada banyak hal yang akan terjadi di sini kelak dan sudah terjadi di pulau lainnya. Tujuan ratu kerajaan hitam itu bukan hanya untuk sekedar menaklukkan kerajaan lain, namun ia juga berniat membebaskan semua makhluk iblis di masa lalu untuk mengembalikan kejayaan kekuatan hitam,” kata Batari Mahadewi.
Kakek tua itu sedikit sulit memahami kata-kata Batari Mahadewi, namun sedikit banyak ia tak asing dengan dongeng di masa lalu tentang makhluk iblis yang membuat dunia menjadi gelap gulita.
__ADS_1
“Salah satu alasan saya menemui guru Udhata untuk belajar membuat senjata adalah karena ancaman itu, kakek guru. Aku berniat menciptakan banyak senjata sakti yang akan aku bagikan kepada banyak pendekar yang bisa aku temui. Dengan begitu, kita bisa bertahan dari serangan kekuatan iblis.” kata Batari Mahadewi.
Jidat pendekar Angin Utara semakin berkerut-kerut mendengarkan cerita itu. Yang pasti, ia tak punya alasan untuk tak percaya kepada Batari Mahadewi, namun untuk mempercayainya juga butuh waktu.
Gadis jelmaan pusaka dewa itu paham bahwa ceritanya memang sulit dipercaya, terlebih untuk orang-orang yang belum bersentuhan dengan pasukan Tirayamani. Oleh karena itu, ia terpaksa harus mengeluarkan dua mustika yang ia bawa dan menceritakan beberapa hal lainnya secara rinci.
Melihat mustika iblis dan mustika siluman yang dibawa Batari Mahadewi, barulah kemudian guru besar perguruan Mutika Naga itu mempercayai kata-kata nona cantik itu. Tahagatara akhirnya juga memiliki bayangan seberapa gawat situasi di luar pulau Siwarkatantra.
“Pastinya aku akan menemui kakek guru setelah bertemu dengan guru Udhata. Namun saat ini yang terpenting adalah menghentikan peperangan ini,” ujar Batari Mahadewi.
“Raja Siwandawala sangat sakti dan juga memiliki pasukan pengawal yang juga sakti. Namun aku rasa, nona bisa melakukan hal ini. Tapi mungkin sebelum nona berangkat ke sana, ada baiknya nona memberikan bantuan untuk melawan pasukan Siwandawala yang sudah ada di depan mata,” kata Tahagatara.
“Soal itu juga sudah saya pikirkan, kakek. Jika pemimpin perang prajurit Siwandawala yang telah ada di depan mata itu berhasil dilumpuhkan, pastinya mereka tak akan menyerang,” kata Batari Mahadewi.
“Aku akan membantumu, nona,” kakek tua itu memberikan tawaran.
“Tidak kakek, biar aku saja. Kakek berjaga di sini. Kurasa aku memiliki kemampuan yang cukup baik untuk menyusup dan melumpuhkan pemimpin mereka tanpa mengorbankan banyak nyawa,” kata Batari Mahadewi.
__ADS_1
“Baiklah, nona. Aku percayakan hal ini kepada nona,” kata Tahagatara.