
Kedua pendekar muda itu bertukar salam, lalu memasang kuda-kuda, membaca gerak-gerik lawan dan bersiap untuk menyerang atau menghindari serangan. Ajiraga memulai serangan pertama. Ia meluncur dengan cepat dan mengarahkan beberapa kombinasi serangan menuju ke tubuh Pancala.
Pancala tak melakukan gerakan apapun. Ia tetap diam pada posisinya hingga serangan itu mendarat ditubuhnya. Ajiraga sangat terkejut karena yang ia pukul ternyata hanyalah bayangan Pancala. Ajiraga lebih terkejut lagi karena Pancala sudah berada di belakangnya, mengangkat tubuhnya ke atas dengan pusaran angin yang padat dan kuat.
Ajiraga tak tinggal diam, sewaktu ia terlempar ke udara, ia menciptakan selubung udara yang mengelilingi tubuhnya. Selubung itu mirip sebuah bola besar berwarna biru langit. Perlahan bola itu membesar dan meledak, menghasilkan sebuah hentakan keras yang mengarah ke Pancala. Bersamaan dengan ledakan itu, Ajiraga meluncur dengan kecepatan tinggi dan langsung menyerang Pancala yang baru saja menahan ledakan bola udara yang diciptakan Ajiraga.
Serangan balik Ajiraga membuat Pancala hanya bisa menangkis tanpa bisa melakukan serangan balik selama beberapa saat. Pancala kian terdesak hingga ke bibir arena. Tak ada pilihan lain, ia harus mengeluarkan jurus pamungkasnya meski masih dini. Jurus yang belum pernah digunakan oleh masyarakat Atas Awan.
Ajiraga dan semua orang di arena itu tak pernah menyangka, Pancala mengeluarkan pusaran angin melalui mulutnya. Pusaran angin itu melilit tubuh Ajiraga dan membantingnya kesekian kali hingga Ki Elang Langit menghentikan pertandingan tersebut.
“Cukup. Pemenangnya Pancala.” Kata Ki Elang Langit. Penonton melongo dengan jurus yang baru mereka ketahui tersebut meski sebenarnya sangat mungkin bagi mereka untuk melakukan jurus itu. Setidaknya, Pancala adalah orang pertama yang telah melakukannya.
Meski menang, tapi Pancala tak sepenuhnya puas. Ia ingin menggunakan jurus itu di babak final karena begitu orang lain melihat jurus tersebut, maka lawan Pancala selanjutnya sudah bisa membuat perhitungan-perhitungan serangan tertentu untuk menangkal jurus tersebut.
Jurus Pancala sebenarnya memiliki mekanisme yang sama dengan jurus nafas api Jalu. Hanya saja bentuknya berbeda. Apabila Jalu bisa menyemburkan api, maka Pancala menyemburkan pusaran angin.
__ADS_1
Pertandingan itu selesai dengan cepat. Ki Elang Langit kembali mengumumkan pertandingan penutup. “Sebelum saudara-saudariku membubarkan diri pada hari ini, sebagai penutup, maka kita semua akan menyaksikan kembali pertandingan persahabatan antara nona Niken Sekar Purnama, sang pendekar Tapak Es dari padepokan Cemara Seribu melawan Nyi Bestari, pendekar Pedang Angin dari perguruan Langit Timur.”
Penonton kembali mendapatkan kejutan. Nyi Bestari sudah lama tak menampakkan diri di desa Atas Awan. Konon ia sedang melakukan semedi di suatu tempat untuk menyempurnakan ilmunya. Kini ia tiba-tiba hadir tanpa diketahui oleh siapapun kecuali Ki Elang Langit yang menyambutnya sebelum matahari terbit di hari itu.
Nyi Bestari belum terlalu tua. Usianya baru menginjak 40 tahun namun wajahnya masih tampak seperti gadis berumur 17 tahun. Hanya saja, rambutnya telah sepenuhnya seputih salju. Ia tak pernah menikah dengan siapapun dan menghabiskan hidupnya untuk sepenuhnya menjalani jalan pedekar. Sejak usianya 20 tahun, ia lebih sering berkelana seorang diri untuk menantang para pendekar dari golongan hitam. Ia memang jarang terlihat dan oleh karenanya, sangat sedikit pendekar muda desa Atas Awan mengenal sosoknya.
Niken dan Nyi Bestari melangkah masuk ke dalam arena. Keduanya berucap salam, memperkenalkan diri, lalu mulai memasang kuda-kuda. Udara di sekitar arena perlahan mulai terasa dingin. Butiran es berukuran kecil melayang-layang mengelilingi tubuh Niken. Beberapa penonton yang menyadari hal itu lebih memilih menyingkir dan melihat pertandingan itu dari jarak jauh.
