Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 220 Kolam Iblis


__ADS_3

Nala duduk di sebuah batu alam berukiran indah di dalam istana siluman ular merah. Para pelayan tamu istana yang semuanya merupakan siluman ular berwujud perempuan cantik itu menyediakan banyak hidangan untuk Nala. Mereka semua bertingkah genit dan mencoba menggoda Nala. Namun begitu sang ratu siluman itu kembali menemui Nala, para pelayan itu kembali bersikap sopan.


“Maaf pangeran jika para pelayan tamu istana itu bersikap tidak sopan kepada pangeran,” kata siluman ular merah dengan nada yang dibuat selembut mungkin. Ia sendiri telah tergoda untuk menggoda Nala. Siapa tahu ia beruntung selagi pangeran kegelapan itu tak ingat masa lalunya, dan tak ingat kisahnya dengan ratu Ogha. Lagipula, dulu siluman itulah yang setia menemani pangeran ketika sang ratu tidak ada bersamanya.


“Jadi di mana kolam iblis itu?” tanya Nala langsung pada pokok tujuannya datang ke sana. Ia sendiri memang tak mau berlama-lama berada di sana. Ia ingin semuanya cepat selesai dan segera kembali bertemu dengan Batari Mahadewi. Entah untuk alasan apa, namun hatinya yang menginginkan demikian.


“Kenapa pangeran tampak terburu-buru? Tidakkan pangeran lelah dan ingin beristirahat dahulu di sini barang sejenak?” siluman itu mencoba untuk membuat Nala bisa merasa lebih santai.


“Ya, aku memang harus segera menemukan seseorang yang aku maksud tadi. Kamu tak berbohong soal kolam iblis itu kan?” tanya Nala.


“Tentu tidak pangeran. Sejak dahulu, bahkan hingga saat ini, aku selalu ingin melayani pangeran. Bahkan untuk hal lain selain ini, aku bersedia,” siluman ular merah itu mendekatkan tubuhnya yang wangi.


“Maaf, aku benar-benar tak ingat siapa dirimu, dan apa hubunganmu denganku di masa lalu. Tapi sejujurnya ku katakan, aku tak memiliki keinginan untuk menjadi diriku di masa lalu, dan tak memiliki keinginan atas apa yang aku miliki di masa lalu. Jadi, aku mau datang ke sini hanya untuk satu hal saja, yaitu menemukan keberadaan orang yang kuceritakan itu. Kuharap kau mau mengerti,” kata Nala.


“Tentu saja, pangeran. Aku memang tak layak dan tak seharusnya menahan pangeran dengan cara seperti ini. Aku hanyalah siluman kotor…” raut muka siluman ular merah itu berubah. Tentu ada sedikit rasa kecewa.


“Bukan itu maksudku. Maaf…” kata Nala, “jika kau tak bersedia menunjukkannya, tidak apa-apa. Aku tak akan memaksamu. Aku pergi saja. Terimakasih atas undangannya ke istanamu,” Nala beranjak dari tempat duduknya, tapi siluman ular merah itu menahannya.


“Tunggu, pangeran. Aku yang memohon maaf. Baik, mari kita menuju ke kolam iblis itu sekarang juga,” siluman ular merah itu berjalan melewati koridor istana, lalu menuju ke sebuah ruangan batu yang dijaga oleh beberapa siluman. Tentu siluman itu juga memiliki rasa khawatir jika sampai ia menyinggung atau mengecewakan Nala. Betapa tidak, di masa lalu, sang pangeran kegelapan itu memiliki kuasa atas segalanya.


Sang siluman ular merah itu membaca mantra. Sesaat kemudian, pintu batu ruangan itu terbuka. Tak ada apapun di dalam ruangan itu kolam kecil yang berada tepat di tengah. Kolam itu tak berisi air, melainkan cairan berwarna merah seperti darah.

__ADS_1


“Tunggu sebentar, pangeran,” siluman ular merah itu membaca mantra di tepian kolam iblis. Tak lama kemudian, air kolam itu mengeluarkan gelembung seperti air mendidih. Sebuah bola kristal besar berwarna merah muncul ke permukaan.


Nala memandangi bola itu. Sang siluman ular merah masih membacakan mantra dan tak lama kemudian, sosok Vidyana telihat melalui bola itu.


“Itukah seseorang yang pangeran cari?” tanya siluman ular merah.


“Ya. Kau tahu dimana tempat itu?” tanya Nala.


