Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 306 Usaha Mambacha Dan Bail


__ADS_3

Jika Batari Mahadewi dan Nala membantai setiap iblis yang dijumpai dalam perjalanan, maka sebaliknya, Mambacha dan Bail memaksa makhluk iblis yang mereka temui untuk bergabung.


Setidaknya, Batari Mahadewi dan Nala telah menghabisi empat makhluk iblis, termasuk Libu. Mustika yang telah mereka dapatkan dilebur ke dalam salah satu senjata pusaka yang mereka bawa yang nantinya akan digunakan oleh Nala. Semakin banyak mustika iblis yang tertanam dalam sebuah pusaka, maka akan sulit untuk menggunakan pusaka itu meski tenaga yang tercipta dari senjata pusaka itu sangat luar biasa.


Sementara itu, Mambacha dan Bail telah berhasil membujuk tiga makhluk iblis untuk ikut bersama mereka. Ketiga makhluk iblis itu adalah Sora, Luma, dan Boko yang merupakan makhluk iblis berkekuatan menengah ke atas. Beberapa tingkat di bawah Bail. Jika Bail diibaratkan berada di tingkat ke 10, maka ketiga makhluk itu kurang lebih berada di tingkat 7.


Hanya ada sedikit makhluk iblis yang ada di tingkat 10, termasuk Bail. Dan hanya ada dua makhluk iblis yang berada di atas Bail. Dua makhluk iblis yang bernama Kabas dan Wangka itu tak memiliki tanda sebagai pengikut pangeran kegelapan. Sang ratu jelas-jelas salah langkah karena membebaskan mereka. Untungnya, meski makhluk iblis itu tak mau bergabung, tetapi juga memiliki musuh yang sama, yakni para dewa. Sehingga kebebasan mereka berdua tetap akan berpengaruh bagi perkembangan bangsa iblis.


“Bail, jika Kabas dan Wangka berada lebih tinggi di atas kemampuanmu, maka dengan cara apa kita akan mengajaknya? Kau kenal baik dengan mereka, bukan?” tanya Mambacha.


“Ya, aku tahu tentang mereka. Dulu mereka juga menolak bergabung dengan pangeran, dan termasuk dalam jajaran iblis yang menolak untuk menyumbangkan kekuatannya ketika para pemuja Api Iblis Abadi bersepakat untuk menciptakan mustika kegelapan yang menjelma menjadi pangeran kegelapan,” kata Bail.


“Artinya, mereka tak akan pernah mau menjadi pengikut pangeran kegelapan, bukan? Tetapi, selama tujuan kita sama, semestinya mereka bisa diajak kerjasama,” kata Mambacha.


“Sejak kuil Api Iblis Abadi telah dihancurkan oleh para dewa, para iblis besar seperti Kabas dan Wangka telah bersusah payah untuk membangunnya kembali. Sebelum hal itu terwujud, para dewa sudah lebih dahulu mengalahkan kita semua. Sebenarnya, aku sepakat dengan usaha para iblis besar itu,” kata Bail.


“Sepakat dalam hal apa?” tanya Mambacha.


“Bahwa pangeran kegelapan salah mengambil langkah. Seharusnya, pangeran kegelapan menghidupkan kembali kuil Api Iblis Abadi, sebab dari sanalah iblis-iblis baru bisa dilahirkan,” kata Bail.


“Ini sulit, Bail. Di satu sisi, kita ikut sang ratu dengan harapan akan menemukan jiwa sang pangeran kegelapan. Selebihnya, ialah yang akan mengambil keputusan!”


“Jika kita tak pernah menemukan jiwa pangeran kegelapan, apakah kau akan terus mengikuti perintah sang ratu? Kita bahkan bisa membunuhnya dengan mudah lalu kita bebas. Seharusnya, jika pangeran kegelapan sudah tak ada lagi, bukan sang ratu yang menjadi panutan kita, tetapi para iblis besar seperti Kabas dan Wangka,” kata Bail.


