
Batari Mahadewi telah sampai di kota Gerbang Naga Siwandaraka. Setelah tak ada perang, kota itu tak lagi dipenuhi oleh prajurit kerajaan. Yang terlihat hanyalah aktivitas warga biasa dan para murid perguruan beladiri yang ada di sana. Bagaimanapun juga, kota perbatasan itu merupkan kota strategis yang baik untuk dijadikan lahan bisnis, tak terkecuali bisnis pendidikan di jalur perguruan beladiri.
Sejak pasukan Siwandawala meninggalkan hutan begitu saja, beberapa pendekar penyusup Siwandaraka dikerahkan untuk melihat keadaan. Mereka lega sekaligus tercengang ketika tahu ancaman telah tak ada di sana. Kabar itu menjadi kabar gembira bagi seluruh Siwandaraka.
Satu-satunya orang yang tahu penyebab kepergian seluruh pasukan Siwandawala itu hanyalah guru besar perguruan Mutiara Naga, sang pendekar Angin Utara, seseorang yang akan ditemui Batari Mahadewi saat ini.
Gadis jelmaan pusaka dewa itu tahu bahwa sang pendekar Angin Utara, Tahagatara, adalah pendekar yang cocok untuk salah satu pusaka buatannya. Pendekar tua itu memiliki banyak ilmu dan kemampuan, namun tidak sesombong pendekar Tongkat Dewa dan Pedang Emas di kota Batu Belah yang sangat kelihatan sekali bahwa watak mereka memang senang pamer dan gila kompetisi.
Sementara itu, Tahagatara hanyalah pendekar besar yang sederhana. Ia lebih sering menyepi dan memasrahkan urusan perguruan kepada murid-murid kepercayaannya.
Batari Mahadewi berkunjung untuk kedua kalinya di perguruan Mutiara Naga dengan cara yang normal, yakni datang melalui gerbang depan, mengucap salam, dan mengatakan maksud kedatangannya. Kebetulan sekali, parasnya yang cantik dan tak mudah dilupakan itu membuat penjaga gerbang langsung menerima kedatangannya dengan sambutan yang baik. Tentu mereka juga kapok karena peristiwa sebelumnya yang membuat sang guru besar marah.
“Selamat datang, nona. Pasti nona ingin bertemu dengan guru besar, bukan? Silahkan menunggu di ruang tamu, kami akan segera memberitahukan kepada guru bahwa nona telah datang,” kata penjaga itu dengan nada ramah.
“Terimakasih, paman.” Batari Mahadewi berjalan mengikuti penjaga yang mengantarkannya ke dalam ruang tamu perguruan Mutiara Naga. Di ruangan itu, Batari Mahadewi seorang diri. Ia meletakkan buntalan pusaka yang ia bawa di lantai layaknya seonggok singkong. Sementara, pendekar lain mungkin saja memperlakukan senjata pusaka dengan cara yang istimewa yang kadang-kadang bahkan memberikan pusaka itu bunga dan wewangian sebagai hidangan bagi jiwa yang bersemayam dalam pusaka itu.
Batari Mahadewi tidak berfikir demikian. Ia adalah empunya dan memiliki kuasa penuh untuk mengendalikan pusaka itu. Tak ada yang istimewa dari pusaka itu sehingga ia harus memperlakukannya layaknya benda suci. Senjata pusaka hanyalah senjata pusaka. Tak lebih. Perawatan yang dibutuhkan hanyalah bertujuan untuk menjaga pusaka itu agar tidak rusak. Namun, gadis jelmaan pusaka dewa itu tahu, senjata pusaka buatannya itu tak akan pernah rusak meski direndam dengan darah atau air laut sekalipun. Sehingga, meski senjata pusaka itu diletakkan di sembarang tempat, kualitasnya akan tetap sama.
