
Ketika Jalu, Niken dan ketiga pendekar itu telah hampir sampai di desa yang dimaksudkan, mereka mendengar suara raksasa yang berada di sana. Jalu segera bergegas mendahului tiga pendekar itu.
“Paman, kita harus berhenti dulu. Jangan terburu-buru masuk ke desa itu. Bagaimana jika kita memantau mereka dari atas pohon yang rimbun?” Jalu mengusulkan.
“Ide bagus, baiklah kalau begitu.” Mereka segera melesat ke pepohonan tinggi yang berdaun lebat. Dari sana, mereka bisa menyaksikan sekitar lima belas raksasa yang sedang mengurung beberapa orang manusia layaknya mengurung ayam dengan kerangkeng kayu berukuran besar.
“Bedebah, adikku ada di dalam kerangkeng itu!” kata salah satu dari pendekar itu.
“Sabar, paman. Aku akan membantumu. Kita hanya perlu memastikan seberapa banyak jumlah dan posisi mereka semua yang ada di desa ini. Nanti, kami akan akan mengalihkan perhatian mereka semua, sementara paman bertiga bisa menyelamatkan orang-orang itu dan membawa mereka pergi dari sini,” kata Jalu.
Mereka kembali memperhatikan gerak-gerik para raksasa itu dan memetakan situasi di sana. Beberapa saat kemudian, Jalu mulai memberi aba-aba kepada Niken dan ketiga pendekar itu untuk bergerak. Jalu dan Niken melesat terlebih dahulu dan memancing agar para raksasa itu menjauh dari kerangkeng kayu berisi puluhan manusia itu.
Gerak-gerik Jalu dan Niken memang membuat para raksasa itu bergerak mengejar mereka. Sementara, ketiga pendekar itu melesat lalu membebaskan para manusia yang ada di dalam kerangkeng, kemudian membawa mereka segera lari meninggalkan desa itu secepatnya.
Harapan hanya ada di tangan Jalu dan Niken. Jika mereka gagal, kemungkinan besar tiga pendekar dan orang-orang yang melarikan diri itu sulit untuk selamat.
“Niken, aku akan memberi mereka kejutan dan ketika itu terjadi, bunuh sebanyak mungkin raksasa dengan pedangmu!” ucap Jalu ketika mereka berdua berlompatan dengan kecepatan sedang untuk memancing para raksasa itu mengejar mereka berdua.
“Baik, kakak!”
Dari lima belas raksasa itu ada dua yang kemampuannya setara dengan raksasa kuat yang dihadapi Jalu dan Niken sebelumnya.
__ADS_1
Setelah para raksasa itu cukup jauh, Jalu tiba-tiba menghujani mereka semua dengan kobaran api. Serangan mendadak itu membuat mereka sangat kaget dan segera tiarap untuk berlindung dari kobaran api yang terus menerus dikerahkan itu.
Niken yang sudah melapisi dirinya dengan kekuatan es kemudian melesat dan membabat para raksasa itu dengan pedang pusakanya. Sebelum pedang pusaka itu membabat habis semua korbannya, dua raksasa tangguh dalam kelompok itu menghentakkan kekuatannya dan membuat Niken terpental lumayan jauh.
Untung saja ia memakai baju perang buatan Batari Mahadewi. Baju itu tak membuatnya terluka sekalipun ia terpental jauh.
Tinggal dua raksasa saja yang masih sehat dan beringas. Yang lain meski masih hidup, namun terlihat tak berdaya dengan tubuh mereka yang telah terbakar. Dua raksasa itu segera melesat ke arah Jalu dan menyerang pemuda api itu dengan pukulan-pukulan energi. Meskipun pukulan itu bisa ditahan, namun tubuh Jalu selalu terdorong ke belakang akibat kekuatan dari serangan itu.
Dari arah belakang, Niken yang sudah bangun kemudian melesat cepat, menebaskan pedangnya ke salah satu punggung raksasa itu. Tebasan itu berhasil membelah punggung besar dan berbulu kasar itu. Satu raksasa telah roboh. Tinggallah satu raksasa lagi yang mengamuk setelah mengetahui kawan-kawannya mati.