Siluman merah itu melihat gambar yang dimunculkan bola kristal dengan seksama. Ia mencoba untuk mengenali sebuah tempat yang muncul di dalam bola kristal itu.


“Orang itu berada di Mahatmabhumi, pangeran. Bangunan-bangunan itu dan orang-orang yang mengenakan pakaian itu hanya ada di Mahatmabhumi. Kerajaan di ujung timur pulau Mahabhumi,” jawab siluman ular merah.


“Benar, pangeran,” jawab siluman ular merah.


“Apakah kau pernah mencoba mencari tahu keberadaan ratu Ogha?” tanya Nala.


“Ratu Ogha memiliki sesuatu yang membuat keberadaannya sulit di ketahui, pangeran. Pasti pangeran lupa dengan jubah sakti yang pangeran berikan kepada sang ratu. Dengan jubah itulah, ratu Ogha bisa lolos dari kejaran para dewa. Ketika sang ratu mengenakannya, bola inipun juga tak akan bisa menemukannya. Yang aku tahu, ia mendirikan kerajaan di pulau Tirayamani. Apakah pangeran akan mencarinya?” tanya siluman ular merah.


Nala diam tak menjawab.


“Oh, maaf pangeran. Tak sepantasnya aku menanyakan hal itu. Sudah tentu pangeran ingin bertemu sang ratu, bukan? Pangeran jangan khawatir. Sang ratu bisa mengenali pangeran sekalipun pangeran berwujud batu. Aku tahu sang ratu sedang mencari pangeran sejak ribuan tahun yang lalu. Tapi mungkin ia sudah putus asa karena sama sekali tak menemukan jejak pangeran. Pasti sang ratu sangat senang jika tahu pangeran sudah lahir kembali,” kata siluman ular merah.

__ADS_1


Penjelasan itu membuat Nala banyak berfikir. Ia lalu berkata, “Jangan katakan kepada siapapun kalau aku sudah lahir kembali. Aku tak mau keberadaanku dikenali siapapun.”


“Baik, pangeran. Tapi, siluman dari masa lalu yang masih hidup hingga sekarang sudah pasti bisa dengan mudah mengenali pangeran,” kata siluman ular merah.


“Begitu ya? Tak masalah, yang penting, jangan sampai kehadiranku menjadi berita yang cepat tersebar. Apakah kau tahu, siapakah musuhku di masa lalu yang mungkin masih hidup hingga saat ini?” tanya Nala.


“Hanya para dewa dan siluman putih yang memusuhi kita semua, pangeran,” jawab siluman ular merah.


“Baiklah, terimakasih banyak atas semua bantuan dan kebaikanmu. Aku harus segera pergi dan menemukan orang itu,” kata Nala.


“Dengan senang hati, pangeran. Datanglah ke sini jika sewaktu-waktu pangeran membutuhkan bantuanku. Aku akan tetap mengabdi padamu,” kata siluman merah itu. Nala mengangguk. Lalu siluman ular merah itu mengantar Nala hingga keluar dari celah batu besar yang menjadi istana bagi ratusan siluman hutan.


Setelah itu, Nala melesat terbang ke arah timur dengan kecepatan tinggi. Pancaran energi tubuhnya mengusik beberapa makhluk yang pernah bertemu dengannya di masa lalu. Untuk sampai di Mahatmabhumi, ia harus melewati dua wilayah kerajaan timur, yakni Swargaloka dan Madyabhumi. Nala tak berniat untuk mampir di kedua wilayah itu. Ia tak ingin kehilangan jejak kakaknya yang mungkin akan terus bergerak menuju ke tempat lain. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, Nala tak ingin kakaknya bermasalah dengan para pendekar lain yang mungkin saja ilmunya lebih unggul dari Vidyana.


Dengan kekuatan luar biasa yang ia miliki, maka tak butuh waktu lebih dari sehari bagi Nala untuk sampai di Mahatmabhumi. Barangkali dulu, sebelum ia memiliki kekuatan besar seperti ini, ia butuh waktu satu atau dua bulan perjalanan untuk menempuh jarak sejauh itu.


Hanya saja, pancaran energi Nala yang cukup besar ketika ia terbang dengan kecepatan tinggi telah mengusik beberapa siluman putih yang menjadi musuhnya di masa lalu. Siluman putih itu adalah golongan siluman yang dekat dengan para dewa. Setidaknya, telah ada dua siluman putih dari masa lalu yang bergerak mengejar Nala untuk memastikan apakah benar ia adalah Andhakara, sang pangeran kegelapan.


 


 

__ADS_1


__ADS_2