Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 178 Kekalahan Sang Ratu Halilintar


__ADS_3

Batari Mahadewi dan Nala menapakkan kaki di sebuah pulau kecil yang tak berpenghuni. Dari angkasa, ratu Halilintar yang mengejar mereka mengerahkan beberapa sambaran petir. Dengan gesit Nala dan Batari Mahadewi menghindari serangan itu. Kilat yang dihempaskan oleh ratu Halilintar meledakkan tanah, bebatuan, dan pepohonan.


Ratu itu masih melayang di udara dan enggan untuk turun ke tanah. Ia sadar jika ia menapakkan tubuh kalajengkingnya ke tanah, maka energinya akan banyak berkurang. Maka dari atas, ia menunggu serangan balasan dari batari Mahadewi dan Nala. Diam-diam ia penasaran dengan jurus menarik yang dijanjikan oleh kedua pendekar dari dunia satu rembulan itu.


“Ayo, tunjukkan kepadaku kemampuan terbaik yang kalian miliki!” tantang ratu Halilintar.


Batari mahadewi dan Nala merubah wujud mereka menjadi manusia api. Sang ratu sedikit kaget dengan perubahan wujud itu, ia tak mengira kedua lawannya juga memiliki energi api, bahkan energi itu adalah puncak dari capaian energi api yang membuat Nala dan Batari Mahadewi memancarkan api berwarna hitam kebiru-biruan.


Kedua pendekar muda itu memberikan serangan-serangan api berkekuatan ringan ke arah sang ratu Halilintar. Keduanya melakukannya dengan kecepatan tinggi sehingga ratu itu cukup repot untuk membagi perhatiannya menahan serangan dari Nala dan Batari Mahadewi.


Sang ratu melompat ke angkasa untuk menghindari serangan bola-bola api dan dengan cepat ratu itu membalasnya dengan menghempaskan aliran listrik ke segala penjuru arah melalui bola kristal yang terdapat pada tongkat trisulanya. Kemudian masing-masing aliran listrik yang bercahaya biru itu terus bergerak mengincar Batari Mahadewi dan Nala.


Sengatan aliran listrik itu masih bisa dihindari, ditepis, atau ditahan oleh Batari Mahadewi dan Nala, namun ternyata serangan itu hanya permulaan. Bola kristal pada tongkat trisula ratu Halilintar terus menerus memancarkan aliran listrik yang semakin kuat. Garis-garis bercahaya biru itu kemudian menyatu dan membentuk seekor monster listrik berbentuk aneh.


Ratu Halilintar itu hanya diam di angkasa sembari mengedalikan monster listrik ciptaanya itu melalui pancaran dari bola kristal di tongkatnya. Sementara, Batari Mahadewi dan Nala cukup sibuk menghindari serangan-serangan listrik yang terasa mengagetkan dan menjengkelkan itu. Meski keduanya menjadi manusia api, namun sengatan aliran listrik tetap terasa menyakitkan ketika mereka tersambar.


Beberapa kali Nala dan Batari Mahadewi mencoba untuk menghancurkan monster listrik itu, namun tiap-tiap serangan api yang dihempaskan ke arah monster itu serasa tak berguna.


“Nala, satu-satunya cara untuk menghentikan ini semua adalah dengan merebut senjata ratu itu.” teriak Batari Mahadewi berteriak sambil menghindari sengatan-sengatan listrik yang terus-menerus mengejarnya.

__ADS_1


“Kau alihkan perhatian ratu itu, aku punya cara yang menarik.” Balas Nala sambil berteriak juga.


Batari Mahadewi terbang ke angkasa, memancing perhatian sang ratu untuk menyerangnya. Sementara Nala mengangkat material tanah sebanyak mungkin, lalu mengubah material tanah itu menjadi lumpur api. Nala meleburkan dirinya bersama dengan lumpur api yang ia ciptakan, lalu ia melesat ke angkasa dalam wujud gumpalan lumpur panas berukuran besar dan menghantamkan dirinya ke perisai listrik yang melindungi ratu Halilintar.


Sebuah ledakan dahsyat terjadi ketika Nala menghantamkan tubuhnya ke arah lawannya. Usaha Nala cukup berhasil. Meski dirinya harus terpental dan menderita sakit yang teramat sangat hingga ia akhirnya kembali ke wujud aslinya, ratu Halilintar itu mengalami penderitaan yang setimpal. Tubuh ratu itu terpisah dari tubuh kalajengkingnya dan ia mengalami luka bakar yang cukup parah.


Batari Mahadewi mengira ratu itu telah tumbang sehingga ia tak segera mememanfaatkan situasi longgar itu. Namun dengan cepat pula, sang ratu memulihkan diri. Setelah tubuhnya terpotong, sepasang kaki mulai tumbuh dari potongan tubuhnya, perlahan memanjang dan tubuh sang ratu itu kembali utuh dalam wujud seperti manusia biasa.


Batari Mahadewi segera tanggap dengan situasi itu. Selagi sang ratu masih sedang berusaha memulihkan diri sepenuhnya, gadis jelmaan pusaka dewa itu bergerak dalam satu kedipan mata dan menghujamkan ratusan pukulan api bertubi-tubi ke arah sang ratu.


Ratu Halilintar yang sudah tak lagi dalam wujud setengah kalajengking itu terpental jauh. Batari Mahadewi melesat menyusulnya untuk melnjutkan pukulan-pukulan apinya, namun dengan cepat sang ratu itu menghempaskan sambaran petir dari tongkat yang masih ada dalam genggamannya itu.


