
Senja di langit Swargadwipa pada hari itu terlihat indah. Warna Jingga dipadukan dengan warna biru dan semburat kelabu dari mendung yang tak cukup tebal untuk menjadi hujan, membuat siapapun akan kerasan memandanginya, sembari memanggil ingatan mereka akan sesuatu yang dekat sekaligus jauh.
Jalu dan Niken sedang berduaan di menara benteng pemukiman prajurit. Keduanya menikmati langit senja, sambil sesekali mengamati para prajurit baru yang sedang berlatih keras. Mereka harus terus latihan sejak subuh hingga menjelang siang, lalu diteruskan sore hari hingga malam.
“Aku rindu adik Tari…bagaimana nasibnya saat ini..” kata Niken pelan. Ia sandarkan kepalanya di bahu Jalu. Rasa hangat dan nyaman menjalar di tubuhnya yang dingin, yang membuatnya lupa akan rasa dingin itu sendiri.
“Aku yakin, dia baik-baik saja saat ini. Hanya saja kita tak tahu dimana ia berada. Kak Buyung bercerita atas apa yang ia dengar dari penjelasan guru tentang lubang di langit waktu itu. Guru bilang kalau lubang itu adalah pintu menuju dunia lain. Hanya para dewa yang sanggup membukanya. Tari memiliki kekuatan dewa, maka ia bisa membukanya.” Kata Jalu. Ketika ia sangat dekat dengan Niken, ia selalu merasa sejuk, seperti tanah kering yang disiram oleh hujan.
“Menurut kak Jalu, kita akan berapa lama lagi berada di sini?” tanya Niken.
“Kau ingin pergi ke suatu tempat?” tanya Jalu.
“Tidak kak Jalu, satu-satunya tempat yang ingin kutuju hanyalah di dekatmu.” Kata Niken. Pipinya merah merona, lalu ia mengusapkan kepalanya di dada Jalu. “Aku hanya ingin tahu saja, sampai kapan kita akan berada di sini.”
“Aku belum tahu pasti, adik. Sebab, menurut paman patih, ada kemungkinan kerajaan lain datang menyerang. Semoga hal itu tidak terjadi. Jika semua persiapan untuk memulihkan situasi dan pertahanan kerajaan telah beres, mungkin kita bisa pergi menemui guru. Aku rindu ke sana.” Kata Jalu.
“Berita tentang pergerakan kerajaan Tira Yamani yang disampaikan oleh kak Buyung sepertinya bukan hal yang bisa disepelekan. Kita tak tahu, tapi jika mereka datang ke Mahabhumi, maka kerajaan Swargadwipa akan terkena imbasnya.” Kata Niken.
“Adik benar. Kata paman patih, jikalau separuh jumlah kerajaan di Mahabhumi bersatu untuk melawan kerajaan Tira Yamani, kesempatan untuk menangpun tipis. Sementara, kita tahu bahwa ada dua kubu persekutuan kerajaan-kerajaan di Mahabhumi. Aku yakin, suatu saat akan terjadi perang besar.” Kata Jalu.
“Kapan kehidupan ini akan diwarnai dengan kedamaian…” Niken menatap jauh ke cakrawala. Di masa depan, gambaran situasi akan peperangan terus menghantui. Kehidupan semakin bergerak maju, semakin berkembang pesat dan sekaligus semakin menyediakan banyak kekhawatiran.
“Mungkin tak akan pernah ada kedamaian abadi…betapa tidak, para dewapun kadang-kadang berperang. Siapa yang akan kita jadikan panutan?” Kata Jalu.
“Hahaha, kakak benar. Panutan kita hanyalah pengalaman hidup kita sendiri.” Kata Niken. Ia menghirup nafas dalam-dalam. “Kakak dulu akrab dengan putri Kumala?” tanya Niken.
“Dulu ia teman kecilku.” Kata Jalu.
“Dia sangat cantik. Aku heran kenapa putri Kumala tak mau menerima lamaran dari para pangeran?” tanya Niken. Hati Jalu berdesir. Ia khawatir jika Niken tahu bahwa ia sempat dijodohkan dengan putri Kumala, atas permintaan putri itu sendiri.
“Entahlah...” kata Jalu.
“Jika aku tak ada, apakah kakak akan tertarik dengan putri Kumala?” tanya Niken.
__ADS_1
“Mungkin…” Jawab Jalu polos, “Aduh…” jerit Jalu ketika Niken mencubit pahanya dengan keras, “kenapa kau mencubitku?” tanya Jalu sambil meringis karena Niken belum melepaskan cubitannya.
