
Jika ada manusia setengah siluman yang mengintai keramaian seperti itu, tentu bukanlah pertanda baik. Orang-orang semacam itu tak butuh tontonan pertandingan beladiri. Kalaupun mereka ingin melihat pertarungan, pastinya pertarungan para pendekar berilmu tinggi jauh lebih menarik.
‘Pasti manusia siluman itu sedang mengincar sesuatu. Baiklah, aku akan mengawasimu dari sini,’ batin Batari Mahadewi.
Pertarungan demi pertarungan terus berlangsung seru dan menyisakan dua pendekar saja di babak akhir. Keduanya akan memperebutkan gelar pendekar dan hadiah dari kerajaan. Satu dari peserta itu adalah seorang perempuan muda murid dari perguruan Pedang Emas. Satu lagi adalah seorang lelaki muda yang merupakan murid dari perguruan Tongkat Dewa.
Dua perguruan itu adalah yang paling tersohor di kota Batu Belah dan sudah sekian tahun selalu bersaing dalam kejuaraan semacam itu. Terkadang, persaingan itu menimbulkan perselisihan diam-diam. Pendekar Pedang Emas dan pendekar Tongkat Dewa yang menjadi pendiri masing-masing perguruan itu sebenarnya sedang perang dingin.
Perguruan Tongkat Dewa sudah kalah dua tahun berturut-turut dalam turnamen tahunan yang diselenggarakan di sana. Di tahun ini, mereka bertekad untuk menang. Selama satu tahun penuh, mereka mempersiapkan satu murid yang paling berbakat untuk diikutkan turnamen. Murid semacam itu lebih beruntung dari yang lain, sebab mereka akan mendapatkan latihan-latihan ekstra dengan bimbingan langsung dari guru besar.
Dalam pertandingan babak akhir itu, kedua peserta diperbolehkan untuk menggunakan senjata. Mereka memang tidak akan bertarung sampai mati. Namun, keduanya tak bisa mengelak dari resiko bahwa mungkin salah satu dari mereka akan mengalami luka parah atau bahkan mati ketika bertarung. Tak boleh ada dendam antar perguruan setelah pertandingan berakhir.
Pertandingan telah dimulai. Dua murid itu bertarung dengan indah. Keduanya memiliki kemampuan menggunakan senjata dengan sangat lihai.
Dua senjata yang digunakan oleh dua pendekar itu bukan senjata sembarangan. Pedang Emas dan Tongkat Dewa yang dipinjamkan oleh guru mereka masing-masing. Keduanya merupakan pusaka sakti berkekuatan tinggi. Selain memiliki kekuatan besar, kedua pusaka itu juga menyumbangkan kekuatannya kepada pendekar yang menggunakannya.
Sehingga, pertarungan itu tak bisa disaksikan dari jarak dekat. Benturan energi dari dua senjata itu menghasilkan ledakan cukup dahsyat dan berbahaya jika percikan energinya terpental ke arah penonton.
Sedari tadi Batari Mahadewi mencoba mengawasi semua area. Ia menangkap pergerakan energi hitam dari berbagai penjuru yang samar-samar tertangkap oleh inderanya.
__ADS_1
‘Sepertinya, pergolakan antara pendekar hitam dan putih baru akan di mulai di Siwandacara. Kenapa dua aliran ini tak pernah akur. Semestinya bisa. Aku dan Nala bisa berdamai dan berpetualang bersama hingga sepuluh tahun,’ batin gadis jelmaan pusaka dewa itu. Lagi-lagi ia teringat Nala. Ia tak bisa berbohong bahwa ada rasa rindu untuk bertemu.
Bukankah Batari Mahadewi bisa pulang kapan saja ia mau? Ya tentu saja. Tapi percayalah, gadis itu diam-diam pemalu dan bisa menjaga gengsi dengan sempurna. Ia tak akan menemui Nala hanya karena alasan remeh temeh, meski urusan perasaan terkadang pelik. Lagipula, kedua pendekar itu belum memiliki ikatan apapun.
Soal pergerakan kelompok hitam yang ingin menghancurkan kelompok putih, hal itu pernah terjadi jauh-jauh hari di Swargadwipa. Pergerakan yang dipimpin oleh Harimau Merah ketika Batari Mahadewi belum sekuat sekarang ini. Bahkan saat inipun, sang Ratu Kegelapan masih terus bergerak meski beritanya belum sampai di Siwandacara.
Pendekar perempuan dari perguruan Pedang Emas semakin terdesak. Kekuatannya banyak terkuras. Dalam kondisi seperti itu, menggunakan sebuah pusaka sakti malah menjadi beban berat baginya. Pusaka itu bisa berlaku sebaliknya. Jika seseorang yang menggunakannya sedang dalam kondisi lemah, pusaka itu justru akan menyerap energi sang pemakai itu.
Ketika pendekar laki-laki dari perguruan Tongkat Dewa itu hendak mengerahkan pukulan pamungkas untuk mengakhiri pertandingan, tiba-tiba tubuhnya ambruk. Kejadian itu membuat gempar semua orang yang ada di sana, tak terkecuali pendekar Tongkat Dewa.
