
Kerongkongan Jalu mendadak terasa kering. Jika putri berkehendak agar ia memanggilnya dengan sebutan nimas, artinya ia telah menganggap dirinya sebagai sesuatu yang lebih dari sekedar teman masa kecil.
“Kenapa kangmas diam saja? tanya putri Kumala.
“Hamba tidak tahu harus berkata apa, tuan putri.” Jawab Jalu.
“Eehh…baru saja kukatakan tadi, jangan panggi aku tuan putri. Bukankah kedua ayah dan ibu kangmas sudah bercerita tentang rencana masa depan kita?” tanya putri Kumala.
Keringat dingin menetes dari dahi Jalu. Sendainya dalam hatinya tidak ada Niken, maka hal ini bukanlah sesuatu yang sulit. Ia tak berkutik dan hanya bisa menjawab seadanya.
“Sudah, ni…nimas…” jawab Jalu.
“Bagaimana menurut kangmas tentang rencana itu?” tanya putri Kumala.
“Sejujurnya saya sangat kaget, tuan putr…ee…nimas…selama dalam masa belajar saya menjadi pendekar, saya memang tidak pernah memikirkan tentang hal-hal seperti ini.” Kata Jalu.
“Apakah kangmas menyukai rencana ini?” tanya putri Kumala.
“Nimas…sebelumnya, mohon izinkan saya untuk bercerita tentang apa saja yang saya alami sebelum saya kembali ke istana.” Pinta Jalu.
“Silahkan kangmas bercerita.” Kata putri Kumala.
“Selama hampir 9 tahun saya belajar di padepokan Cemara Seribu. Di sana tak banyak muridnya, hanya 6 orang saja. Sebelum ada adik ke enam, kakak pertama, kedua dan ketiga lebih sering diutus guru untuk bepergian. Sementara, di padepokan hanya ada guru, saya, dan satu murid lagi, Niken namanya. Gadis itu adalah pendekar Tapak Es. Kami berdua sering berlatih, dan bisa dikatakan setiap hari selalu bersama.” Jalu diam sejenak, menunggu reaksi putri Kumala.
“Lanjutkan, kangmas. Aku ingin mendengar semua kisahmu.” Kata Putri Kumala.
__ADS_1
“Sebelum saya datang ke istana, sebetulnya saya dan Niken telah mengucap janji akan menjadi pasangan sehidup semati. Kami memang belum menyampaikan hal ini kepada orang tua saya karena ayah dan ibu saya lebih dahulu menyampaikan rencana perjodohan ini, nimas.” Kata Jalu sambil menunduk. “Mohon maaf, nimas putri, saya sedang bingung saat ini.”
“Aku mengerti kakang. Kurasa akulah yang salah, karena aku yang sebenarnya meminta ayahanda raja untuk merencanakan perjodohan ini. Maafkan aku, kakakang Jalu. Aku akan mencoba membicarakan ini kembali dengan ayahku.” Kata putri Kumala sambil tersenyum.
Jalu tak menyangka hal ini menjadi tak terlalu rumit. Hanya perlu berterus terang dan berbicara jujur.
“Jadi…tuan putri tidak apa-apa?” tanya Jalu.
“Tidak apa-apa kakang Jalu. Meski demikian, jangan panggil aku tuan putri. Sebelum kakang berangkat ke padepokan, kita selalu bersama-sama. Aku selalu menunggu kakang dan berdoa untuk kakang. Aku menolak beberapa lamaran pangeran negri sebelah karena menunggu kakang. Hanya saja aku terlalu berharap dan terlalu lancang. Jadi akulah yang salah, kakang. Jangan khawatir, aku akan menyelesaikan hal ini.” Kata putri Kumala masih dengan senyumnya yang sangat menawan. Hanya saja, butir-butir air matanya menetes perlahan. Dan ia mengusapnya dengan tergesa-gesa.
“Nimas jangan menangis…hamba sungguh minta maaf atas ketidaktahuan ini.” Kata Jalu. Ia paling tidak bisa melihat perempuan menangis.
“Aku tidak apa-apa kakang. Percayalah, aku akan selalu berdoa yang terbaik bagi kakang. Kapan-kapan, ajaklah Niken kemari. Aku ingin mengenal gadis yang paling beruntung itu.” Putri Kumala menampakkan lagi wajahnya yang ceria. Tak sulit baginya untuk menyembunyikan kekecewaan dan harapan yang telah patah, hatinya yang terbelah.
Malam hari, di dunia tiga rembulan, Batari Mahadewi dan Nala sedang menghadapi masalah pelik. Keduanya sedang dikejar oleh beberapa ekor kelelawar raksasa. Kelelawar itu memiliki kepala besar bermoncong panjang dan bertaring banyak seperti kepala buaya, sepasang sayap yang lebar seperti atap rumah, dan bulu-bulu kasar ditubuhnya yang seperti jutaan jarum.
