
Niken dan Pradipa telah sampai di suatu desa. Keduanya cukup lelah melakukan perjalanan menembus hutan selama beberapa hari. Meski perjalanan mereka tak menemui rintangan yang menyebabkan mereka terlibat pada pertarungan, namun bukan berarti kedua pendekar muda berilmu tinggi itu tak terkuras tenaganya.
Menembus hutan gelap tak hanya melelahkan fisik, namun juga pikiran dan jiwa. Terlebih, mereka tak bisa sembarangan beristirahat di hutan karena bagaimanapun juga, di dalam hutan itu bersembunyi binatang buas, iblis, dan siluman yang setiap saat bisa menjadi ancaman yang serius.
Meski sejauh itu Pradipa menghadirkan kesan baik dan penuh perhatian kepada Niken, namun Niken masih tetap menganggap pendekar muda dan tampan yang menemani perjalanannya itu adalah orang asing yang baru saja ia kenal. Sudah semestinya ia harus tetap waspada dan menjaga jarak.
Niken berfikir bahwa tak ada hal yang tanpa pamrih. Meski Pradipa sangat baik kepada Niken, namun ia ragu jika kebaikannya itu tak menuntut suatu hal. Ia tak tahu itu. Yang pasti, Pradipa selalu berbuat hal-hal yang membuat Niken senang selama perjalanan itu. Sedikit banyak, rasa kangen Niken kepada Jalu agak terobati meski ia tahu ia tak akan menduakan cintanya kepada Jalu.
Kadang Niken berfikir, jika Jalu tak mencintainya, atau jika Jalu akan bertemu dengan perempuan yang lebih sempurna dari dirinya suatu hari nanti, maka apa yang akan ia lakukan? Pertanyaan seperti itu terus menghantuinya. Tentu saja demikian, sebab baik Jalu dan Niken tak pernah mengutarakan perasaannya, meski keduanya merasa bahwa ada perasaan khusus di antara mereka berdua.
Tapi jika perasaan itu tak pernah dikatakan, tak pernah diikrarkan sebagai janji, lantas siapa yang menjamin bahwa Niken jatuh cinta dengan Jalu, atau sebaliknya? Niken, meski tak pernah sungkan mengatakan apa yang ingin ia katakana kepada siapapun, namun dalam hal perasaannya kepada Jalu, ia hanya bisa menunggu dan berharap Jalu akan merasakan perasaan yang sama dengan yang ia alami dan suatu hari Jalu akan mengatakan kepadanya.
“Apakah menurutmu, kita akan menginap di desa ini?” Kata Pradipa.
“Sebaiknya kita cari penginapan saja, kakak, aku butuh mengistirahatkan tubuh dan pikiranku.” Balas Niken.
“Baiklah, di depan ada kedai, mungkin kita perlu mengisi perut kita dahulu, lalu kita akan cari penginapan.” Kata Pradipa.
“Aku setuju.” Balas Niken. Keduanya bergegas menuju kedai makan tak jauh dari tempat mereka berpijak saat itu. Sesampainya di depan kedai, Niken dan Pradipa melihat ada sesuatu yang tidak beres. Semua pengunjung di kedai itu tampak ketakutan, kecuali sekelompok orang yang duduk di salah satu meja yang paling besar di sana.
Penampilan orang-orang itu sangat khas dengan ciri-ciri berandalan pada umumnya, bertampang sangar, membawa senjata-senjata berukuran besar, dan berbicara dengan suara keras seolah mereka adalah penguasa bumi yang layak ditakuti. Setidaknya cara itu berhasil menakut-nakuti semua pengunjung kedai yang tak satupun dari para pengunjung itu adalah pendekar.
Niken dan Pradipa dengan tenang memasuki kedai itu, memesan dua porsi makanan, dan duduk di meja yang kosong dimana tak ada pilihan lain selain di dekat gerombolan berandal itu.
Niken dan Pradipa dengan santai duduk di sana seolah tak peduli dengan tatapan bengis para berandalan itu. Tentu saja sikap Niken dan Pradipa mengundang marah para berandalan bodoh yang merasa menjadi penguasa kedai atau bahkan desa itu. Mereka marah karena setidaknya ada tiga alasan, yakni Niken dan Pradipa seolah tidak takut pada mereka, kedua karena ketampanan Pradipa, dan terakhir, karena mereka menginginkan Niken. Sehingga mereka cukup memiliki alasan untuk membuat keributan.
