Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 261 Mereka Datang Lagi!


__ADS_3

Jalu dan Niken datang tepat waktu dan tak melewatkan pertunjukan menarik yang sedang terjadi di luar altar suci.


Hanya saja, mereka tak melihat kakek Agrapana atau para pertapa sakti yang menghadapi segerombolan manusia tengik itu. Yang terlihat adalah sosok pemuda gagah dan tampan bersama dengan seorang wanita cantik sedang akan memulai pertarungan dengan sekitar dua puluh pendekar aliran hitam.


Di mata Jalu dan Niken, pemandangan itu adalah pertarungan antara pendekar hitam melawan pendekar hitam.


“Kenapa mereka bertengkar?” Niken masih belum tahu bahwa sosok yang sedang dikeroyok itu adalah Nala dan Vidyana.


“Tunggu sebentar, bukankah kita pernah melihat perempuan itu sebelumnya?” tanya Jalu.


“Ya, dia sangat cantik dan kakak jangan macam-macam,” kata Niken sembari mencubit lengan Jalu dengan keras. Percayalah, rasanya sungguh sakit.


“Bukan begitu maksudku, kau ingat kejadian ketika adik Tari menghilang bersama seorang bocah kecil waktu itu? Bukankah perempuan itu juga ikut bertarung dengan monster kera besar dari pulau Neraka?” kata Jalu sambil mencoba mengingat sosok itu.


“Kak Jalu benar. Berarti, jangan-jangan pemuda itu adalah Nala!” kata Niken.


“Aku juga berfikir demikian. Tapi mengapa mereka berdua ada di sini?!” kata Jalu.


“Mungkin sedang menunggu adik Tari sebagaimana adik juga menyuruh kita untuk berada di sini,” kata Niken.


“Sebaiknya kita lihat saja pertarungan itu dari jauh. Aku penasaran dengan kekuatan Nala yang diceritakan oleh adik kita,” kata Jalu.


“Hahaha, dia gagah dan tampan. Pantas saja adik kita bisa jatuh hati,” kata Niken.


Kakek Agrapanalah yang menyuruh Nala dan Vidyana menyambut kedatangan para pendekar hitam itu. Itung-itung, agar kedua tamunya itu tak bosan berada di sana.


Tapi sepertinya, Nala tak mengizinkan kakaknya untuk bertarung terlebih dahulu. Nala tahu, ada empat pendekar yang cukup berbahaya bagi kakaknya. Nala ingin menghindari kakaknya gegabah menantang orang-orang itu.

__ADS_1


“Biar aku saja, kakak diam saja di situ!” kata Nala.


“Aku bosan dan ingin bertarung,” kata Vidyana.


“Nanti akan aku sisakan beberapa buat kakak,” kata Nala.


“Baiklah.” Vidyana bergegas menuju ke bawah pohon untuk melihat adiknya mempermalukan gerombolan bodoh itu.


“Sudahlah, kalian berdua menyerah saja! kita sama-sama pendekar hitam, kenapa kalian mengganggu kami!” kata salah satu dari gerombolan itu.


“Kenapa kalian membunuh peberapa pendekar kelana yang mengunjungi tempat ini?” tanya Nala.


“Kami masih menganggap kalian berdua saudara kami. Jika kalian tak setuju dengan rencana dan gerakan kami kali ini, kalian tak perlu memusuhi kami. Lagipula, apa yang kalian berdua lakukan di sini? Kenapa tidak bergabung dengan kami?” tanya orang itu. Ia tak tahu bahwa Nala dan Vidyana sejak dulu memang tak berniat untuk ikut gerakan-gerakan semacam itu.


“Maaf ki sanak, kita tak sejalan. Aku masih memberi satu kesempatan untuk kalian pergi meninggalkan kota ini. Jika kalian tak mau pergi, kita terpaksa saling bunuh di sini,” kata Nala dengan nada sabar. Ajaib sekali bocah itu. Sifatnya berubah seratus delapan puluh derajad.


Nala tak menjawab tawaran itu dengan mulut. Singkat saja, tiba-tiba keempat pendekar utama dalam gerombolan itu melesak masuk ke dalam tanah. Mereka sempat berteriak minta tolong, namun ketika rekan-rekan mereka sedang bingung atas apa yang sedang terjadi, keempat orang itu telah lenyap ditelan bumi. Lumayan, tak perlu repot mengurus bangkai mereka.


