
Halaman gedung sekolah yang didirikan oleh guru Rapapu bisa dibilang sangat luas. Tak hanya berupa lapangan, melainkan banyak pepohonan sehingga halaman tersebut sangat rindang. Murid-murid di sekolah itu bukanlah kanak-kanak. Semua adalah para remaja dan orang-orang dewasa. Mereka belajar ilmu beladiri, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Setidaknya, sekolah itu telah mencetak generasi-generasi yang telah membangun kota Piriparara menjadi tampak megah, rapi, dan teratur.
Batari Mahadewi dan Nala memasuki gerbang sekolah yang dijaga oleh beberapa penjaga yang memiliki ilmu beladiri. Kedua pendekar dari dunia satu rembulan itu bisa mudah mengetahuinya dari postur tubuh dan pancaran energi halus yang mereka sembunyikan.
“Permisi, kami datang kemari untuk bertemu dengan guru Rapapu.” Kata Batari Mahadewi.
“Kalian tentu datang dari negri yang jauh, bukan?” kata salah satu penjaga itu dengan ramah.
“Betul sekali. Kami datang untuk memohon petunjuk dari guru Rapapu.” Kata Batari Mahadewi.
“Baiklah, tunggu di sini. Kami akan menemui guru dan meminta izin terlebih dahulu.” Kata salah satu penjaga itu. Lalu penjaga itu mengutus rekannya untuk pergi menuju gedung sekolah, melaporkan kedatangan dua tamu itu kepada guru Rapapu. Dengan cepat, rekan penjaga itu terbang meluncur ke gedung paling atas.
Tak lama kemudian, rekan penjaga itu telah kembali dan mengatakan kalau guru Rapapu memberi izin dan meminta kedua tamunya itu untuk datang ke ruangannya. Salah satu penjaga gerbang itu kemudian mengantarkan Batari Mahadewi dan Nala pergi menuju ruangan guru Rapapu.
Ruangan di dalam sekolah itu tampak megah. Pilar-pilar besar menyangga gedung-gedung di bagian atasnya. Terdapat berbagai jenis ruangan selain ruang kelas, beberapa diantaranya adalah aula serbaguna, ruang makan bersama, ruang latihan, ruang kesenian, dan masih banyak lagi. Setidaknya, sekolah itu dua puluh kali lebih besar dan megah jika dibandingkan dengan perguruan Lentera Langit yang bagi Batari Mahadewi merupakan perguruan besar yang pernah ia temui di Swargadwipa.
Di sebelah gedung sekolah, terdapat wisma murid bagi murid-murid yang datang dari kota lain dan wisma tamu yang diperuntukkan bagi para tamu yang menginap. Kediaman guru Rapapu berada di puncak gedung yang dibawahnya merupakan ruangan bagi para pengajar di sekolah.
Setelah menaiki tangga ke tujuh, Batari Mahadewi dan Nala sampai di ruangan guru Rapapu yang sekaligus merupakan tempat kediamannya. Ruangan itu sangat luas, dipenuhi oleh ratusan ribu buku dan berbagai macam tanaman yang ditanam dalam pot batu dengan ukiran yang indah. Batari Mahadewi kembali takjub melihat hamparan buku yang tersusun rapi pada deretan rak yang ada di ruangan itu. Sudah lama sekali rasanya ia tak menyentuh buku.
__ADS_1
“Selamat datang. Sungguh suatu kehormatan bagiku hari ini aku kedatangan tamu dari dunia satu rembulan.” Kata guru Rapapa, sosok yang terlihat sangat tua, namun memiliki energi yang sangat besar yang mampu dirasakan oleh Nala dan Batari Mahadewi sekalipun kakek dengan kepala yang berbentuk telur burung puyuh keriput itu menyembunyikan energinya.
Batari mahadewi dan Nala cukup kaget karena kakek tua itu bisa dengan mudah mengetahui tempat asal mereka tanpa harus mendengarkan kedua pemuda-pemudi berilmu tinggi itu bercerita.
“Kakek bisa dengan mudah mengetahui asal usul kami bahkan sebelum kami bercerita. Tentu kakek juga bisa dengan mudah mengetahui maksud kedatangan kami, bukan?” tanya Batari Mahadewi.
“Ya, tentu saja. Tapi sebelumnya, dimana kalian jatuh ke dunia ini untuk pertama kalinya?” tanya guru Rapapu.
“Kalau tidak salah namanya pulau Iblis…atau entahlah, itu yang dikatakan salah satu tetua desa yang kami temui. Di sana kami tak hanya selalu bertemu dengan monster setiap saat, tapi juga seorang kakek tua yang kecil sekali. Kakek itu yang menyuruh kami untuk mengumpulkan energi sebanyak mungkin ke seluruh penjuru dunia ini hingga kami bisa membuka kembali gerbang langit untuk pulang ke dunia asal kami.” Kata Batari Mahadewi.