Raksasa itu melepaskan rantai yang melilit pingganggnya, lalu menyalurkan tenaganya di rantai itu dan memutar rantai itu seperti baling-baling. Putaran rantai itu menghancurkan apapun yang dikenainya. Sesekali, rantai tu melepaskan tembakan kekuatan berupa pijaran cahaya merah yang melesat ke arah Jalu dan Niken. Putaran rantai itu juga bisa dengan mudah menepis serangan api dan es yang di kerahkan kedua murid Ki Gading Putih itu.
“Sial, bagaimana cara mendekati raksasa itu. Gerakan rantainya sangat cepat dan kuat,” kata Jalu.
Niken menyenandungkan lagu lirih, merambatkan energinya melalui tanah sehingga gelombang bunyi perampas kesadaran itu tak akan bubar ketika lawannya masih memutarkan rantai besarnya itu. Tak lama kemudian, Niken berhasil merenggut kesadaran lawannya.
Raksasa yang tiba-tiba linglung itu tak berumur panjang ketika Jalu dengan cepat melesat dan mengayunkan pedangnya tepat di leher raksasa itu. Segera setelah semua beres, Jalu kembali melenyapkan jejak penyerangan itu.
“Kita berhasil, kakak!”
“Untung saja hanya raksasa seperti ini. Mereka masih bukan dalam golongan ksatria meski memiliki kekuatan besar,” kata Jalu.
__ADS_1
“Selanjutnya, apa yang akan kita lakukan?”
“Kita susul rombongan warga desa itu. Siapa tahu mereka akan mendapatkan kesulitan di tengah jalan!” Jalu dan Niken segera melesat untuk menyusul para rombongan yang telah kabur itu. Mereka masih belum terlalu jauh, sebab hanya mengandalkan kaki untuk berlari.
“Tak usah terburu-buru, paman. Berhenti dulu! Kami sudah berhasil membereskan semua raksasa itu?!” kata Jalu setengah berteriak kepada tiga pendekar yang sedang berlari bersama dengan orang-orang yang mereka selamatkan itu.
“Apa? Kalian telah membunuh mereka semua?” ucap salah satu pendekar itu setengah tak percaya.
“Benar, paman. Jadi, untuk menghemat tenaga, sebaiknya kita berjalan biasa saja. Aku akan membantu untuk berjaga bilamana kita berjumpa dengan raksasa lainnya. Kita akan benar-benar aman setelah melewati bukit itu, setidaknya saudara-saudara kami ada di sana,” kata Niken.
“Baiklah kalau begitu, bagaimana jika kita beristirahat dulu, sepertinya mereka sangat kelelahan!” usul pendekar itu.
“Ya, ada baiknya kita beristirahat dulu. Sepertinya mereka semua kelaparan kan? Aku akan pergi sejenak untuk mencari sesuatu buat dimakan!” kata Jalu.
“Terimakasih pendekar muda, kami akan menunggu di sini!” kata pendekar itu.
Sementara Jalu bergegas mencari sesuatu untuk dimakan, Niken menemani tiga pendekar itu untuk menjaga keamanan rombongan warga yang melarikan diri itu. Wajah mereka masih tampak ketakutan meskipun sudah tak ada lagi raksasa disana. Sudah pasti begitu, beberapa saat sebelum mereka ditolong, bangsa raksasa itu memakan sanak saudara mereka hidup-hidup.
Warga itu sangat menyesal karena tidak segera pindah ke wilayah barat sejak bangsa raksasa itu datang ke Mahabhumi.
Beberapa saat kemudian, Jalu sudah datang dengan membawa seekor banteng besar yang entah ia dapatkan di mana. Banteng besar itu cukup untuk menjadi makanan seluruh rombongan warga itu. Dengan demikian, mereka memiliki tenaga untuk melanjutkan perjalanan.
__ADS_1
Mereka beramai-ramai menguliti dan membersihkan banteng itu, lalu memisahkan daging dengan tulangnya, menusuk potongan-potongan daging sebesar satu kepalan tangan itu dengan ranting yang telah diruncingkan, dan membakarnya. Masing-masing orang mendapatkan beberapa potongan daging yang cukup untuk mengenyangkan perut mereka yang telah kosong sejak bangsa raksasa itu tiba-tiba datang dan mengurung mereka semua dalam kerangkeng.
Selagi orang-orang itu makan dengan terburu-buru, Jalu dan Niken segera memulihkan diri dengan mustika kuning yang mereka jadikan bekal. Mustika itu menjadi barang berharga bagi para pendekar ketika harus bertahan dalam situasi yang serba mencekam itu.