Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 53 Amarah Pendekar Harimau Merah


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu setelah peristiwa kekalahan Harimau Hitam dan komplotannya ketika menyerang perguruan Pedang Suci. Mata-mata Harimau Merah telah menyebarkan berita itu ke beberapa kelompok aliran hitam.


Mula-mula tak ada yang percaya dengan berita itu, terlebih ketika dua pendekar yang menggagalkan serangan itu adalah Jalu dan Batari Mahadewi yang merupakan pemula dan keduanya baru saja hadir di dunia persilatan.


Harimau Merah sangat geram karena ia mendengar adiknya telah tewas. Ia teringat cerita Kelabang Iblis tentang kemampuan pendekar baru dari Padepokan Cemara Seribu. Mula-mula ia memang tak begitu percaya, namun peristiwa yang dialami oleh adiknya itu mulai membuka matanya.


“Jika benar ada dua pendekar yang menggagalkan serangan di Perguruan Pedang Suci, tentu ilmu mereka sangat tinggi. Seharusnya kita turuti saja ucapan Kelabang Iblis tempo hari untuk menghabisi pendekar-pendekar muda itu.” Kata Harimau Merah kepada pendekar Mawar Hitam yang menjadi satu tim dengannya.


“Tidak juga, kalau kita ikut ke sana waktu itu, mungkin kita ikut dibantai oleh pendekar Syair Kematian. Kalaupun kita mengeroyoknya, kita belum tentu kita bisa menang.” Balas Mawar Hitam.


“Jika seperti ini kondisinya, aku khawatir pergerakan kita akan jauh lebih lama. Terlebih, bantuan dari pendekar legendaris dari berbagi kerajaan lain di seluruh pelosok Mahabhumi belum juga datang.” Kata Harimau Merah.


“Pekerjaan seperti ini tidaklah mudah. Kita juga tidak tahu di mana para pendekar legendaris aliran putih bersembunyi saat ini. Aku tak yakin, usaha kita untuk mengumpulkan para pendekar aliran hitam dan usaha kita untuk menghancurkan beberapa kelompok putih akan membutuhkan waktu berapa tahun. Yang pasti, kita tidak boleh gegabah dan terburu-buru.” Kata Mawar Hitam.


“Kau benar. Kita tak boleh terpancing dengan kekalahan-kekalahan kecil seperti ini. Tapi kupikir saat ini memang saat terbaik untuk melakukan serangan. Banyak pendekar aliran putih yang berilmu tinggi telah menghilang dari dunia persilatan.” Kata Harimau Merah.


“Tapi hal ini bisa jadi kejutan buat kita, seperti kekalahan Harimau Hitam. Bukankah kedatangan pendekar muda dari Padepokan Cemara Seribu itu di luar dugaan kita? Jadi, jika anggota persekutuan kita masih sekecil ini, kita tak bisa gegabah. Jika kita rasa kita akan kalah, maka sebaiknya kita lari. Tak ada untungnya mempertahankan harga diri untuk kepentingan besar ini.” Kata Mawar Hitam.


“Kau benar. Sebaiknya aku memang harus memberikan peringatan kepada yang lainnya. Baiklah, aku akan mengirimkan utusan untuk menyebar kabar ini kepada kelompok-kelompok lain.” Kata Harimau Merah.


####


Sementara itu di Perguruan Pedang Suci, Batari Mahadewi sedang berbincang dengan Jalu tentang rencana mereka selanjutnya. Selama beberapa hari itu, keduanya hanya membantu untuk menyembuhkan para anggota yang terluka, terlebih karena racun aliran hitam. Beruntung, kedatangan Batari Mahadewi bisa meminimalisir kematian para anggota Perguruan Pedang Suci.


“Apa yang akan kita lakukan selanjutnya, kak Jalu?” Tanya Batari Mahadewi.


“Aku masih belum tahu pasti, tapi semakin kita tak terburu-buru, peluang kita bertemu dengan Niken semakin besar. Aku yakin ia dan pendekar Syair Kematian tak berada jauh dari kota ini. Apakah adik tak bisa melacak pancaran energi mereka berdua?” tanya Jalu.

__ADS_1


“Jika mereka masih dalam wilayah kota ini, aku masih mungkin bisa menemukannya. Tapi kalaupun aku bisa, kita juga tak mungkin mendekat ke sana. Terlalu berbahaya buat kak Niken.” Jawab Batari Mahadewi.


“Tentu saja kita tak akan mendekat. Aku hanya tak mau kehilangan jejaknya. Jika kelak pendekar Syair Kematian bertemu dengan kita lagi, apakah adik yakin bisa menghadapinya?” tanya Jalu mulai mengutarakan kegelisahannya.


“Aku tak yakin, tapi mungkin bisa. Bertarung dengan pendekar syair Kematian hanyalah soal mana yang lebih besar energinya. Ia hanya mengandalkan energinya. Masalahnya aku tak bisa melacak sejauh mana batas-batas energinya.” Jawab Batari Mahadewi. “Tentunya jika situasi itu hadir pada kita, dimana aku harus bertarung dengan pendekar Syair Kematian, maka kak Jalu harus pergi menjauh. Dan…dan lari jika aku kalah.” Lanjut Batari Mahadewi.


“Hahaha….tak mungkin aku meninggalkan saudara seperguruanku.” Jawab Jalu.


