
Batari Mahadewi dan Nala bersiap untuk memulai perjalanan mereka. Hanya ada tiga pedang pusaka saja yang tersisa, serta beberapa mustika siluman pemberian siluman naga laut. Mereka membawa benda-benda itu semua dan meninggalkan kotak super berat di padepokan. Barangkali di perjalanan mereka bertemu dengan pendekar sakti, maka satu per satu senjata itu akan di berikan kepada mereka.
“Kalian berdua berhati-hatilah. Ingat, jangan memaksakan diri. Kita masih bisa memikirkan cara lain untuk mengalahkan kekuatan kerajaan hitam itu,” kata Buyung.
“Ya, tentu saja kami akan berhati-hati. Kak Buyung, aku titipkan kakakku padamu. Kau jauh lebih kuat saat ini dan tentu saja kau bisa melindunginya,” kata Nala semena-mena tanpa peduli bagaimana reaksi Vidyana mendengar hal itu.
“Hahaha, pasti. Lagipula kakakmu adalah perempuan kuat, tak akan ada yang berani mengganggunya,” kata Buyung. Tanpa disuruhpun, lelaki itu memang berniat untuk menemani Vidyana. Ia bahkan tak berniat kembali ke istana Swargadwipa.
“Apa yang kalian bicarakan!” wajah Vidyana memerah merasa ia sedang dipercakapkan.
“Hahaha, kakakku tercinta. Aku dan Tari akan pergi dalam waktu yang mungkin saja lama. Ingat kata-kataku dulu itu,” kata Nala.
“Kata-kata apa?” vidyana tak mengerti.
Nala mendekat dan berbisik di telinga kakaknya, “Jangan sampai jadi perawan tua!” Nala terkekeh. Muka Vidyana merah padam, lalu ia meninju perut adiknya dengan keras.
“Baiklah, kami akan berangkat,” kata Batari Mahadewi.
“Jangan sampai kalian tak kembali!” kata Vidyana. Ia memberikan pelukan kepada Batari Mahadewi. Pelukan tulus tanda bahwa bidadari kematian yang cenderung tertutup itu ternyata bisa juga menyayangi gadis yang disukai adiknya itu.
“Kakak tak mau memelukku?” kata Nala.
“Pergi sana!” kata Vidyana. Ia masih jengkel dengan Nala yang membuatnya salah tingkah di depan Buyung. Murid tertua Ki Gading Putih itu memang tak tampan. Hanya berparas biasa saja. Namun ia punya wibawa seorang lelaki dewasa yang berwawasan luas, seorang yang dituakan di antara murid Ki Gading Putih. Yang membuat Vidyana bisa terbuka kepada lelaki itu hanya karena lelaki itu punya banyak pengetahuan dan ia tahu bagaimana caranya merespon tiap-tiap curahan hati masa lalu menyedihkan yang dialami oleh Vidyana dan adiknya.
Batari Mahadewi dan Nala melesat ke angkasa, lalu terbang dengan kecepatan tinggi ke arah selatan, menuju ke belahan bumi yang lain.
Tinggalah Buyung dan Vidyana berdua saja di padepokan, menunggu sang guru datang.
“Kembali sepi,” kata Buyung.
“Hahaha, benar,” balas Vidyana. Suasana agak canggung.
__ADS_1
“Apa selanjutnya yang ingin kau lakukan?” tanya Buyung mencoba mencari bahan percakapan.
“Entahlah. Aku tak punya tujuan apa-apa. Mungkin tinggal di sini, atau entahlah. Bagaimana denganmu?” jawab Vidyana.
“Aku juga tak tahu. Kita tunggu saja guru datang. Kalau kau mau, kita bisa bepergian setelah guru datang,”kata Buyung.
“Kemana kakiku melangkah, biasanya selalu bertemu masalah. Terlebih, para pendekar putih tak akan begitu saja membiarkanku. Selama aku di pulau ini, aku sudah beberapa kali mengalahkan tetua beberapa perguruan aliran putih. Kami betarung dengan disaksikan oleh para murid perguruan itu. Tak ada yang menjamin bahwa mereka tak menyimpan dendam,” kata Vidyana.
“Bukan berarti kau akan menghabiskan waktumu saja berdiam diri di sini terus. Tak masalah, kita bisa bepergian untuk ganti suasana,” kata Buyung.
“Ya, selama kau melakukan pesan Nala tadi, tak masalah,” kata Vidyana.
“Apa?”
“Tidak. Lupakan saja. Aku ingin menyeduh jahe. Kakak mau?” tanya Vidyana. Mukanya kembali sedikit memerah.
“Aku mau. Kapan-kapan akan kuajarkan cara memasak,” kata Buyung.
****
“Jika nanti kita melihat sebuah pulau yang berwarna hitam, maka itulah pulau Tirayamani,” kata Batari Mahadewi.
“Kau yakin tak mau memeriksa keadaan pulau-pulau yang kita lewati?” tanya Nala.
“Hanya jika kita menangkap pancaran kekuatan makhluk iblis, sekalian saja kita musnahkan. Jika mereka telah bergabung, maka akan sulit bagi kita untuk melawan,” jawab Batari Mahadewi.
“Waktu itu ketika kita sedang menuju ke Swargadwipa, kita juga melewati jalur ini kan?” tanya Nala.
