
Benar dugaan Batari Mahadewi. Semakin mereka masuk ke tengah hutan, mereka melihat ada banyak sekali jaring laba-laba di pepohonan. Artinya banyak terdapat siluman laba-laba di lembah ini.
Jalu menghentikan langkahnya, disusul oleh Niken dan Batari Mahadewi. “Lihat, di depan sudah ada seekor laba-laba lagi menanti kita.” Kata Jalu.
“Bukan, ada ratusan laba-laba di depan sana.” Kata Batari Mahadewi. Bulu kuduk mereka bertiga langsung berdiri menyadari ada bahaya besar di depan.
“Baiklah, jangan setengah-setengah untuk membunuh laba-laba itu. Kita akan lakukan ini sambil terus melanjutkan perjalanan. Mengerti?”
“Ya.” Jawab Niken dan Batari Mahadewi. Sebenarnya ada rasa khawatir yang belum sepenuhnya terjawab dalam benak Batari Mahadewi. Ia menyadari bahwa ada ratusan siluman laba-laba siluman. Namun bukan itu yang membuatnya cemas. Ada kekuatan yang lebih besar dari itu. Sumber dari energi hitam yang pekat menyelimuti lembah kematian itu.
Ketiganya terus melanjutkan perjalanan dengan kecepatan tinggi sambil sesekali melakukan serangan kepada laba-laba yang tiba-tiba menghalangi jalan mereka. Sepanjang perjalanan, Jalu dan Niken seolah tanpa henti menciptakan badai api dan salju untuk membunuh laba-laba yang tak terkira jumlahnya itu.
Ini berbahaya. Batin Batari Mahadewi. Kedua kakaknya bisa terlena dengan pertempuran kecil itu. Sementara bahaya besar masih belum terlihat, namun terasa mengancam. Selagi mereka bertiga terus membasmi laba-laba yang menyerang mereka, tiba-tiba terdengar bunyi dentuman keras seolah seperti ada benda yang sangat besar jatuh dari langit.
Kekhawatiran Batari Mahadewi terbukti. Ancaman itu telah muncul di hadapannya. Seekor laba-laba yang besarnya sepuluh kali lipat dari siluman laba-laba yang telah mereka habisi sebelumnya. Laba-laba itu tidak sepenuhnya berwarna hitam pekat seperti yang lain, namun berwarna hitam dengan garis-garis merah yang menyala di tubuhnya.
Begitu laba-laba yang sangat besar itu muncul, ratusa laba-laba yang semula menyerang Jalu, Niken dan Batari Mahadewi mendadak diam tak bergerak, lalu melarikan diri.
Jalu dan Niken sempat berhenti bernafas ketika sosok menyeramkan itu muncul di depan mereka. Keduanya jelas tidak siap dengan kedatangan monster siluman itu. Sementara itu, Batari Mahadewi sibuk menganalisa di mana sajakah titik-titik lemah dari monster itu.
“Sebaiknya kita serang makhluk itu dengan tenaga penuh bersama-sama.” Usul Niken.
“Ya, aku juga berfikir demikian. “Ucap Jalu. “Kita mulai!”
Jalu mengerahkan seluruh tenaganya, ia menciptakan pedang api yang bekilau menyala-nyala. Bersamaan dengan itu, Niken menciptakan kristal-kristal es bening berbentuk mata lembing dalam jumlah banyak di sekelilingnya. Batari Mahadewi tak mau melewatkan kesempatan itu. Selagi kedua kakaknya menyerang dengan kekuatan penuh, maka ia mendekatkan diri pada siluman itu untuk menganalisa titik lemahnya dari dekat.
__ADS_1
Jalu dan Niken menyerang bersamaan. Monster itu hanya bertahan. Ia cukup berat untuk bergerak dengan gesit, namun sangat kuat dan sanggup menerima serangan sebesar apapun.
