Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 280 Golok Bulan Naga Api


__ADS_3

Setelah meletakkan semua barang buruan di goa Hati Suci, Batari Mahadewi pulang ke rumah. Hari telah gelap. Rencananya, ia akan pergi barang dua atau tiga hari. Namun karena sangat disayangkan jika menyia-nyiakan bagian-bagian tubuh dari siluman naga api, maka yang ia dapatkan tak hanya sebutir mustika siluman naga api saja. Akan lebih repot jika melanjutkan perburuan dengan membawa benda sebanyak itu.


Di rumah, Batari Mahadewi sedang memijit kaki ibunya. Setelah makan malam tadi, sang ibu mengeluhkan dadanya yang terasa sakit. “Mungkin ibu kelelahan saja, Tari. Jika sudah berumur seperti ibu, datangnya penyakit tak mudah ditolak,” kata sang ibu.


“Ibu tenang saja, Tari akan memijit ibu,” kata Batari Mahadewi. Tetapi gadis itu punya cara untuk mengembalikan kebugaran dan kesehatan ibunya.


Setelah beberapa saat Batari mahadewi memijit ibunya, akhirnya sang ibu tertidur. Saat itulah gadis jelmaan pusaka dewa itu menggunakan kemampuannya untuk memersihkan energi kotor dari dalam tubuh ibunya, lalu menggantikannya dengan energi yang baru. Segala racun yang tertimbun dalam tubuh tuanya keluar tanpa disadari.


Keesokan paginya, sang ibu terbangun dalam kondisi yang segar bugar. Ia lupa bahwa semalam ia mengeluhkan sakit. Tak hanya itu, ia merasa seolah kemampuan tubuhnya kembali beberapa tahun lebih muda.


“Ibu tampak segar. Apakah sakitnya sudah hilang?” tanya Tari.


“Apa yang kau lakukan semalam, anakku? Ibu tak pernah merasa sesehat ini,” kata Nyi Kunyit.


“Tari hanya memijit kaki ibu sampai ibu tertidur,” jawab Batari Mahadewi. Tentu sulit juga untuk menjelaskan apa saja yang ia lakukan semalam untuk mengembalikan kesehatan dan kebugaran ibunya itu.


“Pagi ini, kau ingin ibu buatkan makanan apa anakku?” tanya Nyi Kunyit.


“Hmm, tunggu sebentar ibu, Tari akan segera kembali.” Batari Mahadewi keluar rumah. Sesampainya di luar, ia menghilang tanpa diketahui siapapun. Dalam satu kedipan mata, gadis itu telah berada di tepi sungai, tempat orang-orang Cemara Seribu biasanya mencuci baju.


Tak butuh waktu lama bagi gadis cantik itu untuk mendapatkan beberapa ikan besar dari sungai. Ia kemudian pulang dengan cara sama ketika ia berangkat. Praktis sekali.


“Apakah ibu tak keberatan memasak ikan-ikan ini?” tanya Batari Mahadewi.


“Banyak sekali,” ujar Nyi Kunyit. Ia tak perlu bertanya bagaimana anak gadisnya itu memperolehnya.

__ADS_1


“Ibu bisa bagikan sebagian untuk tetangga,” kata Batari Mahadewi.


“Baiklah, tunggu sebentar, ibu akan memasak ikan-ikan ini,” kata Nyi Kunyit.


*****


Seusai sarapan, Batari Mahadewi langsung melesat ke padepokan Cemara Seribu. Bukan hal aneh juga jika tiba-tiba gadis itu sudah berada di sana. Tiba-tiba ada, tiba-tiba menghilang.


Ki Gading, Vidyana dan Nala sudah berada di dalam goa hati suci. Nala ternyata sudah tak sabar untuk menyatukan mustika siluman naga api dengan salah satu senjata setengah jadi yang ada di sana. Lelaki itu bisa dengan cepat menyatukan mustika siluman itu dan membuat senjata setengah jadi itu menjadi senjata pusaka sempurna. Hanya butuh waktu semalam saja untuk menyelesaikannya. Lumayan, untuk kegiatan karena tak tidur.


Nala mengkombinasikan mustika siluman itu dengan beberapa keping kristal api, beberapa keping berlian hijau, mutika alam dan juga bebatuan berharga yang dijadikan hiasan. Senjata pusaka itu tak hanya sakti, namun juga indah untuk dijadikan barang pameran.


“Indah sekali, Nala. Apa nama yang tepat untuk senjata pusaka buatanmu ini?” tanya Batari Mahadewi.


“Ya, sang empu sebaiknya menamainya. Dengan demikian, jiwa dalam pedang ini akan merasa dihargai,” Batari Mahadewi menjelaskan.


“Hmm…kalau begitu, aku menamainya Golok Bulan Naga Api. Bagaimana dengan nama itu?” tanya Nala.


