
Berbeda dengan para pendekar hitam yang terorganisir dengan baik, para pendekar aliran putih masih belum menyadari adanya ancaman besar apabila para pendekar dari pulau Neraka telah bergabung dengan komplotan Harimau Merah.
Berita gagalnya penyerangan yang dilakukan oleh komplotan pendekar aliran hitam di danau Rembulan Merah telah menyebar luas di kalangan para pendekar aliran putih. Sayangnya hal itu malah menurunkan kewaspadaan karena setidaknya hingga sejauh ini, belum ada pertemuan para pendekar aliran putih untuk membahas serangan dari para pendekar aliran hitam.
Permasalahan utama yang dihadapi perguruan aliran putih dalam menghadapi aliansi aliran hitam adalah bahwa komplotan tersebut tak memiliki markas tetap. Setelah kekalahan aliran hitam beberapa puluh tahun silam, kebanyakan dari kelompok-kelompok hitam di wilayah Swargadwipa tersebut sudah tak lagi memiliki perguruan. Mereka bersembunyi di markas-markas rahasia, menjalankan bisnis kotor atau merampok.
Sehingga, kalaupun berbagai perguruan aliran putih bersatu, mereka tak memiliki tujuan pasti dan tak memiliki petunjuk kemana mereka akan melakukan serangan balasan. Yang mereka bisa adalah menunggu serangan dari kelompok aliran hitam. Jika mereka beruntung mereka bisa menggagalkan serangan tersebut.
###
Ketiga pendekar dari pulau Neraka yang telah sampai di pulau Mahabhumi itu telah beberapa kali melakukan pertarungan dengan pendekar kelana dari aliran putih. Ketiganya menang dengan mudah.
Dua diantara ketiga pendekar aliran hitam itu merupakan pendekar muda yang sangat berbakat di masanya. Keduanya telah memiliki gelar, yakni pendekar Penghisap Darah dan pendekar Tulang Besi. Sementara, satunya lagi merupakan pendekar senior yang menjadi pemimpin diantara mereka, yakni pendekar Sayap Kematian.
Pendekar Sayap Kematian telah berusia setua Ki Gading Putih dengan kekuatan siluman yang bisa mengimbangi pendekar yang memiliki energi dewa. Pendekar itu memiliki kemampuan yang legendaris di pulau Neraka, yakni merubah wujudnya menjadi seekor burung raksasa. Ia memiliki kemampuan itu setelah menyerap energi dari mustika siluman rajawali. Dengan kemampuannya untuk terbang, maka ia dan kedua rekannya itu telah sampai terlebih dahulu di pulau Mahabhumi bagian tengah sebagaimana tujuan mereka adalah pergi ke wilayah Swargadwipa.
__ADS_1
Pendekar Penghisap Darah, sesuai namanya, bertahan hidup dengan menghisap darah manusia ataupun hewan. Ia memiliki kemampuan yang unik, yakni tubuhnya bisa menembus benda padat. Sehingga, jika dalam keadaan terdesak, ia bisa menyusup ke dalam tanah atau bersembunyi ke dalam batu besar atau pepohonan. Sementara, pendekar Tulang Besi benar-benar memiliki tulang yang bahkan lebih keras dari besi. Dengan tulang seperti itu, ia bisa menghancurkan sebongkah batu besar hanya dengan sekali hantam tanpa menggunakan tenaga dalam.
Ketiganya masih dalam perjalanan menuju wilayah kerajaan Swargadwipa. Mereka sengaja tak langsung datang ke sana karena ingin bersenang-senang, yakni mencoba kemampuan bertarung dengan tiap-tiap pendekar pengembara yang mereka temui. Hanya saja, mereka belum menemukan lawan yang seimbang sehingga selalu bisa menang dengan sangat mudah.
Saat mereka sedang melesat menembus hutan, sepuluh pendekar aliran putih dari perguruan Pedang Perak menyusul mereka dari belakang. Bukan tanpa alasan, namun kesepuluh pendekar itu ingin menuntut balas kematian paman guru mereka yang telah bertarung seorang diri melawan ketiga pendekar dari pulau Neraka itu.
“Ada mangsa yang menyusul kita. Kita tunggu di sini, kalian berdua bisa bersenang-senang nanti.” Kata pendekar Sayap Kematian kepada dua rekannya itu.
“Baik, paman.” Kata pendekar Penghisap Darah dan pendekar Tulang Besi bersamaan. Keduanya menghormati pendekar Sayap Kematian layaknya ia adalah guru mereka dalam perjalanan.
“Jangan harap kalian bisa lolos setelah mengeroyok paman guru kami. Dasar kalian pengecut!” kata salah satu dari kesepuluh pendekar Pedang Perak itu.
“Mengeroyok? Hahahaha!!! Ini hal terlucu yang kudengar setelah kami menginjakkan kaki di negri ini.” Kata pendekar Tulang Besi. Ia tak berbohong. Kenyataannya, paman guru dari perguruan Pedang Perak mati di tangannya dalam pertarungan satu lawan satu.
“Jika kalian semua mau bertarung, maka cukup aku saja yang menjadi lawan kalian!” kata pendekar Penghisap Darah, “Pamanmu itu telah mati di tangan saudaraku ini.” Lanjutnya sambil menunjuk pendekar Tulang Besi.
__ADS_1
“Kurang ajar! Kau meremehkan kami! Kalau begitu, kami tak akan sungkan lagi.” Kata salah satu dari sepuluh murid perguruan Pedang Perak. Dalam waktu singkat, sepuluh pendekar pedang itu telah menyerang pendekar Penghisap Darah dengan formasi sepuluh pedang perak pembantai iblis yang cukup terkenal di wilayah itu.
Betapa kaget kesepuluh pendekar itu ketika pedang-pedang mereka tak pernah bisa melukai tubuh pendekar Penghisap Darah itu. Tiap kali puluhan rangkaian serangan pedang itu mengarah ke tubuhnya, tubuh pendekar Penghisap Darah itu seolah hanya bayang-bayang saja.
“Apa! Tidak mungkin!” kata salah satu dari murid perguruan Pedang Perak kaget.
“Kalian tidak akan mengerti. Baiklah, kita akhiri saja sekarang. Aku sangat haus.” Kata pendekar Penghisap Darah yang secara tiba-tiba tubuhnya telah berada di belakang salah satu murid perguruan Pedang Perak. Pendekar Penghisap Darah itu menghujamkan taringnya ke leher korbannya, lalu menghisap darahnya. Tubuh naas itu seketika membiru karena taring pendekar Penghisap Darah mengandung racun yang mematikan.
Sembilan pendekar Pedang Perak yang tersisa terlihat pucat pasi. Mereka benar-benar salah mencari lawan.
“Kalian mau pulang? Silahkan saja kalau mau. Kalian tidak menarik sama sekali.” Kata pendekar Penghisap Darah itu. Tanpa berfikir panjang, kesembilan pendekar pedang itu melarikan diri.
“Kenapa kau lepaskan?” tanya pendekar Tulang Besi.
“Tidak apa-apa. Biar mereka mengabarkan kedatangan kita.” Jawab pendekar Penghisap Darah.
__ADS_1
Pendekar Sayap Kematian tak berkomentar apa-apa. Ia memberikan aba-aba untuk melanjutkan perjalanan mereka.