Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 135 Pulau Suci Bunga Api Murni


__ADS_3

Dengan sisa tenaga yang mereka miliki, Batari Mahadewi dan Nala meluncur cepat dan mendarat di pulau yang penuh warna itu. Keduanya langsung ambruk merebahkan diri di tanah setelah mereka mendarat. Batari Mahadewi dan Nala telah memiliki cukup pengalaman mengerikan sewaktu tiba di pulau iblis, sehingga mereka tak mau menunggu lama untuk langsung memulihkan tenaga. Yang ada dalam benak keduanya adalah bahaya selalu mengintai dan datang setiap saat.


“Kau baik-baik saja, Nala?” tanya Batari Mahadewi.


“Ya, aku baik-baik saja. Jika pulau ini sedikit lebih jauh, mungkin aku akan jatuh ke laut. Semua kristal yang kita bawa telah habis dalam perjalanan yang menguras tenaga ini.” Kata Nala.


“Syukurlah. Yang penting kita selamat sekarang. Pulau ini penuh energi alam. Mungkin kita bisa mencari kristal-kristal alam atau jika ada sesuatu yang setara dengan mustika alam di dunia kita untuk perbekalan kita melanjutkan perjalanan.” Kata Batari Mahadewi.


“Ya, kurasa kita bisa menemukannya di pulau kecil ini. Apakah menurutmu pulau ini berpenghuni?” tanya Nala.


“Sepertinya tidak. Jika iya, pasti penghuni pulau ini sudah ke sini sejak awal kedatangan kita.” Kata Batari Mahadewi.


“Pulau ini sangat indah. Pasir, tanah, bebatuan, bahkan hingga pepohonan dan semua tanaman yang tumbuh di sini beraneka warna. Aku penasaran, apakah ada binatang di pulau ini dan jika ada, apakah binatang-binatang di sini juga beraneka warna.” Kata Nala.


“Tak hanya indah, pulau ini benar-benar penuh energi. Tak butuh lama untuk memulihkan diri kita secara sempurna. Kau ingin menjelajah pulau ini sekarang? Tanya Batari Mahadewi.


“Tentu.” Jawab Nala.


Keduanya bangkit berdiri, kemudian berjalan kaki menjelajahi pulau kecil itu. Ketika keduanya sampai di tengah, mereka menemukan sebuah kuil kecil. Batari Mahadewi membaca tulisan-tulisan yang dipahatkan dalam sebuah batu besar di kuil kecil yang terbuka dan tak beratap itu.


“Ternyata pulau ini bernama pulau suci, salah satu pulau penting bagi masyarakat pulau api untuk melakukan upacara pemujaan.” Kata Batari Mahadewi.


“Menurutmu, mereka juga memiliki dewa-dewa yang mereka puja?” tanya Nala.

__ADS_1


“Ya, jika tidak, buat apa kuil ini dibangun. Lihat tulisan itu, nama kuil ini adalah kuil Bunga Api Murni. Mungkin saja mereka memiliki satu dewa yang mereka sembah. Mungkin adalah dewa api, atau dewa yang berhubungan dengan unsur api.” Kata Batari Mahadewi.


Nala hanya mengangguk mendengarkan kata-kata Batari Mahadewi. Dalam benaknya, ia sama sekali tak mempercayai segala hal tentang dewa, dan lebih jauh lagi, tentang sang pencipta. Ia percaya bahwa segala hal yang tercipta berasal dari energi dengan berbagai macam wujud yang menjadi wadahnya. Jika wadah itu hancur, energi yang tersimpan di dalamnya akan berubah bentuk menjadi hal lain, dengan wadah yang lain.


“Kau tahu, Nala. Di dunia tiga rembulan ini, aku kehilangan salah satu kemampuanku. Salah satu inderaku tertutup dan tidak berfungsi di dunia ini.” Kata Batari Mahadewi.


“Apa maksudmu?” tanya Nala.


“Di dunia satu rembulan, aku bisa membaca rekaman peristiwa di masa lalu atau membaca jejak energi yang tertinggal di segala benda, sehingga aku bisa dengan mudah mempelajari, mengetahui, dan mengenali tempat-tempat yang belum pernah aku kunjungi.” Kata Batari Mahadewi.


“Sejak kapan kau menyadarinya?” tanya Nala.


