Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 20 Kekuatan Kelelawar Hitam


__ADS_3

Setelah Batari Mahadewi dan kakak seperguruannya melakukan pengintaian, mereka bertemu di tengah hutan dekat kuburan. Jalu telah sampai lebih dahulu dan menunggu mereka di sana.


“Kakak sudah sampai duluan?” Kata Batari Mahadewi


“Ya, tidak sepenuhya sendirian sebenarnya. Tadi ada beberapa hantu yang menemaniku di sini. Entah dimana mereka sekarang. Mungkin masih mencari makan malam” Kata Jalu sambil melirik Niken.


“Jangan mulai lagi ya!” Kata Niken mulai sewot.


“Hahaha….kata Jalu. Jadi, apa yang kalian dapatkan?” kata Jalu.


“Tetua desa dalam kesulitan. Kelelawar Hitam menyandera anaknya. Jadi penyerangan kita hari ini sudah pasti karena Ki Buyung mengatakan keberadaan kita.” Kata Batari Mahadewi.


“Apa yang diinginkan oleh Kelelawar Hitam?” tanya Jalu.


“Mereka mengincar kuburan pendekar Tapak Racun.” Jawab Batari Mahadewi.


“Bukankah kalau dia mau, Kelelawar Hitam bisa saja mengobrak-abrik kuburan itu tanpa harus sembunyi-sembunyi seperti ini?”


“Ketua Kelelawar Hitam takut dengan pendeta Liong. Seperinya beliau adalah orang sakti di sini.” Kata Batari Mahadewi.


“Hmmm…berarti kita harus mengabari pendeta Liong?” tanya Jalu.


“Tidak semudah itu, Ketua Kelelawar Hitam mengancam akan membunuh anak tetua jika sampai pendeta Liong tahu akan hal ini. Jadi jangan gegabah. Mungkin ada baiknya kita serang saja Kelompok Kelelawar Hitam.” Jawab Niken. “Kita punya alasan menyerang mereka, karena mereka lebih dahulu menyerang kita.”


“Kita kedatangan tamu. Segera bersiap.” Kata Batari Mahadewi. Ia menyadari ada pergerakan energi dalam jumlah besar mengarah ke persembunyian mereka.


“Bagaimana ia bisa tahu kita ada di sini?” Kata Jalu.


“Kurasa kita terlalu meremehkan kelompok itu.” Kata Batari Mahadewi.


Dalam sekejab, hutan itu telah dikepung oleh anggota Kelelawar Hitam. Ketua Kelelawar Hitam menampakkan diri dihadapan Batari Mahadewi dan kakak seperguruannya.


“Selamat malam anak-anak manis. Maaf mengganggu waktu santai kalian di sini. Jadi, kalian murid Ki Gading Putih?” Kata Ketua Kelelawar Hitam sambil memandang mereka dengan sorot yang menyeramkan, berbeda sekali dengan penampilannya ketika makan di kedai sup kura-kura waktu itu.


“Ya…ya…ya…kami bisa menemukan kalian dengan mudah. Jangan kaget. Beginilah cara kerja kami. Meski kalian masih muda, aku tak akan segan membunuh kalian.” Ketua Kelelawar Hitam.

__ADS_1


Batari Mahadewi dan kakak seperguruannya bersiap waspada. Anak buah Ketua Kelelawar Hitam mulai menyerang dalam kegelapan. Sementara Ketua Kelelawar Hitam menghilang dari pandangan mata. Bahkan Batari Mahadewi tidak bisa melacak keberadaan energinya.


Satu persatu Jalu, Niken dan Batari Mahadewi menumbangkan pendekar-pendekar yang menyerangnya. Ketika mereka sibuk meladeni tiap-tiap serangan yang datang, secepat kilat Ketua Kelelawar Hitam tiba-tiba mendaratkan pukulan di punggung Niken. Pukulan itu sangat kuat sehingga membuat Niken terpental dan tak sadarkan diri.


“Niken…” Seru Jalu yang marah karena kelicikan Ketua Kelelawar Hitam. “Tak kusangka kau selicik ini pendekar tua. Kau akan menyesal.” Dengan kemarahannya, Jalu mengeluarkan energi api dalam jumlah besar. Menyerang Ketua Kelelawar Hitam dan anak buahnya membabi buta. Sebagian dari hutan itu terbakar dan menjadi kembang api yang indah ditengah malam gelap itu.


Ketua Kelelawar Hitam selalu mendadak hilang dan datang sehingga baik Jalu ataupun Batari Mahadewi kesulitan.