“Tuan dan Nona, apakah kalian sudah bosan hidup?” tanya salah satu lelaki dari gerombolan berandal itu.
“Hidup begitu indah, kenapa harus bosan?” Jawab Pradipa dengan santai. Lelaki berandalan itu geram sekaligus bingung menanggapi jawaban Pradipa yang tak ia duga sebab sebelumnya ia tak pernah mendengarkan jawaban semacam itu ketika ia mengancam korban-korbannya.
“Kurang ajar, kau mau cari gara-gara dengan kami?” Kata lelaki itu.
“Apakah kami tampak seperti mencari gara-gara?” jawab Pradipa.
“Sikapmu yang sombong itu yang bikin gara-gara dengan kami.” Kata lelaki itu.
__ADS_1
“Kalau begitu, maafkan kami.” Jawab Pradipa. Jawabannya semakin membuat berandalan itu naik pitam. Lelaki itu mencabut golok besar yang tersarung di punggungnya, lalu ia menebaskan golok itu ke arah kepala Pradipa.
Pradipa tak menghindar sedikitpun. Niken sempat menahan nafas ketika golok itu mendarat di leher Pradipa. Namun yang terjadi membuat semua orang di sana terkejut. Pradipa melindungi lehernya dengan tameng energi yang tak kasat mata. Tameng itu tak hanya melindungi lehernya dari tebasan golok, namun juga membuat golok itu hancur berkeping-keping.
Lelaki itu gemetar, dan mundur tanpa kata. Wajahnya pucat, lalu ia duduk bersama dengan gerombolannya yang masih belum percaya dengan apa yang mereka lihat barusan. Seluruh mata yang ada di kedai tak ada yang berkedip melihat kejadian itu. Sunyi, tak ada satupun yang berani bicara.
Pelayan kedai mengantarkan pesanan Niken dan Pradipa dengan tubuh gemetar, sehingga membuat gelas gerabah berisi air di nampannya tumpah sebagian.
“Mm…mohon maaf, tuan muda…ini pesanan tuan dan nona, se…sel..selamat menikmati.” Kata pelayan itu mendadak gagap dan masih dengan tubuh yang gemetar. Ia takut jika sebentar lagi akan terjadi keributan di kedainya.
“Terimakasih.” Jawab Niken sambil tersenyum tenang agar membuat pelayan itu lebih tenang meski hal itu tak sepenuhnya terjadi. Pelayan itu kembali masuk ke dalam dengan wajah yang pucat.
“Mari makan.” Kata Pradipa. Ia dan Niken makan dengan lahap seolah mereka berdua tak pernah makan makanan yang sesungguhnya dalam beberapa hari belakangan. Kumpulan berandal itu masih diam di mejanya, menimbang langkah apa yang harus mereka lakukan; mencoba lagi atau lari.
Gerombolan itu berdiskusi tanpa kata-kata, hanya saling menatap satu sama lain, lalu mengangguk, kemudian mereka melangkah untuk meninggalkan kedai itu. Pradipa menyelonjorkan kakinya sehingga salah satu anggota gerombolan itu tersandung dan terjatuh.
“Aduh!” Pekik lelaki yang terjatuh itu.
“Kalian mau kemana? Duduk!” Perintah Pradipa.
Tentu perintah itu tak membuat mereka duduk, sebaliknya, mereka lari. Namun belum beberapa langkah, tiba-tiba mereka tak bisa bergerak, membeku dalam posisi tubuh sedang berlari ketakutan. Sungguh pemandangan yang janggal bagi semua pengunjung kedai, dan pengalaman memalukan bagi gerombolan berandal itu.
Beberapa orang dikedai buru-buru menyelesaikan makanan mereka, lalu membayar dan pergi dari kedai itu. Mereka masih sayang nyawa dan tak mau terlibat walau sebagai saksi dalam peristiwa yang akan terjadi itu.
Setelah Pradipa dan Niken selesai makan, Pradipa bergegas untuk membayar makanan. Ia kemudian memandangi gerombolan berandal yang masih tak bergerak dan hanya bisa meneteskan keringat dingin.
Pradipa melepas jeratan energi yang membuat mereka tidak bisa bergerak. Begitu jeratan energi itu terlepas, gerombolan berandal itu ambruk ke lantai.
