
Keesokan harinya, Jalu, Niken, dan Batari Mahadewi berpamitan. Ki Elang Langit dan beberapa tokoh desa mengantarkan mereka menuju gerbang sisi barat. Kehadiran tiga sosok pendekar muda dari padepokan Cemara Seribu itu meninggalkan kesan tak terlupakan bagi warga desa Atas Awan.
Ketiganya meluncur menuruni gunung yang curam itu dengan ilmu meringankan tubuh. Menuruni gunung yang seperti benteng menjulang ke langit itu jauh lebih cepat daripada menaikinya. Bagian barat gunung itu terbentang hutan yang luas.
Ketiganya masih menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk melenting dari satu dahan pohon ke dahan lainnya. Menembus jauh ke dalam hutan yang gelap. Mereka tak berminat untuk mencari mustika alam meskipun hutan itu memancarkan beberapa energi bumi dengan kualitas yang bagus.
Butuh waktu setengah hari melaju dengan kecepatan tinggi untuk menembus hutan gelap yang luas itu. Beruntung perjalanan mereka tak terganggu oleh para siluman penunggu hutan. Mereka menemukan sebuah sungai kecil yang memisahkan hutan dengan desa kecil di seberang sungai.
“Bagaimana jika kita mencari kedai untuk mengisi perut kita?” usul Jalu.
“Ya, aku sudah mulai lapar.” Kata Niken.
Ketiganya berjalan dengan santai agar tak menarik perhatian menelusuri jalan desa untuk menemukan sebuah kedai makan. Di tengah desa, mereka baru menemukan beberapa kedai makan yang menjual beberapa jenis makanan yang berbeda.
“Kedai di sebelah sana sepertinya menarik.” Kata Jalu.
“Ya, sedikit ramai, dan itu tandanya kedai itu memiliki masakan yang enak.” Kata Niken.
“Ada juga yang ramai gara-gara pemilik kedai memelihara jin di kedainya.” Kata Batari Mahadewi.
“Maksud adik kedai itu tidak beres?” tanya Jalu.
“Kedai itu aman. Hanya saja ada beberapa pendekar di sana, entah dari golongan apa. Tak ada tanda energi tertentu pada tubuh mereka.” Kata Batari Mahadewi.
Ketiganya memasuki kedai itu. Beberapa pasang mata tak henti mengawasi mereka, termasuk sekelompok pendekar yang telah ada di sana sekian waktu yang lalu. Bagaimanapun juga, penampilan Jalu, Niken dan Batari Mahadewi merupakan penampilan pendekar, terlebih dengan kostum aneh yang dikenakan Batari Mahadewi, akan selalu menarik perhatian.
Pelayan kedai itu mempersilahkan masuk dan mengantarkan mereka bertiga ke meja yang kosong. “Tuan dan nona-nona sekalian ingin memesan apa?” Tanya pelayan itu.
“Kami ingin makanan terbaik dari kedai ini. Tolong siapkan untuk 3 porsi.” Jawab Jalu. Ia tak khawatir dengan bekal yang mereka bawa untuk membayar makanan terbaik yang harganya tak lebih dari satu keping emas.
“Akan kami siapkan, tuan. Mohon tunggu sejenak.” Kata pelayan kedai itu.
Salah seorang dari sekelompok pendekar di salah satu meja datang mendekat. Ia tersenyum dan menyapa basa-basi.
“Selamat siang tuan dan nona sekalian. Sepertinya anda bertiga bukan berasal dari daerah sini?” Kata orang berbadan besar itu.
“Ya, kami hanya numpang lewat di desa ini.” Kata Jalu singkat. Ia menangkap gerak-gerik mencurigakan dari orang itu.
__ADS_1
“Kalau boleh tahu, kemana tuan akan pergi?” Tanya lelaki itu.
“Ke arah barat.” Jawab Jalu.
“Oh, saya hanya ingin menawarkan jasa. Barangkali tuan dan nona berminat. Di desa sebelah saat ini sedang terjadi kekacauan. Ada perampok yang menguasai desa itu. Kami menawarkan pengawalan jika tuan berkenan, mengingat hanya tuan saja yang menemani nona-nona cantik ini. Akan sangat berbahaya jika lewat di sana.” Kata lelaki itu.