Batari Mahadewi juga merasa tak ada gunanya menggunakan jurus-jurus Ilmu Raga Membelah Bumi untuk menghadapi kecepatan luar biasa seperti ini. Sekalipun ia bisa mengalahkan siluman laba-laba raksasa, kecepatan Ketua Kelelawar Hitam lebih sulit ditandingi. ‘Tentu, siluman itu kuat, lambat dan bodoh. Sekarang aku menghadapi pendekar yang pintar, lincah dan licik.’ Batin Batari Mahadewi.


‘Pasti ada kelemahannya’ Batin Batari Mahadewi. ‘Baiklah, akan aku pancing ia menyerangku seperti yang dilakukan kepada kakak seperguruanku.’


Jebakan Batari Mahadewi berhasil. Bagaimanapun juga Ketua Kelelawar Hitam masih memandang Batari


Mahadewi sebagai anak ingusan biasa karena dalam pertarungan itu, Batari Mahadewi tidak memiliki jurus menarik sebagaimana yang dilakukan Jalu.


Ketika Jalu sibuk dengan energi apinya yang menghajar anak buah Kelelawar Hitam, Ketua Kelelawar Hitam tiba-tiba muncul di belakang Batari Mahadewi dan akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya kepada Niken. Di saat seperti itu, Batari Mahadewi bisa menangkap pancaran energi yang keluar dari tubuh Ketua Kelelawar Hitam saat ia menyerang.


Ketika Ketua Kelelawar Hitam berjarak sekian langkah menuju tubuh Batari Mahadewi dengan kecepatan tinggi, Batari Mahadewi mengerahkan tenaga dalamnya dengan kekuatan penuh sehingga membuat semua yang ada disekelilingnya terpental jauh, termasuk Ketua Kelelawar Hitam.


Seusai Hitam Ketua Kelelawar melarikan diri, sebagian dari anak buahnya yang selamat ikut pula melarikan diri. Sudah bisa dipastikan kelompok Kelelawar Hitam kehilangan anggota dalam jumlah besar akibat penyerangan yang mereka lakukan sendiri. Kelompok itu tak mengira akan menghadapi lawan tangguh dengan kekuatan mengerikan yang setara dengan pimpinan mereka.


Jalu segera mengakhiri serangannya setelah melihat lawan-lawannya lari tunggang langgang dan ia segera memeriksa keadaan Niken yang tak sadarkan diri. Batari Mahadewi pun segera menyusul dan berusaha memulihkan kondisi Niken.


“Kurasa aku bisa menahan racun ini agar tak berdampak terlalu jauh. Tapi aku belum bisa menghilangkan racun ini sepenuhnya. Racun dari pukulan Ketua Kelelawar Hitam jauh lebih berbahaya daripada racun ular yang paling berbisa sekalipun.” Kata Batari Mahadewi khawatir dengan keadaan Niken.


“Kurasa kita membutuhkan pertolongan seseorang. Tapi dimana kita menemukan orang itu?” tanya Jalu kebingungan. Ia merasa sangat bersalah karena tak bisa melindungi adik seperguruannya itu.


“Kita pergi ke kuil untuk meminta  bantuan Pendeta Liong. Aku punya firasat bahwa beliau bisa membantu kita.” Kata Batari Mahadewi.


“Kalau begitu kita harus segera ke sana sebelum terlambat.” Kata Jalu. Ia pun membopong tubuh Niken dan melenting dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di kuil Pendeta Liong.


Kuil itu bertingkat tujuh seperti pohon pinus yang menjulang tinggi di langit. Halamannya sangat luas dan pintu gerbang masuknya pun sangat besar.


Di malam hari itu, kuil tampak sepi. Tak terlihat seorangpun berjaga di sekitar pintu.

__ADS_1


“Apa kau yakin seseorang akan mendengar jika kita mengetuk pintu ini?” tanya Jalu.


“Jangan khawatir, aku tahu cara membuat pendeta Liong keluar dan membukakan pintu.” Kata Batari Mahadewi.


Batari Mahadewi kemudian memancarkan energinya, menyalurkan ke dinding-dinding bangunan. Energi itu akan tertangkap oleh pendekar tingkat tinggi dan sebenarnya sangat beresiko bagi Batari Mahadewi karena energi itu bisa mengundang lawan-lawannya untuk datang. Namun ia yakin gerombolan Kelelawar Hitam sama sekali tak berminat mendekati tempat itu.