“Kau masih belum terlalu yakin ternyata. Aku sudah mengatakan kepadamu, bahwa hanya sang ratu yang bisa membangkitkan pangeran kegelapan. Oleh karena itulah aku mau ikut dengannya. Tidakkah kau mengerti, waktu itu pangeran menghadiahkan salah satu benda pusaka bangsa iblis kepada sang ratu, yaitu Darah Iblis Abadi. Darah itu sudah menyatu dalam tubuh sang ratu. Dengan darah itulah ia membangkitkan kita semua. Kelak, jikapun bangsa iblis tak mampu membangkitkan kuil Api Iblis Abadi, maka sang ratu bisa melahirkan iblis-iblis baru. Tak banyak bangsa iblis yang memahami hal ini, bahwa semestinya kita menjaga sang ratu. Jangan sampai ia mati. Ialah satu-satunya harapan jika tak ada lagi Api Iblis Abadi.” Mambacha sekali lagi meyakinkan Bail.


“Tetapi kenapa waktu pangeran kegelapan masih hidup, sang ratu tak juga melahirkan anak-anak iblis?” tanya Bail.


“Sebab, sebelumnya darah iblis abadi masih disimpan oleh pangeran kegelapan. Sebelum pangeran kegelapan dikalahkan oleh para dewa, ia memberikannya kepada sang ratu, lalu sang ratu melarikan diri dan bersembunyi di pulau hitam itu.” kata Mambacha.


“Ya, aku mengerti. Tetapi untuk membujuk Kabas dan Wangka, itu bukan perkara mudah. Saat ini hanya ada aku, kau, Sora, Luma, dan Boko serta pasukan iblis di dalam tubuhku. Kita semua bahkan tak mampu melawan Kabas ataupun Wangka.” kata Bail.

__ADS_1


“Berarti kita butuh membujuk beberapa iblis lainnya, setelah kita memiliki kekuatan yang lebih baik, bagaimana jika kita mencoba memaksa Kabas dan Wangka?” tanya Mambacha.


“Jika kita bisa membujuk tiga iblis yang setara denganku, maka kita sudah punya kekuatan cukup,” kata Bail. “Bukankah sang ratu telah membebaskan tujuh iblis yang setara dengan kekuatanku?”


“Kau benar. Yang paling dekat dari tempat ini adalah pulau Kalamba. Ayo kita ke sana sekarang!” kata Mambacha.


“Tetapi ia bukanlah pengikut pangeran kegelapan!” kata Bail.


“Tak masalah. Ia tak akan bisa menghadapi kita semua jika kita memaksanya!” ujar Mambacha.


“Baiklah kalau begitu!”


Kelima makhluk iblis itu melesat cepat untuk mencari Ila, salah satu iblis dengan kekuatan setara Bail yang tinggal di pulau Kalamba.


Ila adalah penjaga kuil iblis Kalamba di masa lalu. Tubuhnya hancur setelah para dewa mengunci seluruh kekuatannya di bawah reruntuhan kuil itu. Setelah Ila terkubur, pulau itu dihuni manusia dan lahirlah sebuah peradaban kecil dibawah naungan kerajaan Kalamba.


Beberapa waktu yang lalu, setelah sang ratu membebaskan Ila, makhluk iblis itu melenyapkan separuh jumlah manusia yang tinggal di sana untuk memulihkan seluruh kekuatannya. Ila cukup cerdik. Ia memangsa manusia diam-diam, desa demi desa sehingga manusia yang tersisa tak benar-benar tahu bahwa ialah yang menjadi pelaku atas hilangnya separuh warga Kalamba. Setelahnya, Kuil iblis Kalamba kembali berdiri. Selebihnya, ia hanya memangsa manusia yang mendekat di kuilnya.


Mambacha bisa dengan mudah mengetahui keberadaan Ila, sebab kuil iblis yang ada di sana telah berdiri kembali dan memancarkan aura iblis. Ia dan keempat makhluk iblis yang bersamanya turun di kuil itu.


Ila menampakkan diri. Wajahnya yang serupa sekumpulan cacing yang menggumpal menjadi satu dengan warna merah darah itu tersenyum menyambut kedatangan bangsanya sendiri. Namun hanya ia dan sang maha tunggal saja yang tahu bahwa ia sedang tersenyum, makhluk iblis sekelas Bail tetap menganggapnya menyeringai mau mengajak berkelahi.


“Lama sekali rasanya rumahku ini tak mendapatkan kunjungan. Rupa-rupanya, sang ratu juga membebaskan kalian,” kata Ila dengan nada ramah. Sekali lagi, hanya ia yang tahu bahwa ia bermaksud ramah. Suaranya serak dan kasar.


“Benar sekali. Tampaknya kau sudah sepenuhnya pulih, Ila!” kata Bail.