“Kenapa? Karena aku ingin mencubit kakak.” Kata Niken. Jalu mengusap-usap pahanya. Butiran es kecil di pahanya meleleh ketika Jalu memancarkan hawa panas ke bagian paha yang dicubit oleh Niken hingga membeku.
“Adik jangan seperti itu! Percayalah, aku tak akan tergoda oleh siapapun.” Kata Jalu.
“Kak Jalu pernah cemburu?” tanya Niken.
“Ya!” kata Jalu.
“Kapan?” tanya Niken.
“Saat adik menemui Pradipa sebelum kita beranjak dari danau Rembulan Merah.” Kata Jalu.
“Hahaha, kenapa kakak cemburu? Hatiku selalu untukmu.” Kata Niken.
“Waktu itu, mana aku tahu siapa yang adik cintai. Kita belum mengatakan sesuatu, bukan?” kata Jalu.
“Bukankah mereka berselisih umur agak jauh? Kak Anjani lebih tua dari Pradipa.” Kata Jalu.
“Perasaan tak pernah peduli dengan usia.” Kata Niken.
“Bagaimana adik bisa tahu kalau Pradipa menaruh hati kepada kakak Anjani?” tanya Jalu penasaran.
“Lelaki itu akan selalu penasaran dengan wanita yang tak peduli dengan ketampanannya. Terlebih, kak Anjani belum memiliki pasangan.” Kata Niken.
“Apakah lelaki itu pernah menggodamu?” tanya Jalu.
“Tidak secara langsung. Tapi aku tahu ia mendekatiku sewaktu ia menemani perjalananku mencari kak Jalu dan adik Tari.” Kata Niken.
“Andaikan adik belum pernah bertemu denganku, apakah adik akan tertarik dengan Pradipa?” tanya Jalu.
“Kakak mau membalasku?!” kata Niken sambil mencubit lagi paha Jalu.
__ADS_1
“Aduh…adik curang…kenapa aku tak boleh cemburu…” kata Jalu. Niken melepaskan cubitannya. Ia kembali merebahkan kepalanya di pundak Jalu.
“Kak Jalu…” kata Niken
“Ya…” jawab Jalu
“Apakah kakak pernah berfikir tentang…” Niken tak meneruskan kata-katanya.
“Apa…” Jalu penasaran.
“Masa depan kita?” kata Niken
“Selalu…” balas Jalu
“Bagaimana kita akan menjalani hidup, satu hari nanti?” tanya Niken.
“Kita akan menikah. Entah secara resmi bersama keluargaku. Atau kita berdua saja, berucap janji di hadapan para dewa, dengan saksi bumi, langit, bulan, bintang, matahari, dan pepohonan. Lalu kita akan tinggal di sebuah tempat yang sepi, dan kita akan membesarkan anak-anak kita.” Kata Jalu.
“Apakah kakak tak ingin meminta restu kedua orang tua kak Jalu?” tanya Niken.
“Tentu aku ingin. Tapi seperti yang kubilang, jika mereka bersikeras menolak hubungan kita, maka aku memilih pergi, bersamamu.” Kata Jalu.
“Aku cemas kak, jika orang tua kak jalu menolakku atau bahkan tak pernah merestui kita berdua.” Kata Niken.
“Tak ada yang perlu dicemaskan adik. Kehidupan kita, ya kitalah yang menentukan. Aku tak pernah membantah orang tuaku. Tapi aku akan membantah satu hal ini jika mereka tak merestui hubungan kita.” Kata Jalu.
“Aku percayakan jalan hidupku padamu, kak Jalu. Sesulit apapun, aku tak akan menyerah, aku akan bersamamu dalam suka dan duka.” Kata Niken. Ia peluk kekasihnya itu erat-erat, seakan ia tak akan pernah mau kehilangan lelaki apinya itu.
Senja telah usai, warna jingga di langit berganti dengan temaram cahaya bulan. Nafas Jalu sedikit memburu. Dengan lembut, ia benamkan bibirnya di bibir kekasih hatinya itu. Suara pedang dan teriakan para prajurit yang masih sedang berlatih di lapangan menyadarkan keduanya, bahwa waktunya belum tepat untuk hal-hal yang lebih jauh lagi.
Beginilah author kalo ide perkelahian sedang mampet...mau mikir bentuk-bentuk perkelahian, eh yang nongol dialog orang pacaran....gpp ya teman-teman...ini caraku menghela nafas ketika imajinasi terasa berat dan penuh, tapi tak bisa diuraikan...
Selalu sehat ya teman-teman...aku percaya wabah yang sedang menghantui kita semua saat ini akan segera berlalu. Semoga kita semua selalu diberi keselamatan. Amin.
__ADS_1