Kedua bocah itu kesulitan lantaran binatang itu sudah pasti bisa mengejar keduanya ketika mereka terbang, dan bisa melacaknya di daratan jika mereka bersembunyi di balik pepohonan. Batari Mahadewi dan Nala merasa ilmunya menjadi seolah tak terlalu berguna menghadapi makhluk-makhluk penghuni dunia tiga rembulan.
“Bagaimana ini, Nala?” tanya Batari Mahadewi. Kedua anak itu masih melesat cepat sambil diikuti oleh beberapa kelelawar raksasa yang kelaparan.
“Jika hanya seekor atau dua ekor, kita bisa dengan mudah melawannya, tapi dalam jumlah yang agak banyak itu, aku kehilangan ide.”
“Jika aku berhasil membuat kelelawar-kelelawar itu tak bergerak untuk sementar waktu, bisakah kau bergerak cepat membunuh mereka semua?” tanya Batari Mahadewi.
__ADS_1
“Akan aku usahakan. Cobalah dulu.” Jawab Nala.
Batari Mahadewi menggunakan segenap tenaganya untuk memadatkan udara, dan membuat kelelawar-kelelawar itu tak bisa bergerak. Batari Mahadewi harus berusaha keras sebab kelelawar-kelelawar itu memiliki energi yang sangat besar, yang bisa bertahan dan meloloskan diri jika Batari Mahadewi tak kuat lagi menahannya terlalu lama.
Dengan segera, Nala melesat dan menghujamkan pukulan energinya hingga batas maksimal yang bisa ia keluarkan. Ia telah menjatuhkan sebilan ekor kelelawar raksasa, dan hanya tersisa dua ekor. Keduanya terlepas dari jeratan energi Batari Mahadewi karena energi gadis kecil itu terkuras habis. Ia ambruk dan pingsan. Nala segera meluncur menolongnya, namun dua ekor kelelawar raksasa yang tersisa itu mengejarnya.
Tenaga Nala pun hampir habis ketika ia menggunakanya untuk menumbangkan beberapa ekor kelelawar dengan tenaga maksimal sebab binatang itu tak mempan jika dipukul dengan pukulan besar biasa.
Ketika Nala telah mendarat di tanah, ia menggunakan sisa-sisa tenaganya untuk menjebak dua kelelawar itu dengan tanah yang ia kendalikan. Nala menciptakan ratusan tombak dari tanah yang ia kerahkan ke arah dua kelelawar dua kelelawar yang sedang menuju ke arahnya itu.
Ratusan tombak yang terbuat dari tanah dan berbalutkan energi Nala itu mengenai sasaran. Meski tak bisa menembus tubuh kelelawar itu, namun kedua mata dari masing-masing kelelawar itu tertembus tombak. Keduanya memekik kesakitan dan terbang menjauh. Nala dan Batari Mahadewi lolos dari bahaya.
Dengan segera, Nala mendekati gadis kecil yang kedua tangannya itu memancarkan cahaya keemasan. Nala terkesima. Tubuh Batari Mahadewi terlindungi oleh selubung cahaya keemasan. Hal itu membuat nala mengurungkan niatnya untuk mendekat. Ia tak mau energinya terhisap oleh tubuh Batari Mahadewi.
Nala duduk bersila tak jauh dari tubuh Batari mahadewi yang masih tak sadarkan diri dalam selubung cahaya keemasan. Nala mencoba untuk memulihkan energinya, menyerap energi alam secepat yang ia bisa, karena ia harus selalu siaga sebab sewaktu-waktu makhluk aneh lainnya bisa saja datang menyerang.
Dugaannya benar, belum selesai ia menuntaskan istirahatnya, seekor cacing aneh menyerangnya. Cacing itu berukuran sebesar pohon kelapa dengan kepala yang berbentuk ikan laut dan mulut lebar yang memamerkan taring-taring tajam. Cacing itu tiba-tiba saja muncul dari dalam tanah, tepat di bawah Nala. kontan saja lelaki kecil itu melompat ke udara tepat sebelum cacik itu mencabik pantatnya.
‘Hahh…sampai kapan semua ini berakhir…’ Batin Nala mengeluh sebab seolah ia dan Batari Mahadewi tak henti-henti bertarung dengan makhluk-makhluk aneh dan buas yang ada di sana.
Ketika Nala di udara, cacing monster itu terpancing dengan cahaya keemasan yang memancar dari tubuh Batari Mahadewi. Nala menyadarinya, namun terlambat, cacing itu melompat cepat ke arah Batari Mahadewi sembil membuka mulutnya yang mengerikan itu, siap untuk menelan tubuh yang dibalut cahaya keemasan dalam gelap malam itu.
__ADS_1