Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 194 Pulau Emas


__ADS_3

Gumpalan kabut terlihat di satu titik yang jauh dari tempat Batari Mahadewi dan Nala berada. Gumpalan kabut yang tiba-tiba muncul itu bukan pemandangan biasa. Setidaknya, gumpalan kabut itu muncul di siang hari yang cerah.


“Kau lihat itu kan?” tanya Batari Mahadewi kepada Nala.


“Ya, aku melihatnya. Pancaran energinya juga semakin kuat. Apakah pulau Emas ada di balik kabut itu?” tanya Nala.


“Ya, pulau Emas ada di balik kabut itu. Kita beruntung pulau itu menampakkan diri saat ini.” Kata Batari mahadewi.


“Kau beruntung bisa melihatnya. Siapa yang akan tahu kalau di balik kabut itu adalah pulau Emas?! Pantas saja pulau itu sulit ditemukan.” Kata Nala.


“Ayo kita segera ke sana, Nala.” Ajak Batari Mahadewi.


“Ayo.” Kata Nala.


Keduanya langsung bergegas melesat menuju ke arah gumpalan kabut itu. Dalam waktu singkat, keduanya sudah berada di tepi kabut. Pelan-pelan Batari Mahadewi dan Nala terbang melintasi lautan dan menembus kabut tebal itu. Semakin keduanya jauh memasuki kabut tebal itu, samar-samar keduanya menangkap secercah sinar berwarna keemasan yang terpantul pada kabut putih itu.


Pulau Emas telah tampak di depan mata. Bentuknya sama sekali tak seperti pulau, namun seperti kura-kura yang maha besar yang seluruh permukaannya adalah emas; pasir emas, bebatuan emas, dan apapun yang berwarna keemasan. Tak ada tanaman di sana. Selain pasir dan bebatuan emas, yang ada di sana adalah bangunan-bangunan indah dan patung-patung beraneka bentuk yang tentu saja berbahan emas.


Batari Mahadewi dan Nala menapakkan kaki di pulau yang berbentuk tempurung kura-kura itu. Keduanya memegang pasir di tepi pantai untuk memastikan bahwa pasir itu benar-benar emas. Dan ternyata memang benar bahwa pasir itu adalah pasir emas.


“Andaikan di dunia kita ada pulau semacam ini, pasti akan menjadi rebutan semua orang.” Kata Nala.


“Tetapi seharusnya Emas adalah benda suci, bukan sesuatu yang di jadikan perhiasan atau bahkan uang. Emas berbeda dengan logam lainnya; pancaran energinya sangat murni. Pulau ini, bahkan jika tak ada sumber energi utama di sini, akan tetap memancarkan energi murni yang sangat kuat.” Kata Batari Mahadewi. Keduanya berjalan meninggalkan tepi laut dan menuju ke tengah pulau.


“Sama sekali tak ada tumbuhan di sini.” Kata Nala, “Cobalah kau aktifkan kembali indera penglihatanmu yang baru itu dan carilah tempat yang menjadi pemukiman manusia pulau Emas.”


“Sudah, dan anehnya, setelah kita menginjakkan kaki di tempat ini, mataku tak bisa berfungsi seperti sebelumnya. Telingaku juga tak bisa mendengar suara dari jarak jauh.” Kata Batari Mahadewi.

__ADS_1


“Jangan-jangan, kita kehilangan beberapa kemampuan tanpa kita sadari ketika kita sampai di pulau ini?!” kata Nala.


“Entahlah, tapi baru itu saja yang kusadari. Bagaimana denganmu? Coba rasakan baik-baik perubahan pada tubuhmu yang kau alami!” kata Batari Mahadewi.


Nala mencoba untuk mengubah tangannya menjadi tangan api. Tak ada perubahan apa-apa. Begitu juga ketika ia mencoba untuk menggunakan kekuatan es dan halilintar miliknya.


“Kurasa, kekuatan yang kita dapat dari pulau Api, Es, dan Halilintar tak berfungsi di sini.” Kata Nala.


“Ya, aku juga tak bisa menggunakannya. Sebentar, ayo kita pergi sejenak dari pulau ini, lalu kita coba keluarkan lagi kemampuan kita.” Ajak Batari Mahadewi.


“Ya, aku penasaran.” Kata Nala. Keduanya terbang meninggalkan pulau itu, lalu dengan cara melayang di angkasa, mereka mencoba menggunakan kekuatan Api, Es, dan Halilintar yang mereka miliki. Kekuatan itu kembali seperti semula.


Kurasa hanya jika kita menginjakkan kaki di pulau itu, maka kemampuan kita yang tersisa hanyalah kekuatan yang kita dapatkan dari dunia asal kita. Sama seperti pertama kali kita ada di dunia ini.” Kata Batari Mahadewi.


