
Batari Mahadewi dan Nala memutuskan untuk tinggal beberapa hari di wisma tamu sekolah yang didirikan oleh guru Rapapu. Jika Nala menghabiskan waktunya untuk jalan-jalan berkeliling kota, maka Batari Mahadewi memilih untuk tenggelam dalam lautan buku yang dimiliki oleh guru Rapapu.
Nala tidak suka membaca karena ia memang tidak bisa membaca. Namun Nala memiliki ingatan yang bagus atas setiap hal, setiap benda, dan segala sesuatu yang pernah ia lihat, ia dengar, dan ia rasakan. Sebaliknya, Batari Mahadewi bisa membaca tulisan apapun dalam bahasa apapun, termasuk aksara rahasia yang tersembunyi dalam kitab-kitab kuno, bangunan-bangunan suci, atau di manapun.
Di tangannya saat ini, Batari Mahadewi sedang membuka lembar demi lembar kitab kuno yang menyembunyikan salah satu ilmu tua di dunia tiga rembulan. Bisa dibilang, ilmu itu bukanlah jurus-jurus pamungkas dalam beladiri, melainkan salah satu ilmu perpindahan yang mengajarkan caranya berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya dalam satu kedipan mata.
Tidak seperti jurus-jurus legenda yang bisa ia pelajari dengan mudah di dunia satu rembulan, ilmu yang sedang ia baca saat itu sangat rumit. Sudah dua hari ia mempelajari kitab yang sama dan baru memahami sedikit saja.
Guru Rapapu masuk ke dalam ruangannya dan menemukan gadis ajaib dari dunia satu rembulan itu masih membeku dengan kitab tua di hadapannya.
“Kau menemukan sesuatu, gadis kecil?”
“Iya, guru. Ilmu berpindah tempat dalam satu kedipan mata.” Kata Batari Mahadewi. Guru Rapapu tercengang. Ia tak menduga bahwa kitab rahasia yang ia sembunyikan dalam kitab kuno itu bisa dibaca oleh gadis kecil yang ada di hadapannya itu. Guru itu akhirnya mengerti kenapa gadis itu memiliki kesaktian yang luar biasa di usianya yang masih muda.
“Baguslah kau bisa menemukannya. Kalau kau tak mengerti, tanyalah padaku.” Kata guru Rapapu.
“Yaaa…kebetulan sekali, guru. Aku belum memahami dasar-dasarnya.” Kata Batari Mahadewi.
“Tanpa energi yang lebih besar dari yang kau miliki saat ini, kau tak akan bisa mempelajarinya. Mungkin kau hanya akan memahaminya saja, namun untuk melakukannya, kau belum bisa.” Kata guru Rapapu. “Perhatikan ini baik-baik.”
__ADS_1
Guru Rapapu menunjukkan cara berpindah tempat dalam satu kedipan mata. Mula-mula, ia berada di depan Batari Mahadewi, dan dalam sekejab ia sudah ada di depan pintu masuk yang lumayan jauh jaraknya.
“Guru bilang, butuh energi besar untuk melakukannya. Namun saat guru melakukannya, kenapa guru tak memancarkan energi sedikitpun?” tanya Batari Mahadewi.
“Untuk jarak yang dekat itu, tak perlu menggunakan energi dalam jumlah besar. mungkin kau sudah bisa melakukannya untuk jarak yang pendek. Sini aku ajarkan.” Kata guru Rapapu. Kemudian lelaki tua itu memberikan petunjuk-petunjuk dan cara lain untuk membaca dan memahami kitab rahasia itu. Dalam waktu singkat, Batari Mahadewi bisa berpindah dalam satu kedipan mata untuk jarak yang pendek, sekitar sepuluh langkah kaki.
“Aku berhasil, guru.” Kata batari Mahadewi kegirangan dengan kemampuan barunya itu.
“Ya, begitu, kau sudah benar melakukannya. Jadi yang perlu kau fikirkan adalah tentang tempat yang kau tuju, lalu kau setarakan gelombang energimu dengan energi sasaran ruang yang kau tuju. Maka tubuhmu dalam waktu singkat akan menjadi gelombang cahaya dan akan kembali seperti semula setelah kau sampai ke tempat yang kau tuju.” Kata guru Rapapu.
“Sejauh apa aku bisa berpindah jika energiku sudah cukup untuk melakukannya?” tanya Batari Mahadewi.
“Jarak yang bisa ditempuh sebenarnya tanpa batas. Yang menjadi batasannya adalah energi yang kau miliki, serta jangkauanmu untuk menangkap pancaran energi suatu tempat yang kau tuju itu. Kau akan lebih mudah pergi menuju ke suatu tempat yang memiliki pancaran energi yang besar sehingga kau bisa menangkap pancaran energi itu, lalu menyetarakan dengan milikmu sehingga kau tak salah sasaran dan tujuan.”