Tak lama kemudian, seorang lelaki tua membukakan pintu gerbang. “Selamat malam tuan dan nona pendekar, adakah yang bisa kubantu.” Kata sosok tua itu.


“Mohon maaf bapak pendeta, malam-malam begini kami mengusik istirahat bapak. Kami datang kemari untuk memohon pertolongan.”


Pendeta tua itu langsung tanggap begitu melihat kondisi Niken. “Mari, bawa nona ini segera masuk ke dalam.” Kata pendeta tua itu. Mereka bertiga bergegas menuju ke salah satu ruang pengobatan di kuil tersebut.


“Jadi kalian yang tadi bertempur di hutan sana?” Tanya pendeta tua itu sambil memeriksa keadaan Niken.


“Betul pak pendeta. Kami diserang oleh sekelompok orang.” Kata Jalu.


“Racun Kelelawar Hitam!” Gumam pendeta tua itu. “kalian berhasil selamat dari serangan Kelelawar Hitam, pasti kalian pendekar hebat yang belum aku kenal. Namaku Liong, pendeta di kuil ini. Siapa nama tuan dan nona ini?” tanya pendeta Liong.


“Nama saya Jalu, adik seperguruan saya ini Batari Mahadewi, dan saudari kami yang pingsan ini Niken. Kami adalah murid Ki Gading Putih dari Padepokan Cemara Seribu.” Kata Jalu.


“Pantas saja. Kalian beruntung memiliki guru yang hebat. Sebentar.” Pendeta Liong menusukkan jarum ke beberapa titik tubuh Niken, lalu ia menyalurkan tenaga dalamnya. Sesaat kemudian, Niken batuk darah berwarna hitam. Ia sudah siuman namun belum memiliki daya untuk membuka mata. Kondisinya masih sangat lemah.


“Aku sudah mengeluarkan racun dalam tubuhnya. Kurasa ia bisa sembuh. Ia memiliki tenaga dalam yang baik sekali sehingga bisa bertahan dari jurus racun kelelawar itu. Tak banyak yang bisa selamat setelah beberapa menit mendapatkan pukulan itu.” Pendeta Liong bercerita. “Kenapa kalian berurusan dengan kelompok yang berbahaya itu?”


“Panjang sekali ceritanya pak pendeta, tapi ini semua bermula dari pencurian tulang di kuburan. Kami sebetulnya tidak ada sangkut pautnya dengan hal itu, namun kami sangat penasaran dengan pencurian tersebut. Lalu kami menyelidiki dan menemukan bahwa tulang-tulang itu dijadikan pusaka sakti.” Kata Jalu.


“Hmm…sudah kuduga arahnya akan ke sana. Tapi aku tak mengira kalau Kelelawar Hitam berada di balik ini semua. Tetua desa tak menghubungiku sama sekali.” Kata pendeta Liong.


“Tetua desa sedang dalam masalah, pak pendeta. Komplotan Kelelawar hitam itu menyandera anak tetua sehingga ia tak bisa berbuat apa-apa.” Kata Jalu.


“Ya, aku mengerti sekarang. Tapi setelah perkelahian tadi, ku pikir sudah waktunya kita semua bertindak. Memang sangat beresiko. Tapi ini menyangkut nyawa orang banyak. Anak tetua desa hanya salah satu korban dari calon korban lainnya nanti. Kelelawar Hitam pasti mengincar jasad pendekar Tapak Racun untuk menyempurnakan ilmunya sendiri. Hmmm….tentu saja. Dia berambisi menjadi pendekar racun paling kuat di dunia persilatan.” Pendeta Liong menyampaikan pemikirannya.


“Kurasa kalian perlu beristirahat dulu. Menginaplah disini. Besok pagi kita akan lanjutkan pembicaraan ini. Besar kemungkinan nona ini akan pulih besok. Dia membutuhkan perawatan, jadi ada baiknya kalian tak perlu terburu-buru untuk berurusan lagi dengan Kelelawar Hitam. Baiklah, selamat beristirahat. Kalian bisa bisa menggunakan ruang itu untuk beristirahat. Jangan sungkan.” Kata pendeta Liong sebelum beranjak pergi dari ruangan itu.


“Terimakasih banyak atas pertolongannya pak pendeta. Kami sangat berhutang budi.” Kata Jalu. Mereka akhirnya beristirahat di kuil itu dan memutuskan untuk tinggal di sana sementara waktu sampai kondisi Niken benar-benar pulih.

__ADS_1


__ADS_2