Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 205 Jalan Buntu


__ADS_3

Ketika Batari Mahadewi kembali ke dunia asalnya, maka kemampuannya membaca jejak energi di masa lalu bisa dipergunakan lagi. Dengan kemampuannya itu, ia berusaha melacak kemana arah perginya para makhluk kuno yang telah membuat penduduk di satu wilayah yang baru saja ditemuinya berubah menjadi batu.


Setelah Batari Mahadewi dan Nala melesat pergi meninggalkan wilayah yang baru saja mereka selamatkan, keduanya telah sampai di suatu kota baru yang bernasib sama dengan sebelumnya.


“Nala, kita punya dua pilihan saja saat ini, yakni kembali ke Swargadwipa atau mencari makhluk pembuat kekacauan ini.” Kata Batari Mahadewi.


“Kita bisa melakukan keduanya dalam sekali jalan. Kita aka berhenti dan menyelamatkan pemukiman yang kita temui di jalan selagi kita menuju ke Swargadwipa. Pertanyaanku adalah, apakah kau tahu kemana arah makhluk pembuat kekacauan itu dan ke mana arah pulau Mahabhumi?” tanya Nala.


“Jejak energi makhluk itu mengarah ke utara.” Jawab Batari Mahadewi. Perempuan istimewa itu kemudian membuka seluruh inderanya untuk menangkap pancaran energi alam dari pulau Mahabhumi. Masing-masing pulau atau benua di dunia satu rembulan memiliki kualitas energi yang bebeda-beda. Batari Mahadewi cukup hafal dengan jenis energi yang ada di Mahabhumi, khususnya di wilayah Swargadwipa.


“Jika kita mau ke Mahabhumi, maka kita harus ke arah timur.” Batari Mahadewi melanjutkan.


“Berarti kita akan ke arah timur, Tari. Kita bisa kembali ke sini atau kemana saja untuk mengejar para makhluk pengacau itu setelah kita sampai di Swargadwipa. Apakah kau tak ingin memastikan bahwa keadaan di sana baik-baik saja?” tanya Nala.


“Ya, kau benar, Nala. Ada kemungkinan Mahabhumi merupakan sasaran dari makhluk-makhluk ini. Kalau begitu, kita tak perlu buang-buang waktu lagi.” Kata Batari Mahadewi.


“Kita akan berangkat setelah aku mengembalikan kehidupan orang-orang yang telah menjadi batu itu.” kata Nala sambil memandang sebuah kota di hadapannya yang semua kehidupan di dalamnya telah berubah menjadi patung batu.


Nala melakukan hal yang sama dengan yang ia lakukan sebelumnya untuk mengubah patung-patung itu kembali menjadi manusia. Tubuh Nala menghilang menjadi partikel-partikel energi yang menyebar ke seluruh penjuru kota. Sesaat kemudian, patung-patung itu kembali menjadi manusia.

__ADS_1


Nala dan Batari Mahadewi pergi begitu saja meninggalkan kota itu, meninggalkan orang-orang yang tak pernah tahu siapa yang telah mengembalikan kehidupan mereka semua seperti sedia kala.


Kedua pendekar muda itu terus melesat ke arah timur. Mereka cukup heran bahwa ternyata pemukiman-pemukiman yang searah dengan perjalanan mereka berdua mengalami hal yang serupa dengan bentuk petaka yang berbeda; kadang mereka menemukan satu pemukiman kecil yang sama sekali tak ada penduduknya dan di tempat lain mereka menemui kota mati yang penduduknya tinggal tulang belulang saja.


“Pelakunya berbeda, Nala. Ini sungguh masalah besar!” kata Batari Mahadewi sewaktu ia dan Nala sampai di sebuah desa yang telah luluh lantak.


“Tak mungkin ini perbuatan manusia, sekejam apapun mereka.” Kata Nala.


“Ya, hanya makhluk-makhluk iblis yang bisa melakukannya. Setidaknya itu yang aku tahu dari jejak energi yang tertinggal di sini.” Kata Batari Mahadewi.


“Sebaiknya kita segera menuju Mahabhumi, Tari. Kita abaikan dulu yang telah terjadi di sini.” Kata Nala. keduanya bergegas untuk langsung menuju ke Mahabhumi.


 


 


Panglima Kera Api sempat menarik pasukannya mundur untuk tetap bersiaga di luar benteng kota kerajaan Swargawana. Ia tak menyangka gabungan empat kerajaan itu menyembunyikan kekuatan yang begitu besar yang luput dari pengamatan pasukan penyihir yang ia kirimkan.


