Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 262 Jain dan Silu


__ADS_3

Seperti apa penampakan dari makhluk iblis Jain dan Silu? Jika Buma terlihat mengerikan dengan tubuh yang penuh mulut, Jain dan Silu tidak demikian. Kedua makhluk iblis itu terlihat modis dalam wujud manusia. Dua lelaki yang gagah. Yang membuat mereka berbeda dengan manusia pada umumnnya, bola mata mereka sepenuhnya berwarna hitam. Selebihnya, mereka memancarkan hawa kematian yang sangat kuat. Orang biasa yang bukan pendekar saja pasti merinding jika melihat keduanya.


Lalu bagaimana dengan wujud asli mereka? Sebagaimana makhluk iblis, Jain dan Silu pun tak jauh beda dengan Buma. Ketika kekuatan makhluk iblis telah pulih sepenuhnya, maka mereka bisa menjelma menjadi apa saja. Jain dan Silu lebih tua dari Buma dan sudah pasti keduanya jauh lebih kuat. Beberapa dewa yang bertugas memeranginya di masa lalupun tak bisa membunuhnya, dan hanya bisa melemahkannya dan memenjarakannya.


Tugas dewa itu dianggap selesai meski mereka tak membunuh semua makhluk iblis itu. Tentu saja, para dewa tak akan pernah menyangka jika suatu hari dewa-dewa khayangan akan kehilangan setengah dari kekuatannya. Sudah pasti, makhluk-makhluk iblis ini akan bangkit lagi.


Kedatangan pasukan Tirayamani kali ini agak berbeda tujuannya dengan sebelumnya. Tujuan utama adalah menemukan Batari Mahadewi. Tujuan sampingannya adalah menunggu sang ratu sampai di sana. Sehingga, sebenarnya tak ada perintah untuk menghancurkan kerajaan-kerajaan di Mahabhumi.


Sang ratu menyalahkan kelalaian panglima Kera Api atas kegagalan kedatangan mereka yang pertama. Panglima Kera Api berinisiatif untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan di Mahabhumi. Padahal, sang ratu kegelapan mempunyai kehendak lain.


Mengingat bahwa Batari Mahadewi merupakan sosok berbahaya bagi pasukan Tirayamani, maka kini seribu pasukan yang dipimpin oleh Jain dan Silu itu lebih jinak. Mereka tak bisa sembarangan bergerak dan bepergian tanpa izin.


Namun tetap saja, mereka akan menjarah wilayah-wilayah yang dekat dengan pelabuhan. Untung saja, sebagian besar warga telah mengungsi. Namun beberapa dari mereka yang bandel dan tidak mau mengungsi pada akhirnya menjadi santapan bagi Jain dan Silu setelah beberapa pasukan Tirayamani menangkap mereka dan membawanya ke pelabuhan.


Dua makhluk iblis itu setidaknya butuh satu atau dua orang manusia untuk disantap setiap harinya. Bagaimana cara menyantapnya? Apakah dipotong-potong dan dimasak terlebih dahulu? Tentu saja tidak. Iblis itu bisa menyerap daya hidup para mangsanya hingga tubuh mereka benar-benar kering seperti fosil berusia ribuan tahun.


Sesekali Jain dan Silu bepergian ke wilayah Swargadwipa dan meninggalkan para pasukan di pelabuhan. Tak ada gunanya membawa mereka untuk melawan gadis jelmaan pusaka dewa yang mereka cari. Untungnya, mereka patuh kepada ratu dan tak menghancurkan desa atau kota yang mereka lewati. Hanya saja, jika mereka lapar, mereka dengan seenaknya saja mengambil siapapun yang mereka temui untuk dimangsa.

__ADS_1


Menu terbaik adalah tubuh pendekar berilmu tinggi. Sebagaimana Buma, Jain dan Silu akan bertambah kuat jika menyerap daya hidup pendekar sakti. Sehingga, dalam perjalanan mencari Batari Mahadewi, kedua makhluk iblis itu sangat gembira jika menemukan perguruan beladiri.


Dalam beberapa hari itu, berita kedatangan pasukan Tirayamani sudah menyebar luas ke seluruh wilayah Mahabhumi.


Pada hari-hari selanjutnya, lantas bagaimana reaksi Swargadwipa dan kerajaan-kerajaan lainnya? Setelah mereka mengetahui bahwa jumlah pasukan Tirayamani itu hanya sekitar seribu orang dan tak terlihat meninggalkan pelabuhan, kerajaan-kerajaan di Mahabhumi sedikit lega. Jikalau seribu pasukan itu bergerak, maka sumber daya manusia yang ada di Mahabhumi masih lebih dari cukup untuk meredamnya. Hanya saja mereka tak tahu, ada dua makhluk iblis yang sedang jalan-jalan.