“Sepertinya kami tidak membutuhkan bantuan, paman. Terimakasih atas tawarannya.” Jawab Jalu.
“Apa tuan yakin?” tanya lelaki itu.
“Ya.” Jawab Jalu yang tak ingin berlama-lama dengan orang itu.
“Baiklah kalau begitu, semoga tuan dan nona sekalian selamat melewati desa itu.” Kata lelaki itu. Ia pergi dengan meninggalkan kesan yang tak menyenangkan.
Makanan telah tiba. Mereka bertiga makan dengan lahap. Rasa lapar membuat makanan itu terasa jauh lebih nikmat dari rasa yang sebenarnya. Saat mereka makan, ada serombongan orang masuk ke kedai itu. Mereka tampak seperti pedagang. Tak lama kemudian, lelaki sama yang menawarkan bantuan mendekati meja rombongan itu. Sudah pasti menawarkan hal serupa.
“Tipuan lama.” Kata Jalu.
“Maksud kakak?” Tanya Niken.
“Mereka kawanan perampok. Sebagian dari mereka memang ada di desa sebelah, sebagian yang lain menyebar, menawarkan bantuan seperti itu. Jadi perampok itu akan mendapatkan banyak uang dengan cara seperti ini, kalau tidak, apa alasan mereka bertahan di desa yang mereka rampok?! Mereka pasti memeras korban-korban yang berhasil mereka antar nantinya, seolah-olah mereka adalah penolong.” Kata Jalu.
“Aku setuju.” Kata Jalu. Batari Mahadewi hanya mengangguk saja. Ia teringat perkelahian pertamanya di pasar melawan para perampok bodoh yang bagaimanapun akan tetap berbahaya bagi penduduk desa.
Seusai makan, mereka melanjutkan perjalanan. Beberapa kawanan perampok yang ada di kedai itu memandangi kepergian mereka.
Desa selanjutnya tak jauh dari desa yang baru saja mereka singgahi. Hanya terpisah oleh sungai dangkal. Tak ada jembatan. Dengan mudah mereka bertiga melompati sungai itu. Bagi kalangan bukan pendekar, mereka harus berhati-hati melangkah, dari satu bongkahan batu ke batu lainnya, agar tidak basah.
Benar kata Jalu. Di pinggir sungai itu sudah ada satu mata-mata perampok yang bersembunyi. Tugasnya adalah memberi tahu pemimpinnya jika ada rombongan lewat. Namun kali ini ia akan mengatakan berita buruk sebab ia melihat Jalu, Niken, dan Batari Mahadewi menyeberangi sungai hanya dengan satu lompatan saja. Ia lari terbirit-birit menuju kediaman pemimpinnya. Sayang sekali, ia terpeleset dan jatuh, kepalanya terbentur batu. Hal itu membuatnya sadar. Ia sadar bahwa ia harus lari meninggalkan komplotannya.
Maka kedatangan Niken, Jalu dan Batari Mahadewi tak diketahui oleh kawanan perampok yang menguasai desa itu.
Jalanan sepi. Desa itu seperti desa yang ditinggalkan penduduknya. Namun para warga tidak pergi dari sana, hanya memilih untuk keluar rumah seperlunya saja agar tak berurusan dengan kawanan perampok. Mereka tak bisa pergi meninggalkan desa itu. Tak ada pilihan lain daripada mereka kehilangan nyawa.
Jalu, Niken, dan Batari Mahadewi berjalan seolah-olah mereka tidak tahu ada kawanan perampok, seolah-olah mereka bukan pendekar berilmu tinggi. Kedatangan mereka bertiga mengundang perhatian kawanan perampok di desa itu, terutama karena keberadaan Niken yang tak bisa menyembunyikan paras cantiknya. Para perampok itu berfikir, kalaupun tak dapat uang, mereka bisa mendapatkan Niken.
Satu per satu perampok itu menampakkan diri. Jalu, Niken dan Batari Mahadewi menghentikan langkah dan memandangi kawanan perampok yang berjumlah lebih dari 50 orang itu dengan santai.
__ADS_1
“Apa yang kalian inginkan? Sebutkan saja. Tak banyak uang yang kami punya.” Kata Jalu bermaksud jahil kepada perampok itu.
