Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 351 Pusaka Terbaik Dari Sang Kekasih


__ADS_3

Nala sangat mengkhawtirkan kekasihnya itu. Ledakan besar yang baru saja terjadi sudah pasti akan menimbulkan luka parah, baik Kalapati ataupun Sang Hyang Maharuna Dewi Sakti. Dengan segera, Nala terjun ke laut, menyelam hingga ke dasarnya untuk menemukan tubuh sang belahan jiwanya.


Sementara itu, di angkasa, sang raja dewa memberikan aba-aba kepada seluruh dewa untuk segera turun ke dasar laut. Semua dewa, termasuk sang raja, langsung melesat turun ke dasar laut.


Sang dewa laut membuat air pada tempat jatuhnya Batari Mahadewi dan Kalapati tersibak. Nala cukup kaget dengan hal itu. Ia tak tahu bahwa yang menyibakkan air laut adalah sang dewa laut, sehingga ia menyangka itu adalah perbuatan Kalapati.


Tapi dengan tersibaknya air laut itu, Nala bisa melihat dengan jelas adanya sebuah lubang besar dan dalam. Ia yakin Batari Mahadewi dan Kalapati ada di sana. Ia melesat masuk menyusuri sumur besar itu dengan tubuh apinya, sehingga ia bisa melihat dengan jelas segala sesuatu yang nampak di sana.


Kalapati dan Batari Mahadewi sama-sama dalam kondisi mengenaskan. Keduanya nyaris hancur. Kepala Nala langsung berdenyut ketika menyaksikan tubuh kekasihnya itu. Besar kemungkinan, hampir seluruh tulang sang pusaka dewa itu patah.


Para dewa datang setelah Nala sampai di sana. Hanya raja dewa saja yang kenal baik dengan pemuda itu, maka sang raja dewa lah yang menenangkannya.


“Kau gendong dulu dia sampai ke atas permukaan laut, kami akan melakukan sesuatu sebentar. Jangan kemana-mana, hanya aku yang bisa menyelamatkan dia!” kata raja dewa.


Nala menggendong tubuh Batari Mahadewi dan membawanya melesat naik ke atas permukaan laut. Ia gemetar ketika menggendong tubuh pusaka dewa yang nyaris hancur itu.


Raja dewa menciptakan segel berlapis-lapis untuk menahan Kalapati di sana. Ia tahu, sang raja raksasa itu akan bangkit sewaktu-waktu, sebab tubuhnya akan menyerap energi di sekitarnya. Maka dari itu, ia memerintahkan hampir dari semua dewa yang ada untuk mengerahkan kekuatan mereka menjaga segel itu tidak rusak, setidaknya sampai Maharuna pulih kembali.

__ADS_1


Begitu semua urusan di bawah selesai, air laut itu kembali tertutup, menyembunyikan keberadaan Kalapati dan para dewa yang berjaga di sana.


“Aku akan membawa Maharuna ke khayangan. Sayang sekali, kau tidak bisa ikut ke sana. Jadi tunggulah. Aku tak tahu berapa lama dia akan pulih,” kata raja dewa sembari mengambil tubuh Batari Mahadewi dari gendongan Nala. Raja itu segera melesat ke angkasa. Perisai emas dari lengan Batari Mahadewi terlepas sewaktu sang raja dewa membawanya melesat ke angkasa.


Nala segera menangkap perisai itu dan hendak menyusulkannya ke angkasa. Namun raja dewa sudah tak tampak lagi.


Nala tak tahu bahwa perisai itu adalah bagian dari tubuh Batari Mahadewi. Sewaktu kekasihnya itu berubah wujud, ia mengira bahwa perisai itu adalah pakaian perang dari dewa. Sehingga, Nala berniat untuk menyimpannya. Benda itu adalah logam terbaik yang pernah ia sentuh. Bukan emas, melainkan logam super keras yang memancarkan cahaya keemasan. Tak hanya itu saja, logam itu bagaimanapun juga merupakan benda hidup, selama Batari Mahadewi belum mati.


Nala mencoba mengenakan perisai itu di lengannya. Ajaib, perisai itu menyatu dengan lengannya. Ia juga merasakan kekuatannya bertambah kuat. Lelaki itu tak bisa melepas perisai itu. Seolah-olah, Batari Mahadewi memang tak ingin jauh darinya, dan ingin melindungi lelaki tersayang itu dengan bagian kecil dari tubuhnya.


Sementara itu, para penonton gelap pertarungan antara Kalapati dan Batari Mahadewi bersorak senang. Sehari setelah pertarungan itu selesai, bangsa iblis mendatangi di Mahabhumi. Ketiadaan Kalamerah dan semua pasukan terkuatnya membuat para iblis itu berani menginjakkan kaki di sana.


