Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 92 Hutan Beringin Merah


__ADS_3

Nala dan Vidyana melanjutkan perjalanan mereka melewati hutan Beringin Merah, salah satu hutan angker di wilayah Swargadwipa. Semua pohon yang ada di hutan itu adalah pohon beringin yang berwarna merah mulai dari ujung daun sampai ujung akarnya.


Hutan beringin itu terlihat unik, saling terhubung antar satu pohon dengan pohon lainnya. Konon, dahulu kala hanya ada sebuah pohon beringin yang tumbuh di tanah itu. ratusan tahun kemudian, pohon itu semakin tumbuh besar. akar-akar yang keluar dari dahan-dahannya berubah menjadi batang pohon yang mengeluarkan ranting, dan rantinya mengeluarkan akar, dan seterusnya sehingga pohon itu semakin membesar, meluas, memenuhi wilayah itu.


Warna merah yang ada di pohon itu, konon berasal dari darah seorang gadis yang begitu mencintai dan menyayangi pohon itu. suatu hari, para penebang pohon hendak menebang pohon beringin itu. Gadis itu menghalangi mereka. Namun apa daya, para penebang pohon yang marah itu menebas nyawa gadis itu dengan kapak besarnya. Mayat gadis itu tergeletak di bawah pohon beringin yang ia cintai. Darah segar mengalir membasahi akar pohon itu.


Seketika juga, pohon beringin itu berubah warna menjadi merah. Akar-akarnya yang menjuntai dari ranting tiba-tiba bergerak sendiri, membungkus gadis yang mencintainya dan membelanya dengan nyawanya hingga tubuh gadis itu tak terlihat lagi. Pohon itu terus tumbuh dengan cepat dan lebat. Para penebang pohon bergidik melihat peristiwa itu. Mereka kehilangan nyali untuk menebang pohon beringin yang telah berubah warna dan bentuknya itu. Keesokan harinya, para penebang pohon itu dikabarkan mati di kamarnya sendiri tanpa sebab.


Pohon beringin itu menjadi pohon yang angker dan menjelma menjadi hutan yang tak ada seorangpun mau mendekatinya. Nala dan Vidyana tak melihat hutan beringin merah tu sebagai sesuatu yang menakutkan. Keduanya justru malah senang dan terheran-heran menyaksikan hutan yang serba merah itu, lalu mereka berdua memutuskan untuk masuk ke dalamnya. Alasan lainnya, kedua pendekar dari pulau Neraka itu merasakan pancaran energi dari suatu benda yang tak bisa mereka peroleh lagi di pulau Neraka.


Nala adalah satu-satunya saudara Vidyana. Bagi gadis pendekar itu, Nala adalah alasannya untuk bertahan hidup. Ia akan mengorbankan apapun demi kehidupan adiknya itu sampai adik kesayangannya itu bisa benar-benar mandiri di dunia persilatan.


Vidyana tahu, ada sesuatu yang membuat energi Nala tak sepenuhnya keluar sehingga lelaki kecil itu belum bisa menggunakan seluruh kemampuannya yang luar biasa. Ia harus mengumpulkan lebih dari seratus jenis mustika alam untuk ditanam dalam tubuh adiknya itu. Baik mustika alam ataupun mustika siluman di pulau Neraka sudah semakin langka sebab setiap orang di sana adalah pedekar, dan setiap pendekar akan selalu membutuhkan berbagai mustika ghaib itu untuk meningkatkan kesaktian mereka.


Hal itu menjadi salah satu alasan bagi para pendekar pulau Neraka yang mau bergabung dengan Harimau Merah, yang salah satu imbalannya adalah mustika alam dan mustika siluman yang masih melimpah di negri Swargadwipa.


Di balik rimbunnya hutan beringin merah itu, setidaknya Vidyana dan Nala bisa mendapatkan 30 jenis mustika alam. Mereka hanya bisa mencoba dan berusaha, meski tak sepenuhnya yakin Nala akan mendapatkan kekuatan penuhnya jika di tubuh Nala telah tertanam lebih dari 100 jenis mustika alam.