“Kau bisa tinggalkan nona ini jika mau meninggalkan desa ini dengan selamat.” Kata pria bertubuh tinggi besar, yang merupakan pimpinan dari kawanan perampok itu.
“Baiklah. Kami akan meninggalkan perempuan ini.” Kata Jalu. Kemudian Jalu dan Batari Mahadewi melanjutkan perjalanan dengan santai, seolah kejadian itu bukan apa-apa. Niken tetap diam di tempat. Anehnya, kawanan perampok itu tampak kaget dengan pemandangan yang tak biasa mereka alami. Dan bahkan baru kali itu.
“Aku sudah di sini, apa yang kalian inginkan?” Kata Niken dengan nada dingin. Ia melepaskan hawa dingin yang tak kasat mata dengan pandangan mata yang penuh ancaman. Tak ada jawaban dari kawanan perampok itu. Mereka ragu dan semua mata tampak melirik ke arah pimpinan perampok itu.
Sang pemimpin perampok, bagaimanapun juga harus tetap menjaga harga dirinya. Ia tak bisa mundur meski tiba-tiba ia sudah tak berselera lagi melihat kecantikan Niken. Apa boleh buat, ia mendekat dan hendak menyentuh tubuh Niken.
“Sekarang kau ikut aku.” Kata perampok itu sambil memegang lengan Niken dan bermaksud untuk menyeretnya. Tubuh Niken tak bergerak sedikitpun. Lelaki itu menambahkan usahanya untuk menarik lengan Niken. Tapi sia-sia saja.
“Apa kau masih menginginkanku?” Kata Niken dengan pandangan yang mengerikan. Lengan lelaki yang memegang lengan Niken membeku. Ada rasa nyeri hingga ke ulu hati ketika tangannya sudah menjadi es.
“Tt…ttt…tidak…nnona….arghh…a…ampun nona…” Katanya sambil merintih kesakitan. Ia sudah tak peduli lagi dengan harga diri dan rasa malunya di hadapan anak buahnya yang saat itu hanya bisa diam mematung tak tahu apa yang harus dilakukan.
“Kau tidak bertanya apa yang ku inginkan?” tanya Niken.
“Mm…maaf nona...apa yang nona inginkan?” Kata pimpinan perampok itu yang semakin tampak menyedihkan.
“Kalian menginginkanku dan ingin menyentuhku bukan? Maka kalian semua harus ke sini. Mendekat ke sini.” Bentak Niken. Pendekar cantik itu sudah segalak siluman di hadapan para perampok itu.
“Cepat ke sini!” Perintah pimpinan perampok itu sudah tak tahan lagi. Anak buahnya yang tak tahu bahwa tangan pimpinan mereka telah menjadi es itu hanya bingung, lalu menuruti perintah pimpinannya.
Begitu semua perampok itu mendekat, Niken melepaskan hawa dingin dengan energi tinggi. Semua orang di sana tak bisa bergerak dan merasakan sakit bersamaan dengan hawa dingin yang menyusup melalui pori-pori mereka, merasuk menembus jantung.
Niken menyentuh kepala mereka satu-per satu. Setelahnya, mereka ambruk tak sadarkan diri. Mereka kehilangan ingatan. Begitu mereka bangun, mereka sudah tak ingat lagi siapa mereka. Niken sudah tak berada di sana. Menyusul Jalu dan Batari Mahadewi yang menunggunya di tepi desa.
“Cepat sekali adik.” Kata Jalu.
“Tidak ada perlawanan.” Jawab Niken.
“Apakah mereka mati?” tanya Jalu.
“Tidak, tapi mereka tak akan ingat lagi siapa mereka. Semoga setelahnya mereka tidak gila dan menjadi orang baik.” Kata Niken.
“Baiklah, kita lanjutkan perjalanan.” Kata Jalu. Mereka bertiga kembali melaju dengan kecepatan tinggi, menembus hutan lagi dan hutan lagi di sepanjang perjalanan mereka.
__ADS_1
#####
Maaf teman-teman, malam ini hanya bisa kasih 1 chapter 🙏🙏 mata tak bisa diajak kompromi. Terimakasih banyak ya udah menyempatkan waktunya untuk baca karya ini. Semoga teman-teman semua selalu dikaruniai sehat, keberuntungan, dan kebahagiaan 🙏🙏🙏