“Kau benar, Tari. Tapi tak apalah. Semoga di pulau ini tak ada halangan. Kita tak bisa berbuat banyak tanpa kekuatan yang kita dapatkan dari dunia ini.” Kata Nala.


“Tak ada seorangpun di sini.” Kata Batari Mahadewi.


“Hanya patung-patung itu. Kenapa banyak sekali patung manusia kera di sini?!” kata Nala.


“Tapi patung-patung itu memancarkan energi.” Kata Batari Mahadewi.


“Ya karena itu adalah patung emas.” Kata Nala.


“Tapi yang kurasakan berbeda, Nala. Tapi entahlah.” Kata Batari Mahadewi. Keduanya berjalan-jalan berkeliling di pemukiman yang tak berpenghuni itu.


“Pulau ini luas. Kita belum tahu harus kemana mencari sumber energi itu.” kata Nala.

__ADS_1


“Tentu saja di kuil suci. Ayo kita terbang saja.” kata Batari mahadewi.


Setelah terbang dengan kecepatan tinggi menuju ke tengah pulau, Batari Mahadewi dan Nala akhirnya sampai juga di sebuah kota yang jauh lebih besar dari pemukiman-pemukiman sepi yang telah mereka lewati. Hanya saja, ada satu persamaannya; kota itu juga tampak tak berpenghuni. Bangunan-bangunan megah dan indah yang terbuat dari emas itu tampak tak berguna. Batari Mahadewi dan Nala turun untuk memastikan penglihatan mereka dari angkasa.


Kota itu terletak persis di tengah pulau. Sebagaimana pulau itu berbentuk tempurung kura-kura, maka kota itu ada di puncaknya.


“Benar-benar aneh. Tak ada siapapun kecuali patung-patung emas ini.” Kata Nala sambil memperhatikan patung-patung yang berbentuk manusia kera.


“Aku jadi curiga, Nala. Jangan-jangan patung-patung emas ini adalah penduduk pulau Emas. Lihat saja bentuknya, patung-patung itu seolah nyata. Bahkan sampai ke setiap bulu-bulunya. Apakah mungkin jika tiap helai bulu ini adalah ukiran?” kata Batari Mahadewi.


“Tentu tak mungkin patung-patung ini dibuat dengan cara diukir. Kau ingat ketika aku membuat patung es yang menyerupai dirimu. Mungkin dengan cara itulah patung-patung ini dibuat. Tapi siapa yang membuatnya? Sementara kita tak menemukan seorangpun di sini.” Kata Nala.


“Ayolah kita jalan kaki saja melihat-lihat seisi kota ini. Percuma kita terbang jika kita tak tahu tempat apa yang akan kita tuju.” Kata Batari Mahadewi.


Kedua pendekar itu menghabiskan hari dengan berjalan-jalan mengelilingi kota. Mereka sebenarnya penasaran untuk masuk ke dalam salah satu bangunan rumah. Tapi ada rasa enggan dalam hati mereka berdua, seolah mereka merasa bahwa tiap langkah dan tiap hal yang mereka lakukan telah diawasi. Namun mereka sungguh tak tahu, kekuatan apa yang berada di luar jangkauan mereka berdua itu.


Satu-satunya cara untuk mengetahui segala sesuatu tentang pulau itu adalah dengan cara membaca tulisan yang mereka temui; di dinding tembok dan di prasasti emas. Tentunya hanya Batari Mahadewi yang bisa membacanya. Namun tak banyak informasi yang mereka dapatkan.


Mereka akhirnya sampai juga di sebuah kuil yang berada di tengah-tengah kota yang sama halnya kuil itu merupakan tempat yang paling tinggi posisinya di antara bangunan yang lain sebab letaknya ada di puncak tempurung kura-kura. Halaman kuil itu sangat luas dan di halaman itu terdapat ribuan patung manusia setengah kera dalam pose bersila. Semua terlihat sama, berjejer-jejer rapi mengelilingi kuil itu.


Batari Mahadewi dan Nala masih berada di luar kuil, memandangi isi di dalamnya melalui pintu gerbang yang terbuka lebar, seakan gerbang itu memang tak pernah ditutup.


“Apakah kau ingin masuk ke sana?” tanya Nala.


“Kuil ini satu-satunya kuil yang kita temui sejauh ini. Apakah kau tak menduga bahwa kuil ini jangan-jangan adalah kuil suci pulau Emas?” tanya Batari Mahadewi.


“Kau benar, Tari. Ayo kita masuk saja. Siapa tahu kita menemukan hal menarik di dalamnya.” Kata Nala.

__ADS_1


Batari Mahadewi ragu, tapi Nala sudah terlanjur melangkah masuk melewati gerbang. Mau tak mau ia menyusulnya. Namun belum jauh keduanya masuk ke halaman kuil, tiba-tiba patung-patung yang berjejer rapi di halaman itu bergerak seolah-olah bernyawa.


__ADS_2