__ADS_1


Sayangnya, keduanya belum menyadari bahwa ada dua pendekar aliran hitam yang terlebih dahulu sampai di sana. Keduanya adalah pendekar Sungai Jingga dan Sungai Hitam yang sebelumnya hampir saja membunuh Niken. Kedua pendekar itu masih dendam kepada Niken yang telah membunuh saudari seperguruan mereka, yakni pendekar Sungai Darah. Mereka terus mengejar Niken, namun kehilangan jejaknya dan sampailah mereka menemukan hutan yang penuh harta karun itu.


Pendekar Sungai Jingga dan Sungai Hitam menangkap kedatangan Vidyana dan Nala. Mereka berkelebat untuk menemui dua pendekar dari pulau Neraka itu.


“Jika kalian datang untuk mengumpulkan mustika alam, maka kami tak akan segan membunuh kalian.” Kata pendekar Sungai Hitam. Vidyana sungguh tak peduli dengan ancaman itu, ia pun tak peduli jika harus membunuh sesame pendekar aliran hitam. Di pulau Neraka, semua pendekar adalah pendekar aliran hitam, sehingga membunuh pendekar aliran hitam merupakan hal yang lumrah dalam sebuah pertarungan mempertahankan kehormatan.


“Jika kalian tak menyingkir dari hutan ini, maka kalian akan menyesal.” Balas Vidyana.


“Baiklah, mungkin memang kita harus bertarung.” Kata pendekar Sungai Hitam. Tanpa menunggu lama, pendekar Sungai Jingga dan Sungai Hitam memancarkan energinya, begitu pula dengan Nala dan Vidyana.


Dua pendekar sungai itu berubah bentuk menjadi naga yang melesat dengan cepat menyambar Vidyana dan Nala. Dengan cepat pula kakak beradik dari pulau Neraka itu menghindar. Vidyana kembali menghilang dari pandangan. Sebagai gantinya, muncullah lima sosok monster dari ranting-ranting dan bebatuan hutan yang mengepung pendekar Sungai Hitam.


Pertarungan berlangsung sengit. Aroma racun memenuhi udara setiap kali kedua kubu itu saling menyerang, menghindar, dan menghujamkan pukulan-pukulan tenaga dalam yang memiliki daya hancur mengerikan.


Pendekar Sungai Jingga mulai kehabisan akal sebab ia belum menemukan cara menembus pertahanan yang dibuat oleh pendekar kecil yang menjadi lawannya itu. Ia benar-benar merasa salah memilih lawan. Ia tak menyangka bahwa lelaki kecil yang ia remehkan itu jauh mengungguli kemampuannya.


Selagi pendekar Sungai Jingga kembali lagi ke wujud aslinya, diam-diam Nala menggerakkan tanah yang diinjak oleh pendekar Sungai Jingga itu. Tanah itu mula-mula mencengkram kaki pendekar Sungai Jingga, namun dengan cepat pula tanah itu mulai merambat dan menyelubungi seluruh tubuh pendekar setengah siluman itu.  Meskipun pendekar Sungai Jingga telah meronta sekuat tenaga namun ia tak bisa melepaskan diri dari cengkraman selubung tanah yang dikendalikan oleh Nala itu.

__ADS_1


 


 


Sampai di sini dulu ya teman-teman updatenya untuk hari ini. Udah kram otak dan buntu. Oh iya, tak lupa saya mau dan selalu mau bilang terimakasih banyak karena sudah membaca PBM hingga sejauh ini. Terimakasih banyak atas segala bentuk dukungan, doa, dan apresiasi yang diberikan kepada saya. Semoga teman-teman selalu sehat dan terhindar dari segala rintangan dan bahaya. Semoga berkah tuhan selalu menyertai kita semua. Amin. Sampai jumpa besok lagi.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2