Dentuman besar terjadi ketika pedang api Jalu menghantam kepala laba-laba besar itu bersamaan dengan serangan seribu mata lembing es kematian yang dilontarkan oleh Niken. Monster itu menciptakan perisai tenaga yang dapat menahan serangan besar itu.
Saat laba-laba mengerikan itu menciptakan perisai energi, saat itulah Batari Mahadewi tahu sumber tenaga yang dimiliki oleh laba-laba itu. Ternyata mustika siluman itu bersarang di perut bagian bawah! batin Batari Mahadewi. Bagaimana caranya aku bisa menembus pertahanan itu? Ia terus berfikir.
Serangan balik yang dilontarkan laba-laba besar itu sungguh mengejutkan. Monster itu mengeluarkkan energi penuhnya sehingga semua hal di sekelilingnya terpental berhamburan. Tak terkecuali Jalu, Niken, dan Batari Mahadewi. Ketiganya heran bukan main. Itu baru energi yang dimunculkan. Efeknya sungguh mengerikan.
Laba-laba itu sungguh kuat dan lambat. Mungkin bila aku menyerang dari dalam tanah, seranganku bisa menembus perutnya. Batin Batari Mahadewi. Satu-satunya jurus yang bisa ia andalkan adalah jurus Naga Menari Di Dalam Tanah yang merupakan jurus kelima dari kitab Ilmu Raga Membelah Bumi. Bila ia berhasil, ia akan mengandalkan jurus ke Sembilan sebagai pamungkas, yakni jurus Tapak Sakti Penghancur Gunung.
Jurus Naga Menari Di Dalam Tanah merupakan jurus yang bisa digunakan dalam ruang yang sangat sempit dan sangat berguna untuk menghadapi kepungan serangan dari lawan yang berjumlah banyak. Dengan memusatkan tenaga dalam untuk menciptakan putaran tubuh, maka energi yang dihasilkan akan menangkis semua serangan. Namun apabila dipusatkan lagi, putara tubuh ini bisa membuat lubang panjang yang sangat dalam di tanah.
“Kakak Jalu, kakak Niken, seranglah laba-laba itu seperti tadi untuk mengalihkan perhatian. Aku akan menyerang titik lemahnya.” Kata Batari Mahadewi. Kemudian Jalu dan Niken kembali melakukan serangan. Pada saat laba-laba itu menciptakan perisai energi lagi, Batari Mahadewi menggunakan jurusnya untuk menelusup masuk ke dalam tanah lalu mengarah ke perut laba-laba itu.
Sebelum ia muncul ke permukaan, tepat di bawah perut laba-laba itu, ia telah mengeluarkan Jurus Tapak Sakti Penghancur Gunung dengan kekuatan penuh. Ia tak hanya ingin menghancurkan tubuh laba-laba itu, melainkan juga mustika siluman berbahaya yang bersarang di dalam perutnya. Terlalu berbahaya membiarkan mustika itu jatuh di tangan yang tidak tepat.
Mustika siluman yang berumu lebih dari 1000 tahun selalu memiliki energi jahat yang tak bisa dikendalikan. Sementara mustika dari siluman muda masih bisa dimanfaatkan energinya, dimurnikan agar terbebas dari aura siluman.
Maka itulah yang diputuskan oleh Batari Mahadewi. Tanpa ragu ia menyerang perut laba-laba itu dari dalam tanah dan seketika terjadi ledakan besar. Jalu dan Niken tepental jauh hingga tak sadarkan diri.
Jurus yang baru saja ia lontarkan terlalu menguras energi. Semakin tinggi tingkatan jurus dalam Ilmu Raga Membelah Bumi, maka butuh energi yang semakin besar untuk melakukannya.
Resikonya, apabila jurus ke 9 yang baru saja dilakukan Batari Mahadewi meleset, ia akan kehilangan energi yang besar dan barangkali tak akan sanggup bertahan dari serangan balik lawan. Oleh karenanya, ia cenderung memilih untuk menggunakan jurus-jurus awal dari kitab dalam Ilmu Raga Membelah Bumi agar tenaganya tak lekas habis.
