
Tidak seperti yang dibayangkan oleh Batari Mahadewi, ternyata membuat ibunya mengetahui siapa dirinya itu tidak terlalu sulit. Meski tubuh gadis cantik itu sudah sepenuhnya berubah dan mungkin tak akan dikenali lagi, namun ternyata Nyi Kunyit masih mengenali anaknya itu melalui cara Tari berbicara dan memanggilnya ‘ibu’.
Nyi Kunyit tak kuasa menahan tangis bahagianya karena anaknya pulang. Dipeluknya satu-satunya anak kesayangannya itu dalam waktu yang lama. Nala dan Vidyana merasa terharu sekaligus getir. Betapa bahagianya memiliki seorang ibu yang selalu menunggu anaknya pulang.
Beberapa kali Nyi Kunyit berkunjung ke padepokan untuk melihat kabar Batari Mahadewi, namun ia tak pernah menemui anak gadisnya ada di sana. Dan begitu anak istimewanya itu datang, ia sudah menjadi remaja.
“Siapa lelaki gagah dan nona cantik itu, anakku?” tanya Nyi Kunyit setelah upacara peluk kangen itu usai.
“Ini adalah Nala dan kakaknya, Vidyana. Mereka adalah teman seperjalananku, ibu,” kata Batari Mahadewi. Padahal ia ingin bilang bahwa lelaki itu adalah kekasihnya dan perempuan itu adalah kakaknya. Ya, gadis istimewa itu masih malu-malu dan juga memang belum ingin membongkar jalinan kasih itu kepada siapapun.
“Ayo semua masuk ke dalam. Ibu akan membuatkan masakan enak buat kalian,” kata Nyi Kunyit. Hmm…masakan. Bagi Batari Mahadewi, masakan ibunya yang sederhana dan seadanya itu adalah anugerah. Ia selalu menyukai masakan ibunya.
“Aku akan membantu ibu,” sahut Batari Mahadewi.
Tak banyak yang berubah di dalam rumah kayu mungil itu. Semua masih sama, bahkan kamar Batari Mahadewi masih rapi seperti dulu ketika ia meninggalkannya.
Untunglah di rumah mungil itu ada tiga buah kamar yang cukup untuk menampung Nala dan Vidyana. Lebih tepatnya kamar untuk Vidyana karena Nala cukup duduk berjaga semalaman di ruang tamu atau di luar rumah. Sungguh kasihan. Entah kapan ia berani untuk tidur.
Sembari menemani ibunya memasak sayuran dan nasi, Batari Mahadewi menceritakan petualangannya selama ini.
__ADS_1
“Ibu benar-benar sulit untuk mempercayainya. Belum ada dua tahun kau pergi, setelah kembali kau sudah sebesar ini,” kata Nyi Kunyit dengan nada bahagia. Tak henti-hentinya ia merasa bersyukur.
“Jika aku dan Nala tidak terjebak di dunia lain yang kuceritakan tadi, mungkin aku masih anak gadis kecilnya ibu yang tak banyak berubah,” kata Batari Mahadewi.
“Hahaha, betul. Jadi, pasti saat ini kamu juga tak akan bisa tinggal lama di rumah, kan?" tanya Nyi Kunyit.
"Mungkin tak akan lama, ibu," jawab Batari Mahadewi.
"Tak apa, anakku. Ibu mengerti. Tanggung jawabmu besar sebagai pendekar. Dan yakinlah, kau memang ditakdirkan untuk itu. Nanti ibu akan memberitahukan suatu hal padamu yang selama ini ibu simpan. Ibu tak tahu itu, tapi kamu pasti bisa memahaminya.” Kata Nyi Kunyit.
Batari Mahadewi penasaran. Namun ia urungkan untuk segera bertanya. Ia memilih menunggu ibunya sendiri yang akan menyampaikan apa yang sedang dirahasiakan oleh ibunya itu.
*****
“Kapan kau datang, anakku?” tanya Ki Gading Putih menyambut murid bungsu dan kedua orang yang bersamanya itu.
“Tadi pagi, guru, dan saya membawa serta dua rekan yang saya kenal dalam perjalanan, Nala dan kak Vdyana,” jawab Batari Mahadewi.
Ki Gading Putih menyambut baik Nala dan Vidyana meski ia tahu bahwa dua sosok itu adalah pendekar hitam dengan kemampuan istimewa.