Sejenak suasana menjadi sunyi. Tak ada yang melontarkan serangan dari ketiga petarung itu. Bagaimanapun juga, sang ratu telah kehilangan separuh kekuatannya ketika tubuh kalajengkingnya terpisah dari dirinya. Satu-satunya yang ia andalkan sebagai sumber kekuatannya adalah bola kristal pada senjatanya itu.


Nala telah memulihkan diri ketika Batari Mahadewi menyerang sang ratu. Ia bangkit dan menatap lawannya dengan tatapan waspada. Sementara, Batari Mahadewi perlahan bangkit dari puing-puing bebatuan yang menimbun tubuhnya.


“Kalian berdua petarung hebat. Namun kita semua belum tahu siapa yang akan kalah diantara kita. Aku pastikan, kalian berdua tak akan mudah membunuhku meski wujudku telah kembali seperti ini.” Kata sang ratu. Dengan wujudnya yang tak lagi setengah kalajengking, ratu itu memiliki kecepatan yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya.


“Ayo kita mulai lagi!” kata Nala sembari mengubah kembali wujudnya menjadi manusia api.

__ADS_1


“Nala, bersiaplah!” teriak Batari Mahadewi memberikan isyarat. Nala mengangguk. Ia tahu jika gadis jelmaan pusaka dewa itu akan melakukan sesuatu, dan Nala akan menyelesaikannya. Dalam hal menyelesaikan pertarungan, Nala jauh lebih cekatan dan bisa dibilang bengis dan kejam dari pada Batari Mahadewi yang kadang kala masih terjebak pada rasa kasihan terhadap lawannya yang terlihat kalah dan tak berdaya.


Batari Mahadewi menggunakan seluruh energinya untuk memadatkan udara di sekeliling ratu Halilintar. Tak tanggung-tanggung, bahkan kalau bisa ia ingin menekan tubuh ratu itu dengan udara hingga hancur. Batari Mahadewi tak berubah menjadi manusia api. Dengan begitu, ia bisa menggunakan seluruh energinya untuk menciptakan udara yang padat, mencengkeram seluruh tubuh sang ratu hingga ratu itu sama sekali tak bisa bergerak dan terlihat kaku menahan sakit serta berusaha keras untuk keluar dari jeratan itu.


Nala yang sudah menduga apa yang dilakukan Batari Mahadewi segera menjalankan tugasnya. Nala melesat cepat ke arah sang ratu, lalu ia mengubah dirinya menjadi lumpur api dan menyelimuti ratu itu dengan tubuhnya yang lebih panas dari lava gunung api.


Sang ratu yang telah terbungkus dengan lumpur api yang tak lain merupakan wujud Nala pada akhirnya terbakar hingga menjadi abu. Anehnya, kekuatan Nala yang mampu menghanguskan sang ratu itu ternyata tak membuat senjata ratu Halilintar itu rusak sedikitpun. Tongkat trisula dengan bola kristal yang menjadi sumber kekuatan sang ratu halilintar itu masih utuh.


Batari Mahadewi berjalan ke arah Nala yang memandangi senjata sang ratu Halilintar. Nala mencoba untuk mengangkat tongkat itu, namun tongkat itu terasa berat meski ia menggunakan tenaga dalamnya. Nala terlihat kesulitan ketika ia menggerak-gerakkan tongkat itu.


“Astaga, tongkat seperti ini ternyata sangat berat.” Kata Nala.


“Aku rasa tongkat ini adalah pusaka suci kuil halilintar. Ada baiknya kita bawa saja tongkat ini ke dunia atas dan kita tanyakan kepada tutua Samman.” Kata batari Mahadewi. Ia juga ingin mencoba untuk menganggkat tongkat itu. Benar kata Nala, tongkat itu terasa berat.


“Mungkin karena berat, maka ratu itu tak pernah mengayunkan tongkat ini untuk menyerang. Ia hanya menggunakan tongkat ini dan menciptakan serangan petir.” Kata Nala.


“Tongkat ini juga bisa memberikan energi, Nala. Mungkin kita bisa memulihkan energi kita dengan bola kristal di tongkat ini.” Kata Batari Mahadewi. Kemudian ia dan Nala berusaha menyerap energi dari bola kristal itu dan memulihkan semua energi mereka yang terkuras habis akibat pertarungan melawan sang ratu Halilintar.


Hanya dalam waktu singkat, energi kedua pendekar muda itu pulih kembali. Keduanya cukup heran. Berbeda dengan kristal energi lainnya atau mustika alam yang ada di dunia satu rembulan yang akan lenyap ketika semua energinya terserap, bola kristal itu masih utuh dan memiliki banyak energi. Sekilas terbersit keinginan untuk memiliki bola kristal itu, namun mereka berdua ingat bahwa tujuan mereka datang ke pulau Halilintar lebih penting dari bola kristal itu. Dengan energi yang telah pulih seperti sedia kala, Batari Mahadewi dan Nala membawa senjata itu menuju ke dunia atas.

__ADS_1


Tanggal upload chapter ini adalah 21 April. Selamat hari Kartini; Perempuan tak harus di dapur dan sibuk dengan bumbu-bumbu atau cucian piring yang menumpuk. Maka biar saja Batari Mahadewi bertempur, dan author bikin telur goreng buat istri tercinta. Lauk sederhana ditengah wabah corona. Honey, jangan lupa update AMBERLEY buat hari ini ya.


__ADS_2