Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 61 Melihat Masa Depan


__ADS_3

Batari Mahadewi dan Jalu telah memasuki altar suci. Di sana terdapat banyak sekali pusaka dan kitab-kitab kuno yang tersegel mantra sehingga tak satupun kitab yang tersimpan di sana bisa dipelajari oleh Batari Mahadewi dan Jalu.


“Ruangan ini sangat menakjubkan.” Kata Batari Mahadewi, “Sayang sekali semua kitab ini tak bisa kubaca. Mestinya kitab-kitab ini menyimpan pengetahuan dari masa lalu.”


“Apakah adik tak bisa membuka segelnya?” Tanya Jalu.


“Tidak bisa, kakak. Kalaupun bisa, tentu aku tak akan melakukannya.” Jawab Batari Mahadewi.


“Lihat di sana! Apa itu?” Kata Jalu sambil menunjuk ke satu arah.


Salah satu benda yang menarik perhatian mereka berdua di dalam altar itu adalah sumur suci yang terletak di tengah ruangan. Sumur itu merupakan sumber mata air alami yang permukaan atasnya dibangun sedemikian rupa sehingga menyerupai kolam yang indah.


Kakek Agrapana tiba-tiba muncul dari belakang mereka. “Kolam itu merupakan kolam yang membuat tempat ini terkenal. Namanya adalah mata air Lingkar Dunia. Kalian bisa melihat masa depan dari permukaan air itu.” Kata Agrapana.


“Benarkah, kakek?” Kata Jalu, ia langsung berjalan menuju mata air itu dan menengok ke dalamnya. Hanya permukaan air jernih biasa yang dilihat oleh Jalu.


“Kau tak bisa melakukannya tanpa menyucikan diri terlebih dahulu. Meditasi yang kalian lakukan di luar hanyalah jalan agar kalian bisa masuk ke dalam altar ini. Sementara untuk melihat masa depan dari permukaan air kolam itu, kalian harus melakukan meditasi lagi. Jika kalian tertarik, kalian boleh melakukannya. Namun, tak banyak yang berhasil melakukannya. Sekalipun kalian berhasil melakukan meditasi, dan menyelesaikan ujian dalam meditasi itu, kalian belum tentu bisa melihat masa depan melalui kolam suci itu.” kata Agrapana.


“Meditasi dalam altar suci ini membutuhkan waktu yang lama bagi pendekar biasa. Namun mungkin tidak bagimu, nona pendekar.” Kata Agrapana kepada Batari Mahadewi. ” Baiklah, aku pergi dulu. Kalian boleh melakukannya atau meninggalkan tempat ini jika kalian sedang terburu-buru.” Agrapana kemudian melangkah pergi meninggalkan Jalu dan Batari Mahadewi.

__ADS_1


“Apakah kita akan melakukannya adik? Jika iya, mungkin adik saja yang melakukannya, aku akan menunggu adik di luar sana. Kakek Agrapana mengatakan kalau pendekar biasa butuh waktu yang lama, sementara kalau aku harus ikut meditasi, perjalanan kita akan tertunda lama sekali” Kata Jalu.


“Hanya jika menurut kakak baik, maka aku akan melakukannya.” Kata Batari Mahadewi.


“Ya, kamu boleh melakukannya. Kurasa, kamu akan mendapatkan sesuatu yang berharga dari altar suci ini. Aku akan mencari penginapan dan menunggumu di sana. Mungkin aku juga akan mencari berita, siapa tahu ada yang sempat melihat Niken melintasi kota ini.” Kata Jalu.


‘Baiklah kalau begitu, kak, aku akan mencobanya. Jika kakek Agrapana mengatakan mungkin aku bisa melakukannya dengan cepat, barangkali kakek itu benar. Ia memiliki kemampuan yang jauh dari luar dugaan kita.” Kata Batari mahadewi.


“Ya adik, coba saja. Kalau begitu, aku akan meninggalkanmu di sini. Aku akan mencari penginapan. Jika adik telah selesai dan tidak menemukanku di kota ini, maka jangan tinggalkan kota ini. Itu berarti aku sedang jalan-jalan di wilayah sekitar luar kota ini.” Kata Jalu.


“Baik kakak. Aku berharap kak Niken tak jauh dari Kota ini.” Kata Batari Mahadewi. Jalu bergegas keluar altar, berjalan melewati para pertapa di halaman altar, lalu ia menghilang di balik gerbang. Batari Mahadewi tinggal sendirian di dalam altar itu. Ia duduk bersila berhadapan dengan kolam suci itu.