Beberapa saat kemudian, sang guru besar perguruan Mutiara Naga itu tiba. Wajahnya begitu senang menyambut kedatangan nona ajaib itu. Tahagatara menyuruh murid-muridnya untuk pergi agar ia bisa leluasa berbincang-bincang dengan tamu pentingnya itu. Batari Mahadewi menjadi sangat penting di mata kakek tua itu sebab gadis jelmaan pusaka dewa itu telah membuktikan kata-katanya, yakni menggagalkan perang yang dikobarkan oleh Siwandawala.
“Apa kabar nona Tari? Sepertinya sudah sebulan lebih nona mengembara di Siwarkatantra,” Tahagatara membuka percakapan.
“Kabar baik, kakek guru. Kurang lebih hampir sebulan saya berada di tempat guru Udhata,” jawab Batari Mahadewi.
__ADS_1
“Aku tak bisa untuk tak mengatakan hal ini nona, bahwa kami sangat berterimakasih atas kebaikan nona waktu itu. Nona Tari benar-benar membuktikan bahwa akhirnya pasukan Siwandawala tak menyerang kami. Dan, mmm…kabar kematian raja Siwandawala telah terdengar di seluruh Siwarkatantra berikut dengan kisahnya. Hanya saja, tak ada yang tahu bahwa yang mengakhiri nyawanya adalah nona Tari,” kata Tahagatara.
“Bagaimana kakek guru bisa tahu kalau saya yang melakukannya?” tanya Batari Mahadewi.
“Ah, nona lupa ternyata. Waktu itu nona sendiri yang mengatakan kepada saya tentang rencana nona bukan?” kata Tahagatara sambil terkekeh.
“Hahaha, kakek benar. Saya sudah lupa, soalnya sangat sibuk membuat sesuatu. Saya akan memberikannya satu untuk kakek guru,” kata Batari Mahadewi.
“Ah, apa itu?” tanya Tahagatara meski ia tahu Batari Mahadewi membawa beberapa senjata pusaka sakti yang teronggok dalam buntalan kain di lantai.
“Hanya pisau antik buat kakek guru untuk memasak di dapur,” kata Batari Mahadewi. Ia membuka buntalan kain itu, lalu mengeluarkan isinya, menata satu persatu dengan perlahan di atas permukaan meja besar di dalam ruangan itu. Ia khawatir meja itu rusak jika ia tak menaruh senjata pusaka itu dengan hati-hati.
“Hahaha, coba mana kulihat pisau buatanmu itu? Hmm…ini buatanmu semua?” tanya Tahagatara yang terpukau dengan kekuatan pada masing-masing pusaka yang memancarkan cahaya jingga dan hijau itu.
“Benar, kakek. Dengan bimbingan dari guru Udhata,” jawab Batari Mahadewi.
“Kakek bisa ambil salah satu yang paling sesuai dengan kakek guru,” kata Batari Mahadewi.
“Aku suka yang ini. Sepertinya yang ini lebih penurut jika bersamaku,” kata Tahagatara. Bagi seorang pendekar tulen, tak sulit untuk menentukan senjata pusaka mana yang paling pas untuk dirinya, bahkan tanpa harus repot-repot mengujinya. Dalam hal ini, kekuatan senjata menjadi nomor dua, yang utama adalah cocok atau tidaknya senjata itu dengan tuannya.
“Ya, tampaknya golok itu jinak dan cocok dengan jenis kekuatan yang kakek guru miliki,” kata Batari Mahadewi.
“Aku hanya heran. Dalam banyak hal tentang dirimu. Pertama, keberhasilanmu mengusir semua pasukan Siwandawala. Kedua, keberhasilanmu menghabisi raja tamak itu, dan ketiga, kamu bisa menciptakan senjata pusaka dalam waktu singkat. Aku tahu guru Udhata tak akan mampu menyelesaikan sebuah senjata seperti ini dalam waktu satu bulan. Banyak pendekar yang membicarakanmu meski mereka tak tahu siapa dirimu,” puji Tahagatara.