“Apakah ada kabar yang ingin kalian sampaikan padaku?” tanya Ila.


“Kami ingin menyampaikan sebuah tawaran kepadamu,” kata Mambacha.


“Jangan suruh aku untuk bergabung dengan kalian di bawa perintah ratu itu. Aku hanya mengabdi pada raja iblis abadi,” kata Ila.

__ADS_1


“Jangan bodoh, jika kita tak bekerja sama, tak mungkin kita bisa membangun kembali kuil Api Iblis Abadi dan membangkitkan raja iblis. Jika kau sendiri di sini, bukan tak mungkin jika nanti sepuluh siluman putih akan menemukanmu dan menghabisimu. Apakah itu yang kau inginkan?! Dan lagi, saat ini ada dewa baru yang mewujud manusia. Ia sudah membantai beberapa iblis yang telah dibebaskan sang ratu. Dan kau juga sudah tahu tentang Kalapati, bukan?!” Mambacha mencoba membujuk Ila.


Ila terdiam. Ia tampak sedang mempertimbangkan sesuatu. “Pulanglah! Tinggalkan aku di sini sendiri!”


Mambacha dan kawan-kawannya saling berpandangan. Sebelum memaksa Ila dengan cara yang telah direncanakan, Mambacha ingin mencoba sekali lagi membujuk makhluk yang serupa gumpalan cacing raksasa itu. Memang itulah keahlian Mambacha, membujuk dengan segala cara.


“Kami tak buru-buru, Ila. Jauh-jauh kami datang kemari dan kau langsung menyuruh kami pulang! Mari kita sejenak bertukar pikiran,” kata Mambacha.


“Apa lagi yang perlu dipikirkan. Kita sudah kalah sejak peperangan di masa lalu. Jika Kalapati berhasil mengobrak-abrik dunia atas sendirian, lalu kita bisa apa?” kata Ila.


“Masih ada harapan. Ini adalah perang antara bangsa dewa, iblis dan raksasa. Bangsa dewa telah kalah. Kalaupun Kalapati abadi, kita bisa memancingnya datang ke dunia bawah, menguncinya di sana selama-lamanya. Bangsa iblis akan menguasai dunia tengah dan dunia atas,” kata Mambacha. Iapun tak terlalu yakin dengan apa yang ia ucapkan.


“Bagaimana caranya?” tantang Ila.


“Kita kumpulkan kekuatan, temukan jiwa pangeran kegelapan, kita bangun kembali kuil api abadi, kita bangkitkan raja iblis dari tidur panjangnya. Dengan begitu, kita masih punya harapan.”


“Kalau begitu, kita tak perlu tunduk dengan perintah sang ratu, bukan?!” kata Ila.


“Kau salah. Darahnya bisa membangkitkan lebih banyak lagi bangsa iblis yang terkubur, tubuhnya bisa melahirkan iblis baru, dan inilah sebenarnya peluang yang belum kita ketahui. Anak-anak pangeran kegelapan akan tumbuh menjadi pasukan iblis yang paling kuat diantara kita semua. Inilah harapan yang aku maksudkan!” kata Mambacha.


“Ayolah, Ila. Kalau kau berdiam diri di sini, tak akan lama lagi, dewa dalam wujud manusia itu atau sepuluh siluman putih cepat atau lambat akan menemukanmu. Jika kita bekerja sama saat ini, kita jauh lebih kuat. Kita juga bisa melindungi sang ratu!” Bail menambahkan.


“Baiklah kalau begitu. Lalu apa yang akan kita kerjakan?” tanya Ila. Mambacha sangat lega mendengar jawaban itu.


“Kita akan cari Moro dari pulau Campayana. Tak ada cara lain selain mengajak satu persatu bangsa kita yang telah tercerai berai ini!” ujar Mambacha.


“Moro adalah pengikut pangeran kegelapan. Seharusnya tak sulit untuk mengajaknya bersatu kembali,” kata Ila.


Setelah Ila setuju, enam makhluk iblis itu segera pergi menuju ke pulau Campayana. Mereka harus melintasi tiga pulau lain di sebelah timur pulau Kalamba.


Mau lanjut kok ngantuk yes...besok lagi ya. Oh iya, kalau kawan2 mau, follow igku yak. doni.agungsetiawan di sana nanti aku akan share dimana lokasi karya baruku yang menurutku jauh lebih rapi dari pbm.

__ADS_1


__ADS_2