Namun Swargadwipa dan kerajaan lainnya tak bisa bersantai ria. Sudah pasti seribu pasukan yang tak bergerak dipelabuhan itu sedang menunggu kedatangan jumlah pasukan yang lebih besar lagi. Ada wacana mengerahkan para pendekar sakti gabungan dalam jumlah besar untuk memusnahkan pasukan Tirayamani itu, namun mereka ragu sehingga wacana itu masih berupa wacana, belum menjadi tindakan.


Di kota Dhyana, akhirnya Jalu dan Niken berkenalan dengan Nala dan Vidyana. Seusai pertarungan singkat tempo hari itu, Jalu dan Niken mendatangi Nala dan kakaknya.


Mungkin karena Batari Mahadewi sering menceritakan tentang kedua kakak seperguruannya itu, dalam sekali lihat, Nala sudah tahu bahwa dua pendekar yang datang itu adalah Jalu dan Niken. Tentunya, karena Nala bisa merasakan jenis kekuatan yang tersembunyi di dalam tubuh kedua kakak seperguruan gadis jelmaan pusaka dewa itu.


Sepasang pendekar api dan es itu cukup heran dengan sikap Nala yang jauh lebih rileks dari yang mereka bayangkan. Meski begitu, Vidyana tetaplah dingin. Ia sulit terbuka dengan orang asing. Hal yang sangat berkebalikan. Dulu, Nala jauh lebih dingin dan pendiam daripada kakaknya itu.


Selebihnya, mereka berempat bercakap-cakap dengan Agrapana. Kakek tua itu senang bercerita tentang masa lalu. Jika kakek itu mau, ia bisa bercerita berhari-hari tanpa henti sebab memang ia punya koleksi cerita yang melimpah dari menjalani kehidupan selama lebih dari seribu tahun.


Tentu saja, pada akhirnya berita tentang kedatangan orang-orang Tirayamani sampai juga di kota Dhyana. Nala dan kakaknya yang belum pernah melihat kehebatan pasukan kerajaan hitam itu sebenarnya penasaran. Jalu dan Niken sempat cemas. Namun mereka berdua teringat cerita Batari Mahadewi bahwa Nala sama kuatnya dengan gadis jelmaan pusaka dewa itu. Jadi, tak ada yang perlu dikhawatirkan.

__ADS_1


Berbeda dengan pandangan pihak kerajaan, sebagai pendekar, Jalu dan Niken merasa ada baiknya tak membiarkan para pasukan kerajaan hitam itu. Sedikit atau banyak, mereka sudah pasti telah merenggut nyawa beberapa orang yang ada dalam jangkauan mereka.


“Menurut kakek Agrapana, apakah sebaiknya saya mendatangi mereka?” tanya Nala.


“Aku ikut jika kau pergi!” sahut Vidyana. Ia merasa canggung dengan orang lain. Jika bukan karena Nala, ia lebih memilih untuk sendirian di hutan.


“Kami juga tak keberatan menemanimu, Nala,” sahut Jalu.


“Kalian sudah dewasa. Terserah kalian. Anggap saja ini urusan pendekar dan jangan terlalu berfikir soal kebijakan kerajaan,” kata Agrapana.


“Sejujurnya aku mengkhawatirkan keselamatan kalian jika kalian bertiga ikut denganku,” kata Nala.


“Tak usah khawatir, kami bisa lari jika situasinya gawat,” kata Jalu. Niken dan Vidyana mengangguk menyetujui kata-kata Jalu.


Nala tak punya pilihan lain selain harus mengajak ketiga kakaknya itu. Ya, lelaki itu menganggap dan menghormati Jalu dan Niken sebagai kakaknya juga.


“Kalau begitu, kapan kita berangkat?” tanya Nala.

__ADS_1


“Besok pagi saja. Sekarang sudah malam. Ada baiknya kita beristirahat dulu sebelum melakukan perjalanan jauh besok,” kata Jalu. Mereka semua sepakat.


Di tempat lain, Jain dan Silu menyambangi perguruan Teratai Surga yang terletak terpencil di sebuah gunung pada wilayah timur Swargadwipa. Dua makhluk iblis itu hanya mencoba peruntungan mereka, siapa tahu sosok yang ia cari adalah anggota perguruan itu. Setidaknya, mereka bisa menanyai keberadaan Batari Mahadewi dari para pendekar yang mereka temui sebelum kedua makhluk itu memakan beberapa yang terkuat yang ada di sana.


__ADS_2