
Malam di danau rembulan Merah diisi dengan suara ledakan, dentuman, teriakan, pekikan, jeritan, rintihan, dan diwarnai dengan darah dan kematian. Beberapa pendekar berilmu tinggi sesekali bertarung di atas permukaan danau, menciptakan gelombang yang menyapu daratan karena hentakan tenaga dalam yang saling beradu.
Kedatangan pendekar Wajah Hantu dan pendekar Tengkorak di hadapan Niken dan Pradipa jelas bukan hal yang menguntungkan. Kedua pendekar berilmu tinggi itu tak hanya ahli dalam hal racun, namun juga ilusi.
Dalam pertarungan itu, Niken berhadapan dengan pendekar Wajah Hantu, sementara Pradipa menghadapi pendekar Tengkorak. Keempat pendekar itu mula-mula bertarung di satu tempat, namun pada akhirnya Niken dan Pradipa terpisah jauh.
Niken enggan menggunakan jurus Nyanyian Pengantar Mimpi jika tak dalam keadaan terdesak. Dalam pertarungan seperti itu, ia harus pandai-pandai menghemat energinya. Jika tidak, ia bisa saja membunuh beberapa lawannya dengan jurus yang diajarkan oleh Pendekar Syair Kematian itu, namun setelahnya, para pendekar hitam lainnya yang berjumlah ratusan orang itu bisa dengan mudah membunuhnya.
Ketika menghadapi pendekar Wajah Hantu pun, ia hanya menggunakan jurus-jurus es miliknya. Beberapa kali Niken melontarkan serangan, namun pendekar yang memiliki wajah yang sama persis dengan hantu itu hanya mengelak dan belum melakukan serangan balasan.
Semakin pendekar Wajah Hantu itu menghindar, maka semakin gencar Niken melakukan serangan. Dengan demikian, pendekar Wajah Hantu berhasil menguras energi Niken secara perlahan dan tanpa disadari. Itulah kehebatan pendekar Wajah Hantu. Meski ia pendekar hitam, namun ia sangat sabar dalam pertarungan.
Wajahnya yang seperti hantu itu ia dapatkan di hutan Istana Hantu ketika ia mencari kesaktian di sana dengan cara menyerap roh gentayangan sebagai sumber energi. Kesaktiannya sepadan dengan pengorbanannya. Ia kehilangan wajahnya yang rupawan, namun mendapatkan kesaktian yang sulit dikalahkan.
Niken sedikit jengkel karena serangannya selalu luput dan menembus udara, lalu menyapu pepohonan. Seolah-olah tubuh pendekar Wajah Hantu itu bisa melebur dalam udara dan dengan luwes menghindari hujan es serangan Niken. Bahkan, sampai sejauh itu, pendekar Wajah Hantu tak menggunakan tameng energi untuk melindungi tubuhnya. Pancaran energi yang ia keluarkan juga tidaklah besar, seolah ia tak sedang dalam pertarungan.
“Jangan buru-buru, nona cantik, hahaha.” Pendekar Wajah Hantu memancing amarah Niken.
__ADS_1
“Jangan banyak bicara, terimalah ini.” Sekali lagi Niken menghujani pendekar Wajah Hantu dengan butiran es yang tajam. Sayangnya, butiran es itu hanya bisa melubangi pepohonan, tanpa sedikitpun mengenai tubuh pendekar Wajah Hantu.
Sementara itu, Pradipa berusaha keras untuk mengalahkan pendekar tengkorak yang seolah-olah tak bisa mati meski berkali-kali dibabat habis dengan pusaka Bintang Timur milik Pradipa. Pendekar Tengkorak itu tak memiliki kesaktian yang terlalu tinggi, hanya saja ia memiliki satu ajian yang membuatnya tak bisa dibunuh oleh manusia. Tiap kali tubuhnya terpotong, maka potongan tubuh itu akan kembali lagi ke asalnya.
“Hahahaha, sekeras apapun kau mencoba, kau tak akan bisa membunuhku, anak muda.” Kata pendekar Tengkorak mengejek.
“Aku masih belum menyerah. Coba terima ini. Jurus pedang bintang menebas malam.” Pradipa sekali lagi mengayunkan pusakanya yang telah ia aliri dengan tenaga dalam. Tebasan itu tak hanya menghancurkan tubuh pendekar Tengkorak, namun juga merobohkan siapapun yang berada di belakang pendekar Tengkorak.
Baik pendekar Tengkorak maupun pendekar Wajah Hantu memiliki strategi yang mirip, yakni membuat lawan-lawannya kehabisan energi. Bedanya pendekar tengkorak sangat agresif dalam melakukan serangan. Seandainya bukan Pradipa yang ia serang, melainkan pendekar yang belum tinggi ilmunya, maka pendekar tengkorak masih di atas angin.