Orang-orang yang tersisa masih bingung dan tak tahu bagaimana keempat pendekar andalan mereka itu tiba-tiba terperosok ditelan tanah. Nala berjalan ke arah Vidyana untuk memberikan hiburan kepada kakaknya itu.


“Cepat sekali?!” kata Vidyana sambil tertawa kecil.


“Tidak menarik!” jawab Nala singkat.


Vidyana maju menghadapi enam belas orang yang tersisa. Ia mengira, adiknya hanya akan menyisakan lima atau enam orang saja. Tapi ternyata Nala benar-benar ingin membuatnya berolah raga.


“Kalian masih ingin bertarung kan?” tanya Vidyana memastikan, “Jika iya, aku yang akan melawan kalian semua.”

__ADS_1


Gerombolan itu tak bisa lagi meremehkan lawan mereka setelah tahu keempat kepala suku mereka hilang tanpa perlawanan. Meski kini mereka berhadapan dengan perempuan yang bikin jantung deg-degan, tapi mereka menangkap hawa kematian yang sangat pekat. Lebih pekat dari milik mereka semua apabila digabungkan menjadi satu.


“Jangan sungkan-sungkan menyerangku!” kata Vidyana. Keenam belas orang yang masih ragu itu mau tak mau menyerang Vidyana secara bersama-sama tanpa rasa malu. Sayangnya, bidadari kematian itu menghilang sebelum pukulan mereka mengenai sasaran.


Sebagai gantinya, batu-batu beterbangan dari segala arah menyerang mereka semua. Jika satu atau dua bongkah batu terbang masih bisa ditangkis atau dihindari. Sayangnya, yang datang adalah bebatuan dalam jumlah besar yang seolah-olah bernyawa dan terus menerus menghajar gerombolan itu sampai mati. Bidadari kematian itu semakin tangguh sejak digembleng oleh Agrapana selama ia ada di sana.


Jalu dan Niken kehilangan kata-kata menyaksikan peristiwa itu, terlebih ketika menyaksikan Nala mengubur semua mayat dengan cara yang tidak biasa.


“Adik Tari tidak berbohong soal Nala. Ia bahkan tak menunjukkan kekuatannya untuk menghabisi keempat lawannya itu,” kata Jalu.


“Perempuan itu juga cukup kejam dalam pertarungan,” kata Niken. Ia tak sadar dirinya juga semacam itu. Jalu hanya berdehem.


“Ayo kita ke sana,” kata Jalu.


Sementara itu, di pelabuhan utara wilayah Swargadwipa, dari jauh terlihat sepuluh kapal besar dengan bendera kerajaan Tirayamani. Seketika, hal itu menjadi kabar yang menggemparkan.


Meski setiap kerajaan di Mahabhumi menaruh perhatian ekstra di pelabuhan-pelabuhan mereka masing-masing, namun alangkah bijak jika mereka melarikan diri saja sebelum nyawa terenggut sia-sia oleh kedatangan para pasukan Tirayamani. Para pasukan di wilayah pelabuhan utara Swargadwipa itupun juga akan sedang melakukannya.


Hal itu memang yang disarankan oleh sang Mahapatih Siung Macan Kumbang. Lari jika mereka melihat kedatangan kapal-kapal negri Tirayamani. Namun cara larinya harus terorganisir. Untungnya sudah ada pelatihan sebelumnya tentang apa saja yang harus dilakukan jika pasukan kegelapan itu datang sewaktu-waktu. Semacam pelatihan penanggulangan bencana.


Sehingga, sebelum semua orang benar-benar meninggalkan pelabuhan, mereka terlebih dahulu mengirimkan tanda bagi semua warga yang ada di sana untuk segera pergi. Para petugas di sana juga melepaskan ratusan burung merpati yang akan terbang ke segala penjuru arah untuk mengabarkan kedatangan para pasukan kerajaan hitam itu.


Selebihnya, mereka bergerak menyebar ke berbagai arah untuk menjauhi pelabuhan, sembari mengabarkan kepada semua orang untuk segera mengungsi. Sebagian percaya dan sebagian tidak. Tak ada waktu untuk meyakinkan semua orang bahwa bahaya benar-benar sudah di depan mata.


Setidaknya, ketika kapal-kapal besar itu sudah bersandar, tidak ada seorangpun di pelabuhan dan sekitarnya. Makhluk iblis Jain, Silu dan seribu pasukan kerajaan hitam tak mendapatkan hiburan penyambutan ketika mereka menginjakkan kaki di sana.


Hari itu tiba-tiba menjadi hari paling sibuk di Swargadwipa.

__ADS_1


__ADS_2