“Pas sekali, Nala. Kau tak hanya berbakat menciptakan pusaka indah ini, tapi juga lihai memilih nama yang tepat untuknya,” kata Ki Gading Putih.


“Bagaimana jika guru menguji kekuatan dari golok ini?” Batari Mahadewi memberi usulan, “Guru akan memakainya untuk menciptakan perisai pertahanan, lalu aku akan memberikan serangan kepada guru.”


“Menarik. Ayo kita coba,” Ki Gading Putih mengajak mereka semua keluar dari goa menuju ke tempat luas yang biasanya dipergunakan untuk latihan tanding.


Ki Gading Putih mencoba untuk menyelaraskan kekuatannya dengan kekuatan golok itu, lalu menghubungkan jiwanya dengan jiwa yang bersemayam dalam pusaka buatan Nala itu. Sesaat kemudian, dua kekuatan yang berasal dari Ki gading Putih dan golok bulan naga api menyatu, memancarkan cahaya jingga keemasan yang menandakan kematangan ilmu Ki Gading Putih dan kekuatan golok pusaka itu.

__ADS_1


“Apakah guru sudah siap?” tanya Batari Mahadewi memastikan. Ia tahu gurunya telah bersiap sejak ia belum bertanya.


“Sudah, sekarang coba serang aku. Aku ingin tahu sejauh mana aku bisa bertahan!” Ki Gading Putih bersiap penuh semangat.


Batari Mahadewi mencoba untuk mengerahkan energi api yang setara dengan kekuatan siluman berusia ribuan tahun lalu menghempaskannya kea rah Ki Gading Putih. Tiga pukulan api melesat kencang dan menghantam pertahanan sang guru dari tiga arah yang berbeda. Seketika pukulan api itu menjadi ledakan ketika bertumbukan dengan perisai energi Ki Gading Putih.


Pendiri padepokan Cemara Seribu itu masih berdiri dengan posisi semula meski di sekelilingnya telah hancur terbakar dan hangus.


“Kekuatan guru meningkat berkali-kali lipat setelah bersatu dengan kekuatan senjata itu,” Kata Batari Mahadewi.


“Tak kusangka, senjata ini begitu menakjubkan. Dengan ini, rasa-rasanya menghadapi para pendekar Tirayamani bukanlah soal serius,” kata Ki Gading Putih.


“Kekuatan yang ku kerahkan untuk menyerang guru tadi setara dengan kekuatan siluman naga api pemilik mustika dalam golok itu. Guru bisa dengan baik menahannya. Artinya, jika tadi saya mengerahkan energi yang lebih besar lagi, guru masih bisa bertahan. Pedang itu bisa guru gunakan untuk menghabisi pasukan iblis yang memiliki kekuatan sedang,” kata Batari Mahadewi.


“Kita akan membuat senjata untuk beberapa pendekar di Mahabhumi. Mungkin Kakek Gading bisa membantu, siapa saja kiranya yang layak mendapatkan pusaka semacam ini,” kata Nala.


“Ya, nanti aku akan tuliskan siapa saja para tetua pendekar di Mahabhumi. Tetapi, apakah tidak sebaiknya kalian berdua juga menciptakan senjata pusaka untuk para pendekar muda?” tanya Ki Gading Putih.


“Tentu saja guru, hanya saja kekuatan pusaka itu akan disesuaikan dengan kemampuan pemiliknya kelak.  Golok yang guru gunakan itu tak akan bisa dipakai dengan baik oleh pendekar seperti kak Jalu atau kak Niken,” jawab Batari Mahadewi.


“Tari, bagaimana dengan kulit naga dan lain-lainnya itu?” Nala mengingatkan. Ia takut jika benda-benda itu tak segera diolah, maka akan segera menjadi abu dengan sendirinya.


“Aku akan membuat sesuatu yang menakjubkan, yang tak kalah dengan pedang atau golok pusaka ini,” kata Batari Mahadewi. Yang ada dalam benaknya adalah membuat baju perang yang tahan dengan serangan para siluman dan iblis. Tanpa senjata pusaka dan baju perang pusaka, maka melawan pasukan iblis dalam jumlah banyak sama halnya bunuh diri. Meski tak menjamin untuk menang, tetapi ia yakin, pendekar sekelas Ki Gading Putih yang dilengkapi dengan baju perang pusaka dan senjata pusaka, ia bahkan bisa melawan iblis yang kekuatannya sedikit di bawah makhluk iblis Buma.


Andaikata semua tetua pendekar di Mahabhumi telah mendapatkan senjata pusaka dan baju perang pusaka, maka Batari Mahadewi dan Nala bisa lebih tenang untuk bepergian ke pulau lain dalam waktu lama, untuk menguatkan para pendekar yang ada di sana. Berjuang bersama-sama melawan malapetaka.

__ADS_1


__ADS_2