
Sebelum teman-teman baca bab ini, tadi aku melakukan perbaikan di ending chapter sebelumnya (kemarin ngantuk berat dan ga konsen lagi nulis, jadi kuubah dikit). Jadi bacalah lagi ending chapter sebelumnya (percakapan Nala-Tari bagian akhir) agar teman-teman tidak merasa aneh ketika membaca chapter ini. Baiklah, kita lanjutkan Batari Mahadewi menceritakan kisah Kalapati kepada Nala.
****
“Lanjutkan ceritamu, Tari. Kau sangat cantik sekali ketika bercerita,” goda Nala.
“Kau mau mendengar ceritaku atau menikmati hal lainnya?!” kata Batari Mahadewi sedikit sewot.
“Dua-duanya. Tadi kau sampai pada Kalapati dirawat oleh raksasa perempuan yang tinggal di hutan,” kata Nala menyelamatkan diri.
“Baiklah! Kalapati itu raksasa istimewa. Sejak bayi ia telah memiliki kekuatan yang menakjubkan. Darah yang mengalir dalam tubuhnya adalah darah ksatria raksasa. Sampai dewasa, ia tidak tahu bahwa ia adalah anak raja. Namun, seiring ia tumbuh dewasa, ia melihat bangsanya yang perlahan hancur oleh tekanan bangsa dewa.
Ia bergabung dalam golongan raksasa perjuangan. Ketika semua kerajaan raksasa hancur, beberapa ksatria raksasa membuat kelompok sendiri yang akan membuat perhitungan dengan bangsa dewa. Mereka bergerak secara sembunyi-sembunyi dan membunuh para dewa yang turun ke bumi.
Gerakan mereka itu pada akhirnya diketahui juga oleh raja dewa. Kelompok itu dimusnahkan, namun Kalapati berhasil lolos. Ia bertapa dalam kesedihan yang mendalam, dalam dendam yang tak akan bisa diredakan kecuali jika ia berhasil menghabisi bangsa dewa.
Di dalam perut bumi, ia bertapa seorang diri. Mula-mula para dewa tak mengetahuinya. Namun setelah ratusan tahun ia bertapa, kekuatan yang terpancar dari tubuhnya pada akhirnya memancing perhatian para dewa. Tak ada yang bisa menghentikan tapa itu, selain karena menyalahi kehendak sang maha tunggal, dewa yang mengganggu siapapun yang bertapa akan kehilangan seluruh kekuatannya dan terkutuk menjadi bangsa binatang.
Demikianlah, setelah seribu tahun bertapa, sang maha tunggal mengabulkan doanya. Ia menjadi raksasa terkuat yang tak akan bisa dibunuh baik oleh dewa, manusia, siluman, iblis, dan semua makhluk hidup di dunia langit, tengah, dan bawah.
Tahun-tahun menjelang akhir dari tapa Kalapati, para dewa mendapatkan petunjuk untuk mengalahkan Kalapati. Sayangnya mereka telah terlambat. Para dewa menyumbangkan setengah dari kekuatannya untuk menciptakan aku.
Waktu itu, wujudku hanyalah mustika dewa yang berukuran besar, berasal dari mustika para dewa dunia langit. Sang raja dewa mengubahku menjadi bayi dan membagi seluruh kekuatanku menjadi dua belas bagian dan akan terbuka satu-persatu ketika tubuh dan jiwaku telah siap.
Jadi, aku hanyalah siasat dewa. Aku manusia tetapi bukan manusia. Aku adalah pusaka dewa yang hidup sebagai manusia. Jadi, aku bisa membunuh Kalapati ketika semua kekuatanku telah terbuka. Nah, beberapa hal dari ini sudah kita tahu dari kakek dewa di dunia tiga rembulan. Jadi, ketika semalam ibuku menceritakan bagaimana ia menemukanku, dan menyerahkan mustika langit padaku, aku sudah tidak kaget lagi,” kata Batari Mahadewi.
“Apakah menurutmu para dewa juga telah bertindak terlalu berlebihan?” tanya Nala.
“Entahlah, tetapi tujuan di balik pembantaian bangsa raksasa itu adalah untuk keseimbangan. Sebuah dilema. Ibarat sebuah ladang di serang ulat, para petani akan menggunakan segala cara untuk membunuh ulat sebanyak-banyaknya, meski sebetulnya tak perlu melakukan pembunuhan besar-besaran. Bisa jadi bangsa dewa keliru, sebab ketika bangsa raksasa runtuh dan hanya sangat sedikit jumlahnya, bangsa Iblis menampakkan diri. Sebelumnya, mereka tak bisa leluasa bergerak karena ada tekanan dari bangsa raksasa,” kata Batari Mahadewi.
__ADS_1
“Ini bisa menjadi peluang. Maksudku, saat ini kita sedang berada di bawah ancaman kebangkitan bangsa iblis. Seandainya bangsa raksasa kembali turun ke bumi, maka sudah pasti kedua bangsa itu akan saling menekan. Bangsa manusia hanya tinggal menahan diri dan menunggu waktu yang tepat. Sama halnya seperti yang dilakukan oleh bangsa iblis ketika bangsa dewa menyerang bangsa raksasa,” kata Nala.
“Oh, lelakiku, kau pintar kali ini!” kata Batari Mahadewi, “masalahnya, kita tak tahu apakah bangsa raksasa akan turun ke bumi! Yang pasti, bangsa iblis sudah bangkit. Kita harus bisa bertahan.”
“Jadi, sebelum ini kau menganggapku bodoh?!” Nala pura-pura kesal.