Jika panglima itu memaksakan diri, sebetulnya ia masih menyadari bahwa ia masih memiliki kemungkinan menang. Namun harga yang harus dibayar sangatlah mahal. Ia bisa saja kehilangan banyak pasukan. Dan setelahnya, dengan pasukan yang tersisa, ia tak akan mampu menyerang kerajaan di wilayah timur. Dan yang lebih buruk, ia tak akan mampu bertahan jika kerajaan-kerajaan timur datang menyerang. Padahal, ia belum tahu kapan sang ratu akan datang.

__ADS_1


Jumlah pasukannya kini hanya tinggal 50 ribu orang saja. Ia memikirkan cara lain untuk menaklukkan lawan-lawannya yang masih memiliki kekuatan besar meskipun pada serangan yang pertama, ia berhasil melenyapkan seperempat dari seluruh kekuatan yang berkumpul di Swargawana.


Di dalam ruang rahasia di kerajaan Swargawana, Raja Udhata sedang melangsungkan rapat penting dengan Raja Syandana dari Catrawana, pangeran Samasta yang mewakili raja Mahacara dari Swargaranu, pangeran Rawikara yang mewakili Raja Segara Biru dari Swargabhumi, dan para pendekar sesepuh dan petinggi-petinggi dari keempat kerajaan barat yang tersisa.


“Kita tak akan tahu apa yang terjadi setelah hari ini. Meskipun pasukan kerajaan hitam itu menarik pasukannya, bukan berarti mereka kalah. Sebaliknya, kita perlu sangat berhati-hati dengan para pasukan kerajaan hitam itu yang hanya dengan segelintir orang saja berhasil meluluh lantakkan seperempat kekuatan kita semua.” Kata raja Udhata membuka percakapan.


“Jika kita tak berseteru dengan kerajaan-kerajaan timur, kita masih memiliki harapan. Hingga hari ini, tak satupun pendekar dari wilayah timur yang datang dan mengulurkan bantuan kepada kita semua. Tak mungkin mereka tak mengetahui kedatangan pasukan kerjaan hitam kali ini.” Kata Ki Prapanca. Meski ia tak memiliki jabatan apapun di kerajaan dan bukan orang kerajaan, namun sosoknya sebagai salah satu pendekar papan atas di wilayah barat membuat dirinya sangat di segani, bahkan oleh para raja sekalipun.


Ucapan itu sekaligus menjadi sindiran bagi para penguasa kerajaan, khususnya bagi para petinggi Swargabhumi yang ada di sana. Karena ketamakan para penguasalah bencana semacam ini tak bisa dengan mudah diatasi. Padahal, tanpa melibatkan kerajaan, jika para pendekar aliran putih di wilayah barat dan timur bersatu, mereka semua bisa mengusir panglima Kera Api dan pasukannya.


“Apa boleh buat, guru Prapanca, nasi sudah menjadi bubur. Sudah pasti kerajaan-kerajaan timur tak akan sudi mengirimkan bantuan meski seluruh kerajaan barat saat ini mengirimkan ucapan maaf secara resmi dan mengirimkan undangan untuk mengajak mereka semua menggabungkan kekuatan melawan pasukan kerajaan hitam.” kata Raja Syandana.


“Raja Talawangsa telah jatuh bersama dengan seluruh kekuasaannya. Kejatuhannya sungguh menyedihkan. Tentu kita semua tak ingin mengalami nasib yang sama, bukan?!” Ucap pangeran Rawikara yang sama sekali tak mengandung suatu pemecahan atas persoalan yang mereka hadapi.


“Mohon maaf, kakek guru, apakah para pendekar di kerajaan timur sudah benar-benar tak peduli dengan nasib para pendekar di wilayah barat? Bukankah jika kita bisa bertahan dan memukul mundur pasukan kerajaan hitam, maka artinya kerajaan timur juga akan diuntungkan? Tidak bisakah kita merangkul para pendekar dari wilayah timur untuk membahas hal ini?” tanya pangeran Samasta.


“Ini bukan masalah mau atau tak mau. Kita bisa membayangkan bahwa saat ini kerajaan-kerajaan timur tak kalah sibuk dengan kita untuk mengumpulkan semua pendekar dan menggabungkan semua kekuatan untuk menangkal kedatangan para pasukan kerajaan hitam. Sudah tentu mereka juga berfikir bahwa bergabung dengan wilayah barat merupakan pilihan yang paling tepat. Namun mereka juga tak akan mengambil resiko bahwa ketika semua kekuatan mereka ada di barat, maka pihak barat akan menghancurkan pihak timur begitu pasukan kerajaan hitam berhasil di kalahkan. Bukankah ini sangat mungkin terjadi?” kata Ki Prapanca sekali lagi menyindir para penguasa yang ada di hadapannya itu.


Tak ada yang berani menjawab pendekar tua itu. Ruang pertemuan itu terasa sunyi sekaligus panas.

__ADS_1


 


 


__ADS_2