Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 147 Hari Yang Dinantikan


__ADS_3

Tubuh Jalu dan Niken masih terkurung dalam bola es dan api yang diciptakan oleh kakek Agrapana. Keduanya dalam kondisi tak sadar, namun tubuh mereka berdua masih aktif bertahan dari siksaan bola energi yang mengurung mereka berdua itu. Kedua tubuh itu bekerja tanpa campur tangan pikiran sadar Jalu dan Niken.


Jika disetarakan dengan waktu di dunia nyata, Jalu dan Niken telah tiga hari terkurung dalam bola energi ciptaan Agrapana. Tepat pada hari ke tiga, tubuh jalu dan Niken berhasil menghancurkan masing-masing bola energi yang mengurung mereka berdua. Begitu bola energi itu pecah, sepasang pendekar itu masih tak sadarkan diri. Tubuh mereka tergeletak di lantai.


Agrapana berjalan mendekat lalu mengembalikan kesadaran Jalu dan Niken serta memulihkan keadaan mereka. Sepasang pendekar api dan es itu masih belum menyadari bahwa kekuatan yang dibangkitkan dalam tubuh mereka telah jauh meningkat pesat.


“Kalian tak sadarkan diri selama tiga hari.” Kata Agrapana sambil terkekeh.


“Maafkan kami, kakek. Kekuatan kami begitu lemah.” Kata Jalu.


“Apakah kakek juga memperlakukan adik Tari dengan cara yang sama?” tanya Niken penasaran.


“Hmm…adik kalian itu sangat kuat. Aku harus menjadi cerminan dirinya agar bisa mengimbangi kekuatannya. Kalian tahu, adik kalian menyelesaikan semedinya dengan menghancurkan ruangan ini yang sebenarnya merupakan ruang yang ia ciptakan sendiri. Dengan begitu, ia telah melewati batas kemampuannya pada waktu itu.” kata Agrapana.


“Jadi ruangan ini adalah ruang yang kami ciptakan?” tanya Jalu.

__ADS_1


“Lain, Jalu. Kalian berdua berada dalam satu ruang yang sama. Ruangan ini aku yang menciptakan, lalu aku menyeret kalian ke ruang ini. Seharusnya kalian berada dalam ruang yang kalian ciptakan masing-masing. Bentuknya sama seperti ruangan ini.” Kata Agrapana.


“Lalu, apa lagi yang harus kami lakukan, kakek?” tanya Niken.


“Selama kalian tak sadarkan diri, tubuh kalian telah bekerja untuk memperlebar batasannya. Sehingga saat ini, bisa dibilang kalian memiliki energi dua kali lipat dari sebelumnya. Kalian jangan senang dulu, aku masih punya satu hal lagi untuk meningkatkan kemampuan kalian. Lihat ini.” Kakek Agrapana mengeluarkan dua buah mustika. Yang satu berwarna jingga dan satunya berwarna bening.


“Seraplah energi dari kedua mustika ini untuk menyempurnakan latihan kalian. Mustika ini akan memberikan energi dua kali lipat dari yang kalian miliki sekarang. Butuh waktu tujuh hari untuk menyerap seluruh energi dari mustika ini. Tapi kalian jangan khawatir, berapa lama pun kalian di sini, kalian akan kembali ke dunia nyata pada waktu yang sama ketika kalian memulai latihan ini. Jadi tak akan ada yang berubah.” Kata Agrapana sembari memberikan mustika jingga kepada Jalu dan mustika bening kepada Niken.


Jalu dan Niken kembali duduk bersila, lalu menyerap energi dari mustika yang mereka terima masing-masing. Kakek Agrapana menghilang dari ruangan itu.


Suatu subuh di kota Mutara Biru, menjelang serangan yang akan dilakukan oleh kerajaan Swargabhumi, Mahapatih Siung Macan Kumbang keluar dari kamarnya dengan mengenakan baju perangnya. Semua senopati bawahannya dan para prajurit yang berjaga begitu terkejut karena sebelumnya mereka sangat mencemaskan kesehatan sang patih tua yang bertubuh kekar itu.


Mahapatih Siung Macan Kumbang berhasil mengelabuhi semua orang dengan berpura-pura sakit parah, padahal ia hanya kelelahan dan hanya butuh secuil mustika alam saja untuk memulihkan kondisinya seperti sedia kala. Ia memerintahkan semua prajurit untuk bersiap menyambut kedatangan pasukan musuh yang sejak semalam telah bergerak menuju kota Mutiara Biru.