Begitu monster itu lenyap menjadi abu, barulah Batari Mahadewi menolong kakak seperguruannya. Ia menggunakan sisa tenaganya untuk memulihkan tenaga kakak seperguruannya meski tak sepenuhnya pulih.
__ADS_1
Setelah monster itu tumbang, laba-laba yang lain tak menampakkan diri. Batari Mahadewi merasakan bahwa energi mereka telah menjauh.
“Sebaiknya kita beristirahat di sini sambil memulihkan energi sebelum melanjutkan perjalanan. Setelah raja siluman lembah kematian ini binasa, kita tak perlu khawatir lagi dengan serangan siluman.” Kata Batari Mahadewi. Niken dan Jalu menyetujuinya. Lagi-lagi mereka dikejutkan oleh kekuatan misterius yang dimiliki oleh Batari Mahadewi.
Ketiganya lalu duduk bersila, menyerap energi alam untuk memulihkan energi mereka. Energi alam ini sebetulnya tidak terbatas, namun perlu waktu lama untuk menyerapnya karena energi ini sangat halus. Ibaratnya, menyerap energi alam seperti mengumpulkan debu di udara untuk dijadikan sebongkah batu.
Meski demikian, energi alam ini jauh lebih baik jika dibandingkan dengan mustika siluman yang terkadang bisa menimbulkan ketidakseimbangan energi bagi tubuh yang menerimanya. Yang lebih parah, jika energi seseorang yang menggunakan mustika siluman lebih lemah, maka orang itu akan dikuasai oleh energi dari mustika siluman itu.
Sayangnya, saat ini mereka bertiga tak memiliki mustika siluman untuk memulihkan energi dengan cepat. Semua mustika siluman itu hancur bersamaan dengan kematian mereka dilumat serangan Jalu, Niken, dan Batari Mahadewi.
“Adik seperguruan, bolehkah aku tahu, jurus apa yang kau gunakan untuk memusnahkan laba-laba tadi?” Tanya Jalu penuh dengan rasa penasaran. Pertanyaan itu juga sempat ingin ditanyakan oleh Niken, namun Jalu mendahuluinya.
“Kakak ingat naskah tua yang pertama kali kubaca di padepokan?” Batari Mahadewi bercerita, “naskah itu bukan sekedar cerita tentang dewa-dewa, namun menyimpan aksara tersembunyi yang didalamnya adalah Kitab Ilmu Raga Membelah Bumi.”
“Aku beberapa kali membaca buku itu, tapi tak menemukan apapun soal jurus itu.” Kata Niken.
“Entah bagaimana menjelaskannya, aksara itu tak bisa dilihat dengan cara biasa. Hanya saja aku sampai sekarangpun tak mengerti, bagaimana aku bisa melakukannya. Mungkin ini tidak masuk akal, tapi aku bisa melihat dan membaca berbagai jenis aksara yang tersembunyi dalam suatu benda. Kadang aku mengerti maksudnya, kadang aku belum paham meski aku bisa membacanya.” Batari Mahadewi menjelaskan sejujurnya agar kedua kakaknya tidak terus-terusan penasaran.
“Aku mengerti sekarang.” Kata Jalu, meski ia tak sepenuhnya mengerti.
Baiklah, kurasa kita sudah cukup lama beristirahat. Energiku sudah pulih, bagaimana dengan kalian?” tanya Jalu.
“Aku siap.” Kata Niken
“Aku juga siap.” Kata Batari Mahadewi.
__ADS_1
Ketiganya kemudian melesat dan meninggalkan lembah kematian itu. Di ujung hutan, tampak sebuah gapura besar bertuliskan; Selamat Datang Di Desa Air Kehidupan