__ADS_1
“Sebuah kehormatan, dua pendekar hebat berkunjung ke gubug kami,” kata Ki Gading Putih.
Pendekar sesepuh dan tiga pendekar muda itu kemudian saling bertukar cerita atas berbagai kejadian yang mereka alami. Semua berita memberikan bayangan suram atas kengerian yang akan terjadi di depan mata.
“Tetapi jika kamu bisa membuat senjata pusaka seperti yang kau ceritakan tadi, mungkin kami-kami yang tua ini sedikit banyak bisa membantu. Rasa-rasanya memang tak mungkin melawan para makhluk iblis hanya dengan mengandalkan senjata pusaka biasa. Tapi, sulit juga untuk menumpas makhluk iblis serta kekuatan Tirayamani hingga ke akar-akarnya. Namun kita harus tetap yakin, setidaknya di Mahabhumi, kita tak boleh untuk tidak melakukan perlawanan,” kata Ki Gading Putih. Wajahnya tampak penuh pikiran.
“Oleh karena itulah, guru, saya berencana untuk beberapa hari kedepan akan membuat senjata pusaka di sini. Jika guru mengizinkan, saya ingin mencari bahan yang tersembunyi di dalam goa di balik air terjun hati suci,” kata Batari mahadewi. Sejak awal gadis itu datang ke padepokan, ia sudah mengetahui bahwa di balik air terjun itu terdapat kekuatan besar yang bisa jadi berasal dari material bumi berkualitas tinggi.
“Tentu saja, anakku, kau boleh mencari apapun yang bisa kau gunakan dari sana. Aku sendiri belum selesai menjelajahi isi goa itu. Entah sampai mana kedalamannya. Semakin ke dalam, kau bisa menemukan berbagai mustika alam dan logam-logam berkualitas tinggi. Namun aku tak memiliki pengetahuan soal bahan senjata pusaka. Tentu kau lebih memahami hal ini,” kata Ki Gading Putih.
“Tenang saja guru, saya dan Nala akan menelusuri goa itu besok pagi,” kata Batari Mahadewi.
Hari sudah menjelang sore. Ketiga pendekar muda itu tak menginap di padepokan sebab Nyi Kunyit sudah pasti akan menyiapkan makanan lebih. Mereka tak ingin mengecewakan sosok ibu yang sabar itu.
Setibanya di rumah, tenyata masakan Nyi Kunyit sudah menunggu untuk disantap. Nala dan Vidyana pada hari berikutnya berencana untuk menginap di padepokan, sementara Tari akan pulang setiap menjelang sore selama ia masih berada di desa Cemara Seribu.
Keesokan paginya, seperti yang telah direncanakan, Batari Mahadewi dan Nala mencoba untuk menelusuri goa di balik air terjun Hati Suci yang merupakan tempat meditasi Ki Gading Putih dan murid-muridnya untuk menyempurnakan ilmu.
Ki Gading Putih hanya mengantar mereka dari seberang goa, dan selebihnya ia mempercayakan semuanya kepada Batari Mahadewi dan Nala. Pasangan pendekar istimewa itu terus menelusuri goa gelap itu. Rasanya seperti kembali ke dunia tiga rembulan saat mereka mencari sumber energi di pulau Api. Bedanya, goa Hati Suci terasa dingin dan lembab.
__ADS_1
Vidyana menunggu mereka berdua di perpustakaan. Ki Gading Putih mengajarinya membaca. Vidyana merasa desa kecil itu serta padepokan Cemara Seribu merupakan tempat yang damai dan menyenangkan. Ia berfikir untuk tinggal di sana sementara waktu kelak jika Nala dan Tari bepergian. Setidaknya, Vidyana bisa sesekali menengok Nyi Kunyit. Entah kenapa, ia memandang Nyi Kunyit layaknya ibunya sendiri. Mungkin ia benar-benar rindu atas sosok ibunya sendiri yang telah meninggal ketika Vidyana masih kanak-kanak.
Lagipula, setelah Nala dewasa dan memiliki pencapaian tinggi, ia merasa sudah tak lagi perlu untuk menjaga adiknya itu. Tugasnya telah selesai. Setelah berkenalan dengan kehidupan normal, entah kenapa hasrat membunuh dalam dirinya perlahan pudar. Sedikit banyak ia sudah mulai terbuka untuk memandang dunia dengan cara baru.