“Ya. Ada beberapa pulau yang waktu itu telah porak poranda. Makhluk iblis akan selalu meminta banyak korban setelah ia bangkit. Namun setelah pulih, ia tak akan memangsa banyak manusia,” kata Batari Mahadewi.
“Darimana kau tahu?” tanya Nala.
__ADS_1
“Buma, makhluk iblis yang telah aku musnahkan. Setelah kekuatannya hampir pulih, dia akan memilih pendekar sakti untuk dimangsa. Dengan begitu, ia bisa bertambah kuat,” jawab Batari Mahadewi.
Setelah melintasi beberapa pulau, akhirnya sepasang pendekar terkuat di dunia satu rembulan itu merasakan pancaran kekuatan makhluk iblis yang berada di sebuah pulau yang sangat besar dengan berbagai peradaban yang tumbuh di sana.
Batari Mahadewi dan Nala turun. Keduanya menyaksikan sebuah desa yang telah porak poranda. Desa itu telah kosong. Sebagian warganya sudah tinggal tulangnya saja, dan sebagian yang lain mungkin sudah mengungsi entah kemana.
“Makhluk itu masih di sini. Aku bisa merasakan pancaran tenaganya yang samar-samar,” kata Batari Mahadewi.
“Sepertinya makhluk tu ganas, Tari. Dia menyerap seluruh daya hidup korban-korbannya hingga tinggal tulang belulang,” kata Nala.
“Tulang-tulang ini sudah lama. Jika tak ada lagi korban baru, dan makhluk itu masih ada di sini, artinya kekuatannya sudah sepenuhnya pulih. Seharusnya, makhluk itu bisa menangkap kehadiran kita di sini. Mungkin tanpa harus memancingnya keluar, sebentar lagi ia akan datang,” kata Batari Mahadewi.
“Aku ingin tahu, apakah dia akan menganggapku sebagai pemimpinnya di masa lalu,” kata Nala.
“Bisa jadi demikian. Lalu apa yang akan kau lakukan nantinya?”
“Apa boleh buat, kita harus memusnahkannya. Kita masih bisa membiarkan siluman untuk terus hidup, tetapi makhluk iblis itu lain. Jika kita tak memusnahkannya, ia akan sangat berbahaya bagi manusia,” kata Nala.
Batari Mahadewi benar. Kedatangan mereka berdua telah memancing keluar makhluk iblis yang berada di desa itu. Mula-mula ia hanya berwujud kepulan asap. Lalu kepulan asap itu perlahan menjelma menjadi makhluk yang tinggi besar, dengan kedua tangan yang mirip dengan capit kepiting. Kepalanya lonjong seperti mentimun yang dipotong menjadi dua bagian. Seluruh tubuhnya berwarna merah darah. Ada sebuah tanda kecil di lengan Iblis itu, tanda yang sama dengan yang ada di dada Nala.
Makluk itu sejenak diam mengamati Nala, lalu kemudian ia berlutut memberi hormat kepada Nala. Tentu saja, hal itu membuat Nala bingung.
“Selamat datang pangeran, maaf, hamba tidak tahu kalau pangeran juga telah bangkit,” kata Makhluk iblis itu.
“Siapa namamu dan bagaimana kau bebas?” tanya Nala.
“Hamba Libu, dulu pangeran menugaskan hamba untuk menguasai wilayah ini. Beberapa waktu yang lalu, sang ratu membebaskan hamba dan meminta hamba untuk mengikuti sang ratu. Tetapi hamba menolak, maafkan hamba pangeran, hamba hanya mau menjalankan perintah pangeran saja. Tetapi, kenapa kali ini pangeran datang bersama dewa” kata Iblis itu. Matanya memandang tajam ke arah Batari Mahadewi. Tentunya, ia menangkap pancaran energi dewa dari tubuh Batari Mahadewi.
“Libu, jika saat ini aku memihak para dewa, apakah kau masih bersedia ikut denganku?” tanya Nala.
“Apakah pangeran sedang mengkhianati kami? Maaf pangeran, tetapi dewa adalah musuh abadi kita. Apakah pangeran lupa? Atau, jangan-jangan…apakah pangeran sudah benar-benar pulih?” Makhluk iblis itu mulai ragu. Ia meningkatkan kewaspadaannya. Yang pasti, sosok Nala jauh berbeda dengan sang pangeran kegelapan, meski memiliki pancaran hawa kegelapan yang sama.
__ADS_1
“Libu, aku sudah bukan yang pangeran kegelapan lagi. Saat ini musuhku adalah bangsa raksasa. Jika kau bersikeras dengan pendirianmu, maka kita sudah tak sejalan lagi,” kata Nala.
“Jika memang begitu, apa boleh buat. Maaf pangeran, tetapi hamba berasal dari api iblis abadi. Selama pangeran masih berniat untuk berjuang di jalan iblis, maka dengan senang hati hamba akan mengabdi kepada pangeran. Sebaliknya, jika pangeran berpaling dari api iblis abadi, maka hamba adalah musuh pangeran,” Makhluk iblis itu bangkit berdiri. Sepasang capitnya memancarkan cahaya merah yang kental dengan hawa iblis yang haus darah.