Perubahan besar dari peningkatan kemampuan Niken adalah bola matanya yang berubah warna menjadi biru ketika ia memancarkan energinya. Butiran es yang ia ciptakan juga menjadi lebih keras. Niken tak menciptakan bentuk-bentuk es yang memiliki sisi runcing dan tajam mengingat pertandingan itu merupakan pertandingan persahabatan.
Kedua tangan Nyi Bestari memancarkan cahaya biru, kemudian cahaya itu semakin memanjang dan membentuk sebuah pedang energi yang terbuat dari udara padat tanpa celah dan terbungkus oleh tenaga dalam berkekuatan tinggi.
Melihat pedang energi bercahaya biru di kedua tangan Nyi Bestari, Niken juga menciptakan dua buah pedang es di tangan kanan dan kirinya. Kedua pedang e situ memancarkan cahaya yang sama dengan pedang Nyi Bestari. Niken dan Nyi Bestari menyerang bersamaan. Keduanya memainkan pedang seperti tarian yang indah, menyerang, menghindar, menahan, dan memercikkan energi kuat tiap kali kedua jenis pedang yang berbeda unsur itu saling beradu.
Keduanya meningkatkan kecepatan sehingga yang terlihat oleh kasat mata adalah percikan-percikan cahaya biru yang mengelilingi kedua pendekar yang sedang bertarung itu. Nyi Bestari memancing Niken untuk beradu di udara. Kecepatan Nyi Bestari ketika bertarung di udara jelas bukanlah tandingan Niken. Sejenak Niken tampak kewalahan sebelum akhirnya ia menghentikan rangkaian serangan berkecepatan tinggi itu dengan kibasan bola-bola es.
__ADS_1
Nyi Bestari mundur untuk menghindari serangan bola-bola e situ, ia lalu menciptakan pusaran angin untuk menangkis serangan itu dan menghancurkan tiap-tiap bongkahan bola-bola es yang diciptakan es hingga menjadi debu. Niken menghentikan serangannya. Ia sadar yang ia lakukan sia-sia saja.
Nyi Bestari tersenyum menangkap wajah lawannya yang tampak bingung menentukan langkah, maka ia menciptakan enam buah pilar pusaran angin yang mengepung Niken.
Niken tahu ia kalah telak dengan perempuan anggun yang menjadi lawannya itu. Namun ia tak mau menyerah begitu saja. Ia ingin menunjukkan sekaligus menguji batas kekuatan yang ia miliki. Niken mengerahkan lebih banyak energi dingin dan mengubah pilar-pilar pusaran angin itu menjadi es. Kepungan pilar angin itu berhenti bergerak lalu ambruk dan hancur berkeping-keping menjadi bongkahan-bongkahan es berukuran kecil.
Penonton sangat takjub. Belum pernah ia melihat seseorang bisa mengubah pusaran udara menjadi es seperti yang dilakukan oleh Niken. Nyi Bestari pun tak kalah terkejut. Ia tak menyangka bahwa nona muda dihadapannya itu bisa dengan mudah menghentikan pusaran angin yang ia ciptakan.
Namun yang dilakukan oleh Niken bukan tanpa konsekuensi. Tenaganya terkuras habis. Ia hanya memiliki satu kesempatan saja untuk menggunakan kekuatan terakhhirnya dengan mengangkat pecahan es yang berserakan itu lalu mengarahkan ke arah Nyi Bestari. Namun hal itu tak ia lakukan. Ia lebih memilih untuk menyerah.
“Aku menyerah bibi Bestari. Tenagaku sudah habis…rasanya tak mungkin aku melanjutkan pertandingan ini.” Kata Niken. Meskipun kalah, namun di mata penonton, Niken merupakan seorang pendekar es muda yang memiliki kekuatan mengerikan. Penonton bertepuk tangan atas pertandingan yang indah itu yang sekaligus menjadi pertandingan penutup pada acara hari itu.
####
Dua episode dulu ya teman2...next episode pasti adalah pertandingan Ki Elang Langit dengan Batari Mahadewi...
__ADS_1
sampai sejauh ini, saya ucapkan banyak terimakasih buat teman2 yang rela meluangkan waktunya untuk membaca. Terimakasih juga untuk yang telah berbagi like, komentar, vote, tip dan segala apresiasinya 🙏🙏🙏🙏