Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 264 Pertunjukan Kecil Di Kedai


__ADS_3

Batari Mahadewi mencari tempat duduk yang paling sepi di kedai itu. Ia juga meletakkan barang bawaanya di lantai, tepat di samping kakinya. Tentu saja, ia tak akan merasa lega jika makan sambil membawa lima buah senjata pusaka di punggungnya. Meski tak berukuran besar, namun kelima pusaka itu bukan barang yang ringan.


Di kedai itu, setidaknya ada beberapa pendekar yang memiliki kemampuan lumayan. Mereka bisa mengetahui bahwa barang-barang yang dibawa oleh Batari Mahadewi adalah pusaka sakti. Hal itu membuat mereka curiga, mana mungkin ada seorang pendekar perempuan muda dan cantik yang memiliki beberapa pusaka sakti, apakah gadis itu adalah pencuri? Begitulah yang ada dalam benak beberapa orang yang ada di sana.


Batari Mahadewi tahu, bawaannya menjadi perhatian beberapa orang. Tapi gadis itu tetap tenang dan santai. Lagipula, toh senjata itu akan dibagikan ke beberapa orang yang ia pilih. Senjata itu juga akan dengan sendirinya menolak siapapun yang tak memiliki kemampuan untuk menggunakannya.


Guru Udhata mengajarkan soal merancang kekuatan senjata pusaka. Kelima senjata itu masing-masing dilengkapi dengan mustika siluman dan kristal api dan dibuat sedemikian rupa sehingga jiwa dalam pedang itu bisa menolak pendekar yang tak layak untuk menggunakannya. Bagaimanapun juga, senjata itu tidak boleh digunakan oleh orang yang salah.


Seorang lelaki muda berbadan tinggi dan ramping, serta memiliki paras cukup rupawan dengan pakaian elok yang menandakan bahwa ia merupakan seseorang dari keluarga bangsawan datang dengan sopan ke meja Batari Mahadewi. Orang itu memiliki kemampuan yang lumayan. Ia memiliki beberapa anak buah di kedai itu, dua diantaranya adalah petarung yang juga lumayan.


“Nona, maaf mengganggu, tapi bisakah kita berbicara sebentar,” tanya orang itu.


“Tentu, silahkan tuan muda,” jawab Batari Mahadewi.


“Bisakah saya duduk di sini?” tanya orang itu. Ia mulai menebar pesona. Tapi tujuan utamanya adalah untuk menanyakan soal senjata yang dibawa oleh Batari Mahadewi.


“Silahkan, tuan,” kata Batari Mahadewi.


“Sekali lagi maaf, nona, bukan maksud saya mencampuri urusan nona. Saya lihat nona sendirian saja dan membawa barang berharga, apakah nona tidak takut hal itu akan mengundang kedatangan orang jahat?” tanya orang itu. Oh, rupanya ia datang untuk menawarkan sesuatu.


“Di dalam kain putih itu terdapat lima senjata pusaka. Kebetulan saya sering bepergian sendirian saja jadi sudah terbiasa dengan bahaya yang mungkin saja menunggu saya di depan sana,” jawab Batari Mahadewi. Ia jujur, tapi tak sepenuhnya terbuka. Sesekali membuat orang penasaran itu terasa menyenangkan. Terlebih, jika orang itu adalah seorang pemuda yang tampaknya tertarik dengan penampilannya. Tak sulit untuk menebak gelagat lelaki semacam itu.


“Untuk apa nona membawa senjata sebanyak itu? Kami tak keberatan jika nona membutuhkan bantuan pengawalan selama perjalanan.” Orang itu mulai menunjukkan niatnya.


“Senjata pusaka itu nantinya akan kuberikan kepada orang-orang tertentu secara cuma-cuma. Kalaupun ada perampok yang memintanya, bisa kuberikan jika mereka bisa mengunakan senjata pusaka itu. Jadi, saya belum membutuhkan bantuan pengawalan dari tuan,” jawab Batari Mahadewi. Sungguh jawaban yang membuat mati gaya lawan bicaranya.