__ADS_1
“Kakek guru terlalu berlebihan menilai saya. Masih ada langit di atas langit, kakek. Saya mengusahakan hal ini semua karena langit yang saya maksudkan belumlah menampakkan diri. Kelak ketika kekacauan sudah mulai meluas, semoga saja pusaka-pusaka semacam ini akan sedikit membantu. Saya tidak bisa ada di banyak tempat dalam waktu yang sama,” kata Batari Mahadewi.
“Kau benar, nona. Banyak hal yang bisa jadi tak terduga. Jadi, setelah ini nona akan pergi kemana?” tanya Tahagatara.
“Ini yang akan saya tanyakan kepada kakek guru. Siapakah kiranya yang layak mendapatkan senjata pusaka ini di pulau Siwarkatantra?” tanya Batari Mahadewi.
“Jika nona melanjutkan perjalanan ke arah timur, nona akan sampai di wilayah kerajaan Damatantra. Aku memiliki teman sebayaku, ia adalah pendekar Seribu Pedang. Ia sangat sakti, hanya saja tak mau mendirikan perguruan. Tentu, sulit sekali menemukan pendekar itu. Jika ia belum pindah, mungkin ia masih tinggal di dalam goa di bawah gunung Hantu. Gunung itu adalah gunung angker yang tak membuat siapapun tertarik datang ke sana. Tapi pendekar Seribu Pedang tinggal di sana,” kata Tahagatara.
“Apakah ia pendekar hitam?” tanya Batari Mahadewi. Hitam atau putih bukanlah masalah baginya, yang penting ia adalah pendekar yang memiliki hati nurani untuk membela kaum tertindas.
“Bukan, nona. Hanya penampilannya saja yang mirip pendekar hitam,” kata Tahagatara.
“Baiklah, kakek guru. Tujuanku berikutnya adalah mencari pendekar yang guru maksud itu,” kata Batari Mahadewi.
Gadis jelmaan pusaka dewa itu memang tak berniat akan tinggal lama di perguruan itu. Setelah urusannya selesai, ia pergi meninggalkan Siwandacara dan tak akan pernah kembali lagi ke sana. Mungkin.
Jauh di ujung barat pulau Siwarkatantra, rombongan pasukan kerajaan Tirayamani yang dipimpin oleh makhluk iblis Bara dan Canu telah tiba. Mereka dengan bengis dan keji membantai seluruh manusia yang tinggal di pelabuhan negri Maisatantra, kerajaan paling barat di pulau itu.
Orang-orang di sana sama sekali tak memiliki pengalaman berhadapan dengan pasukan Tirayamani sebab memang inilah pertamakalinya pasukan kerajaan hitam itu mendatangi pulau Siwarkatantra.
Bara dan Canu lebih liar dan brutal jika dibandingkan dengan Jain dan Silu. Keduanya tidak memilih untuk merubah wujud mereka menjadi manusia rupawan, melainkan tetap sebagai makhluk iblis yang mengerikan.
Kabar kedatangan dan pembantaian di pelabuhan itu dengan cepat menyebar dan sampai di telinga raja Maisatantra. Maka raja itu memerintahkan mahapatihnya untuk membawa pasukan dalam jumlah besar untuk membasmi sejumlah kecil pasukan kerajaan hitam yang membuat kekacauan itu.
__ADS_1
Singkat cerita, dua ratus ribu pasukan Maisatantra ludes tanpa perlawanan yang berarti. Dengan demikian, seluruh orang di Maisatantra wajib bersikap panik. Harus panik sebab tanpa itu mereka akan mati konyol. Mereka mengungsi secepat-cepatnya dengan bekal seadanya ke wilayah-wilayah lain yang sekiranya jauh dari pasukan kerajaan hitam itu.
Berita itu belum sampai ke wilayah timur, di negri Damatantra, di mana Batari Mahadewi masih sedang mencari pendekar Seribu Pedang. Namun, cepat atau lambat, berita itu akan sampai juga nantinya. Dan akan sangat menggemparkan setelah semua wilayah kerajaan di Siwarkatantra tahu bahwa wilayah Maisatantra telah jatuh dalam waktu singkat.