Para pendekar berilmu tinggi pasti tahu bahwa kejadian semacam itu adalah kejadian janggal. Peserta dari perguruan Tongkat Dewa telah diserang dari jarak jauh.
“Tak kusangka perguruan Pedang Emas yang tersohor itu rela melakukan tindakan tak terhormat demi sebuah kemenangan kecil seperti ini!” kata pendekar Tongkat Dewa dengan geram.
“Kau menuduh kami sebagai pelakunya? Jangan sembarangan menuduh jika tak ada bukti!” kata pendekar Pedang Emas tidak terima.
Suasana menjadi semakin memanas. Kedua perguruan itu bersitegang, sementara perguruan yang lain juga ikut terpancing dengan suasana itu. Bagaimanapun juga, perguruan-perguruan yang dekat dengan pendekar Tongkat Dewa atau Pedang Emas juga akan mendukung rekan mereka masing-masing jika kedua kubu itu akan bertarung.
“Jika bukan perguruanmu pelakunya, lalu siapa? Siapa yang paling diuntungkan dari kejadian ini jika bukan perguruan kalian?” kata pendekar Tongkat Dewa dengan nada tinggi.
__ADS_1
“Apa untungnya kami melakukan hal ini? Kami tak haus kemenangan atau nama baik. Jika kalian memang ingin kemenangan ini, maka ambillah. Tapi kami tak rela jika kalian menuduh kami sebagai pelakunya!” kata pendekar Pedang Emas.
“Kau pikir kami butuh kemenangan seperti ini?!” Pendekar Tongkat Dewa menggenggam erat senjata pusakanya itu. Kemarahannya sudah tak bisa diredakan dengan kata maaf. Ia memancarkan energinya dan siap untuk bertarung melawan siapapun dan berapapun jumlahnya.
Pendekar Pedang Emas yang melihat hal itu langsung tanggap. Ia tak mau diremehkan. Ia tahu pendekar Tongkat Dewa sedang menantangnya. Ia pun akhirnya juga memancarkan kekuatannya. Jika dua pendekar tersohor di kota itu sudah saling menantang, tak ada yang berani melerai, kecuali pendekar lain yang sama-sama berilmu tinggi.
Ketika situasi sedang keruh, akhirnya para pendekar hitam mulai bergerak. Sedari tadi, Batari Mahadewi tahu bahwa pelaku serangan itu adalah pendekar setengah siluman yang sedang mengintai di atas pohon, jauh dari arena pertandingan. Sosok itu jugalah yang memberi perintah para pendekar hitam lainnya untuk mulai bergerak mendekat ke arah kekacauan itu.
Jumlah mereka lumayan banyak dan sebagian besar dari mereka adalah para pendekar hitam berilmu tinggi yang sudah banyak makan asam garam dunia persilatan. Yang pasti, mereka sengaja menciptakan suasana keruh seperti itu, menunggu para pendekar putih saling menyerang, lalu setelahnya, mereka akan muncul dan memberikan serangan kejutan.
Pendekar Pedang Emas dan pendekar Tongkat Dewa menyerang secara bersama-sama. Dua pusaka sakti yang dikendalikan dua penekar hebat dari Siwandacara itu saling bertumbukan. Seketika terjadi ledakan besar yang membuat orang-orang disekitar arena terpental jauh.
Pada saat itulah, ribuan jarum beracun berterbangan mencari korban. Dalam keadaan siaga, seorang pendekar sakti masih akan cukup kesusahan untuk menghindari jarum-jarum beracun tak kasat mata yang melesat dengan kecepatan kilat itu. Sehingga, dalam situasi yang kacau itu, jarum-jarum beracun bisa dengan mudah menembus tubuh para korbannya.
Tak sedikit yang langsung ambruk dari serangan jarum beracun itu. Serangan mendadak itu tentu saja membuat kedua pendekar sakti yang tengah bertarung itu akhirnya menghentikan pertarungannya. Mereka baru menyadari bahwa ada pihak ketiga yang sengaja membuat kekacauan ini terjadi.
“Hahaha, lama tak bertemu dengan kalian. Kurasa hari ini adalah waktu yang tepat untuk meneruskan urusan di masa lalu yang belum selesai,” kata manusia setengah siluman yang sedari tadi sembunyi di atas pohon akhirnya datang menemui pendekar Tongkat Dewa dan Pedang Emas.
“Ternyata kau, Rubah Iblis! dasar pengecut!” kata pendekar Tongkat Dewa. Perhatiannya terbelah saat ia melihat puluhan pendekar hitam mulai membantai para pendekar putih di sekitar arena pertandingan itu.
__ADS_1
Batari Mahadewi yang sedari tadi memantau keriuhan itu pada akhirnya tak bisa menahan diri untuk tak ikut campur. Hal pertama yang ingin ia lakukan adalah menyelamatkan orang-orang yang sedang kejang karena serangan racun para pendekar hitam yang datang secara tiba-tiba itu.