“Hahaha, nona suka bercanda ternyata. Mana mungkin senjata pusaka diberikan dengan percuma. Saya bisa membelinya jika nona berniat untuk menjualnya. Dari mana nona mendapatkan pusaka-pusaka itu?” orang itu mulai menyelidik.


“Saya tidak menjual ini, dan akan memberikannya kepada siapapun yang layak memilikinya. Saya membawa pusaka ini dari perguruan Tongkat Langit.” Jawab Batari Mahadewi.


“Perguruan Tongkat Langit di Siwandacara?” tanya orang itu. Sebagian besar pendekar Siwarkatantra pasti tidak asing dengan nama perguruan legendaris itu.

__ADS_1


“Benar sekali,” jawab Batari Mahadewi enteng. Ia yakin, lelaki di depannya itu mulai minder. Memang benar, tetapi lelaki itu tampaknya sulit untuk mempercayai kata-kata lawan bicaranya iti. Di matanya, gadis jelmaan pusaka dewa itu terlalu cantik untuk menjadi pendekar. Ah, sayang sekali, lelaki itu kurang jalan-jalan sehingga tak tahu bahwa di dunia persilatan banyak sekali pendekar cantik yang lebih mengerikan dari pembunuh berdarah dingin.


Pesanan makanan Batari Mahadewi telah datang. Meja kecil di depannya itu penuh dengan makanan.


“Tuan, bolehkah saya makan dahulu?” tanya Batari Mahadewi.


“Tentu nona, saya akan ke meja saya kalau begitu. Kalau nona tak keberatan, nanti kita lanjutkan percakapan ini,” kata orang itu.


“Dengan senang hati, tuan,” jawab Batari Mahadewi. Lelaki itu pergi dengan meninggalkan tatapan heran melihat menu yang tak habis dimakan tiga lelaki dewasa.


Batari Mahadewi makan dengan pelan tapi pasti. Semua makanan habis tanpa sisa. Entah bagaimana gadis itu bisa melakukannya. Tubuhnya tetap ramping dan elok di mata siapapun yang memandangnya. Adegan makan itu menjadi tontonan orang satu kedai. Beberapa orang itu juga bertaruh sekian keping perak untuk menebak apakah makanan itu akan habis atau tidak. Bahkan sang pemilik kedai juga ikut bertaruh dengan pelayannya.


Begitu beberapa orang bersorak ketika Batari Mahadewi berhasil menghabiskan makananya, tahulah gadis itu bahwa sejak tadi banyak orang memperhatikannya dan menjadikannya sebagai bahan taruhan. Sungguh hiburan yang menggelikan.


Lelaki itu datang lagi ke meja Batari Mahadewi.


“Saya sungguh tak menyangka nona sanggup menghabiskan makanan ini semua. Apakah perut nona baik-baik saja?” tanya lelaki itu keheranan. Ia tidak berpura-pura heran.


“Tidak nona, sungguh. Jangan tersinggung. Saya tidak suka berjudi,” katanya sekaligus mempromosikan dirinya secara terselubung.


“Tidak apa-apa, tuan. Santai saja. Saya memang banyak makan. Ini tidak seberapa,” jawab Batari Mahadewi.


“Sungguh?” tanya lelaki itu tak percaya.


“Bisa dibuktikan. Saya bisa menghabiskan sejumlah menu yang sama. Tuan ingin bertaruh dengan saya?” tanya Batari Mahadewi iseng.


“Baik. Saya akan membayar semua makanan nona jika nona bisa menghabiskan menu yang sama seperti tadi sekali lagi,” kata lelaki itu. Akhirnya lelaki itu berjudi juga tanpa sadar.


“Dengan senang hati. Pelayan! Bisakah saya memesan menu yang sama dengan pesanan saya tadi?” tanya Batari Mahadewi.


“Ten…tentu saja nona, tunggu sebentar,” kata pelayan itu tergagap karena sangat bersemangat. Ia akan mendapatkan tontonan langka sekali lagi.

__ADS_1


Kali ini, semua orang terang-terangan ingin menyaksikan kemampuan makan Batari Mahadewi. Tak lupa, mereka juga masih bertaruh dengan rekan-rekannya. Andai saja ada botoh judi, pasti lebih seru lagi.