Meski pendekar Tengkorak menyerang Pradipa habis-habisan, namun pemuda tampan itu selalu bisa membalas serangan itu sepuluh kali lebih hebat. Sayangnya, tiap kali Pradipa menghancurkan tubuh lawannya itu, dalam waktu singkat tubuh lawannya itu kembali seperti semula. Pradipa sedikit putus asa dengan situasi yang ia hadapi saat itu. Jika Niken tak berada di sana, Pradipa akan memilih untuk meninggalkan pertarungan itu.
Pendekar Wajah Hantu mulai memberikan serangan balasan. Tubuhnya mengabur seperti transparan dalam udara. Di malam yang remang-remang, di bawah naungan cahaya purnama, Niken sangat kesulitan untuk melihatnya. Niken hanya bisa mengandalkan inderanya untuk menangkap pancaran energi tipis pendekar Wajah Hantu yang memang sengaja selalu menyembunyikan energinya meski dalam pertarungan sekalipun.
Tubuh Wajah Hantu yang membaur bersama udara seolah tampak dimana-mana, bergerak dengan kecepatan tinggi. Ketika Niken lengah, ia menyerang Niken dengan serentetan serangan yang tak bisa dihindari. Niken terpental dan muntah darah. Racun menyusup dalam tubuhnya. Niken menahan racun itu dengan tenaga dalamnya agar racun itu tak segera menyusuk ke dalam jantungnya melalui peredaran darahnya.
“Sebaiknya kau menyerah saja nona cantik. Kuakui kau sangat kuat. Namun, kau tak banyak memiliki pengalaman bertarung. Kita selesaikan saja sekarang.” Pendekar Wajah Hantu meluncur ke arah Niken dengan kecepatan tinggi. Pendekar berwajah mengerikan itu tak menyadari, dari belakangnya telah menyusul kilatan cambuk api yang dengan keras menghantam tubuhnya.
__ADS_1
Jalu datang tepat waktu. Pendekar Wajah Hantu terpental jauh dan sebagian tubuhnya mengalami luka bakar. “Kurang ajar, kau menyerangku dengan cara licik.” Kata pendekar Wajah Hantu. Ia terbatuk beberapa kali dan muntah darah. Cambuk api Jalu telah mengalami peningkatan jauh lebih baik dari sebelumnya.
Jantung Niken berdegub keras. Ia tak percaya dengan apa yang ia lihat. Lelaki gagah yang selalu hadir dalam mimpinya, dalam tiap helaan nafasnya, kini datang menyelamatkannya. “Kak Jalu…” Niken berteriak bahagia, jika ia tak terluka dengan racun di tubuhnya, maka ia ingin memeluk lelaki yang kini tengah berdiri dengan kobaran api di kepalanya. Sungguh tak lazim dan semestinya mengerikan. Namun cinta memang sungguh-sungguh buta, bagi Niken, kobaran api itu adalah rindu yang yang selalu ia tunggu.
“Kau bertahanlah di situ, adik. Biar aku yang menyelesaikan nasib pendekar berwajah jelek itu.” Kata Jalu yang tak menyadari bahwa wajahnya yang mengobarkan api itu tak lebih tampan dari pendekar Wajah Hantu.
Batari Mahadewi datang setelah Jalu kembali menyerang pendekar Wajah Hantu. Ia heran, dalam situasi yang mendesak seperti itu, kakak seperguruannya bisa terbang lebih cepat dari dirinya.
Batari Mahadewi segera menemui Niken, lalu menyerap semua racun dalam tubuhnya, dan mengembalikan energinya secara penuh.
“Adik, sepertinya kau tumbuh lebih cepat sejak aku tak bersamamu. Dan kau telah menyempurnakan kemampuanmu untuk memulihkan energiku.” Kata Niken.
“Panjang ceritanya kak Niken. Tapi aku harus segera menghadapi para pendekar aliran hitam sebelum mereka merenggut nyawa pendekar aliran putih lebih banyak lagi.” Kata batari Mahadewi. Ia kemudian melesat dengan kecepatan tinggi dan melumpuhkan tiap-tiap pendekar aliran hitam yang ia lalui hanya dengan sekali pukulan.
Niken tak lekas kembali dalam pertarungan. Ia hanya ingin memandang pujaan hatinya bertarung dengan cara yang baru saja ia lihat malam itu. Cahaya api yang memancar dari tubuh Jalu membuat ilusi yang diciptakan oleh pendekar Wajah Hantu sama sekali tak berfungsi. Jalu mengakhiri nyawa pendekar Wajah Hantu dengan jurus barunya, Jurus Lidah Matahari Menyapu Angkasa.
Jurus itu tak hanya membuat pendekar Wajah Hantu terpental jauh, namun juga hangus terbakar. Kini pendekar itu benar-benar menjadi hantu, yang tak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali menjadi salah satu penunggu danau Rembulan Merah untuk menakut-nakuti siapa saja yang mendekat di danau itu di kemudian hari.
__ADS_1