“Cepat bayar makanan kalian!” Perintah Pradipa.
Salah satu dari gerombolan berandal itu tergopoh-gopoh membayar makanan mereka. Lalu kemudian mereka berniat untuk pergi sambil melirik wajah Pradipa.
“Kalian mau kemana?” tanya Pradipa.
“Ampun tuan…kami tak mau mencari gara-gara dengan tuan pendekar.” Ujar salah satu dari gerombolan itu dengan wajah mengiba.
__ADS_1
“Tinggalkan semua yang kalian miliki di sini.” Perintah Pradipa. Gerombolan itu saling berpandangan sejenak. Mereka tak punya pilihan. Mereka kemudian meninggalkan kantong-kantong hasil rampokan mereka di meja. Kemudian mereka hendak pergi lagi.
“Tunggu dulu, senjata kalian juga!” Kata Pradipa. Gerombolan itu menurut, lalu melepaskan semua senjata yang melekat di tubuh mereka, lalu meletakkannya di meja. Mereka diam saja dan menunggu perintah selanjutnya.
“Pakaian kalian juga!” Perintah Pradipa.
“Tt…tapi tuan…” Kata salah satu dari gerombolan itu.
“Kalian lebih sayang nyawa atau pakaian kalian?” Tanya Pradipa.
“Bb…baiklah tuan…” Dengan pasrah gerombolan itu melepas pakaian mereka dan hanya menyisakan cawat yang membungkus urat malu mereka.
“Bagus, sekarang kalian boleh pergi. Tinggalkan juga kuda-kuda kalian.” Perintah Pradipa. Gerombolan itu tanpa pikir panjang langsung lari terbirit-birit menyelamatkan diri mereka. Dalam hati mereka mengumpat dan bersumpah akan kembali lagi untuk membalas perbuatan Pradipa.
Niken hanya tersenyum melihat pemandangan itu. Pradipa punya cara yang unik dan jahil untuk membuat jera gerombolan berandal. Cara yang jauh berbeda dengan Jalu.
“Apa yang akan kita perbuat dengan barang-barang ini , kakak?” tanya Niken.
“Kita bawa uang dan senjatanya, lalu sisanya kita bagikan ke warga desa. Kalau kau menginginkan kuda itu, maka kita sisakan dua saja.
“Tidak kakak, aku bahkan tak berminat memiliki uang mereka.” Kata Niken.
“Tak apalah, kita bawa uang itu. kita bagikan sebagian ke orang-orang yang membutuhkan di perjalanan kita.” Kata Pradipa.
Niken tidak terlalu setuju sebenarnya. Tapi ia tak punya ide apapun. Lalu ia biarkan saja Pradipa yang memutuskan.
“Kita akan cari penginapan, Niken. Mungkin mereka akan kembali. Kita tak bisa membiarkan warga desa menangung kemarahan mereka.” Kata Pradipa.
“Lalu kenapa kakak membiarkan mereka lari?” Tanya Niken.
“Biar mereka membawa semua anggotanya ke sini, dengan begitu kita bisa menumpas gerombolan itu sampai ke akarnya.” Kata Pradipa.
“Kakak terbiasa membunuh orang-orang seperti itu?” tanya Niken.
“Tidak, hanya membuat mereka cacat dan tak akan mau lagi menjadi penjahat.” Jawab Pradipa.
__ADS_1
Pradipa menyerahkan kuda-kuda serta beberapa barang dari berandalan itu kepada pemilik kedai sambil berpesan untuk menyerahkan barang-barang itu kepada tetua desa dan membagikannya kepada warga desa. Ia dan Niken kemudian bergegas mencari penginapan terdekat. Beberapa gadis desa yang sejak tadi mengintip apa yang dilakukan oleh Pradipa, melemparkan senyum termanis yang mereka miliki kepada Pradipa, sambil bermimpi suatu hari nanti akan ada lelaki jantan setampan Pradipa yang akan melamar mereka.
Sampai di sini dulu teman-teman. Kita ketemu lagi besok. Terimakasih banyak atas segala bentuk dukungan kepada saya. Saya tak bisa membalas kebaikan teman-teman kecuali dengan menulis cerita ini sebaik yang saya bisa. Semoga teman-teman selalu sehat dan dalam perlindungan Tuhan. Amin 🙏🙏