Makanan telah tersaji. Gadis jelmaan pusaka dewa itu makan dengan santai. Sedikit demi sedikit akhirnya semua makanan itu tandas juga. Ya dewata, apa-apaan itu?! Semua orang tak percaya.


Lelaki itu bertepuk tangan. Ia sangat kagum dan bergidik ngeri. Atau mungkin kehilangan selera.


“Nona menang. Saya akan membayar semua makanan nona,” kata lelaki itu bersikap jantan. Ia tak merasa rugi. Justru malah bangga bisa membayar makanan gadis cantik itu. Serasa menyawer seorang sinden. Itu adalah salah satu cara orang kaya untuk menunjukkan siapa dirinya.


“Terimakasih banyak tuan. Tentu tuan penasaran dengan senjata pusaka yang saya bawa bukan? Tuan boleh melihatnya jika memang mau,” kata Batari Mahadewi. Memang itulah yang diharapkan oleh lelaki itu.


Setelah peralatan makan disingkirkan, Batari Mahadewi mengangkat semua pusaka dalam buntalan kain itu dari lantai. Pelan-pelan ia letakkan di meja dan ia takut jika meja itu roboh karena tak mampu menahan beban berat. Betapa tidak, bahan yang semestinya bisa membuat sepuluh atau lima belas senjata berukuran jumbo, ia padatkan semua hingga jadi lima buah senjata. Berat satu buah senjata setara dengan satu karung beras. Untungnya, meja itu terbuat dari kayu bagus dan tebal.


Lima buah senjata pusaka berjejer di meja. Pusaka dengan bentuk tak seperti umumnya dan sudah pasti memiliki kekuatan yang langka juga. Kepingan kristal api di tubuh masing-masing senjata itu memancarkan cahaya jingga, dan mustika siluman yang tertanam di sana memancarkan cahaya hijau.


Banyak orang datang mendekat untuk melihat pusaka itu. Batari Mahadewi tak merasa khawatir sedikitpun. Percuma saja mencuri senjata itu dari pawangnya sendiri.


“Senjata pusaka yang luar biasa, nona. Bolehkan saya memegangnya?” lelaki itu meminta izin. Ia belum pernah melihat senjata pusaka semacam itu seumur hidupnya.


“Silahkan tuan,” jawab Batari Mahadewi.


Satu buah senjata sungguh bukan benda ringan. Terlebih, senjata itu tak bisa dipegang sembarangan oleh orang berkemampuan tak layak. Wajah lelaki itu merah padam ketika mencoba untuk mengangkat salah satu golok kecil dengan satu tangan. Itu sama artinya ia mengangkat sekarung beras dengan satu tangan ditambah lagi tenaganya terhisap oleh kekuatan golok itu.


Lekas-lekas ia melepaskan genggaman tangannya dari golok itu. Ia sangat malu sekaligus ngeri. Tapi ia punya cara bijaksana untuk mengakhiri percakapan itu.


“Senjata luar biasa nona, saya bahkan tak layak menyentuhnya. Nona benar sekali, nona tak butuh pengawalan. Terimakasih banyak nona atas waktunya yang diberikan untuk berbincang. Saya akan bayar makanan nona,” lelaki itu pergi ke menuju pemilik kedai untuk membayar semua pesanannya dan pesanan gadis jelmaan pusaka dewa itu.


Semua orang tahu, lelaki itu tak sanggup mengangkat sebuah golok dan mereka akhirnya menyadari bahwa gadis itu bukan orang sembarangan.


Batari Mahadewi mengemasi semua pusakanya, menggendong semua di punggungnya, lalu ia berpamitan kepada semua orang yang masih belum meninggalkan kedai itu sebab mereka semua masih terpukau dengan tontonan langka itu.


“Pantas saja nona itu harus banyak makan. Beban yang ia bawa bahkan tak bisa ditarik oleh seekor kerbau,” semua orang di kedai mulai membicarakan gadis cantik itu setelah ia tak terlihat di sana. Batari Mahadewi telah berlalu. Di tempat yang sepi, ia melesat terbang menuju ke kota Gerbang Naga.

__ADS_1


__ADS_2