“Sejak kita bersama guru Rapapu. Jika kemampuanku itu masih berguna di sini, maka tak sulit untuk menguak segala misteri yang ada di dunia ini. Kini aku hanya mengandalkan pengetahuan-pengetahuan dari penghuni dunia ini, atau tulisan-tulisan semacam itu.” Kata Batari Mahadewi sembari menunjukkan tulisan yang berbeda dengan negri Madapala sehingga Nala tak bisa membacanya.


Namun sesekali, dorongan jahat dari dalam tubuhnya masih menghantuinya. Kadang-kadang ia masih mengalami mimpi buruk dalam tidurnya. Mimpi yang selalu sama; seseorang dengan tubuh berlumuran darah mengulurkan tangan kepadanya sambil tersenyum menyeringai seolah ingin menelan dirinya, menguasai dirinya sepenuhnya.


“Tari, mungkin kita harus segera mengumpulkan sumber energi untuk bekal perjalanan kita, lalu segera pergi dari pulau ini.” Kata Nala.


“Iya. Kita bisa mencarinya di sekitar sini, di bawah lantai ini tersedia banyak sumber energi. Kau bisa mengambilnya?” tanya batari Mahadewi.


“Ya, tentu saja. Aku sering melakukannya bersama kakakku.” Kata Nala. Lelaki yang mulai beranjak remaja itu kemudian mengalirkan energinya ke telapak tangan kanannya, lalu mulai menarik sumber energi yang tersembunyi di bawah tanah dengan tenaga dalamnya. Sesekali ia menggerakkan tubuhnya, seiring dengan gelombang energi yang tarik ulur dari dalam tubuhnya.


Batari Mahadewi hanya memperhatikan gerak-gerik Nala yang mirip dengan Jalu dan Niken ketika mereka menaik mustika alam di dunia satu rembulan. Sebongkah kristal bening sebesar buah mangga muncul dari permukaan tanah, lalu di susul dengan dua buah kristal emas sebesar biji nangka.

__ADS_1


Nala berpindah tempat, ia kembali melakukan hal yang sama dan berhasil mengangkat tiga buah kristal bening dengan ukuran yang mirip dengan sebelumnya.


“Kurasa ini saja sudah cukup. Aku tak mau membawa banyak benda di kantung jubahku.” Kata Nala.


“Terserah kau saja, lagipula hanya kamu yang menggunakannya.” Kata Batari Mahadewi.


“Sesekali, cobalah.” Kata Nala.


“Jika tubuhku berkehendak, aku pasti mau. Sayangnya tidak.” Kata Batari Mahadewi.


“Dasar gadis aneh!” kata Nala.


“Hahaha, kau masih menganggapku gadis kecil, Nala?” Tanya Batari Mahadewi.


“Hmm…tidak juga. Tubuh kita sudah seperti tubuh remaja. Tidak ada gadis kecil yang punya dada seperti itu!” Kata Nala seolah tak peduli ia berbicara kepada siapa.


“Heh, sejak kapan kau memperhatikan dadaku! Dasar tidak sopan!” kata Batari Mahadewi dengan nada jengkel. Namun ia tidak marah. Sebaliknya, ia merasa senang, namun ia berusaha memungkirinya.


“Apa kau tak ingat, dulu ketika kita bertarung di dunia asal kita, tubuhmu tidak seperti itu.” Kata Nala cuek.


“Kau! Dasar lelaki! Apa kau tidak bisa membicarakan hal lain yang lebih pantas?!” Kata Batari Mahadewi yang mukanya menjadi merah.


“Hahaha, maaf. Jika kau tak bertanya apakah kau masih gadis kecil atau tidak, maka aku tak akan membicarakan dadamu. Ah sudahlah. Lupakan apa yang baru saja kukatakan.” Kata Nala tak berani melihat wajah gadis yang semakin terlihat cantik ketika ia marah itu.

__ADS_1


Ketika keduanya hendak pergi meninggalkan pulau suci yang penuh warna itu, tiba-tiba dari angkasa tampak dua cahaya yang saling berkejaran, lalu keduanya sama-sama terhempas jatuh ke pulau suci hingga menimbulkan ledakan yang dahsyat. Batari Mahadewi dan Nala hanya terpana menyaksikan pemandangan itu. Keduanya masih belum bisa menebak, sosok seperti apakah yang baru saja jatuh itu dan apa yang mereka lakukan sebelumnya.


__ADS_2