“Nah, sekarang, aku mau tahu, seberapa jauh kau bisa berpindah. Tangkaplah pancaran energi terjauh dari tempatmu saat ini.” Perintah guru Rapapu.
Batari Mahadewi memejamkan matanya, menajamkan inderanya untuk menangkap pancaran energi paling tipis dan paling jauh yang bisa ia tangkap. Mula-mula hal itu sangat sulit dilakukan. Ia menangkap banyak pancaran energi di sekitar sekolah itu, terutama pancaran energi para siswa yang sedang berlatih. Ia mengalihkan fokusnya, menangkap pancaran energi pepohonan yang sangat tipis, lalu ia menyetarakan energinya dengan energi yang ia tangkap. Selebihnya, dalam sekejab mata, Batari Mahadewi telah berada di halaman sekolah, dibawah pohon besar yang rindang.
Kemudian ia mencoba untuk menangkap pancaran energi guru Rapapu. Hal itu tak terlalu sulit karena ia sudah mengenali pancaran energi kakek tua itu. Dalam waktu singkat, ia sudah kembali dalam ruangan guru Rapapu.
__ADS_1
“Sudah kuduga, kau akan berhasil dengan mudah. Hahaha, aku butuh waktu bertahun-tahun untuk berpindah dari sini ke sana.” Kata Guru Rapapu. “Kuncinya adalah kemampuanmu menangkap energi dan akan lebih baik jika kau bisa mengingat ruang yang kau tuju. Semakin tinggi kemampuanmu, kau bisa menjangkau jarak yang sangat jauh, asalkan kau bisa menangkap pancaran energi tempat yang kau tuju.” Kata Guru rapapu.
“Terimakasih banyak guru. Ilmu ini akan sangat bermanfaat.” Kata Batari Mahadewi.
“Satu lagi, perjalanan lintas dunia tak akan semudah ini. Energimu akan banyak terkuras ketika kau melintasi antar dimensi. Tapi kelak kau mungkin bisa melakukannya.” Kata guru Rapapu. “Sekarang, coba kau berlatih berpindah-pindah dalam ruangan ini terus menerus. Jangan berhenti bergerak sebelum aku menyuruhmu. Cara ini akan bermanfaat dalam pertarungan.”
Batari Mahadewi melakukan apa yang disuruh oleh guru Rapapu. Ia bisa berpindah beberapa kali, namun tiap awalan untuk berpindah masih terlalu lama. Guru Rapapu memberikan contoh. Dalam satu tarikan nafas panjang, kakek tua itu sudah bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain dalam ruangan itu selama puluhan kali. Gerakan itu seperti jurus ilusi, namun itu bukanlah ilusi.
“Gadis kecil, sekarang coba kau sentuh aku secepat yang kau bisa.” Kata guru Rapapu. Kakek itu melakukan hal yang sama, terus menerus berpindah tempat tanpa henti. Kadang sangat dekat dengan Batari Mahadewi, kadang di depannya, di belakangnya, di sampingnya, di atasnya, jauh ke samping, jauh ke depan, hingga gadis jelmaan pusaka dewa itu menyerah karena tak bisa menyentuh kakek itu.
“Nah, berlatihlah ini dulu. Dalam ruangan ini saja. Yang penting, lakukanlah dengan cepat. Yang perlu kau perhatikan, jangan terlalu banyak menggunakan pikiran, tapi tajamkanlah perasaanmu.” Kata guru Rapapu.
Batari Mahadewi berusaha lagi. Terus menerus tanpa henti, kecepatannya sedikit lebih baik dari sebelumnya, namun jauh lebih lambat dari yang dicontohkan guru Rapapu.
“Baiklah, cukup.” Kata guru Rapapu menghentikan latihan itu. Batari Mahadewi tampak kelelahan. Ia berdiri sambil mengatur nafasnya. “Ini salah satu buktinya bahwa ilmu ini butuh energi tinggi.” Guru Rapapu melanjutkan.
“Apakah aku juga bisa memindahkan sesuatu atau seseorang bersamaku?” tanya Batari Mahadewi.
“Bisa saja, tapi kau membutuhkan energi lebih untuk itu. Pelajari saja dengan benda-benda terlebih dahulu sebelum kau mencoba dengan temanmu itu.” kata guru Rapapu.
__ADS_1
“Guru bisa tahu apa yang kupikirkan? Hahaha!” kata Batari Mahadewi. “Baiklah guru, aku akan mencoba ilmu ini sekali lagi. Sejauh yang aku bisa tempuh.”
Batari Mahadewi memusatkan fikiran dan inderanya untuk menemukan pancaran energi Nala yang entah sedang berada di mana. ‘Itu dia…aku akan mengejutkanmu, kawan.’ Batari Mahadewi terkekeh dalam hati.