Mereka hanya akan menemukan rakyat raksasa yang tengah ketakutan karena kalah perang, serta bangsa manusia yang mulai kembali berbenah. Para raksasa itu mengalami kehidupan yang sama seperti di masa lalu ketika Kalapati belum berkuasa di khayangan. Mereka harus hidup sembunyi-sembunyi, sebab mereka takut sekelompok pendekar akan memburu dan membantai mereka, sebab para manusia tetap menganggap bangsa raksasa itu berbahaya. Padahal, jika jumlah mereka sedikit, mereka bahkan tak berani menampakkan diri.


Sudah lama ratu Ogha mengincar wilayah Mahabhumi dan baru sekarang ia berhasil membawa semua pasukannya yang tersisa. Mereka mendarat di Mahatmabhumi, lalu mulai menyebarkan jiwa-jiwa iblis ke segala penjuru.


“Jumlah manusia di sini sangat banyak. Dengan keberhasilan kita di sini, mungkin tak akan lama lagi kita bisa membuka pintu dunia bawah meski tanpa kehadiran sang pangeran,” kata ratu Ogha.

__ADS_1


“Jika kita bisa membangkitkan raja iblis, maka segala sesuatu akan menjadi lebih mudah. Kita harus bergerak lebih cepat dari pergerakan para dewa,” kata Rodya. Bangsa iblis itu belum tahu bahwa Kalapati belum mati. Namun ledakan besar itu membuat tiga anak Andhakara mengira bahwa Kalapati dan manusia dewa yang menjadi lawannya tak bisa diselamatkan lagi.


Mahatmabhumi masih sepi dari keberadaan manusia, sebab sebagian besar bangsa raksasa yang tersisa tinggal di sana dan tak berani beranjak kemana-mana. Peradaban yang paling aman adalah di sebelah barat benteng, mulai dari Swargadwipa hingga Catrabhumi.


Swargadwipa mulai ramai kembali. Kekosongan di berbagai wilayah akibat bencana alam yang terjadi beberapa bulan yang lalu kini mulai terisi oleh para warga dari wilayah timur. Mereka menciptakan kehidupan baru di sana. Proyek kerajaan Mahabhumi yang akan dirajai oleh semua raja Mahabhumi telah selesai bersamaan dengan selesainya benteng raksasa yang menghalau pergerakan bangsa raksasa ke wilayah barat. Kerajaan itu dibangun di wilayah perbatasan Swargabhumi dengan Swargawana. Sejak perjanjian waktu itu, maka hanya ada satu kerajaan yang menjadi pusat pemerintahan di Mahabhumi, dan nama kerajaan itu adalah kerajaan Mahabhumi.


Selebihnya, bekas kerajaan-kerajaan lama menjadi pusat pemerintahan di bawah kekuasaan kerajaan Mahabhumi dengan nama yang sama seperti sebelumnya, yakni Swargadwipa, Swargabhumi, Swargawana dan lain sebagainya. (Ini seharusnya sudah di jelaskan di beberapa chapter sebelumnya. Gimana seh!)


Swargadwipa, sebagai kerajaan bawahan, kini diperintah oleh Ratu Kumala, anak Srengenge Ireng. Ratu itu belum menikah. Hatinya masih kosong, setelah yang ia harapkan ternyata telah terpaut perasaan dengan perempuan lain. Bahkan, lelaki itu sama sekali tak berminat untuk mendapatkan tempat di istana Swargadwipa dan tak mau menerima jabatan apapun di kota manapun meski ayahnya sendiri bersikeras memaksanya.


Jalu lebih memilih hidup sederhana bersama Niken daripada harus terikat urusan pemerintahan. Mereka adalah pasangan yang bebas mengembara kemanapun mereka suka dan itulah kebahagiaan yang sebenar-benarnya, bukan harta dan tahta.


Sementara itu di khayangan, raja dewa segera menenggelamkan tubuh Batari Mahadewi ke dalam kolam suci yang kekuatannya telah berkali-kali lipat dari sebelumnya setelah raja itu meleburkan batu seribu warna di dalamnya.


Sang raja dewa berharap, Batari Mahadewi tak akan terlalu lama untuk bisa pulih seperti sedia kala sekaligus terbuka pula segel kekuatan terakhirnya.


Sendirian saja sang raja dewa itu menunggu di sana untuk memastikan tak akan ada gangguan sedikitpun. Satu hal saja yang saat ini mengganggu pikirannya, yakni Kalapati bisa meloloskan diri dari berlapis-lapis segel ciptaannya sebelum Sang Hyang Maharuna Dewi Sakti bangkit dan siap tempur lagi. Tetapi, pada saat yang sama Batari Mahadewi sedang memulihkan diri, Kalapati juga menyerap banyak kekuatan bumi untuk lepas dari jeratan yang mengunci tubuhnya sekaligus untuk meningkatkan kemampuannya lagi. Keduanya masih akan sama-sama kuat saat bertemu kembali.

__ADS_1


__ADS_2