“Aku sungguh-sungguh kak Jalu…hmmm…” Batari Mahadewi hampir saja keceplosan soal kondisi tubuhnya yang telah sedikit berubah itu. Sementara ia masih berhasil menutupi telapak tangan dan kakinya.


“Sudah, jangan bicara yang seperti itu. Aku yakin kita akan baik-baik saja. Oh iya, kemampuan adik untuk menyembuhkan semakin baik. Kira-kira apakah aku bisa mempelajarinya?” tanya Jalu.


“Sayang sekali kakak tidak akan bisa mempelajarinya. Tubuhku dengan sendirinya menyerap racun.” Jawab batari Mahadewi.


“Haaahhhh…kenapa kemampuanmu yang selalu menarik perhatianku itu tidak bisa kupelajari semua…” Ujar Jalu kesal bercampur kagum dan ia akan selalu kagum dengan adiknya yang misterius itu.


“Butuh waktu lama bagiku jika harus mencapai tahap itu….mungkin tak cukup 20 tahun.” Jawab Jalu. Ia benar soal hal itu. Manusia biasa tak bisa mencapai energi dewa dalam waktu singkat. Butuh 20 tahun setidaknya jika ia merupakan pendekar jenius.


“Kurasa kalau kakak mengumpulkan banyak mustika alam, maka kakak akan bisa lebih cepat mencapai energi dewa. Kita juga belum berburu siluman untuk membuat baju kakak. Dengan baju yang tahan api, kakak bisa lebih leluasa menggunakan ilmu Tubuh Api.” Kata Batari Mahadewi.


“Siluman apa yang akan kita cari nantinya?” tanya Jalu.


“Semua siluman dengan energi dasar api tentu merupakan bahan yang bagus.” Jawab batari Mahadewi.


“Hmm….jalau begitu, kita hanya bisa mendapatkannya di gunung api. Banyak siluman dengan energi api yang bersarang di sana. Masalahnya, mereka sangat kuat.” Kata Jalu.


“Aku akan mencarikan satu buat kak Jalu.” Kata Batari Mahadewi, “Sekaligus menemukan satu mustika siluman api yang utuh untuk memperkuat energi api kak Jalu.”

__ADS_1


“Adik baik sekali, hahaha…”Kata Jalu.


Pendekar Pedang Suci keluar dari bilik kamarnya, lalu menemui Jalu dan Batari Mahadewi. Wajah tuanya memancarkan rasa damai. Ia merupakan satu dari beberapa pendekar pedang terbaik di kerajaan Swargadwipa. Tugasnya adalah untuk mencetak pendekar pedang sebagai generasi penerus kerajaan.


“Apakah nak Jalu dan nak Batari sudah makan?” tanya pendekar Pedang Suci.


“Sudah paman.” Jawab Jalu.


“Jadi bagaimana menurut kalian tentang perguruan kami setelah kalian beberapa hari ada di sini?” tanya pendekar Pedang Suci.


“Paman hebat, bisa mengurus banyak murid di sini. Tentu sangat jauh berbeda dengan padepokan kami, hanya ada guru dan 6 muridnya. Semua sedang menjalankan tugas, jadi hanya ada guru saja di sana saat ini.” Jawab Jalu.


“Guru kalian adalah pendekar hebat. Salah satu pendekar legendaris yang ada di wilayah kerajaan Swargadwipa. Tentu ia tak akan sembarangan mengangkat murid. Dan tempo hari aku menyaksikan sendiri, betapa hebat murid-murid ki Gading Putih.” Kata pendekar Pedang Suci.


“Paman terlalu memuji kami.” Kata Jalu sambil tersenyum.


“Sebetulnya aku khawatir dengan pergerakan para pendekar aliran hitam. Pasti ada banyak perguruan aliran putih yang menjadi sasaran mereka. Jika serangan ini merupakan persoalan balas dendam, kupikir mereka akan bergerak cepat, sebab jika tidak demikian, masih ada waktu bagi aliran putih untuk melakukan serangan balik.” Kata pendekar Pedang Suci.


“Paman benar. Kita tidak tahu berapa besar jumlah mereka. Kabar yang kami dengar, berbagai kelompok aliran hitam dari wilyah kerajaan lain juga turut bergabung. Jika aliran putih tidak segera bersatu dan bertindak, maka mereka bisa dengan mudah melibas perguruan putih satu per satu.” Kata Jalu.


“Ini sangat berbahaya. Hmm…sebetulnya aku ingin menitipkan sesuatu jika kalian tak keberatan.” Kata pendekar Pedang Suci.


“Apabila kami bisa, tentu kami tak akan keberatan, paman.” Kata Jalu.


“Jika dalam perjalanan kalian nantinya melewati perguruan aliran putih, maka peringatkan mereka agar berhati-hati. Untuk sementara, aku akan mencoba menghubungi sebanyak mungkin ketua perguruan aliran putih untuk membahas masalah ini.” Kata pendekar Pedang Suci.


“Baik paman, akan kami usahakan.” Kata Jalu. “Mengingat hal ini sangat mendesak, mungkin kami besok akan melanjutkan perjalanan.” Kata Jalu. Ia merasa tak boleh terlalu egois untuk menunggu Niken, sementara banyak kelompok aliran putih yang terancam.

__ADS_1


‘Niken…kita akan bertemu lagi.’ Batin Jalu. Perasaannya sesunyi malam hari di kota Giring Angin itu.


__ADS_2