“Hahaha, tentu tidak. Hanya kadang-kadang,” goda Batari Mahadewi.
“Hari sudah menjelang gelap, Tari. Bukankah kita semua nanti akan makan malam di rumah ibumu?” tanya Nala.
“Ya, ayo kita segera berangkat. Ibu pasti sudah menunggu,” kata Batari Mahadewi.
*****
Beberapa hari kemudian, Nala dan Batari Mahadewi masih sibuk membuat senjata pusaka di dalam goa Hati Suci. Ki Gading dan Vidyana hanya sesekali saja menengok mereka berdua.
Seperti yang telah dibayangkan oleh gadis jelmaan pusaka dewa itu, Nala memang berbakat dalam hal menciptakan keindahan. Ia masih ingat benar, lelaki itu pernah membuat patung es yang sangat mirip dengannya. Maka, untuk membuat senjata pusaka dengan bentuk yang elegan pun bukan suatu masalah baginya.
“Nah, semua senjata ini sudah berbentuk. Hanya tinggal menyelesaikannya saja dengan memberi jiwa. Seperti yang kukatakan, kita akan menggunakan kekuatan dari mustika-mustika yang kita miliki. Kita bisa saja memberi benda ini isian yang berasal dari kekuatan kita, tetapi orang lain akan kesulitan atau bahkan tidak akan bisa menggunakan pusaka ini,” kata Batari Mahadewi.
“Kenapa bisa begitu?” tanya Nala.
Batari Mahadewi mengeluarkan pedang berlian hitam yang ia simpan di dalam tubuhnya dan menunjukkannya kepada Nala.
“Cantik sekali, pedang mungil ini kau yang membuatnya?” tanya Nala.
“Itu terbuat dari tanah liat,” kata Batari Mahadewi.
“Lalu kenapa bisa menjadi seperti ini?” tanya Nala.
__ADS_1
“Aku menciptakannya tidak hanya dengan kekuatan tubuh, tetapi juga kekuatan pikiran dan perasaan. Aku bisa menyimpan pedang ini dalam tubuhku, tetapi mungkin tak akan berlaku padamu. Seperti yang kukatakan, pedang yang kita isi dengan jiwa kita, hanya kita saja yang bisa menggunakannya,” kata Batari Mahadewi.
“Lalu bagaimana cara membuatnya?” tanya Nala.
“Dengan cara yang sama seperti kau membuat patung es diriku. Semua bahan alam bisa kita ubah menjadi senjata pusaka dengan menggunakan kekuatan yang kita peroleh dari empat sumber kekuatan utama di dunia tiga rembulan,” jawab Batari Mahadewi.
“Ya, aku paham sekarang. Lalu, jika kita menggunakan mustika siluman, bagaimana caranya menyatukan mustika itu dengan senjata setengah jadi ini?” tanya Nala.
“Akan aku tunjukkan padamu. Tapi ini akan makan waktu lama. Mungkin dua hari atau lebih. Siapkan dirimu, Nala!” jawab Batari Mahadewi
Batari Mahadewi menunjukkan cara yang telah ia pelajari dari perguruan Tongkat Langit. Selama lebih dari dua hari, gadis jelmaan pusaka dewa itu berusaha meleburkan berbagai mustika alam, siluman, bebatuan dan kristal api ke dalam salah satu pedang pusaka yang ia buat di dalam goa itu.
Sesekali Ki Gading Putih dan Vidyana menengok apa yang sedang terjadi di sana. Dari luar, mulut goa itu memancarkan semburat cahaya beraneka warna yang berasal dari tubuh Batari Mahadewi dan pedang pusaka yang sedang ia selesaikan itu.
Nala menyimak baik-baik setiap langkah yang dilakukan oleh kekasihnya itu. Setelahnya, ia bisa menirukan dan bahkan melakukan hal itu dengan cara yang lebih baik untuk menghasilkan pusaka yang benar-benar kuat. Selama mustika utama yang dipergunakan adalah mustika siluman, ia bisa berhasil dengan baik untuk mengendalikannya.
“Tari, aku ingin bertanya sesuatu padamu,” kata Nala.
“Katakan saja, Nala,” balas Batari Mahadewi.
“Apakah membuat senjata harus selalu menggunakan cara yang sama seperti yang kau ajarkan padaku?” tanya Nala.
“Sebenarnya tidak. Cara yang kupergunakan itu adalah caraku sendiri yang tak diajarkan oleh guru Udhata. Beliau hanya memberikan petunjuk dan kegunaan dari masing-masing bahan. Apakah kau memikirkan cara lain, Nala?” tanya Batari Mahadewi.
“Kau lupa, Tari, aku memiliki kekuatan untuk mengendalikan isi bumi. Membuat senjata seperti ini seharusnya bisa lebih mudah dan cepat. Besok akan aku tunjukkan padamu. Tapi kita butuh mencari bahan-bahan lainnya,” kata Nala.
“Kenapa kau tak mengatakan dari awal, dasar Nala!” Batari Mahadewi kesal. Ia juga benar-benar lupa dengan kemampuan Nala yang itu serta peluangnya untuk digunakan dalam menciptakan senjata.
“Karena kupikir untuk membuat pusaka harus seperti cara yang kau tunjukkan padaku! Buang-buang waktu!” balas Nala.
__ADS_1
Begitulah, pasangan itu memang sering berdebat, bertengkar, saling mencemooh, saling menertawakan, namun karena hal-hal bodoh itu mereka tak ingin kehilangan satu sama lain.
Apakah kemampuan sihir Nala juga bisa digunakan dalam membuat senjata?