Tentu saja hal itu juga mengejutkan semua mata-mata Swargabhumi yang menyusup sebagai prajurit Swargadwipa dan tak sempat lagi mengabarkan berita terbaru kepada patih Hamapadayana yang memimpin langsung para prajurit Swargabhumi beserta prajurit sekutunya yang berjumlah lima ratus ribu orang itu.

__ADS_1


Pasukan dalam jumlah yang sangat besar itu akan berhadapan dengan Sembilan puluh ribu prajurit yang akan dipimpin oleh Mahapatih Siung Macan Kumbang. Tentu saja jumlah itu sangat tidak seimbang. Sang patih menyadari bahwa ia dan pasukannya mungkin tidak akan bisa menang, namun Mahapatih Siung Macan Kumbang bertekad untuk menghabisi sebanyak mungkin pasukan musuh dengan kekuatan yang ia miliki saat ini.


Di menara kota Mutiara Biru, sang patih mulai berpidato sebelum menyuruh para pasukannya untuk bersiap pada tugas dan posisinya masing-masing.


“Saudara-saudaraku semua. Hari ini kita tidak sedang latihan. Musuh telah bergerak dan mungkin pada tengah hari nanti, mereka akan tiba di medan perang. Ketahuilah, jumlah mereka sangat besar, dan seperti yang selalu aku katakan setiap hari, kita di sini untuk mati. Namun kematian kita bukanlah kesia-siaan. Kematian kita adalah kehidupan bagi orang-orang yang kita cintai di bumi Swargadwipa ini. Kita bukanlah pengecut, kita adalah prajurit-prajurit terhormat yang menjemput maut dengan jalan perang.”


Suara Mahapatih Siung Macan Kumbang menggema di seluruh wilayah kota. Kata-kata yang ia ucapkan laksana sihir yang membakar semangat para prajuritnya. Sembilan puluh ribu pasukan bersorak pada setiap jeda sang patih berpidato.


“Ingatlah, jangan pernah mau dibunuh sebelum kalian membunuh seratus nyawa musuhmu. Hunuskan pedangmu meski kepalamu telah lepas dari tubuhmu. Katakan kepada musuh kita bahwa kita adalah para ksatria yang tak akan takut dengan kematian.” Sorak sorai kembali membahana, menggetarkan bumi Mutiara Biru dan membuat burung-burung hutan terbang menjauh. Seusai pidato pendek itu, semua prajurit Swargadwipa bersiap dan menanti musuh mendekat, lalu menanti aba-aba sang patih dan para senopati untuk mengangkat senjata.


Seusai Mahapatih Siung Macan Kumbang turun dari menara, dan setelah semua komando tiap-tiap regu diserahkan kepada para senopati, sang patih menghilang. Ia hanya berpesan kepada satu orang saja, yakni senopati Welang untuk berjaga di atas benteng.


“Welang, aku akan pergi memancing. Kau bersiap saja di menara pantau di benteng sana. Jika aku datang dari arah musuh, artinya para musuh sedang mengejar aku. Maka siapkan pasukan pemanah dan siapkan kereta lontar untuk menggempur musuh dari jarak jauh. Bakar parit itu jika musuh telah melewati medan jebakan yang telah kita pasang” pesan Mahapatih Siung Macan Kumbang.


Sang Mahapatih Swargadwipa itu kemudian pergi seorang diri tanpa diketahui oleh para pasukannya. Ia berdiam diri di pepohonan yang ia perkirakan akan menjadi tempat musuh mendirikan tenda sebelum mereka menyerang. Tentu saja, ia tahu bahwa musuh tak akan langsung menyerang setelah mereka semua dekat dengan benteng kota Mutiara Biru. Mereka akan memulihkan tenaga dan mengatur strategi, merapatkan barisan lalu menyerang saat hari mulai petang.

__ADS_1


Ia tak akan membiarkan hal itu terjadi. Yang ia mau, musuh akan langsung menyerang ketika mereka sampai di tempat persembunyiannya. Ia punya rencana yang sudah pasti akan membuat musuh-musuhnya tak akan sempat mendirikan tenda.


__ADS_2