“Kakek itu adalah salah satu dewa utama di dunia ini. Bentuknya bisa berbeda-beda. Kalian beruntung bisa bertemu dengannya. Aku pernah sekali bertemu dewa itu kira-kira seribu tahun yang lalu. Meski dewa itu senang menyamarkan dirinya, namun apa yang ia katakan benar. Kalian berdua harus mengumpulkan energi sebanyak mungkin dari empat sumber utama yang menjadi pilar energi dunia ini.” Kata guru Rapapu.
“Lihat peta dunia ini.” Guru Rapapu menunjukkan sebuah peta besar yang ia gambar sendiri di sebuah lembaran papan di ruangannya. Peta itu menggambarkan semua pulau yang ada di dunia tiga rembulan. “Kalian datang pertama kali di pulau ini, lalu kalian ada di pulau ini.” Kata guru Rapapu sambil menunjukkan gambar di peta.
“Wah, guru bisa punya gambaran dunia tiga rembulan sampai seperti ini. Bagaimana guru membuatnya?” Tanya Nala.
“Dari langit. Kalianpun bisa membuatnya dengan kemampuan kalian saat ini. Nah, lihat baik-baik gambar itu. Kalian harus menuju ke empat pulau ini. Yang ini adalah pulau Api, ini pulau Es, ini pulau Halilintar, dan ini adalah pulau Emas. Ada empat kristal raksasa di sana. Kalian tak perlu mengambilnya, hanya menyerap energi semampu kalian. Setelah kalian memiliki keempat jenis energi itu, maka kalian bisa membuka pintu langit.” Kata guru Rapapu.
“Pulau-pulau itu sangat berjauhan antara satu dengan lainnya.” Kata batari Mahadewi.
__ADS_1
“Dan dihuni oleh bangsa yang kuat. Kalian tak akan semudah itu mendapatkannya, atau bahkan mendekatinya.” Kata guru Rapapu, “Tapi selama kalian berusaha, kalian pasti bisa. Kalian bukan orang sembarangan. Aku tahu, kalian kelak mungkin akan menjadi pengelana tujuh dunia. Mungkin!” kata Guru Rapapu.
“Saat ini kami hanya ingin kembali ke dunia kami, guru, ada hal penting yang harus kami jaga di sana.” Kata Batari Mahadewi.
“Gadis kecil, percayalah bahwa kau sampai ke sini bukan karena kebetulan saja, namun juga karena takdir. Jalan hidupmu. Jadi, nikmatilah setiap proses hidupmu, sesulit dan sesakit apapun itu. Kalian tak harus terburu-buru sampai di empat pulau yang kukatakan tadi. Kalian tetap harus berlatih dan meningkatkan kemampuan kalian agar bisa sampai dan menemukan keempat sumber energi yang kalian butuhkan itu. Jadi, jangan langsung ke sana. Berjalanlah selangkah demi selangkah. Alami saja apa yang kalian temukan sepanjang perjalanan ini.” Kata guru Rapapa.
“Terimakasih atas petunjuknya, guru.” Kata Nala.
“Sama-sama. Jika kalian mau, kalian boleh menginap di sini selama yang kalian mau.” Kata guru Rapapu.
“Dengan senang hati, kami mau, guru.” Kata Batari Mahadewi yang mengincar buku-buku guru Rapapu untuk ia baca. Gadis jelmaan pusaka dewa itu tak peduli jika Nala akan bosan berada di tempat itu.
####
Sampai di sini dulu ya teman-teman. Besok kita bertemu lagi di chapter-chapter yang baru. Semoga sejauh ini teman-teman belum bosan, atau apabila tema-teman bosan, maka teman-teman bisa menyampaikan kritik dan saran atau usulan di kolom komentar. Aku pasti membacanya dan membalasnya. Aku sangat senang berinteraksi dengan teman-teman semua melalui kolom komentar.
Oh iya, karena aku lumayan banyak menghabiskan waktu untuk menulis setelah menyelesaikan kewajibanku di dunia nyata, maka aku jarang sekali bisa mempromosikan karya ini ke mana-mana. Apabila teman-teman tak keberatan, dan hanya jika teman-teman merasa bahwa novel ini layak dibaca banyak orang, maka saya memohon bantuan teman-teman untuk mempromosikan karya ini, mungkin di kolom komentar karya lain yang teman-teman baca, mungkin di fesbuk, Ig, atau mungkin di group wasap teman-teman.
Baiklah teman-teman, terimakasih banyak ya sudah meluangkan waktunya membaca karya ini. Semoga teman-teman selalu dikaruniai kesehatan, keselamatan, rezeki, kedamaian, cinta, keberuntungan dan semua hal baik dari Tuhan. Amin.
__ADS_1