####


Jalu berjalan-jalan mengelilingi kota itu lagi. Ia sedikit kesulitan untuk menemukan kedai makan karena memang tak banyak kedai makan di kota itu. akhirnya ia menemukan satu kedai makan di salah satu sudut kota, di area pasar. Anehnya, tak banyak juga orang yang belanja di pasar atau makan di kedai makan itu. Hanya beberapa orang saja yang makan dalam kedai itu dan semua hanyalah orang yang kebetulan lewat di kota itu, sama seperti Jalu.


Di kedai itu, Jalu melihat sepasang pendekar yang masih seusia dirinya. Pendekar laki-laki itu terlihat rupawan, dan pendekar perempuan itu dari belakang mengingatkannya akan sosok Niken. ‘Apakah itu kamu, Niken…’ Batin Jalu. Ia penasaran dan memutuskan untuk masuk ke kedai itu.


####

__ADS_1


Batari Mahadewi memandang sekeliling ruangan serba putih yang tampak seolah seperti dunia tanpa batas. ‘Apakah ada tepi di sini?’ Batin Batari mahadewi, ‘Pelajaran apa lagi yang akan datang padaku kali ini…’


Batari Mahadewi kembali memejamkan mata. ‘Ini hanya ilusi…hanya kekosongan…eh…kekosongan? Inikah kekosongan itu?...aku tidak yakin…ini hanya ruang kosong…bukan kekosongan…ruangan ini kosong, hanya aku isinya, kekosongan ini ada dalam semediku…ah...aku semakin tak mengerti…’


Sosok agrapana kembali hadir. Namun ia tak menampakkan wujudnya, seolah ia adalah angin. Batari Mahadewi dengan mudah menangkap kehadirannya melalui pancaran energi yang tiba-tiba hadir di sana.


“Kakek Agrapana…aku masih belum mengerti, hakekat kekosongan.” Jawab Batari Mahadewi.


“Hanya kekosongan. Tak ada apapun untuk dimengerti. Dalam kekosongan ini, kau bisa memandang dirimu, meninjau kembali masa lalumu, kehidupanmu, ketakutanmu, pencapaianmu, batas-batasmu, dan segala hal tentang dirimu. Maka, dalam ruang kosong ini, aku akan mengujimu sebagai pedekar. Bersiaplah.” Agrapana mulai menampakkan wujudnya sebagai kembaran dari Batari Mahadewi. Ia memancarkan energinya, energi yang sama dengan energi milik Batari Mahadewi.


“Baik, kakek, aku akan menjalani ujian ini.” Kata Batari Mahadewi. Ia kemudian memancarkan energinya sebesar yang ia punya hingga batas maksimal.


Batari Mahadewi belum pernah melakukan hal itu karena ia tahu kekuatannya akan menimbulkan daya ledak yang merusak. Namun di tempat itu, ia leluasa untuk memperlihatkan segala kemampuannya hingga pada batas-batasnya.


Otot tubuh Batari Mahadewi membesar dua kali lipat. Urat nadinya menonjol keluar dan ia terlihat sedikit mengerikan. Kedua telapak tangan dan kaki logamnya menyala keemasan, lalu kuku-kukunya sedikit memanjang seperti cakar burung. Seluruh tubuh Batari Mahadewi tak hanya memancarkan cahaya keemasan, namun juga diselubungi aliran listrik.


Agrapana tersenyum melihat perubahan bentuk tubuh Batari Mahadewi, lalu ia melakukan hal yang sama persis dengan yang dilakukan oleh Batari Mahadewi. Selang beberapa saat, keduanya saling melontarkan serangan dengan kekuatan penuh. Keduanya bertarung bagaikan petir yang saling menyambar, menciptakan lubang-lubang dengan bekas terbakar pada lantai ruangan yang tak terbatas itu.


Jalu mendekati kedai itu, sosok yang mirip Niken itu semakin terasa mirip ketika ia semakin dekat. Jantung Kalu seolah berhenti berdetak. Sosok itu menoleh ke arah Jalu dan kedua matanya menatap mata Jalu.

__ADS_1


Sampai di sini dulu teman-teman. Dua chapter dulu ya buat malam mingguan. Semoga terhibur. Oh iya, aku mau mengucapkan banyak terimakasih kepada kawan-kawan yang telah berbagi like, vote, komen, tip, semangat, dan berbagai bentuk apresiasi yang ditujukan kepadaku. Terimakasih banyak teman-teman. Semoga kalian selalu diberi perlindungan, sehat, rejeki, dan kebahagiaan. Amin.


__ADS_2